Semua Penghuni Kontrakan Menjadi Tumbal Pesugihan (Part 3)
Ditengah pembicaraan istriku dan Mbak Ana di telpon, Mbak Ana memotong pembicaraan dan langsung bilang, "Sebentar mbak, aku kaya cium bau kemenyan..". Logikanya ketika ada bau kemenyan pasti ada yang bakar kemenyan, sedangkan disamping kontrakan Mbak Ana itu adalah kamar nomor enam, bekas kontrakan saya yang dimana sekarang kontrakan itu kosong. Setelah yang ditelusuri ternyata bau kemenyan itu berasal dari sofa yang sedang diduduki Mbak Ana dan kebetulan sofa itu adalah sofa pemberian dari Mbak Irma sebelum Mbak Irma pergi.
Setelah menutup sambungan telpon dengan istriku, kemudian Mbak Ana menelpon kakaknya. Dan begitu telpon diangkat oleh kakaknya, kakaknya tanpa basa basi langsung ngamuk, "Udah aku bilang, kamu buang itu semua barang yang dikasih tetangga kamu. Buang sekarang juga!". Jelas Mbak Ana bingung kenapa barang-barang itu harus dibuang? "Kamu mau tahu ngga? Semua barang-barang pemberian Mbak Irma itu ada setannya. Mau itu sendok, garpu, sofa, semua itu ada 'isinya'", kakaknya menjelaskan. Dan kakaknya juga menjelaskan, kalau Mbak Irma itu punya niat jahat ke Mbak Ana. "Dia bukan ngga suka sama kamu, tapi dia memang punya niat jahat sama kamu. Pokoknya kamu buang semuanya", lanjut kakaknya. Setelah itu Mbak Ana langsung meminta jemput pacarnya untuk segera pergi kerumahku.
Kurang lebih jam 9 malam itu Mbak Ana sampai dirumahku dan tentu saja itu membuat istriku kaget. "Ngapain kesini malam-malam?", tanya istriku bingung. "Itu Mbak, semua barang-barang yang dikasih Mbak Irma, semuanya bau kemenyan", jawab Mbak Ana. "Lah itu tadi yang kamu bilang lewat telpon, itu beneran", lanjut istriku. "Iya beneran Mbak, aku bingung harus gimana", Mbak Ana semakin takut. Istriku mencoba menenangkan Mbak Ana. Sedangkan pacarnya yang tidak tahu apa-apa ikut bingung karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Istriku memberi solusi untuk memindahkan semua barang-barang itu."Pindahin kemana Mbak", tanya Mbak Ana bingung. "Balikin lagi aja kerumah Mbak Irma", kata istriku. Tidak lama Mbak Ana dan pacarnya pergi dan memanggil teman-teman dari pacarnya untuk membantu memindahkan barang.
Singkat cerita setelah semua barang dikembalikan ke rumah Mbak Irma, Mbak Ana kembali lagi kerumahku. Mbak Ana menanyakan apakah ada kontrakan yang kosong disekitar tempatku tinggal. Dan kebetulan ngga jauh dari kontrakanku, ada kontrakan yang kosong. Dan malam itu juga Mbak Ana setuju untuk nanti akan pindah ke kontrakan itu. Sebenarnya malam itu Mbak Ana ini ingin menginap di kontrakanku malam itu. Tapi karena sungkan, dia mengurungkan niatnya itu.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Mbak Ana kembali kekontrakannya dengan diantar oleh pacarnya. Dan pacarnya pun dengan berat hati harus meninggalkan Mbak Ana kembali sendirian di kontrakannya. Setelah Mbak Ana tutup pintu, walaupun sudah tidak ada barang-barang dari Mbak Irma, tapi Mbak Ana merasakan lebih dari apa yang aku rasakan. Dia merasakan di kontrakannya itu sangat pengap, mencekam dan dia juga merasa kalau didalam kontrakannya itu "ramai", tapi dia cuma bisa merasakan, tidak bisa melihat apa-apa. Karena merasa takut, dia kembali keluar kamar dan akhirnya gedor-gedor kamar nomor tiga. Kamar nomor tiga ini adalah kamar dari Nindy. Dia akhirnya memberanikan diri untuk ijin menginap di kamar Nindy malam itu. Dan mau tidak mau dia bercerita tentang apa yang dia rasakan didalam kontrakannya ke Ibu dari Nindy. Dari situlah akhirnya Nindy keluar dari dalam kamar.
Singkatnya, kamar nomor 4 juga akhirnya keluar karena mendengar suara yang cukup gaduh. Dan mereka semua berkumpul di teras kontrakan. Jadi penghuni dari tiga kamar yang masih tersisa itu akhirnya berkumpul dan ngobrol jadi satu. Mbak Ana, Nindy dan Pak Danu (penghuni kamar nomor 4) dan Pak Salim, bapak dari Pak Danu. Dan disitulah akhirnya mereka saling cerita satu sama lain. Mbak Ana bercerita semua tentang apa yang dia rasakan tadi ke keluarga Nindy dan keluarga Pak Danu. Dan pas cerita tentang perabotan itu, ternyata Pak Danu sempat meminta rak piring dari Mbak Irma. Seketika Pak Danu kembali kekamarnya dan mengambil rak piring pemberian dari Mbak Irma dan dilempar ke luar kamar. Pak Danu juga bercerita kalau sejak Mbak Irma memberikan rak piring itu, hawa di rumah Pak Danu juga semakin panas, cuma Pak Danu tidak mencium bau kemenyan seperti Mbak Ana.
Kemudian muncul suara dari Pak Salim, bapak dari Pak Danu. "Kok pada ngalamin yang aneh-aneh? Kan yang punya kontrakan ada tuh dirumah. Bilang aja sama dia kalau memang ada yang beres", kata Pak Salim polos. Spontan semua langsung menoleh kearah Pak Salim. "Yang punya kontrakan ngga disini Pak. Yang punya kontrakan yang mana?", Tanya Mbak Ana. "Ya kontrakan kitalah. Ya itu rumah gede itu. Wong saya sering lihat disitu banyak orang", lanjut Pak Salim sambil menunjuk kearah rumah induk yang ada disamping. Padahal semua orang yang ada disitu tidak pernah lihat lampu rumah itu menyala sama sekali. Mbak Ana berusaha menjelaskan bahwa rumah induk itu kosong dan tidak ada penghuninya, Pak Danu juga berusaha meyakinkan Bapaknya kalau memang rumah itu kosong. Setelah mendengan omongan semua orang yang sama akan ruma itu otomatis Pak Salim lemas karena dia punya kebiasaan setiap malam sering mendengarkan radio dan merokok diteras rumah yang bisa melihat langsung kearah rumah induk itu.
Setelah itu Nindy juga bercerita kalau sebenarnya dia adalah orang yang peka terhadap hal-hal yang halus seperti itu. Dan Nindy juga akhirnya bilang sebab dari kenapa lampu yang ada diujung gang selalu mati walau sudah dibetulkan berkali-kali. Itu karena di tiang listrik itu ada genderuwo yang tinggi besar, yang tingginya jauh lebih tinggi dari tiang listrik itu. Dan ternyata sosok itu yang selalu mematikan lampu itu karena sosok itu merasa terganggu dengan lampu yang terang. Lalu Nindy juga cerita kenapa waktu siang-siang itu dia siram-siram air di loteng, itu untuk mencegah timbulnya suara lari-lari yang hampir setiap malam kita dengar dari dalam kamar. Kemudian Nindy juga bilang kalau dia melihat dari mata batinnya, kalau suami dari Mbak Irma yang sudah meninggal kecelakaan itu bukan karena kecelakaan biasa. Tapi kecelakaannya lebih disebabkan oleh makhluk halus, atau dalam arti lain "sengaja dibuat kecelakaan" dengan maksud tertentu sehingga suami Mbak Irma meninggal. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah, suami Mbak Irma itu dijadikan tumbal pesugihan oleh Om dari suami Mbak Irma itu sendiri.
Dan yang lebih parah lagi, masih menurut Nindy, dikontrakan itu ada satu makhluk yang menyerupai suami dari Mbak Irma. Makhluk itu selalu berdiri disamping kontrakan Mbak Irma dan makhluk itu ngotot kalau Mbak Irma harus ikut bersama makhluk itu dan bersama-sama ikut menjadi tumbal pesugihan. Akhirnya terjawab kenapa Mbak Irma tiba-tiba pindah dan kenapa disemua perabotannya seperti ada makhluk yang menempel disana, ternyata Mbak Irma adalah incaran berikutnya untuk menjadi tumbal. Dan sekilas skema dari tumbal dari pesugihan itu adalah, dalam kurun waktu tertentu Om dari mantan suami Mbak Irma harus mengorbankan salah satu anggota keluarganya, sampai hingga suatu saat anggota keluarganya sudah habis ditumbalkan maka tumbal harus berasal dari orang-orang dari lingkungan sekitar. Dan singkatnya penghuni dari kontrakan tersebut satu-persatu akan menjadi korban tumbal berikutnya.
Nindy melanjutkan cerita kenapa Mbak Irma buru-buru pindah pada malam itu karena akhirnya dia tahu kalau dia dan anaknya juga akan dijadikan tumbal pesugihan dari Om mantan suaminya. Dan salah satu cara menghindar sebagai tumbal adalah pindah dari kontrakan itu. Dan kenapa akhirnya perabotan itu diberikan cuma-cuma ke Mbak Ana, itu karena Mbak Irma sudah tahu kalo didalam perabotan itu sudah ada penunggunya yang memang disiapkan untuk mencelakai Mbak Irma, singkat cerita Mbak Irma berpikir bagaimana caranya agar tumbal yang seharusnya dia bisa berpindah ke orang lain, yaitu dengan cara memberikan perabot itu ke orang lain supaya orang lain itu yang nantinya menjadi korban. Karena dia tidak mau menjadi tumbal maka semua barang diberikan ke Mbak Ana supaya Mbak Ana yang akhirnya menjadi tumbal menggantikan dirinya. Dan bersyukurnya, aku dan keluargaku sudah pindah dari situ. Mungkin jika keluargaku masih ada disana, keluargaku yang akan diberikan perabotan itu. Karena Mbak Irma paling dekat dengan istriku dibandingkan dengan penghuni yang lain, dan kamar kita bersebelahan.
Nah lucunya setelah kontrakan itu minim penghuni, mungkin setannya kurang kerjaan atau bagaimana, akhirnya warga sekitar yang ada diluar kontrakan juga mulai merasakan gangguan-gangguan yang sama seperti yang terjadi dikontrakan.
Dan terakhir yang aku tahu yang tinggal dikontrakan itu hanya keluarga dari Nindy dan keluarga Pak Danu, setelah Mbak Ana akhirnya juga pindah ke dekat kontrakanku. Dan sampai hari ini aku tidak tahu bagaimana dengan nasib dua keluarga itu. Karena memang aku tidak berani mencari tahu tentang mereka, aku takut mendengar jika ada hal buruk yang menimpa mereka.
The end
Komentar
Posting Komentar