Semua Penghuni Kontrakan Menjadi Tumbal Pesugihan (Part 2) - Kisah Nyata -

 Dihari ketika Mbak Irma pulang. Dan suasana kontrakan berubah kembali seperti saat pertama kali aku tinggal disitu. Asri, adem, nyaman, tenang, dan semuanya normal. Mbak Irma sempat bilang, "Udah aman sekarang Mas. Ngga usah dipikirin, yang udah ya udah". Nah waktu itu pas seminggu, jadi karena senang akhirnya aku memutuskan untuk menjemput istriku di rumah mertua. Sorenya sepulangnya dari dagang aku menjemput istri dan anak dari rumah mertua dan kembali ke kontrakan. Meski awalnya masih ada keraguan di hati istri tapi aku berusaha menyakinkan kalau sekarang semuanya sudah aman. Dan sampai kontrakan istriku juga merasakan hal yang sama, adem, sejuk. 

Tapi sialnya suasana positif itu tidak lama, cuma seminggu. Dan kembali lagi kesuasana yang panas dan mencekam. Dan bahkan kali ini semuanya menjadi lebih parah daripada sebelumnya. Bahkan kalau sebelumnya hal-hal aneh atau apapun yang aku rasakan hanya terjadi diluar rumah, sekarang malah semua itu bisa terjadi didalam rumah. Semuanya menjadi berubah semakin parah, dua anakku menjadi lebih sering rewel padahal anakku adalah anak-anak yang sangat jarang rewel. Intinya kami seperti dibuat tidak betah tinggal dikontrakan itu. Dan paginya ketika istriku sedang berbaur dengan tetangga yang lain, ternyata semuanya dari tujuh pintu yang ada, semuanya mengalami dan merasakan hal yang sama. Panas, mencekam, menakutkan. Semuanya merasakan hal itu. 

Selang beberapa hari, saya sebut saja Mbak Nia. Penghuni baru yang tinggal dikontrakan nomor dua. Siang itu gempar karena dia cerita kesemua tetangga termasuk ke istriku bahwa saat dia pulang dari main dan langsung tidur sesampainya di kontrakan, dia tidur menghadap kekanan. Entah kenapa ketika menghadap kekanan ini dia gelisah dan berganti menghadap kekiri dan malah bertambah gelisah lalu spontan dia melek dari posisi merem. Dan ternyata ketika dia melek, didepannya sudah ada penampakan yang sangat mengerikan. 

Persis satu jengkal didepan matanya, ada wajah pocong yang juga tidur menghadap ke dirinya, berhadapan dengan mata yang saling memandang. Dia menjelaskan kalau wajahnya itu kacau, saking kacaunya dia sampai tidak bisa menjelaskan dan hanya bisa menangis. Saking takutnya dia justru tidak bisa teriak, tidak bisa bangun bahkan tidak bisa merem sama sekali. Seolah-olah dia dipaksa untuk terus berpandangan dengan pocong tersebut. Bisa dibayangkan, selama semenit harus dipaksa berpandang-pandangan dengan pocong dengan jarak hanya sejengkal. Sampai akhirnya mungkin sudah tidak sanggup lagi, dia pingsan. Menjelang siang dia bangun, lari keluar kamar dan menggedor-gedor tetangga dan bercerita cerita tersebut. 

 Aku mencoba menggabungkan semuanya menjadi satu. Semua dari kami yang tinggal disitu semua nya merasakan hal yang sama, panas, mencekam dan suasana yang tidak enak lainnya. Dan suara langkah yang aku dan istri dengar, semua tetangga juga mendengar suara langkah yang sama. Tapi satu-satunya orang yang dilihatkan wujud penampakan sampai saat ini hanya Mbak Nia. Aku mulai berpikir ada yang salah dengan kontrakan ini. 

Setelah kejadian itu, tiap malam aku selalu mendengar suara al-qur'an dari kamar Mbak Irma yang kebetulan memang bersebelahan dengan kamarku. Entah itu dari suaranya langsung atau dari rekaman yang dia putar lagi, tapi yang jelas tiap malam selalu terdengar suara al-qur'an dari kamar Mbak Irma. Jujur saja aku malah senang ada suara al-qur'an dari kamar Mbak Irma. Itung-itung untuk memperkuat aura positif dan supaya bisa menenangkan suasana. Tapi memang suasana dikomplek kontrakan itu kalau siang sepi banget kalau malam mencekam. Kalau siang takut rampok, kalau malam takut setan.

Dua sampai tiga hari setelah cerita tentang pocong itu, timbul cerita lagi dikomplek kontrakan itu. Jadi Mbak Nia ini setelah dua atau tiga hari setelah dia ditemui oleh pocong itu, dia ditemui lagi sama makhluk lain selain pocong. Kali ini bukan pocong tapi jumlahnya lebih banyak. Ceritanya waktu itu ketika dia sendirian belum tidur, masih main HP dikamarnya. Ditengah-tengah dia sedang main HP tiba-tiba dia merasa merinding hebat. Tiba-tiba muncul kuntilanak yang terbang dilangit-langit kamarnya, jadi anak kuntilanak yang terbang didalam kamarnya. Dan semakin dia takut, semakin banyak jumlahnya. Sampai akhirnya ada empat kuntilanak yang muter-muter didalam kamarnya sambil ketawa cekikikan khas kuntilanak. Spontan dia jerit, lari keluar rumah dan kabur ke saudaranya yang tinggal ngga jauh dari kontrakan kami. Anehnya cuma Mbak Nia ini yang dilihatkan secara wujud. Yan pertama pocong dan yang kedua kuntilanak. Siangnya Mbak Nia balik kekontran dan kembali cerita ke seluruh penghuni kontrakan. Singkat cerita istriku makin takut untuk tinggal disitu. Akhirnya istri minta untuk tinggal lagi dengan orang tua. Karena aku sendiri juga tidak ada solusi, akhirnya mau ngga mau aku ijinkan istriku untuk sementara tinggal dengan mertua lagi. 

Siang sebelum aku antar istriku kerumah orang tuanya, dia masih main dengan anak-anak didepan rumah, dipekarangan. Siang itu dia lihat Nindy. Nindy adalah anak dari tetanggaku dikamar nomor tiga yang berusia sekitar 17 tahun. Dia melihat Nindy sedang bawa ember keatas dan ada suara siram-siram. Setelah ditanya ngapain siang-siang siram-siram diatas, Nindy cuma bilang, "Supaya adem aja tante..". Nah jadi Nindy waktu itu siramin air diatas kontrakan dari ujung keujung. Setelah sorenya istri cerita tentang itu, aku langsung berpikir pasti ada tujuannya kenapa Nindy harus siram air siang-siang dari ujung ke ujung cuma supaya dingin. Logikanya kalau dia mau dingin, harusnya cuma atas kontrakannya yang disiram, bukan dari ujung ke ujung. 

Waktu itu aku dengar kabar kalau Mbak Irma menyewa empat orang laki-laki untuk stay didepan kontrakan. Jadi empat orang itu ditugaskan untuk begadang. Entah apa tujuannya aku juga tidak paham. Tapi disitu aku merasa kalau kehadiran empat orang itu menjadikan suasana menjadi rame, jadi seperti menciptakan suasana aman. Jadi singkatnya, karena aku dengar kabar itu maka aku meminta istriku untuk pulang kembali ke kontrakan. Dan anehnya, benar saja. Dengan kehadiran empat orang itu suasana seperti kembali jadi normal. Tidak mencekam, tidak ada aura negatif seperti sebelumnya. 

Tapi keberadaan keempat orang itu juga tidak lama. Dan setelah empat orang itu sudah tidak ditugaskan lagi didepan kontrakan saat malam, keadaan berubah lagi menjadi negatif, mencekam sepanjang malam. Singkat cerita istriku kembali rewel dan kali ini meminta untuk lebih baik pindah kontrakan. Akhirnya kami menemukan kontrakan baru. Jadi kami tinggal dikontrakan lama itu cuma bertahan 8 atau 9 bulan. 

Kebetulan waktu kita pindah itu, Mbak Irma tidak ada dirumah tapi ada perempuan, mungkin saudaranya. Aku cuma nitip pesan untuk tolong sampaikan ke Mbak Irma kalau kami mau pindahan. Setelah selesai pindahan aku merasa dirumah yang baru ini hawanya sangat berbeda. Aura di tempat tinggal baru ini sangat positif. Padahal jaraknya tidak jauh dari kontrakan kami yang lama. Jaraknya tidak sampai 2 km, dan Mbak Irma tidak tahu kami pindah kemana. Singkat cerita, kehidupan berjalan normal, keluarga juga bahagia, anak sudah ngga rewel dan semuanya menjadi menyenangkan kembali. 

Ternyata istriku masih berhubungan komunikasi dengan tetangga dikamar nomor lima, Mbak Ana dikontrakan yang lama. Dengan tetangga yang lain memang sudah lost contact, kecuali dengan Mbak Ana. Intinya Mbak Ana sempet cerita kalau sekarang hanya ada tiga kontrakan yang terisi. Jadi yang tersisa cuma kamar nomor tiga, nomor lima dan nomor empat. Jadi intinya dari total tujuh pintu, sekarang cuma tiga yang terisi. Penasaran, aku tanya ke istri tentang Mbak Irma. Ternyata Mbak Irma juga ikut pindah, dan pindahnya mendadak. Dan anehnya Mbak Irma ini pindah cuma bawa badan, semua perabotan ditinggal disana. Dan semua perabotan Mbak Irma dikasihkan ke Mbak Ana, semuanya.

Karena barang Mbak Irma yang banyak, Mbak Ana meminta tolong pacarnya untuk membawa perabotan peninggalan Mbak Irma ke kamarnya. Singkat cerita mungkin karena kecapekan, dia akhirnya tidak kerja dihari itu dan menginap disalah satu rumah kerabatnya. Nah ini setelah ini adalah cerita tambahan yang diceritakan oleh pacar dari Mbak Ana. 

Jadi pacar dari Mbak Ana ini cerita ke istriku kalau pas malam itu si Mbak Ana ini nginep dirumah kerabatnya, tanpa sepengetahuan pacar Mbak Ana ini kekontrakannya tapi tidak masuk kekontrakannya, tapi ke kebun dan ke samping kontrakannya. Dia bawa orang pintar kesitu, dan itu malam hari sekitar jam 10 an. Dan orang pintar itu dibawah ke samping rumah nomor tujuh. Kebetulan disamping rumah nomor tujuh itu ada ruangan yang isinya septitank tapi sudah dicor rata dengan jalan. Dan waktu itu, orang pintar itu jongkok dipojokan, entah mungkin mau ritual atau apalah. Setelah itu, orang pintar itu mengeluarkan foto dari tangannya dan foto itu ditunjukkan ke pacar dari Mbak Ana. Dan ternyata foto yang ditunjukkan itu adalah foto Mbak Irma. Pacar Mbak Ana ini juga kaget, dariman adia bisa dapat foto itu. Jadi orang pintar itu menemukan foto Mbak Irma disitu, padahal sebelum orang itu jongkok, disitu tidak apa-apa. 

Singkat cerita, orang pintar itu cerita bahwa sebenarnya Mbak Irma ini orang baik tapi karena sesuatu hal yang akhirnya mengharuskan dia untuk jadi agak jahat dan ternyata dia tiba-tiba pindah begitu saja dari kontrakan itu juga karena ada suatu hal. "Bilang sama pacar kamu, jaga jarak dengan orang ini walaupun orang ini baik, Tapi itu ada maksudnya", kata orang pintar ini ke pacar Mbak Ana. Dan orang ini juga cerita kalau di komplek kontrakan itu juga banyak makhluk yang negatif yang mengelilingi kontrakan itu. Setelah itu orang pintar ini kembali melakukan ritual untuk mengsusir makhluk halus yang ada disitu. Semua bisa diusir tapi ada satu makhluk yang tidak bisa diusir dari situ. Bentuknya tidak dijelaskan seperti apa yang jelas makhluk itu ada disitu karena punya maksud dan tujuan sendiri. 

Orang pintar itu cerita lagi bahwa dibalik kolam-kolam ikan kering yang ada dihalaman kontrakan itu ada kuburan-kuburan tua yang entah kuburan siapa disitu. Nah karena pacar dari Mbak Ana ini adalah orang asli kampung situ akhirnya dia ingat ketika dia kecil dan bangunan kontrakan itu belum ada, masih tanah, dia ingat bahwa waktu itu, orang-orang dewasa jaman dia kecil, tempat itu sering dipakai untuk main jelangkung, dan hal-hal negatif lainnya. Jadi mungkin apa yang terjadi dikontrakan itu karena efek dari kejadian negatif yang sering terjadi ditempat itu dimasa lalu. Dan orang pintar itu melanjutkan kalau ditanah ini banyak benda pusaka dari dimensi lain yang tidak bisa dilihat mata manusia normal.

Disuatu malam Mbak Ana cerita ke istriku kalau dia memberi kabar kakaknya yang dikampung tentang pemberian perabot dari tetangga kontrakannya. Kebetulan kakak dari Mbak Ana ini curiga kenapa dijaman seperti ini masih ada orang sebaik itu bahkan memberikan semua perabotannya secara gratis. Karena kakaknya penasaran akhirnya sang kakak minta tolong untuk difotoin barang-barang yang diberikan itu. Dan setelah foto dikirim ke kakaknya, tidak selang lama kakaknya telpon. Kakaknya telpon dengan nada marah, "Sekarang juga kamu buang itu semua barang yang dikasih ke kamu, semuanya". Mbak Ana juga ngotot kenapa harus dibuang bahkan sempat berpikir kalau kakaknya iri. Tapi kakaknya juga ngotot, demi keselamatan lebih baik dibuang.

Ditengah pembicaraan istriku dan Mbak Ana di telpon, Mbak Ana memotong pembicaraan dan langsung bilang, "Sebentar mbak, aku kaya cium bau kemenyan..".

BERSAMBUNG 



 


.

Komentar

Postingan Populer