Tragedi Andes - I Had To Survive (Part 2)

Terlepas dari semua prediksi dan harapan, tak ada pertolongan yang datang hari itu. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan tak terjawab; kenapa, kenapa kami? Kapan pertolongan akan datang? Berkali-kali kami menguatkan diri dengan kata-kata ini: ini bukanlah misi penyelamatan yang mudah, mereka pastinya membutuhkan helikopter atau kemungkinan saat ini mereka sudah bergerak dengan kuda dan bagal, tak lama lagi mereka pasti akan terlihat di cakrawala.

Saat malam kembali datang, sekali lagi kami berhimpitan di kabin yang suram. Satu malam lagi yang penuh dengan kengerian. 

Pada hari ketiga, kami mendengar dengungan suara pesawat lagi. Tapi yang mengejutkan, mereka tidak lagi tepat diatas kami. Pencarian telah berpindah ke area yang lain. Kuingat hari itu aku melihat jauh keatas, pesawat komersial terbang melintasi kami. Aku mengangkat tangan dan berdoa, memohon, agar orang-orang dipesawat itu melihat kami dan mengirimkan bantuan. Bahkan sampai hari ini, tiap kali aku terbang melintasi pegunungan, aku masih merasakan emosi itu dan berdoa agar Tuhan selalu memberkati para gembala dibawah sana yang sedang meringkuk kedinginan dalam gua. 

Kami semua tak tahu apa yang membuat pertolongan datang begitu lama, tapi kami tetap meyakinkan diri bahwa mereka sedang dalam perjalanan. Apa yang pesawat itu cari di area yang sangat jauh dari kami? Mungkin sisa dari pesawat Fairchild? Atau lokasi kecelakaan? Atau lokasi ekor pesawat yang hilang? Hari itu kami masih dibiarkan terus berada dalam kebingungan. 

Lambat laun, seiring berjalannya hari, kabin pesawat yang hancur itu bukanlah sekedar puing-puing. Dia sudah menjadi rumah perlindungan kami yang menyedihkan ditengan pegunungan salju yang mengerikan. Badan pesawat dan kami yang berkerumun didalamnya nampaknya sudah bukan lagi menjadi bagian dari dunia ini. 

27 orang dari kami, yang akan segera berkurang menjadi 19, lalu 16. Di hari-hari awal yang penuh dengan keputusasaan itu tak pernah terbayangkan bahwa shelter perlindungan ini akan berubah menjadi kuburan. 

Pertengahan Oktober itu adalah waktu untuk badai-badai besar Andes mengamuk. Yang membuat kami tetap aman didalam kabin selama 24 jam penuh. Di waktu-waktu ini teman-teman kami satu persatu tewas. Korban berjatuhan setiap beberapa hari sekali. Kami yang masih bertahan hidup mulai berpikir bahwa kematian akan jauh lebih mudah daripada harus bertahan di puing-puing pesawat beku ini. 

Tapi orang-orang yang tersisa mulai berubah menjadi satu organisme, termasuk yang nyaris tak mampu bergerak karena cedera serius. Kami akan serius mendengarkan setiap ada ide yang bagus, seperti layaknya manusia di awal-awal keadaan ketika terpaksa harus bertahan hidup. Setiap dari kami berkontribusi dengan caranya masing-masing, dan dengan sadar kami mengesampingkan ego. 

Situasi ini mirip dengan pertandingan rugby tanda pemain cadangan. Saat seorang pemain terluka, teman yang lain akan memaksakan diri memainkan banyak posisi untuk menutupi celah yang ada. Segala sifat kami didunia luar, ke egoisan, kesombongan, ketidakjujuran, semua dilupakan didunia yang beku ini. 

Nando Parrado menderita cerebral edema yang hampir saja merenggut nyawanya. Tapi obat-obatan untung-untungan secara ajaib justru menyelamatkannya: dalam keadaan koma, kami membiarkan kepalanya semalaman di salju. Dan es, ternyata obat terbaik untuk edema dan pengilang rasa sakit, yang penggunaannya dalam bidang kedokteran akan secara luas digunakan dua puluh tahun dari hari itu. 

Satu hal yang sangat krusial dan mengganggu hari-hari awal itu adalah rasa haus. Walaupun kami dikelilingi salju, tanpa pengetahuan apapun, kami tak kan mampu mengolahnya. Memakan es secara langsung akan membuat lidah kami iritas dan sakit di tenggorokan. Lalu Fito Strauch punya ide sederhana. Dia meletakkan es tipis di atas selembar aluminium yang didapatkannya dari bagian belakang kursi, memelintirnya menjadi corong dan membiarkan es yan gmencair mengalir kedalam botol. 

Kursi-kursi itu juga kami olah sedemikian rupa. Busa nya kami bongkar dan dimanfaatkan untuk bantal agar kami tidak bersentuhan langsung dengan logam pesawat. Kain pelapisnya dilepas, dan kami jahit menggunakan kabel listrik dan berfungsi sebgai selimut. Dengan bahan-bahan yang tersisa, kami membuat semacam sarung tangan dan topi sederhana sekedar untuk melindungi tubuh.

Barang-barang yang lainpun berubah fungsinya. Parfum wanita menjadi desinfektan, pisau cukur menjadi pisau operasi, kaos rugby menjadi perban. Fito yang khawatir kalau pantulan sinar matahari di salju bisa menyebabkan kebutaan, lalu membuat beberapa pasang kacamata hitam dari sunshield yang ia temukan di kokpit. Dan karena tidak mungkin berjalan di salju setelah tengah hari tanpa menenggelamkan kaki di salju, Fito mengikatkan sepasang bantalan kursi ke kakinya lalu diikat dengan sabuk pengaman, untuk digunakan sebagai sepatu salju darurat. 

Kami juga mengatur pembagian jatah tidur ditempat yang paling nyaman di pesawat. Dalam kondisi saat itu, tempat paling nyaman itu adalah jaminan hidup. Diluar itu kematian dapat memilih kami secara acak. Tanpa perintah khusus, kami bagaikan mengerti tugas masing-masing. Gustavo Nicolich dan Fito Strauch setiap pagi menegakkan kembali salib yang selalu rubuh setiap malam. Alvaro Mangino dan Arturo Nogueira menjalankan produksi air. Aku sendiri merawat Vasco Echavarren. Daniel Fernandez selalu memijat kaki Bobby Francois agar tak membeku. Roy Harley mengatur bagian dalam pesawat agar tetap layak huni. Carlitos Paez dan Gustavo Zerbino mengumpulkan barang-barang pribadi milik teman kami yang sudah meninggal, seperti dokumen, medali, jam tangan dan mengumpulkan didalam satu koper kecil.

Setelah kapten rugby kami, Marcelo, meninggal akibat longsoran salju, kepemimpinan diambil alih oleh tiga bersaudara: Fito Strauch, Eduardo Strauch dan Daniel Fernandez. Mereka memimpin yang tersisa dari kami dengan baik. Mereka selalu mendengat ide-ide apapun. 

Mulai dari sini, cerita beralih ke point of view Nando Parrado.

Pada hari ketiga akhirnya aku terbangun dari koma. Dan saat aku perlahan mengumpulkan kesadaran, aku terkejut oleh bayangan kengerian yang telah dijalan oleh teman-temanku. Ketegangan yang mereka lalui sepertinya menuakan umur mereka beberapa tahun. Wajah mereka mengerut dan pucat karena ketegangan muental dan kurang tidur. 

Saat ini ada tiga puluh enam orang yang selamat, sebagian besar adalah anak muda berusia antara sembilan belas sampai dua puluh satu tahun. Yang paling tua adalah Javier Methol, tiga puluh delapan tahun, tapi ia terluka sangat parah oleh rasa muak dan letih. 

