Rumah Hutan (Part 4) - "Rumah Hutan (2)"
Sekilas bangunan ini seperti tidak pernah di datangi oleh manusia lagi. Atapnya yang bolong, kayu-kayu yang jatuh termakam rayap. Benar-benar terlihat bahwa orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan bangunan ini.
Aku memberanikan diri memasuki pekarangan rumah itu. Alangkah terkejutnya.. Puluhan.. tidak, mungkin lebih.. makhluk putih yang mengganggu kami sepanjang perjalanan tadi muncul dan berkumpul disini. Seolah olah ingin mengepung kami.
Aku sedikit gentar. Belum pernah aku melihat pocong sebanyak ini di satu tempat. Bukan masalah pocongnya, tapi makhluk apa yang sebenarnya ada di rumah itu, hingga bisa memiliki tumbal sebanyak ini.
Aku merasa belum siap, namun lain lagi dengan Pak Kuswara. Dia hanya diam dan memandangku, memastikan lagi keputusanku.
Kemampuan Pak Kus jelas terlihat mumpuni, tapi untuk mengurus semua ini seorang diri jelas sangat beresiko. Oleh karena itu aku tetap dibutuhkan.
"Jangan nekat Mas.." Pak Kus memperingatkan aku dari belakang.
Aku tetap berusaha maju. Dan para pocong itu juga maju menyambutku. Kakiku terasa di cengkeram oleh makhluk yang belum sempat aku lihat bentuknya.
Tetesan air lir dari wajah yang tak berbentuk menetes di telapak tanganku. Rasa gatal yang tak tertahan muncul dari bekas air lir itu.
Segera aku melindungi diri dengan amalan penyembuh luka gaib dan membakar makhluk itu. Namun jumlah mereka yang tak terhitung tak memberikan ku ruang.
Pak Kuswara mengeluarkan pusaka berbentuk mata tombak yang segera ia bacakan doa dan melemparkannya ke tanah.
Sontak, setengah dari makhluk itu terbakar dan menghilang.
"Rupanya benar, dibawah tanah ini terkubur puluhan mayat yang kemungkinan mereka adalah para pekerja karet yang menghilang" ucap Pak Kuswara.
Bagaimana dengan Kang Asep? Ia bersembunyi di belakang Pak Kuswara. Tak ada makhluk yang menyerangnya. Kemungkinan ia juga dibekali pusaka oleh Pak Kus.
Tidak terima dengan serangan Pak Kus, sesosok makhluk bertubuh ular mencoba menyerangku dan melilitku dengan ekornya.
"Saha maneh wani ngaganggu tempat ieu?" (Siapa kalian berani mengganggu tempat ini?). Tanya makhluk itu sambil masih melilit tubuhku.
Badanku mulai lemas, rupanya siluman ini bukan siluman biasa.
Bisa jadi makhluk inilah yang selama ini meminta tumbal.
Aku mencoba membaca ajian pembakar, tapi makhluk itu tidak bergeminng. Amalan pedangpun nampaknya tak berlaku untuk makhluk ini.
Pak Kus mencoba mambatuku, namun ia disibukkan dengan makhluk-makhluk lain yang datang dari dalam hutan.
Nampaknya tak ada pilihan lain. Aku melepaskan sukma ku dari raga, dan menyerang siluman ular itu dengan keris pusaka yang telah menyatu dengan sukmaku.
Makhluk itu kesakitan dan berteriak denga suara yang hampir terdengar kesegala penjuru hutan.
Ia terdengar sangat marah. Belum sempat aku kembali ke ragaku, siluman jahanam itu menggigit pergelangan tanganku dan menariknya hingga putus.
"Sialan!" teriakku sambil berusaha menyatuka ragaku.
Aliran darah segar membasahi bajuku dan meneteskan darah yang tidak sedikit. Rasa sakit yang tek tertahan membuatku berguling di tanah.
"Mas Danan!!" teriak Kang Asep yang segera berlari menghampiriku.
Pak Kus segera menyusul, namun sebelum sampai ditempatku sebuah pukulan dari makhluk raksasa menghempasnya hingga terguling.
Kang Asep mencoba mengikat lenganku, namun siluman ular itu merebut dan kembali melilitku. Aku mencoba kemungkinan terakhir, menarik keris itu dari sukmaku dan merapalkan mantra yang diturunkan dari leluhurku.
***
***
***
Jagad lelembut mboten wujud
Kulo nimbali
Surga loka surga khayangan
Ketuh mulih sampun nampani
Tekan asa tekan sedanten
Mendadak langit menjadi gelap, hujan turun begitu deras dan muncul sesosok makhluk.
Seorang kakek tua bungkuk berambut putih panjang tergerai menembus derasnya hujan.
"Debog bosok pancen asu! Ono opo kowe nyeluk?!" (cucu kaya anjing! ngapain kamu manggil-manggil?!) Umpat makhluk itu.
"Nyuwun pangapuro mbah.. rrgghhh, kulo bade nyuwun pitulung" (maaf mbah, aku mau minta pertolongan) Ucapku dengan berusaha sekuat tenaga.
Kakek tua itu melihat tanganku yang tak lagi utuh dan tertawa seperti orang gila. Ia berlari dengan tangan di bawah seperti anjing dan menghampiri siluman ular yang melilitku.
Belum sempat siluman itu berbicara, kakek tua itu segera memasukkan tangannya ke siluman ular itu dan merobeknya dengan keji masih dengan tertawa.
Tidak puas sampai disitu, dia mengambil badan siluman itu dan memakan dagingnya dengan buas hinggal darah hitam bermuncratan di tanah.
"Gila! Makhluk sekuat itu dihabisi tanpa ampun" pikirku.
Tak berhenti sampai disitu. Pocong, raksasa, makhluk tanah, semua dihabisi dengan begitu brutal. Seolah tubuh mereka hanya terbuat dari kapas.
"Uwis mbah!" teriakku.
Seperti tidak mendengarkan, makhluk berwujud kakek itu masih tetap mengamuk sambil tertawa menggila. Bahkan wajah Kang Asep tak luput dari cakarannya.
Aku semakin khawatir, kakek tua itu berlari menuju Pak Kuswara.
"Sial, maksudku menyelamatkan diri malah memanggil masalah baru.." gerutuku.
Aku berlari sebisaku dengan luka di sekujur tubuhku.
Makhluk itu semakin mendekat, mencoba menyerang Pak Kus, namun mendadak berhenti.
"Kulo sanes mengsahe panjenengan" (saya bukan musuh anda). Pak Kus mendadak berbicara dalam bahasa Jawa,
Kakek itu seolah memandang sosok yang ada dibelakang Pak Kus dan kembali kearahku.
Aku segera menarik kembali keris pusaka kedalam sukmaku dan sosok kakek itu pun perlahan menghilang.
"Sing tak pateni kuwi dudu empune, ojo ngelawan nek kowe durung siap" (yang aku bunuh itu bukan enpu nya, jangan melawan kalau kamu belum siap).
"Nanging, sopo wae sing wani nggawe loro keturunanku, urusane karo aku" (tapi siapa saja yang mengganggu keturunanku, harus berurusan dengan saya).
Kakek itu menatap Kang Asep dan menghilang bersamaan dengan derasnya hujan yang mendadak berhenti.
"Kita kembali dulu" kata Pak Kus sembari membantuku berdiri.
***
Tak terasa waktu sudah mendekati subuh. Kami keluar hutan dan berniat mencari pertolongan.
Rasa nyeri merayap di seluruh tubuhku, aku takut tidak mampu bertahan sampe menemukan pertolongan.
"Mas Danan, sekarang kujang nya sudah bisa dikembalikan" ucap Pak Kuswara tiba-tiba.
Aku mengeluarkan benda itu dari saku celana dan segera mengembalikannya ke Pak Kus. Saat pusaka itu berpindah tangan, tiba-tiba pusaka itu retak dan pecah.
Aku bingung dengan kejadian itu, tapi hal yang lebih aneh terjadi. Semua luka ku hilang, lenganku kembali menyatu lagi seperti sebelumnya.
"Ini maksudnya apa pak?" tanyaku ke Pak Kus.
"Kujang ini adalah pusaka pengganti raga. Dia menyimpan raga manusia tepat pada saat kujang ini diterima" jelas Pak Kuswara.
Gila, aku tidak menyangka ada pusaka sehebat ini. Seandainya saja aku bisa memilikinya lagi.
"Terima kasih Pak Kuswara. Pantas saja bapak membiarkan saya menghadapi makhluk itu sendirian" ucapku.
Akhirnya aku kembali ke rumah Bude Ranti dan sedikit menceritakan tentang kejadian semalam.
Beliau cukup kaget dan tak menyangka kondisi permasalah di kampung ini ternyata sepelik itu.
"Kalau ada banyak tumbal, harusnya ada pemilik yang memelihara mereka" kata Bude Ranti.
"Tapi siapa? Kita tidak bisa menuduh warga seenaknya, kecuali ada bukti" balasku.
"Ada dua makhluk yan gmengumpulkan tumbal, siluman ular yang sudah mati dan sesosok makhluk raksasa yang menyerang Pak Kus" lanjutku.
"Seperti buto atau genderuwo?" tanya Bude.
"Bukan, agak berbeda. Saya sendiri tidak tahu makhluk apa itu" jawabku.
***
"Lelepah.." tiba-tiba suara anak kecil menyerobot pembicaraan kami.
Itu Gio. Seorang anak kelas 4 SD yang di titipkan oleh orang tua nya disini untuk bersekolah.
"Apa? Lelepah? Kamu pernah lihat?" tanyaku ke Gio.
"Pernah. Waktu hujan di kebun belokan setelah tanjakan, sebelah gerbang masuk kampung ini" jawabnya jelas.
"Kamu ngga ngarang kan GI?" tanya Bude Ranti, walaupun Bude tahu Gio bukan anak yang suka berbohong.
"Ngga bu, makhluk itu mengigit entah apa yang mengeluarkan darah" jelasnya sambil terlihat menahan rasa takut.
Jika ucapan Gio benar, kemungkinan yang di gigit itu adalah tumbalnya. Dan tanah tempat makhluk itu mengeksekusi tumbalnya sudah pasti rumah sang pemilik ilmu.
***
"Mas Danan, kebun setelah tanjakan yang diceritakan Gio, bukannya itu rumah majikannya Kan Asep?" tanya Bude dengan wajah yang gelisah
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar