Cerita ini bermula dari kepindahanku ke kontrakkanku yang baru. Ceritanya kami terpaksa pindah kontrakan karena kontrakan yang lama akan ditinggali untuk keluarga si pemilik kontrakan. Karena diburu waktu akhirnya kami mencari kontrakan seadanya. Akhirnya secara ngga sengaja kami menemukan sebuah rumah kontrakan yang kami dapat secara kebetulan. Dengan diantar oleh salah seorang warga, kami diantara untuk bertemu dengan pemilik rumah kosong yang dikontrakkan itu. Saya jelaskan sedikit layout jalan menuju rumah kontrakan itu. Jadi didepan rumah kosong itu ada jalan yang cukup untuk satu mobil, diujung jalan itu ada pagar warna putih dan ada rumah berderet sebanyak tujuh rumah. Didepan kontrakan itu ada beberapa pohon, pohon rambutan, pohon mangga dan kolam ikan yang kering. Rumah kontrakan ini adalah rumah petak. Dimana petak pertama adalah ruang tv atau ruang tamu, petak kedua adalah kamar dan petak ketiga adalah dapur dan kamar mandi. Sedangkan rumah induk pemilik kontrakan posisinya ada di samping. Jadi kalau dari rumah kontrakan itu kelihatan rumah induk si pemilik kontrakan.
Akhirnya kami dikenalkan kepada si pemilik kontrakan. Seorang Ibu-ibu, sebut saja Bu Yeni. Setelah aku memperkenalkan diri, ternyata Ibu Yeni ini enak banget orangnya, dan dia menjelaskan kalau kebetulan ada dua pintu yang kosong. Pintu nomor dua dan pintu nomor enam. Setelah aku pertimbangkan dengan istri, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa pintu nomor enam, karena posisinya dipojok jadi enak dibuat istirahat. Didepan kontrakan itu ada teras yang cukup untuk dua motor, disamping berbatasan dengan kebun dan dibelakang ada ruang terbuka untuk cuci jemur. Setelah istri juga cocok akhirnya aku membayar uang muka untuk kontrakan itu.
Malam itu juga kami bergegas pindah karena memang kami sudah diburu-buru untuk segera pindah. Keesokan harinya aku perkenalan dengan warga-warga sekitar yang juga mengontrak disitu dan beraktivitas seperti biasa. Jadi aku adalah seorang wiraswasta yang memiliki toko dipasar yang mengharuskan aku untuk membuka toko dari jam 3 pagi samapi jam 6 sore. Jadi meski sudah berkenalan dengan tetangga sekitar, aku juga tidak terlalu akrab dengan mereka karena memang kesibukanku. Berhubung hanya aku yang kerja dan istri sehari-hari hanya dirumah, otomatis istri yang lebih akrab dengan lingkungan sekitar. Dan kebetulan istriku paling akrab dengan kontrakan nomor tujuh, yang ada dipaling ujung, yang ditinggali ibu-ibu, saya sebut saja Mbak Irma, janda anak dua.
Berjalannya waktu kami ngontrak di situ, Mbak Irma memberi kabar ke istriku bahwa kontrakan beserta rumah induk yang ada disitu akan dijual dan akan dijual ke Om dari Mbak Irma. Lebih jelasnya adalah Om dari almarhum suami Mbak Irma. Singkat cerita akhirnya kabar yang diberikan Mbak Irma menjadi kenyataan. Seluruh kontrakan beserta rumah induk itu akhirnya dibeli oleh Om dari Mbak Irma ini. Setelah itu selang beberapa hari, Mbak Irma mendapatkan sebuah pesan singkat dari Bu Yeni yang berisi cacian dan makian, yang isi detailnya bagaimana juga saya tidak bisa menjelaskan disini. Sebenarnya Bu Yeni ini tinggal dengan dua anak dan satu adiknya dan suami dari Bu Yeni ini juga tidak pernah terlihat selama kami tinggal dikontrakan itu. Dan sebenarnya aku juga tidak mau tahu dengan kehidupan Bu Yeni ini.
Singkat cerita kontrakan yang awalnya hawanya adem, sejuk karena banyak pohon mendadak berubah menjadi panas, gerah sepanjang waktu. Kala itu aku cuma mencoba selalu berpikir positif, mungkin karena cuaca yang memang lagi panas. Sekitar 6 bulan kemudian, sore-sore ketika aku baru pulang dari pasar tiba-tiba istriku cerita, rumah nomor satu kerampokan sekitar jam setengah enam pagi. Rumah nomor satu itu dihuni oleh Mbak Mira. Dia tinggal dengan suami dan anak perempuannya yang masih balita. Kebetulan waktu kejadian itu ada suami dari Mbak Mira. Dan anakku yang usianya sudah 6 tahun bercerita. Waktu kejadian itu aku sudah berangkat ke pasar. Waktu itu anakku sudah bangun lebih dulu dari istriku, dan kebiasaan dia kalau bangun tidur adalah membuka jendela. Pas anakku buka jendela dia lihat didepan pintu nomor satu ada empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan, tapi anakku tidak bisa menggambarkan muka dari orang-orang itu. Dan salah satu dari laki-laki itu ada yang melihat ke arah anakku.
Setelah jendela pintu nomor satu itu berhasil di buka, keempat orang itu masuk. Singkatnya ketika itu anakku tidak tahu kalau rumah nomor satu itu sedang kemalingan, ya namanya juga anak-anak. Sekitar jam setengah sembilan, mungkin waktu itu penghuni rumah Mbak Mira baru saja bangun, heboh. Tetangga semua keluar, dan Mbak Mira menjelaskan kalau baru saja kemalingan dan yang hilang antara lain handphone, dompet dan barang-barang yang lain. Yang anehnya Mbak Mira, suami dan anaknya saat itu tidur diruang tengah dan semua barang berharga juga ada diruang tengah dan berhasil diambil oleh perampok. Anehnya adalah kenapa Mbak Mira dan suaminya atau siapapun yang ada disana tidak ada yang terbangun?
Malamnya Mbak Irma bercerita ke istriku kenapa Bu Yeni menjual semua rumah dan kontrakannya. Ternyata suami dari Bu Yeni adalah seorang gembong perampokan. Jadi singkat cerita, semua aset yang dimiliki Bu Yeni adalah didapat dari hasil merampok. Dan ternyata suami dari Bu Yeni ini ada dan sedang ada di sel. Terjawab sudah pertanyaanku tentang kenapa selama ini aku tidak pernah melihat suami dari Bu Yeni. Jelasnya aku tidak tahu sedang dipenjara mana. Dan mungkin karena Bu Yeni ini sering digosipin oleh warga sekitar dan akhirnya memutuskan untuk pindah. Aku sebagai warga baru jelas tidak tahu dengan sejarah dari Bu Yeni yang seperti itu. Misalnya aku tahu dari awal juga aku tidak akan mau tinggal disitu. Tapi mungkin saat itu sudah kepalang tanggung akhirnya aku dan istri memutuskan untuk bertahan dulu dengan tetap tinggal di kontrakan itu.
Sejak kejadian perampokan itu, setiap aku sedang memanaskan motor untuk pergi ke pasar, aku selalu merasa kalau ada yang sedang mengawasi dan memperhatikanku. Walaupun aku tidak melihat apa-apa, tapi perasaan dan firasat itu yang begitu kuat kalau ada yang sedang memperhatikan. Aku juga tidak tahu apa, bentuknya seperti apa, setiap aku menoleh ke kanan, kiri, belakang juga tidak ada apa-apa tapi perasaan yang merinding itu selalu ada dan itu setiap hari dan setiap jam tiga pagi. Tapi yang anehnya setiap aku sudah keluar dari gang kontrakan itu, rasanya sudah biasa lagi. Tidak ada takut atau merinding sama sekali.
Diujung jalan gang kontrakan itu ada tiang listrik dimana di tiang listrik itu ada lampu penerangan yang sangat terang kalau malam. Dan suatu saat lampu ditiang listrik itu mati, entah putus entah kenapa aku juga tidak tahu. Dan tiap kali diganti, setiap hari juga lampu itu kembali mati. Begitu terus sampai tiga kali. Sampai akhirnya PLN sudah menyerah dan pemilik kontrakan juga tidak mau tahu. Kebetulan pemilik kontrakan yang baru ini tidak tinggal disitu, rumah induk yang dulu ditinggali oleh Bu Yeni juga akhirnya ikut dikontrakkan.
Setelah kejadian lampu ditiang listrik yang sudah tidak menyala lagi, keadaan di situ menjadi semakin panas, apalagi ketika siang hari. Dan malam pun yang seharusnya lebih dingin daripada siang juga tidak ada bedanya, sama-sama panas. Sampai akhirnya dua kontrakan di sebelahku, nomor empat dan lima kosong. Awalnya dua kontrakan itu diisi oleh guru perempuan. Dan akhirnya ada penghuni baru dikontrakan nomor lima. Perempuan, pegawai sebuah swalayan. Kita sebut saja Ana.
Singkat cerita, kembali ke masalah perampokan tadi. Ternyata Mbak Irma yang akhirnya ditunjuk sebegai penanggung jawab kontrakan karena Om dari mendiang suaminya adalah pemilik dari kontrakan itu, masih merasa curiga dengan kejadian perampokan yang tempo hari terjadi di rumah Mbak Mira. Gimana mungkin ada perampokan jam setengah enam pagi dalam keadaan yang sudah lumayan terang dan sudah ada beberapa orang yang bangun, dan tidak ada satupun yang sadar kalau sedang ada perampokan dirumah itu. Yang dicurigai Mbak Irma ini adalah jangan-jangan pelaku perampokan ini adalah anak buah dari suami Bu Yeni. Entah ada masalah apa tapi aku merasa kesannya panghuni kontrakan ini yang menjadi korban masalah pribadi antara suami Bu Yeni dengan Om dari Mbak Irma.
Ini bulan kedelapan kami tinggal dikontrakan itu. Kebetulan istriku sering tidur lebih malam daripada aku, entah masak atau menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum sempat selesai. Disuatu malam saat istriku baru mau tidur, tiba-tiba dia membangunkanku. Sebenarnya aku adalah tipe orang yang akan kesel jika dibangunkan saat tidur, bukan karena apa-apa, tapi karena aku harus bangun sepertiga malam untuk mencari nafkah. Jadi aku lebih suka jika saat tidur tidak ada yang menganggu. Saat itu aku dibangunkan istriku karena dia mendengar seperti suara langkah kaki dari atas kontrakan. Jadi atas dari kontrakan kami itu bukan genteng, tapi cor-coran. Mungkin dulunya akan dibuat dua lantai tapi batal. Saat itu istri mendengar ada suara langkah kaki dari atas yang seperti sengaja dihentak-hentakkan. Aku juga sebenarnya mendengar tapi samar dan menyarankan istri untuk kembali tidur. Tapi saat itu istriku khawatir karena mengingat kejadian kamar nomor satu yang sempat kemalingan. Tapi aku mikirnya kalau memang maling, tidak mungkin dia sengaja bikin suara berisik. Dan itu hampir tiap malam kita alami.
Suatu saat istriku bercerita ketetangga-tetangga yang lain tentang suara langkah kaki itu. Dan banya tetanggal lain yang juga mendengar suara yang sama, tetapi tidak ada yang berani untuk keluar dan melihat sebenarnya apa atau siapa pemilik suara itu.
Pada suatu hari kontrakanku kedatangan mertuaku. Kebetulan tempat tinggal mertuaku tidak jauh dari rumah kontrakan kami. Mertuaku tinggal disebuah perumahan, sedikit diatas perumahan itu ada perkampungan dan diperkampungan itulah kami tinggal. Intinya kontrakan kami yang baru ini tidak jauh dari kontrakan kami yang lama dan tidak jauh juga dari rumah mertua. Waktu itu mertuaku menginap dirumah kontrakan kami. Saat itu jam 8 malam, kita semua ada diruang tv. Posisi dari mertua perempuanku waktu itu sedang bersandar di pintu depan, dan waktu itu pandangan mertuaku langsung kepintu belakang, pintu yang langsung nembus ke kebun dibelakang. Mertuaku nanya, "Itu siapa yang main gagang pintu?". Jadi menurut mertuaku, ada yang berusaha membuka pintu dari luar, jadi kelihatan gagang pintu yang bergerak-gerak. Waktu aku lihat, tidak ada apa-apa tapi mertua waktu itu ngotot kalau pintu itu seperti ada yang berusaha membuka dari luar. Dan ketika aku cek kebelakang rumah, memang tidak ada apa-apa, tidak ada aktivitas dan tidak ada siapa-siapa disana.
Keesokan harinya gantian adik iparku yang laki-laki datang menginap, saya sebut saja Dony. Dony adalah anak muda seperti anak muda kebanyakan yang suka main game online. Ketika itu aku dan anak istri sudah tidur, dan dia masih main sampai lupa mandi. Saat itu Dony baru mandi sekitar jam 12 lewat. Dia mandi dan mendadak aku dengar suara pintu kamar mandi di gebrak dengan kencangnya. Ketika aku lihat, ternyata Doni ini sudah lari. Alasannya cuma karena buru-buru, dingin. Dan paginya Dony baru cerita ke istri kalau waktu dia mandi ada suara perempuan ketawa kenceng, cekikikan dari atas. Aku sempat berpikir kalau mungkin waktu itu masih ada tetangga yang belum tidur atau suara tv dari kamar atau kontrakan sebelah. Tapi selama ini aku amati, dilingkungan itu lepas dari jam 9 malam suasana pasti sudah sepi. Tidak ada suara berisik atau suara tv sekalipun.
Berhubung Dony sudah cerita yang ngga-ngga ke istri, singkatnya istriku jadi takut tinggal di kontrakan itu lagi. Intinya saat itu untuk sementara istri minta untuk mengungsi ke rumah orang tuanya. Dengan berat hati aku pun meng iya kan keinginan istri. Tapi dengan catatan aku tidak ikut tinggal disana, dengan alasan sungkan kalau merepotkan orang tua, meskipun mertua ini tergolong mertua yang baik yang tidak membedakan mana anak dan mana menantu, semuanya sama. Akhirnya aku tinggal sendiri dikontrakan itu sedangkan anak dan istri sementara tinggal bersama mertua.
Dihari kedua atau ketiga diwaktu aku tinggal sendiri dikontrakan itu. Aku ngga tahu persisnya waktu itu jam berapa tapi ketika itu aku terbangun karena ada suara hentakan kaki yang sangat kencang dari atas kontrakan, saking kerasnya tembok kontrakan seperti bergetar. Karena aku emosi, dengan marah aku spontan lari kearah kontrakan nomor satu dan naik kearah atas (disebelah kontrakan nomor satu ada tangga untuk naik ke atas cor-coran disepanjang kontrakan), dan setelah sampai diatas aku tidak menemui siapapun disana. Yang aneh adalah, waktu dari aku bangun, lari hingga sampai keatas itu tidak sampai semenit. Logikanya kalau memang tadi ada orang diatas situ, tidak mungkin orang itu lompat kebawah karena jaraknya cukup tinggi dan solusinya harus lewat tangga yang tadi aku naiki untuk keatas. Tapi suasana diatas waktu itu sangat mencekam, sepi tapi terasa seperti ramai. Ramai yang sangat ramai tapi tidak terlihat oleh mata.
Malam berikutnya aku masih tinggal sendirian. Ketika aku pulang dari pasar, tidak sengaja aku bertemu dengan Mbak Irma. Mbak Irma saat itu bawa tas bersama dengan anaknya, ketika aku tanya mau kemana Mbak Irma cuma bilang mau kesuatu tempat (tidak bisa aku jelaskan tempatnya) dan mau menetralisir kontrakan ini. Dalam hati waktu itu aku berpikir ternyata Mbak Irma juga merasakan apa yang aku dan kami rasakan disitu. Barulah aku cerita kalau memang dikontrakan itu sering ada yang aneh-aneh. Dan dia juga meng iya kan, makanya dia mau pergi ke tempat itu untuk menetralisir lingkungan kontrakan ini. Berarti singkat nya gangguan yang selama ini aku dan istri alami itu jelas bukan disebabkan dari manusia.
Tiga hari kemudian Mbak Irma pulang..
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar