Rumah Hutan (Part 6) - "Perang Ghaib (1)"
"Ojo kewanen nek kowe durung siap..
Kowe ora ngerti sing mbok lawan..
Iki ora mung gelut, iki perang!!"
(Jangan berani-berani kalau kamu belum siap. Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan. Ini bukan hanya pertarungan, ini perang!!)
Aku tersentak dari tidurku, teringat dengan jelas sesosok bayangan makhluk besar memperingatkan dalam mimpiku.
Waktu itu sudah menunjukkan pukul delapan. Segera aku mempersiapkan diri untuk menemui Pak Kuswara.
Sudah satu minggu sejak kejadian di rumah hutan yang hampir merenggut nyawaku. Namun kami sepakat, kami tidak akan berhenti disini sampai semua permasalahan ini selesai. Aku tahu, ini seperti bunuh diri. Mengingat bahkan kau sendiri pun hampir mati saat melawan siluman ular yang merupakan anak buah dari makhluk jahanam yang menjadi muasa tragedi ini.
"Pagi Pak Kuswara..", sapaku saat bertemu dengan Pak Kuswara disebuah warung desa yang tak jauh dari tempatku tinggal.
"Pagi Mas Danan. Sudah sarapan?", sambut Pak Kus ramah.
"Belum Pak, ini sekalian mau sarapan lotek ulekannya Teh Imas", balasku sambil menoleh dan memberikan kode ke Teh Imas sang pemilik warung.
Pak Kuswara menyulut rokoknya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali yang kurasa bercampur dengan rasa keluh.
"Gimana Mas Danan? Ada petunjuk dari kejadian kemarin?", tanya Pak Kus.
"Iya Pak, ini juga alasan saya kenapa saya mengajak Pak Kus ketemu tanpa Kang Asep", jawabku.
"Makhluk besar yang bertarung dengan Pak Kus, apa benar itu Lelepah?", tanyaku.
Pak Kuswara memandangku sambil menjentikkan abu rokoknya.
"Kamu tahu darimana? Anak yang tinggal di rumah bude mu itu ya?", lanjut tanya Pak Kus. .
"Iya Pak. Bapak tahu Gio?", jawabku dan aku menjadi makin penasaran.
"Saya sempat membantunya saat ia dikejar Lelapah. Sepertinya sudah sebulan yang lalu", jelas Pak Kuswara.
"Berarti Pak Kus juga tahu lokasi majikan makhluk itu?"
"Belum, memangnya anak itu cerita apa?"
"Dia melihat tempat Lelapah itu mengeksekusi tumbalnya. Dan alasan aku tidak mengajak Kang Asep, karena lokasinya itu ada di tanah milik majikannya Kang Asep", jelasku pada Pak Kus.
Pak Kuswara mematikan rokoknya, dan menghela nafas.
"Maksudnya rumah Mbah Wira?", tanya Pak Kus.
"Iya Pak.. tapi masih perlu kita pastikan"
"Ya sudah, kapan kita kesana? Jika memang dia pelakunya seharusnya kita bisa merasakan sesuatu saat masuk kerumahnya", lanjut Pak Kuswara.
"Masalahnya Pak, beberapa hari ini saya mendapat mimpi yang memperingatkan bahwa ini bukan masalah biasa. Kita harus siap untuk berperang", jelasku gelisah.
Semenjak mimpi itu menggangguku, aku mencoba untuk meminta bantuan kepada seseorang. Namanya Cahyo, teman seperjuanganku ketika masih bekerja di Pabrik Gula di Klaten.
"Kalau Pak Kus berkenan, bagaimana kalau besok Rabu kita kesana? Saya juga meminta tolong teman saya ddari Klaten untuk membantu", tanyaku ke Pak Kuswara.
"Baik Mas Danan. Jangan lupa persiapkan semuanya dari awal. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nanti..", pesannya.
Sepiring lotek diantarkan oleh Teh Imas kehadapanku. Segera aku melahapnya dan melanjutkan perbicaraan biasa dengan Pak Kuswara, namun tetap terlihat raut muka gelisah di wajahnya.
***
Tepat hari Rabu, sesuai yang telah di janjikan, kami berkumpul di tempatku, di rumah Bude Ranti. Aku menunggu bersama Cahyo yang sudah datang dari kemarin malam dan menginap disini. Tapi hujan deras tak kunjung berhenti dan Pak Kuswara juga tak kunjung datang.
"Gio, kamu benar lihat makhluk itu ditanahnya Mbah Wira kan?", tanya ku ke Gio.
"Benar Mas, aku pertama kali melihatnya disana dan kejar sampi akhirnya Pak Kus datang menolong Gio", jawab Gio.
Hujan semakin deras, air hujan membatasi pandangan keluar. Sara menggelegar bersahut-sahutan seolah petir menyambar dari dekat.
Suara pintu di ketuk mengganggu lamunanku. Aku segera berdiri dan menghampiri pintu rumah, berharap Pak Kuswara yang datang.
"Danan tunggu!", Cahyo menahanku.
Aku menoleh sebelum sempat membuka pintu. Hujan semakin deras dan dentuman diatas rumah mendadak menjadi semakin keras dan bertubi-tubi.
"Siapa kamu!", teriak Cahyo sambil menarik tubuhku menjauh dari pintu.
Sesosok bayangan muncul dari derasnya hujan. terlihat sesosok mkhluk kurus kering dengan kepala yang miring menyeringai dengan bibirnya yang robek hingga ke telinga.
Makhluk itu tertawa keras seolah meledek kami.
Aku membacakan amalan pedang bermaksud menyerang makhluk itu. Namun belum selesai, makhluk itu menghilang dibalik derasnya hujan.
"Blaarrr!"
Suara dentuman manjadi semakin keras. Cahyo berinisiatif keluar dan memeriksa kondisi disekitar rumah kami.
"Brengsek, kenapa kita jadi tidak sadar?", ucapnya dengan kesal.
Aku menyusul Cahyo keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Itu.. Banaspati?", tanyaku pada Cahyo untuk memastikan apa yang kulihat.
Banaspati adalah makhluk jahat berbentuk bola api yang kerap digunakan oleh orang dengan ilmu yang sangat tinggi untuk menyerang musuhnya dengan maksud membunuh.
"Siapapun yang mengirim ini pastilah orang dengan ilmu yang sangat tinggi", kata Cahyo.
ola api iitu berputar-putar di atas rumah, bermaksud menyerang dan menerobos atap rumah. Dan jika itu terjadi, pasti sudah ada nyawa yang melayang di rumah ini.
Sekali lagi bola api tiu mencoba menerobos, namun yang terjadi adalah berturan. Rupanya suara yang dari tadi kami dengar adalah suara banaspati yang berbenturan dengan sesuatu.
Aku melihat sekeliling, mencari asal energi yang menahan makhluk itu.
Sudah kuduga, itu adalah Pak Kuswara yang sedang duduk bersila di bawah derasnya hujan dengan merapalkan mantra pelinding.
Cahyo mengambil segenggam tanah, membacakan beberapa kalimat doa dan melemparkannya ke ebun kosong di belakang rumah.
Banaspati itu berubah menjadi hitam, makhluk itu menyadari benda yang dilempar Cahyo dan menerjang tanpa ampun. Ledakan besar terjadi ketika bola api hitam itu menyentuh tanah di kebun kosong itu.
"Sudah aman..", kata Cahyo.
pak Kuswara membuka matanya dan menghampiri kami.
"Maaf Mas Danan, makhluk itu terlalu berbahaya jika saya menghadapi sendiri, terlalu beresiko untuk yang tinggal di dirumah itu", ujar Pak Kuswara.
"Ngga pak, saya yang bodoh. Tidak menyadari ada makhluk sekuat itu yang menyerang", balasku.
"Terima kasih Mas, saya baru tahu ada cara seperti itu untuk mengusir banaspati", lanjut Pak Kuswara sambil menoleh ke arah Cahyo.
"Nggih Pj, saya yang berterima kasih. Kalu tidak ada perlindungan dari Pak Kuswara tadi mungkin salah satu dari kita sudah celaka", balas Cahyo.
"Ayo masuk dulu Pak, kita kenalan didalam saja..", ajakku memotong perbincangan mereka,
Kami mengeringkan diri, mengganti pakaian dan melanjutkan perbincangan kami.
Bude Ranti datang dengan menyuguhkan teh hangat untuk Pak Kuswara.
"Mas Danan, kelihatannya kondisinya semakin berbahaya", kata Bude gelisah.
Pak Kuswara menyeruput teh hangat buatan Bude. Terlihat menggiurkan namun aku harus menyempurnakan puasaku untuk persiapan nanti.
"Bahaya memang Bude, tapi mau gimana lagi. Kalau tidak diselesaikan korbannya akan semakin banyak", kataku.
"Bu, saya titip tolong ini diserahkan ke Gio. Minta dia membawa ini selama kami pergi..", kaya Pak Kuswara tiba-tiba sembari menyerahkan sebuah benda yang kutahu itu adalah pusaka berbentuk kalung.
"Hehe.. itu pusaka raga juga Pak?", tanya ku dengan penuh harap.
"Bukan, hanya untuk berjaga-jaga saja. Anak itu pernah bertemu dengan Lelepah, bisa jadi dia juga terikat dengan takdir ini juga", jawab Pak Kuswara.
Hujan sudah mulai berhenti, sebelum berangkat kami berdoa dan menunaikan kewajiban kami masing-masing sebagai makhluk ciptaan tuhan, sekaligus memohon perlindungan atas apa yang akan kami lakukan nanti.
***
Langit mulai memerah. Sebuah rumah yang dikelilingi pekarangan besarpun mulai terlihat. Ukiran kayu dan hiasan kepala kerbau menyambut kami dengan hawa misteriusnya.
Bau darah dan sesaji mengelilingi pekarangan rumah itu.Aku pernah lewat sini, tapi tak ada kucium bau seperti itu. Mungkin kali ini Mbah Wira merasa tidak perlu lagi menutup-nutupi lagi apa yang dia lakukan selama ini.
Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan baji hitam yang kusam berjalan keluar dari dalam rumah, seolah dia sudah tahu akan kedatangan kami.
Itu adalah Mbah Wira, salah satu sesepuh kampung ini. Namun dia memang sangat misterius, segala sesuatu yang berhubungan dengannya biasanya selalu diurus oleh Kang Asep.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar