Rumah Hutan (Part 5) - "Tumbal Pertama"
(Beberapa puluh tahun yang lalu)
"Mirah.. dirumah ngga?". Suara seorang anak memanggilku dari depan rumah.
"Iya Gas, kenapa?". Jawabku.
Itu Bagas. Satu-satunya anak seumuranku di kampung ini. Beberapa tahun setelah Belanda menginggalkan kampung ini, banyak warga yang memilih untuk meninggalkan kampung dan mencari kesejahteraan ke daerah lain dari sebuah negara yang telah merdeka ini.
"Ke kebun karet, yuk". Ajak Bagas.
"Ayuk.. ayuk..". Jawabku dengan semangat.
"Bu, aku main ke kebun karet dulu ya", Pamitku pada Ibu.
Tanpa menunggu balasan dari Ibu, aku berlari menghampiri Bagas dan segera bergegas menuju perkebunan karet.
Ini memang keseharianku. Bermain di kebun karet, dan kadang membantu ibu merawat kebun yang kami miliki di sekitar rumah.
Sekolah? Hahaha.. Itu hanya untuk anak-anak juragan yang punya uang, dan sekolah itu pun sangat jauh dari kampung ini.
Agar bisa mencapai kebun karet kami harus keluar perkampungan dan masuk ke dalam hutan jati. Berulah setelah itu kami mencapai perkebunan karet milik Pak Gumelar. Seorang pengusaha, asal kampung kami juga.
Rumput yang pendek dan sekumpulan pohon karet yang tersusun rapi selalu bisa memukau ku, selain aku bisa berlari-lari sepuasnya, kadang aku juga memainkan getah karet hasil sadapanku sendiri.
"Bagas.. Mirah.. hati-hati jangan sampai jatuh". Ucap seseorang pria mengingatkan kami.
Itu adalah Kan Wira, salah satu pekerja di perkebunan ini.
"Iya Kang!". Jawabku sambil meneruskan permainan.
***
"Aduh..!". Teriak Bagas memecah konsentrasiku.
"Mirah.. tolong!"
Aku berlari menghampiri Bagas dan mendapatinya terperosok di jurang kecil di pinggir perkebunan.
Segera ak umencari galah untuk membantu Bagas keluar dari jurang itu. Memang sedikit lama, tapi akhirnya Bagas bisa naik dengan selamat.
Tapi tanpa terasa langit mulai memerah menandakan sedikit lagi akan semakin gelap, kamipun bersiap untuk pulang.
"Kamu sih, pake jatuh segala.. kemaleman kan kita", Keluhku.
"Maaf Mirah, ngga sengaja kok. Tenang saja aku masih hafal jalan kok meskipun gelap". Jawab Bagas.
Untuk puelang kerumah, kami harus melewati hutan jati sejauh beberapa kilometer. Ini juga jalur yang digunakan oleh pekerja saat akan kembali ke kampung. Ditengah hutan itu juga telah disediakan rumah singgah untuk para pekerja, untuk sekedar beristirahat atau menginap.
Hari semakin gelap, suasana tak lagi menyenangkan seperti tadi siang. Suara hewan-hewan malam mulai terdengar dan membuatku sedikit takut.
"Gas.. tungguin, serem nih!", teriakku pada Bagas.
"tenang.. habis dari sini ada pohon jati besar. Ngga jauh dari sana nanti ada rumah singgah, disana pasti ramai", balas Bagas.
Aku menurut saja, semoga benar apa kata Bagas.
Kami semakin masuk kedalam hutan, semak-semak tinggi mulai mengganggu jalan kami. Namun perkataan Bagas benar, ada sebuah rumah disana.
Sebuah nyala lampu petromax menerangi teras rumah itu, kuharap ada orang disana.
Kami menaiki teras dan mengetuk pintu.
"Punten!", teriak Bagas.
Namun hanya terdengar suara angin malam yang berhembus lembut.
"Punten!!", aku ikut berteriak, kali ini lebih keras.
tak ada gunanya. Sepertinya sudah tidak ada orang lagi dirumah ini.
***
Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang, dan aku tak lagi mendengar suara hewan-hewan malam. Mereka seolah mendadak menghilang. Nyala api petromax di teras rumah pun mendadak lenyap.
"Ada yang tidak beres..", pikirku.
Aku menoleh kearah hutan, setiap gerakan ranting-ranting pohon yang ada di hutan justru membuatku semakin merasakan ketakutan.
"Mirah.. itu apa??", tanya Bagas dengan suara sedikit gemetar.
