Rumah Hutan (Part 3) - "Rumah Hutan (1)"

 (Sudut pandang Danan)


Sudah satu minggu aku tinggal di kampung ini. Kampung Sukmaraya yang terletak di daerah pegunungan. Sebenarnya tujuanku kesini adalah untuk mengurus berkas-berkas persiapanku di kota asalku, Solo.

Dulu aku sempat tinggal cukup lama disini, sampai akhirnya aku pulang ke Solo dan belum sempat merubah berkas kependudukanku. 

Perkenalkan, namaku Dananjaya Sembara, cukup panggil Danan saja. 

Setelah lulus, aku bekerja di sebuah pabrik gula milik pamanku di daerah Klaten. Namun karena suatu hal, aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi di tempat itu, dan mencoba untuk mulai melamar di perusahaan swasta. 

Di kampung ini aku tinggal di rumah salah satu bude ku. Sebuah rumah du perkampungan yang cukup padat, dengan pemandangan yang membuatku selalu rindu. Yaitu sebuah pohon beringin besar yang selalu bisa dilihat dari sudut manapun kampung ini. Bahkan saat inipun aku masih menatapnya dengan ditemani secangkir kopi pahit dan sebatang rokok kretek. 

"Masuk A', sudah mau maghrib" tiba-tiba suara seorang ibu yang memecah lamunanku.

"Njih bu.. eh maksudnya, iya bu" saya lupa, saya sedang tidak berada di Solo. 

"Masnya bukan orang sini ya?" tanya ibu itu. 

"Iya bu, saya dari Jogja" balasku.

"Mas, dikampung ini kalau sudah maghrib langsung masuk rumah ya, jangan keluar-keluar" lanjut ibu itu lagi. 

"Iya bu, sudah dibilangin juga sama bude. Terima kasih diingatkan.." balasku lagi. 

"Mangga A'" pamitnya.

Cerita ini memang sudah menyebar ke seluruh kampung. Hampir sudah satu bulan dibuat aturan tidak tertulis, bahwa saat maghrib warga dilarang untuk keluar rumah. 

Berdasar cerita warga setempat, sempat ada kejadian misterius dimana seorang anak hilang di kampung ini, dan ditemukan tak bernyawa di samping sebuah sumur, dengan kondisi yang tidak utuh seolah diserang binatang buas.

Selain itu, ada saksi juga seorang pemuda yang diserang makhluk besar saat sedang berjaga malam. 


***


"Punten.. mas Danan sudah siap?" panggil Kang Asep, salah seorang warga kampung. 

"Sudah Kang, sebentar.." jawabku. 

Malam ini kami sudah janjian untuk melakukan sisir kampung bersama dengan warga sekitar. Bude Ranti memang memintaku untuk membantu warga sini untuk menyelesaikan masalah yang membuat desa ini menjadi sangat mencekam.

"Yang ikut berapa orang Kang Asep?" tanyaku. 

"Hari ini cuma bertiga mas. Begitu saya info Mas Danan mau ngecek ke rumah hutan, yang lain ngga mau ikut" terang Kang Asep

"Ya udah, gapapa.  Toh kita cuma mau ngecek aja. Satu lagi siapa Kang?" 

"Pak Kuswara, itu lagi ngabisin rokok dulu" lanjut Kang Asep.

Pak Kuswara adalah salah satu sesepuh desa. Dia biasa dipercaya untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan hal gaib di kampung ini. 

"Malam Pak Kus.." sapaku. 

"Malam Mas Danan, sudah persiapan?" balas Pak Kuswara.

"Sudah Pak. Semoga ngga ada halangan yang berarti" .

"Ini coba Mas Danan pegang.. nanti dikembalikan ke saya setelah kembali dari sana" perintah Pak Kuswara sembari memberikan sebuah kujang kecil. Aku tahu dengan jelas bahwa ini adalah pusaka. 

Yang saya khawatirkan, jangan sampai energi di kujang ini bentrok dengan energi yang ada padaku. Namun, saya tetap menerimanya karena Pak Kuswara pasti punya tujuan mengapa menitipkan benda ini padaku. 


***


Rumah hutan adalah sebuah rumah yang berada di tengah hutan di pinggir kampung. Dulunya rumah ini adalah rumah singgah untuk para pekerja di kebun karet, yang berlokasi tepat di sisi belakang hutan ini. Tapi semenjak perkebunan karet itu sudah tidak beroperasi lagi, otomatis rumah hutan itu sudah di tinggalkan dan sudah tidak terawat lagi. 

Kami menyurusi jalanan kampung dengan tujuan ke rumah hutan tersebut, Saat sampai di perbatasan kampung, kami sudah tidak melihat lagi jalan setapak, kecuali rumput-rumput yang setinggi mata kaki. Didepan kami menjulang tinggi sebuah pohon jati. 

Kondisi jalan yang gelap dan sunyi memaksa kami untuk berjalan lebih berhati-hati.


***


"Mas Danan masih mau lanjut?" tiba-tiba suara Pak Kuswara memecah keheningan. 

Sepertinya beliau sudah paham dengan kondisi di daerah sini.

Aku menengadahkan kepala dan melihat kondisi sekeliling hutan ini. 

"Sialan.." umpatku dalam hati.

Rasanya rasa gelisahku disadari oleh Kan Asep.

"Kenapa Mas Danan?" tanya Kang Asep penasaran. 

"Pocong.." jawabku singkat. 

"Astaga.. kenapa harus diomongin Mas" keluh Kang Asep sambil mengernyitkan dahi. 

"Kan Kang Asep yang nanya. Ini juga baru sedikit, kayanya makin malam nanti semakin banyak yang mau nongol" lanjutku. 

"Jadi, masih mau lanjut Mas Danan?" tanya Pak Kus sekali lagi.

"Segini banyak makhluk yang menjaga tempat itu, pasti ada sesuatu yang besar disana. Kalau kita lanjut dulu bagimana Pak?"

"Kang Asep kalau ngga sanggup tunggu disini saja dulu.." lanjutku. 

"Enak aja, Mas Danan jangan bercanda. Masa iya saya ditinggal disini" balasnya dengan kesal. 

"Ya sudah, kita pasang perlindungan dulu ya" ajak Pak Kus. 

Segera Pak Kus dudul bersila dan membacakan beberapa mantra yang kukenal adalah perisai batin. 

Tak ketinggalan akupun mengambil posisi yang sama dan mencoba merapalkan muksa pangreksa dengan tujuan menutupi kami bertiga dari niat jahat makhluk yang ada disini. 

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Pepohonan dan semak belukar semakin bertambah lebat, menghalangi jalur yang kami lalui. 

Hanya ada suara angin dan langkah kaki kami yang terdengar saat ini. 


***


"A', Bade angkat kamana? (mas, mau pergi kemana?)" mendadak muncul suara seorang perempuan mendekati kami. 

Jelas saja kami tidak menghiraukan suara itu. 

Kami semakin mempercepat langkah kaki, dan sebuah rumah gubuk tua yang hampir tak berbentuk mulai terlihat. 

Sekali lagi terdengar suara dari semak-semak. 

"Naon anu anjeun lakukeun di dieu?" (apa yang kalian lakukan ditempat ini?). Suara wanita itu terdengar lagi. Namun disertai suara semak-semak yang tersibak seolah dilewati hewan hutan. 

Kamipun menoleh, dan apa yang kami lihat..

Sesosok wanita dengan wajah yang tak berbentuk dengan bola mata yang sudah tak berada di tempatnya lagi. Rambutnya terurai ke tanah dengan tubuh bawah berbentuk ular bersisik berwarna hitam. 

Seketika aku kembali merapalkan amalan-amalan untuk mengusir makhluk itu dari sini, namun sebelum selesai aku merapalkan amalan-amalan itu, makhluk itu kembali bersuara.

"Urang henteu maksud nganyeyeri, ngan ukur ngingetkeun anjeun.." (Saya tidak bermaksud menyakiti, saya hany amemperingatkan kalian). Ucap makhluk itu. 

"Bruukkk..!!" suara Kang Asep jatuh terduduk. 

"Naon eta siaaa..." (Apaan itu sialan?!). Teriak Kang Asep yang wajahnya mulai pucat. 

Kukira hanya saya dan Pak Kuswara yang bisa melihat makhluk-makhluk ini, tapi entah kenapa siluman ini juga bisa dilihat oleh Kang Asep.

Perjalan kami lanjutkan dengan sedikit gangguan-gangguan yang terjadi, namun akhirnya kami sampai juga di lokasi yang kami tuju. Imah Leuweung..


BERSAMBUNG






Komentar

Postingan Populer