Kedua pilot dan sebagian kru pesawat telah tewas. Satu-satunya anggota kru pesawat yang selamat adalah Carlos Roque, montir pesawat. Tapi kecelakaan telah membuatnya linglung sehingga ia hanya bisa meracau dengan pandangan kosong. 

Tidak seorang pun yang menolong kami, tidak ada seorang pun yang memiliki pengetahuan tentang gunung atau pesawat atau teknik-teknik untuk bertahan hidup. Kami terus berada di ambang histeria, tapi kami tidak panik. Yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup kami pada awal yang kritis itu adalah Marcelo Perez, kepemimpinannya telah menyelamatkan banyak nyawa. Operasi penyelamatan yang dengan cepat ia lakukan telah menyelamatkan nyawa yang bisa diangkat dari timbunan kursi, tanpa dinding perlindungan yang ia buat malam itu, kami semua sudah pasti akan membeku keesokan paginya. 

Kepemimpinan Marcelo sunggu heroik. Pada malam hari ia tidur di bagian paling dingin dari badan pesawat, dan ia selalu meminta kepada orang yang tidak terluka untuk melakukan hal yang sama. Ia memaksa kami untuk tetap sibuk, ketika beberapa dari kami ingin selalu berkerumun di dalam pesawat dan hanya menunggu untuk diselamatkan. 

Lebih dari apapun, ia menopang semangat kami dengan meyakinkan bahwa penderitaan kami akan segera berakhir. Ia meyakinkan yang lain bahwa pertolongan sedang menuju ke tempat kami, dan ia sangat bersemangat meyakinkan yang lain bahwa begitulah kenyataannya. Tetap saja, ia baham bahwa bertahan hidup di Andes, meskipun hanya beberapa hari, akan menguji kami sampai batas-batas kemampuan kami. Dan ia ingin menjadikan itu sebagai tanggung jawabnya untuk mengambil tindakan yang akan memberi kami kesempatan terbaik untuk selamat selama itu.

Salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan segala sesuatu yang dapat dimakan yang bisa di temukan di dalam koper atau puing-puing di sekitar kabin. Tidak cukup banyak, beberapa batang coklat dan permen, kacang dan kue kering, buah yang dikeringkan, beberapa toples berisi selai, tiga botol wine, beberapa whiskey, dan beberapa botol liqueur. Meskipun ia berkeyakinan bahwa pertolongan hanya beberapa jam lagi, naluri alamiahnya untuk bertahan hidup mengatakan padanya untuk berpikir pada kemungkinan terburuk. Mercelo mulai menjatah makanan dengan seksama. 

Setiap jatah makanan tak lebih dari potongan kecil coklat atau secolek eslai, mencuci mulut dengan seruputan wine dari tutup wadah aerosol. Semua itu tidak cukup menghilangkan rasa lapar, tapi sebagai sebuah ritual yang bisa memberi kami kekuatan. 

Setiap kami berkumpul untuk menerima jatah makanan, kami membuat pernyataan, untuk semua orang dan untuk diri sendiri, bahwa kami akan melakukan segalanya untuk bisa selamat. 

Marcelo memastikan keyakinan kami akan datangnya pertolongan tetap kuat. Meskipun hari demi hari telah berlalu, dan tidak ada pertolongan yang datang, ia tidak membiarkan kami meragukan kenyataan bahwa kami semua akan selamat.

Pada sebuah sore di hari keempat, sebuah pesawat sewaan yang kecil melintas diatas lokasi kecelakaan. Dan beberapa orang dari kami yang melihatnya yakin pesawat itu memainkan sayapnya. Ini diartikan sebagai tanda bahwa kami telah terlihat, dan sesaat kemudian perasaan lega dan kegirangan menguasai rombongan. Kami menunggu sampai bayangan panjang yang terbentuk dari matahari sore merambat ke pegunungan, tapi sampai malam turun tidak ada pertolongan yang datang.

bersambung

Komentar

Postingan Populer