Sesosok tangan dengan daging yang sudah tidak utuh. Mencoba keluar dari dalam tanah tak jauh dari tempat kami berdiri.
Seketika aku menangis sejadi-jadinya.
Tidak hanya satu, tangan itu muncul semakin banyak dari dalam tanah dan mulai perlahan mengangkat tubuhnya.
Aku tak berani lagi menoleh, yang kuingat makhluk-makhluk itu tidak memiliki wajah yang utuh lagi. Hanya tengkorak dan sedikit daging dan kulit yang tersisa di wajah dan tubuhnya.
Aroma busuk yang menyengat menyembul dari tubuh makhluk-makhluk itu.
"Lari Gas.. Lari!!!", teriakku sambil menangis.
"Kemana? Mayat hidup itu sudah ada disekeliling rumah ini", jawab Bagas.
Sekilas aku melihat cahaya redup dari dalam rumah, spontan aku mendorong pintu rumah yang ternyata tidak terkunci.
Segera kami berlari masuk, menutup dan mengunci pintu dari dalam.
Apa yang terjadi? Kami berada di sebuah rumah di tengah hutan, dengan puluhan mayat hidup mengelilinginya. Semoga ini hanya mimpi.
"Gimana ini Mir.. Aku takut", kata Bagas.
Aku mencoba mengintip dari jendela, tidak ada satupun makhluk itu yang mendekat ke dalam rumah.
"Ngga ada yang mendekat Gas.. semoga disini aman", jawabku berbisik.
Hampir satu jam lamanya kami berdiam di dalam rumah itu tanpa melakukan apapun. Yang ada hanya keheningan dan isak tangis kami yang hampir reda. .
***
"BRAK!!, tiba-tiba seperti ada suara pintu yang di hantam dengan keras.
Sontak kami kaget dan berlari semakin kedalam rumah. Aku yakin makhluk yang mencob amenerobos masuk kedalam rumah bukanlah salah satu dari mayat hidup tadi karena tidak ada yang sebesar itu diantara mereka.
Kami berlari kedalam, mencoba mencari tempat yang kami rasa lebih aman dari jangkauan makhluk-makhluk itu. Aku teringat nyala lampu yang tadi aku lihat dari luar rumah.
"Tadi ada lampu Gas, coba cari..", ajakku.
"Disana Mir.. ", bisik Bagas pelan sambil menunjuk kesebuah ruangan yang nampak ada redup nyala lampu.
Aku segera berlari kesana, berharap akan ada seseorang disana.
"Sraakkk!!!", aku mendengar suara dari belakang.
Bagas tidak mengikutiku.
"Arrgghhh.. MIRAH!!!", teriak Bagas meronta.
Bagas terjatuh, sesuatu menyeretnya dari belakang.
Aku mencoba mengejarnya, namun belum sempat aku sampai, aku terhenti. Kakiku bergetar lemas..
Sesosok makhluk dengan rambut panjang yang menutupi seluru tubuh, darah yang hampir tak berhenti mengalir dari matanya, menggenggam erat kaki Bagas dan menahan tubuhnya.
"Lari Mirah!!!", perintah Bagas.
"Tapi..", jawabku lemas.
"Lari!! Cari pertolongan!", lanjut Bagas berteriak, yang terdengar menahan tangisnya.
Aku berusaha keras mengangkat kakiku, menyeretnya sekuat tenaga untuk kembali mendatangi sumber cahaya yang tadi kami lihat.
Ruangan itu seolah menyambutku, aku berlari bergegas memasuki ruangan itu. Ternyata sumber cahaya itu berasal dari tiga buah lilin.
Aku perlahan mendekat. Namun ada yang terasa aneh disini, tidak hanya lilin. Ada juga bunga-bunga sesajen dan kemenyan yang sudah terbakar. Aku bingung danmencoba untuk keluar lagi. Namun belum sempat aku keluar, pintu sudah menutup dengan sendirinya.
Sesosok bayangan bergerak, ada orang di belakangku. Sebuah kekuatan besar menahanku untuk menoleh. Tak satupun bagian tubuhku bisa digerakkan, aku lemas..
Sebuah perkataan terdengar sebelum aku kehilangan kesadaranku.
"Hapunten.. ieu mangrupikeun pangorbanan anu kuring janji.."
***
***
***
Tetesan air yang jatuh diwajahku membangkitkan kesadaranku. Aku mencoba mengenali dimana kau saat ini. Hanya hutan dengan pohon-pohon hitam yang ada di sekeliling tempat ini.
"Grrrrr...."
Terdengar suara raungan mendekat. Aku tak mampu lagi menahan air mataku.
Aku meraba sekitar, ada tangan seseorang. Aku meraihnya dan berharap di bisa menjelaskan dimana aku saat ini.
Namun bukan seseorang yang terbangun, melainkan sebuah tangan. Ya, hanya sebuah tangan. Tangan yang sudah terlepas dari tubuhnya.
Aku semakin menangis sejadi-jadinya, suara itupun semakin mendekat. Aku mencoba berdiri namun makhluk itu berhasil menemukanku.
Besar.. Tangannya menggenggam tubuh-tubuh manusia yang sudah tidak utuh lagi. Seluruh tubuh itu penuh darah, yang kurasa berasal dari bagian-bagian tubuh yang mendadak ada berserakan disekitarku.
"Toloonnggg.. Bagas.. Ibu..", teriakku sambil berlari sekuat tenaga.
Namum pergerakan makhluk itu terlalu cepat, sapuan tangannya menghentikan kakiku hingga aku harus menyeretnya untuk bisa terus berlari.
"Apa sudah tidak ada harapan lagi?", pikirku.
Wajah dengan penuh darah, dengan bola mata yang menggantung berhenti tepat didepan mataku.
Makhluk itu mengayunkan tangan besarnya, dan aku tahu itu bermaksud unuk mencabik-cabik tubuhku.
***
Sebelum hal itu sempat terjadi, sesosok makhluk lain muncul di hadapanku. Menahan tangan makhluk besar itu dan menutupi tubuhku. Seolah melindungiku.
Hei.. Aku tahu makhluk itu! Itu makhluk dengan rambut panjang yan gmenutupi seluruh tubuhnya dan darah yang jampir tak berhenti mengalir dari matanya. Itu makhluk yang menahan Bagas.
"Lari..", kata makhluk itu dengan suara yang mencekam.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang bisa kucoba hanya berlari. Berlari dan berlari..
Tapi kali ini tidak hanya pohon-pohon hitam yang ada disekitarku. Sebuah pohon beringin besar seolah memanggilku kesana.
Aku berlari menuju tempat itu. Namun dari belakangku terdengar suara ranting-ranting yang tersapu benda besar.
Tak perlu menunggu lama, tangan makhluk itu berhasil mencapai tubuhku. Kurasa makhluk tadi tak bisa menahan raksasa ini.
Aku terus berusaha berlari. Hingga akhirnya aku melihat tubuhku mencapai bayangan pohon beringin itu.
Benar..
Makhluk itu tidak mengejarku lagi.
Dia hanya menatapku tanpa berani mendekat. bahkan hanya untuk ke bayangan pohon besar ini.
Seolah kecewa, makhluk itu berteriak. Mengamuk, dan mencabik-cabik potongan tubuh-tubuh yang masih ada didalam genggamannya.
Cukup lama, sampai akhirnya makhluk itu meninggalkan aku dan pohon beringin ini.
Aku mencoba kembali berjalan sekedar ingin bersandar di bawah pohon beringin ini.
Tapi ada yang aneh. Aku berjalan, tapi mengapa seolah aku tidak berpindah tempat.
Dan.. mengapa aku bisa melihat tubuhku sendiri.
Tanpa kepala..
***
***
***
Hai.. Aku Mirah. Ini desa Sukmaraya. Sebuah perkampungan yang cukup padat, dengan pemandangan yang selalu berhasil membuatku rindu. Yaitu sebuah beringin besar yang selalu bisa dilihat dari sudut manapun di kampung ini.
Aku suka dengan pohon beringin ini. Karena di dekatnya aku merasa nyaman seolah-olah tidak akan ada bahaya selama aku berada di dekat pohon beringin itu.
Aku senang disini. Sebuah sekolah dan asrama dibangun di kampung ini. Jadi aku bisa melihat anak-anak seumuranku bermain disekitarku.
Tapi.. hanya beberapa saja yang bertemu dengankuk, dan tidak banyak yang bisa berlama-lama bermain.
Hihi.. mungkin karena aku sedikit berbeda dengan yang lain.
Karena aku harus selalu membawa kepalaku dengan tanganku, agar tak terjatuh. .
Kesepian? tidak juga.
Ada seorang teman lama yang sering mengunjungiku. Dulu dia teman seumuranku, tapi sekarang dia sudah lebih berumur dan terlihat cukup berkharisma dengan rambutnya yang mulai memutih.
Nah itu dia datang..
Kenalkan sahabat terdekatku,
Namanya.."Bagas Kuswara"
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar