Rumah Hutan (Part 7) - "Perang Ghaib (2)"
"Bocah.. bocah goblok! Kalian tidak tahu apa yang sedang kalian hadai", teriak Bapak tua itu.
"Jadi benar, ini semua karena perbuatan Mbah Wira?", tanya Pak Kuswara dengan nada dan raut wajah yang masih dalam keadaan tenang.
Belum sempat menjawab pertanyaan Pak Kuswara, tanah disekitar kami mulai bergerak, seolah akan ada yang muncul dari dalamnya.
Benar saja, sebuah tangan tulang-belulang yang terbungkus dengan daging busuk mencoba meraih keluar. Tidak cuma satu, tapi belasan atau mungkin bahkan puluhan yang muncul.
Bau busuk semakin menyengat. Aku dan Cahyo mundur untuk menjaga jarak, guna mencegah hal yang tidak kami inginkan. Lain dengan Pak Kuswara, beliau justru maju seolah siap menghadapi makhluk sebanyak itu.
"Tidak usah khawatis Mas Danan, saya sudah pernah berurusan dengan makhluk-makhluk ini sebelumnya", kata Pak Kuswara sambil mengeluarkan mata tombak yang dulu digunakannya di rumah hutan.
"Jelema anu geus indit ulah balik, anu geus tenang ulah ngeganggu, anu teu tenang tanpa pamales kanyeri"
Mata tombak dijatuhkan ketanah, cahaya bersinar memnuhi pekarangan. Makhluk-makhluk itu berhenti bergerak tanpa perlawanan. Pak Kuswara bernafas lega, nampaknya ia berusaha mengindari pertarungan sebisa mungkin.
Tak melewatkan kesempatan, Cahyo berlari kedalam mencoba meraih Mbah Wira. Belum sempat menyentuhnya, sesosok makhluk raksasa melibasnya hingga terpental. Ya! Itu Lelepah yang selama ini meneror kampung ini.
Cahyo kembali berdiri, aku tahu serangan itu tidak akan mengalahkannya. Dia pernah berurusan dengan makhluk seperti itu.
Sementara Cahyo sibuk dengan Lelepah, aku dan Pak Kuswara menerjang kearah Mbah Wira mencoba menyerangnya dengan maksud melumpuhkanya.
"Kalian tidak akan bisa membunuhku!", ucap Mbah Wira.
Kami terpental tanpa menyadari apa yang membuat kami mundur. Energi yang besar muncul dari dalam tanah dan membentuk sebuah bola api, persis seperti yang menyerang rumah tadi.
Tak menyerah, kami maju lagi dan menyerang. Pertempuran sengit terjadi diantara kami bertiga. Tak satupun dari saya dan Pak Kuswara yang bisa menyentuh Mbah Wira, sampai akhirnya sapuan lengan raksasa membuat Pak Kuswara tersungkur.
Darah mengalir dari kepala Pak Kuswara, Cahyo merapalkan mantra pelindung dan segera menghampiri Pak Kuswara.
Aku panik, tanpa kesadaran penuh aku menarik keris dari sukmaku dan melemparkannya ke arah Mbah Wira. Tak ada yang menahan hujaman keris itu hingga menusuk ke jantung Mbah Wira. Seketika ia tersungkur dan darah mengalir dari dadanya.
"Aku membunuhnya..", pikirku.
Belum sempat menghilangkan kepanikanku, pukulan keras dari Lelepah melamparkan tubuhku. Untung saja mantrapelindung dari Cahyo mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan.
Kembali aku menoleh ke arah Mbah Wira, namun apa yang terjadi? Tubuhnya hilang! Yang tersisa hanyalah dua makhluk jahanam yang mencoba menyerangku lagi.
Kali ini Cahyo tak tinggal diam. Dia mencoba menahan dua makhluk itu sendirian.
"Tenangkan dirimu Mas Danan", kata Pak Kuswara sambil kembali mencoba berdiri.
"Lihat kedepanmu.."
Dari kegelapan di dalam rumah mumcul seseorang dengan janggut putih panjang dan pakaian hitam yang tak asing bagi kami.
Itu Mbah Wira!dia kembali tanpa luka sedikitpun. Keris ku pun tergeletak begitu saja.
"Jangankan membunuhku, menghadapi makhluk penjagaku saja kalian tak mampu", kata Mbah Wira dengan sombong.
"Baik, kalau itu maumu!", balas Cahyo sambil melepaskan ikatan sarung ya sedari tadi di ikatkan di pinggangnya. .
Iya, sarung.
Sarung itu adalah senjata andalan Cahyo yang selalu ikut kemanapun dia pergi.
Cahyo menggila seperti kera. Menaiki tubuh Lelapah, menutup kepalanya dengan sarung dan menghantam kepalanya dengan tangan kosong. Lelepah itu meraung kesakitan, membenturkan kepalanya kepohon untuk menjatuhkan Cahyo.
Aku menarik kerisku, merapalkan ajian lebur saketi, sebuah serangan jarak jauh untuk menyerang inti dari Banaspati.
Tak terima dengan seranganku, bola api itu kembali menghitam dan menerjang kearahku. Tentunya aku sudah bersiap, namun sebelum makhluk itu mengenaiku, sekali lagi Pak Kuswara melemparkan mata tombak ke Banaspati itu hingga bola api itu pecah tak berbentuk.
Aku menoleh ke arah Cahyo, dia semakin menggila. Mata dari raksasa itu dipaksa keluar dengan kedua tangannya. Taring dari makhluk itu mencoba melumat manusia yang sedang menyerangnya. Namun kedua tangan Cahyo menahannya dan merobek rahang Lelepah itu.
"Mas Cahyo, jantungnya!", teriak Pak Kuswara.
Sadar dengan petunjuk Pak Kuswara, Cahyo membacakan ajian pada tangannya dan seolah tangan kanannya berubah menjadi seperti lengan kera raksasa dengan cakar yang tajam.
Seketika lengan itu menghujam dada Lelepah itu, menggenggam jantungnya dan menariknya keluar. Sontak raksasa itu tersungkut tak berdaya.
Mengerikan? Iya memang. Itu adalah roh bangsa kera dari hutan Wanamarta yang menjadi pelindung Cahyo.
Kami segera berkumpul dan menghampiri Mbah Wira, namun sesuatu yang aneh terjadi.
Mbah wira tersungkur, kulitnya menjadi keriput dan menghitam. Namun ia masih berusaha untuk bertahan.
"Mbah Wira!!", teriak sesorang dari dalam rumah dan berlarian menghampiri Mbah Wira.
Itu Kang Asep. Rupanya ia menyaksikan semua ini dari awal.
Mbah Wira menoleh kearahku dengan bantuan Kang Asep yang menahan badannya.
"Aku tidak akan mati!", katanya kepada kami.
Belum sempat menjawab ucapannya, Mbah Wira melanjutkan kalimatnya lagi.
"Aku tidak bisa mati.. seandainya bisa memilih mati, mati adalah hukuman teringan untukku saat ini", lanjutnya.
"Kami tidak akan membunuhmu, hentikan serangan yang kamu lakukan selama ini", kata Pak Kuswara.
"Seandainya saja aku bisa, aku sudah memulai sesuatu yang tidak bisa kuakhiri..", jawabnya
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar