Diary Steve - Part 1, Perempuan dan Kenyataan

 Ini adalah kisah klasik, kisah tentang veteran Mapala, kisah sedih yang pernah saya dengar dari lisan langsung. Cerita yang sampai saat ini masih bisa membuat saya berpikir berkali-kali untuk akhirnya mau untuk menulisnya, cerita yang menurut saya sangat misterius akan teka-tekinya.

Namaku Denny, aku adalah seorang pegawai swasta di Surabaya. Aku ingin sekali menceritakan ceritaku bersama dengan sahabat kampusku yang telah lama meninggalkanku, keluarganya bahkan pada semua yang ada dibumi ini tanpa adanya kalimat perpisahan. Aku memberanikan diri bercerita tentang temanku yang bernama Steven dan semua aktivitasnya yang tercatat di buku diary nya..
Semoga Tuhan menguatkanmu sahabatku..

Di lembar pertama, aku akan mencoba untuk menjadi Steve.

Pagi yang cerah walaupun bosan selalu menggelayuti tubuhku. Kuseret tubuh ini ke kamar mandi walau hanya untuk mencuci muka. Tampak kusut bukan karena ku tak tidur semalam, karena aku sedih akan ucapanmu wahai perempuanku dikala senja yang tanpa kata.
Kau perempuanku.. Kau sakiti diriku melebihi dari apa yang kurasakan selama ini..
Tahu kah kau bahwa aku sudah muak dengan kekosongan serta kebohongan dunia?

Huh..
Bagaikan bangkai yang larut dalam lautan lepas.

Senin..
Kuberanikan diriku keluar rumah, rumah yang penuh bahagia, rumah yang sekarang penuh lara.
Pagi..
Aku menaiki kopaja bobrok dengan supir yang tak ada budi sama sekali, dilibasnya semua jalanan bagaikan sirkuit balap baginya. Bahkan tak heran bila pak tua pengemudi bajaj orange itu emosi karena kotololanmu wahai supir kopaja. Nomor seri nya bagus juga ternyata, sesuai dan serupa dengan 300 rupiah saja.
Ahh.. Kau supir kopaja yang congkak, suatu hari kopaja mu akan hilang ditelan oleh kendaraan yang lebih muda dan mewah. Kau akan dilibas oleh kendaraan baru seperti kau melibas pak tua itu dengan bajaj nya.

Pagi..
"Pagi kamu ada kuliah ****** gak hari ini?". Tanyaku pada perempuanku penuh harap agar aku dapatkan perhatiannya lagi. 
"Hehh.. elu kan dah tau, kalo gua ogah sama lu lagi.. sana pergi sana. Ini udah jaman 90 an tau, kagak usah cari-cari perhatian kayak gitu lagi". Ucap perempuan pujaanku yang memalingkan muka masam dan pergi meninggalkanku. 
Kenapa semua orang aku sayangi menjauh dariku, apakah karena sekarang aku cuma naik si biru orange itu. Apakah sebesar itukah cintanya padaku, apakah perlu aku naik corolla ku agar kau perempuanku mau menyayangiku..
Nestapa...

Hanya buku diary ini yang dapat membersihkan kotoran-kotoran itu, hanya diary ini yang mampu menerima semua keluh kesahku..

"Hai Steve.. Lu kagak ikut ke semeru, kalo lu emang bisa ikut, gua nebeng doku nih.. hahahaha". Ucap Doni padaku penuh harap. 
"Gua udah kagak ada doku bung, udah miskin kayak lu-lu pada, bokap gua udah ninggalin gua sekeluarganya..". Jawabku pada Doni.
"Apa lu kata bung, bukannya elu orang kaya tujuh turunan.. turunan kali.. hehehe".
"Maaf.. maaf.., gua tau kok kalo elu udah miskin. Tapi tenang teman, elu masih punya doni yang super kaya ini sebagai teman lu..hahaha..". Ucap doni seperti biasa. Riang dan selalu menenangkanku. 

Selain buku diary ini, hanya Doni yang selalu mensupport diriku. Dia memang anak orang kaya, tapi dia lebih miskin dari ku dulu. Itu dulu satu semester lalu, sebelum papa digondol perempuan itu, perempuan yang menghacurkan masa depanku serta rumah tangga ibuku. Andai saja tidak ada hukum di negara ini sudah ku bunuh saja perempuan itu beserta papa ku yang telah menelantarkan ku. Biarlah diary ini yang tahu akan busuknya hatiku pagi ini..

"Gimana bung, lu ikut aja udah.. itung-itung elu bisa ngebasuh kepalamu pakai embun mahameru", rayu Doni padaku.

Sulit memang bagiku, dengan segala kemewahan dan keuanganku waktu itu aku bisa saja mengajak satu kelasku gratis ke Semeru, namun sekarang untuk membayar tiketku sendiripun ku tak mampu. Malu bercampur sedih ada didadaku. Sudah miskin, ditinggal pacar, gak bisa menyalurkan hobi lagi. Bagiku perempuan adalah segalanya. Namun bagi perempuan-perempuanku, aku sekarang hanya seonggok daging dengan baju bekas orang kaya yang selalu naik kopaja. Huhh.. Gerutu ku akan nasibku dengan segala keburukan yang ku alami.

"Sudahlah Steve, gak usah melamun gitu. Gua juga dulu sering lu bayarin kan. Nahh.. sekarang giliran gua yang bayarin elu. Oke?", ucap Doni padaku lagi. 
"Emm.. kapan berangkatnya bung? Ntar kalo memang mama kasih ijin, gua kabarin elu", ucapku. Ucap anak mama.
"Oke bung, gua tunggu", jawab Doni.

Seharian aku dikampus tanpa mengisi lambungku ini. Bagaimana mau diisi, buat naik kopaja saja aku bingung. Sungguh nasibku sangat memprihatinkan gara-gara papaku si buaya darat itu. Aku berjanji akan membuatnya menangis tersedu-sedu di bawahku..

Masih dibulan yang sama. Bulan dimana para pendaki akan berbondong-bondong memanjakan mata dan hatinya. Dan dibulan itu juga ditentukan keberangkatan kami menuju mahameru.

"Bung, gua cuma bawa ini aja. Gak ada duit buat beli bahan makanan. Kalo minta punya elu aja boleh?". Pintaku pada Doni

Doni memang bagai penyelamatku. Dia sudah mempersiapkan kebutuhanku dan memberikan padaku secara cuma-cuma. Kami berangkat bukan berdua saja, masih ada empat orang lagi. Dua dari satu fakultas dan dua lagi dari Bandung, teman sesama relawan dan aktivis. Di stasiun Pasar Senen kami sudah membeli tiket pp ke stasiun baru Malang. Hari yang menjemukan bagiku, bagi orang kaya yang tiba-tiba miskin..

Agar tidak mengecewakan teman-temanku, aku selalu bersikap ceria. Walau sikap ceriaku hanya fatamorgana bagiku dan baginya, dan bagi semua orang yang merasakan nestapa dan nelangsa dirundung duka.

Gerbong ekonomi
Ya.. hanya gerbong ekonomi ini sama persis dengan kopaja pengantarku kuliah. Masih sama-sama janggal bagiku. Selama hidupku, aku tak penah naik kopaja. Selama hidupku baru kali ini aku merasakan ke ekomonian dari akomoda berjalan besi ini. Padahal dulu.. tak akan kubiarkan ingatan tentangku dengan semua kekayaan papaku. Perjalanan yang melelahkan kami lalui bersama. Ada teman dari Bandung menyanyikan lagu kisah cinta dari surga untuk bidadari nirwananya..

Ahh.. lagi-lagi keluhku akan sikap dari perempuanku yang tak ku tahu arti dari rasa cintanya padaku. Aku sesali memanjakannya, aku jadikan dia bak permaisuri raja. Namun apalah daya, sang raja telah kalah. Kalah dengan gemerlapnya dunia. Demikian nada melodiku dengan suara rintih hati kosongku akan semua rasa cintaku. Kuingin ku gandeng tanganmu, kuingin kubawa kau ke angan dan khayalanku, kuingin berjalan diatas awan bersamamu.

"Wooiiii.. bung!! Sudahlah ngga ada yang perlu elu sesali. Sekarang kita hanya perlu bersenang-senang dengan senandung ini, ok?'. Ucap Doni membuyarkan lamunanku..
"Jangan cuma gelas-gelas kaca dong lagunya. Bikin si Steve nangis aja.. hahaha", kata temanku yang lain. 

Perjalanan yang cukup lama, sekitar 14 jam kita ada diatas kotak besi ini. Tak jarang pula pedagang asongan selalu hilir mudik mengais rejeki dengan menjajakan dagangannya. Bahkan pengamen dengan gitar atau biolanya tak canggung memainkan melodinya disebelah kami hanya sebagai pengingat keseruan kami saat itu. Banyak stasiun dan kota yang kami lewati. Berderet rumah dan sawah kami lalui. Sampai..

Pagi yang agak mendung dikota Malang telah menyambut kami. Kami turun dari kotak besi itu serta meregangkan tubuh dan kaki-kaki kami yang tanpa fajar itu.  

"Kita sarapan dulu bung, lapernya pol-polan ini perut", ajak Doni padaku dan yang lainnya. 

Bukannya aku tak lapar, bahkan dari sejak aku berangkat aku belum makan, hanya air mineral saja yang mengganjal perutku. Itu semua karena aku tidak memiliki uang untuk membelinya, membeli makanan yang layak untuk perutku. Ahh.. biarkan, memang ini yang aku inginkan. 

"Udah yok sarapan disini aja bung. Itu ada soto dokk , kayaknya enak campur murah", kata salah satu teman relawan mengajak kami

Benar sekali, soto yang dihidangkan bapak paruh baya itu adalah soto terenak yang pernah aku makan. Ternyata semua itu bukan karena perutku yang lapar saja, tapi memang benar-benar nikmat. Hanya soto dokk itu mengalir melalui mulutku sampai ke lambungku dan itu bisa menghangatkan tubuhku. Sedikit nyaman harus kurasakan, walau aku akan.. Biar diriku saja yang tahu akan keluh kesah ini. Bahkan diary ku tidak boleh mengetahui akan rencanaku.

"Elu kalo makan harus dikunyah dulu 18 kali bung, biar..", kata si temanku satu fakultas pada Doni.
"Biar kayak sapi yaa.. memang biadab. Hahaha..", jawab Doni dibarengi tawa kami semua.

Kami tahu setiap gigitan makanan akan mempengaruhi proses pencernaan yang ada dalam tubuh kami. Semakin lama mengunyahnya, akan semakin bagus tubuh kami menyerap sari pati dari makanan itu. Namun, hanya rasa yang kupilih guna memenuhi kebutuhan akan rasa laparku itu. 

Kami kepangkalan jeep.
"Pak, berapa kalo kita ke pos semeru?', tanya Doni pada tukang timer, pengatur shift keberangkatan jeep disana. 
"Paket sekali jalan 45 ribu saja mas. Kalo pulang pergi bisa lebih murah", kata orang itu menjawab. 
"Mahal sekali pak, kagak boleh turun dikit apa?", tanya Doni menawar.
"Yaa.. pokoknya pulang pergi tak kasih 60 aja, gimana mas?", dia menurunkan harganya.
"Iya udah kita ambil lah pak. Cuma kami ngga tahu berapa hari diatas nanti ya, pokoknya saya bayar separo dulu", Doni menjelaskan.
"Ayo wes cepet naik.."

Tanda jadi kesepakatan kami akan jeep sewaan hitam itu. Perjalanan yang sangat melelahkan namun menyenangkan bagi jiwa muda yang tanpa beban dipundaknya. Tapi aku.. aku hanyalah orang yang penuh rencana.  

Perjalanan lama-kelamaan telah meninggalkan kita dengan jalan mulusnya, menuju jalan tanjakan dengan lubang disetiap mukanya, muka jalan menuju puncak swarga loka.

Siang hari..
Siang itu kami telah sampai di ngadas dengan supir jeep yang menghentikan mobilnya, entah untuk makan atau karena apa. Kami disuguhkan tanah terasering dengan segala tanaman sayur-sayurannya. Kami bahkan disuguhi pemandangan dari para peladang yang membawa tabung obat serta peralatan perkebunannya. Nikmatnya.. Menjadi mereka yang tidak pernah merasakan nestapa dan sengsara.
Tapi niatku tak ku tulis dalam coretan diary ku ini..

Perjalanan yang tak terlalu jauh, hanya membutuhkan setengah jam. Kami sudah sampai di pos 1, ranupani.

Disini.. dipondok kayu ini, kami didata oleh petugasnya dan membayar restibusi yang cukup murah, ya semurah tarif kopaja yang biasa mengantarkanku kuliah.

Kaki Gunung Semeru memberiku cinta.
Cinta yang akan memberiku sayap, entah apa.
Bahkan sayap itupun bagaikan menyulapku bagai seorang pujangga. 
Cinta..
Cinta akan keagungan yang Esa.
Cinta bukan hanya fatamorgana..
Cinta akan syair dan sajak seorang tanpa dan harus berjuang hilangkan nestapa..

Sangat sederhana pos pertama Semeru ini. Sangat berbanding terbalik dengan keagungan Mahameru sebagai puncak tertinggi Jawa. 

"Berapa orang masnya yang naik? Apa sudah membawa bekal dan peralatan yang cukup? Silahkan mengisi biodata dan list nya yang lengkap ya", ucap penjaga pos kepada kami. 

Kejadian pertama.
Sewaktu diriku menyandarkan tubuh ini dan meletakkan carrier bag ku di warung, kami didatangi seorang bapak tua, dengan perawakan yang cukup mengundang tanya dan penasaran. 

"Ada satu yang harus kalian ingat ya nak, jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Jalani saja apapun dengan bahagia. Karena bukan kalian saja yang merasa susah. Semua orang akan diberi kesusahan sesuai dengan kemampuannya masing-masing", kata lelaki tua itu. 

Kami semua sontak terkejut dengan perkataan lelaki itu, siapa beliau sampai bisa membaca pikiran kami atau paling tidak pikiranku.

"Saya dipo nak, biasanya orang-orang memanggil saya mbah dipo. Yaa.. mungkin karena saya sudah tua jadi dipanggil mbah.. hahahhah..", ucapnya kepada kami.

Apakah aku harus urungkan niatku ini sekarang, atau ini hanya penghalang bagiku saja? Setiap ucapan dan candaan receh dari si mbah sangat mengena pada masalahku. Beliau seakan tahu apa yang akan kuperbuat..

"Jaman semono/dulu, untuk mendapatkan makan dan kehidupan saja sudah sangat sulit, kok sekarang yang sudah enak malah kepingin pada mati". Lanjut mbah seraya meninggalkan kami sambil melempar senyum yang tak nyaman ku memandangkan.

Teh manis kusruput diatas teplek gelas itu. Teplek dengan corak bening dan bermotif timbul menyerupai kelapa. Hangat manis dan sangat nyaman. Doni tak berhenti sebats rokok merk nona nya hanya sebagai penghilang dingin di kaki raja gunung Jawa. Aku tetap.. aku yang penuh kekosongan jiwa akan nestapa dan nelangsa..

Senja pun mengharuskan kami melanjutkan perjalanan ini, perjalanan yang bagi para pembawa cinta berseri. Dengan cuitan prenjak gunung nan cantik, ku melangkah keatas menemui swarga dwipa. Lompatan hanyalah kiasan, lompatan bukanlah tangisan, lompatanku akan segala rasa koyak akan derita..

"Hai, boleh ikut naik bareng ngga?", tiba-tiba tanya seorang gadis berjaket merah. 

Perempuan.. Yaa.. perempuan lagi yang menghampiri kami. Apa yang akan perempuan ini lakukan? Kenapa dia sendiri disini? Mana temannya? Mana rombongannya?

"Boleh..", Jawabku singkat
"Kenalkan, namaku Petricia, aku dari semarang", ucapnya sembari melempar senyum kepada kami.

Dengan cepat bagaikan alap-alap jawa, si doni menyambar dan menjabat tangan petricia.

"Aku doni, ini temanku steven dan yang empat itu para.. ah mereka ngga penting kau kenal.. hahhaahaha", kata doni seolah dia tak rela kalau dia dapat saingan dari kami. 

Akupun sejenak melupakan masalahku dan ikut tertawa karena kelucuan temanku satu itu. 

"Ok, kita naik yuk. Keburu gelap..", kata teman bandungku.

Empat orang didepan disusul doni diposisi kelima, petricia dan aku di baris akhir. Tak ada rasa apapun waktu itu, hanya lambaian daun kering yang sesekali menyapu wajahku yang kututup dengan masker. Kurasa dan tercium bau seorang wanita didepanku, entah karena bau tubuhnya atau parfumnya yang membuatku merasa senang. Wangi.. wangi sekali bila kita berjalan dibelakang perempuan. Perempuan penakluk gunung, perempuan dengan sejuta tenaga, dan hanya perempuan dengan tekad baja. Dibalik tubuh indahnya ada otot yang mengagumkan.

Wahai perempuan pendaki, kau diciptakan dengan sejuta kelebihan, kelebihan yang tak semua manusia memahaminya, hanya manusia yang beruntunglah dapat memilikimu dalam rengkuhan cinta. Kugores tinta pena ini untuk memujinya, memuji akan semua raga dan jiwanya..

Diaryku..
Engkau saksi bisuku,
Saksi akan kekagumanku,
Akan semua perempuanku,

"Kenapa lu diem aja daritadi woi.. gak mau ngobrol apa sama bidadari didepan lu itu?", canda doni padaku.

Takut.. yang sangat ku takutkan adalah membuka pembicaraan dengan seorang perempuan, perempuan dengan wangi tubuh itu, perempuan dengan pundak kaku itu, perempuan dengan senyum manis itu.

"Emm.. iya, memangnya lagi mikirin siapa mas,, daritadi kaya kurang suka gitu sama aku", kata petricia.
"Ahh.. anu, aku lagi anu kok.. aduh kenapa sih, ya tuhan kok cuma anu-anu aja mulutku ini..", jawabku sengaja agar membuat mereka tertawa.
"Jangan grogi bung, santai ajalah..",tambah temanku paling depan menambah kencang tawa kami.
"Ngga kok mbak, gua asik-asik aja..", jawabku lagi. 

Aku sengaja membuat mereka tertawa, aku tak ingin kegelisahanku tersirat dan terasa ke teman-temanku. Biarlah diriku saja yang merasakan, merasa sebagai manusia pujangga duka lara. 

Entah sampai mana dan dari mana perjalananku, bahkan titik-titik spot tak ku ingat, tak ku ingat dan tak ku abadikan dalam diary ini. Aku hanya jalan dan jalan agar diriku cepat sampai diperjalananku ini. Perjalanan seorang pujangga, perjalanan sang pemuja cinta, perjalanan puncak yang akan terasa. 

Senja nampak didepan kami. Agak jauh, agak dekat. Kulihat kilauan kemerahan dari permukaan ranu. Pantulan surya ditelaga para dewa. Indah sekali waktu itu untuk rencana yang kurasa..

"Cepetan bung jalannya. Kita keburu gelap kalo elu kaya siput gitu. Teman-teman sudah jauh didepan lho..", teriak doni.

Andai kau merasakan beban dipundakku, aku yakin kau pun akan merayap bagaikan siput yang sangat kelelahan.

"Ok bung, tenang aja. Masak gua kalah sama petricia..", balasku sambil menggoda perempuan didepanku.

Sampailah diriku ditepian ranukumbolo sang telaga para dewa. Kami mendirikan tenda, memasak dari kompor canggih doni. Serta diriku yang tetap menorehkan tinta pena di diary ini. Menorehkan bait demi bait, larik demi larik, akan duka dan rencana ku anggap mulia. Setiap gerak langkah kami, ku abadikan dalam sajak cinta dari seorang pujangga lara. 

"Steven bisa kesini? Aku minta tolong benerin resleting jaketku dong..", pinta perempuan itu padaku.

Andaikan perempuanku yang jauh disana seperti ini, selalu manja padaku, selalu minta pertolonganku, aku pasti akan menjadi lelaki terbahagia di dunia. Namun.. namun perempuanku yang disana, hanya melihatku akan semua hartaku, dari kilau cat mobilku, dari klimis bajuku, dan juga klimis dompetku. Larut dalam anganku..

"Heii.. cepet dong. Malah bengong gitu", katanya lagi padaku. 
"Ok.. tenang aja. Gua bisa kok benerinnya, cuma gua..", ucapku.
"Kenapa? Tolongin buka aja, orang emang gak bisa kebuka, cuma gak usah ngeres otaknya..hehe..", ucapnya sambil tersenyum.

Kuhampiri perempuan itu, kuraih kerah jaketnya, kupaksa resleting itu supaya terbuka, terbuka tanpa memperlihatkan keindahan didalamnya. Gemetar terasa, tangan ini yang tek pernah sekalipun membuka, membuka paksa dari penutup dada, dada bidadari yang entah darimana.

Dan..
Aku hanya bisa tersenyum, merasa senang karena dianggap laki-laki yang benar-benar laki-laki. Hemm.. andaikan saja aku bisa memilih, akan kupilih perempuan pendaki supaya bisa melengkapi kehidupanku.

BERSAMBUNG


*Buku diary Steve hanya sampai disitu, tidak ada catatan lagi, hanya sejauh itu saja.
*Namun aku bisa menceritakan apa yang kami lakukan di ranukumbolo dan selanjutnya.

Ok, aku memperhatikan Steve sangat bahagia waktu itu, tak ada bekas kesedihan di gurat wajahnya.
Bahkan aku melihat bahwa Steve seakan sudah melupakan semua beban hidupnya.
Cerita akan aku lanjutkan di part kedua 






Komentar

Postingan Populer