Saya Capek Ketemu Malem..
Saya Sena. Saya adalah pekerja seni yang kebetulan bekerja sebagai salah satu kru film. Kejadian ini terjadi ketika saya dan tim akan melakukan syuting "dummy" untuk salah satu film di Gunung Gede Pangrango. Tepatnya pada saat itu kami mulai naik dari jalur Cibodas dengan jumlah kru sekitar 17 orang. Seperti biasa pagi sebelum kami melakukan pendakian, kami melakukan prepare seluruh tim, untuk mempersiapkan alat, logistik dan lain sebagainya.
Diawal pendakian semua lancar, cuma karena memang kebutuhan kru yang cukup banyak akhirnya mengakibatkan perjalanan kita tidak sesuai dengan estimasi waktu, ibaratnya perjalanan menjadi lama. Perjalanan pagi, siang berjalan dengan normal. Akhirnya menjelang sore sekitar jam 3 yang dimana kondisi sudah agak gelap karena mendung dan kabut juga turun. Sedikit info, jika kita mendaki Gunung Gede melalui jalur Cibodas, nantinya kita akan melewati sumber air panas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari basecamp. Karena lambatnya perjalanan, hingga jam 3 sore kami belum sampai di sumber air panas tersebut. Sedangkan porter kami yang bertugas membawa separuh peralatan kami sudah berjalan didepan dan mereka akan menunggu kami di sumber air panas tersebut.
Singkat cerita saya dan salah satu teman (Bang Ito) punya inisiatif untuk menyusul porter yang sudah berjalan duluan. Ketika berjalan menuju sumber air panas, keadaan sudah berubah menjadi hujan deras, petir. Perjalanan kami saat itu terasa lebih berat karena jalur menjadi licin, gelap dan jarak pandang yang terbatas, karena saat itu kami hanya menggunakan head lamp. Dan salah kita waktu itu adalah, kami berdua tidak ada yang membawa tenda, bahkan sekedar flysheet yang bisa kami dirikan sekedar untuk berlindung pun kami tidak bawa.
Setelah kami terus jalan dibawah hujan, kami sampai disebuah pos dengan bangunan kecil yang ada ditengahnya. Kami berdua memutuskan untuk berteduh di pos tersebut. Tiba-tiba Bang Ito bilang, "Mules nih". Saya jawab, "Ya udah sih bang, boker ya boker aja...". Singkatnya Bang Ito mencari semak-semak yang agak jauh untuk buang hajat. Nah selang 10 menit dikisaran maghrib, sejenak saya merasa seperti sedang uji nyali. Gelap, sendirian dan hanya menggunakan head lamp. Ngga seberapa lama ada seekor burung yang tiba-tiba ada didepan saya. Saya mencoba mengusir dengan sinar head lamp dan kibasan tangan, anehnya burung ini tidak juga mau pergi.
Disitu saya sudah merasa deg-degan. Gilanya, saya coba ngajak ngobrol burung itu, "Situ kalau cuma mau kasih tahu yang ngga-ngga, mendingan ngga usah. Pergi aja..". Dan benar. Setelah saya bicara seperti itu, burung itu menjauh pergi. Anehnya burung itu tidak terbang, tapi seperti berjalan menjauhi saya dan hilang ditengah gelap. Setelah burung itu hilang, mulailah saya mencium bau yang aneh-aneh. Mulai bau wangi, bau bangkai, semua ada. Disebelah dari pos tempat saya berteduh itu, sedikit dibawah ada aliran sungai kecil yang biasanya di pakai oleh para pendaki untuk mengambil air. Disitu saya dengar ada anak-anak kecil yang sedang main air. Ngga kelihatan wujudnya tapi terdengar jelas anak-anak kecil ramai yang sedang bercanda disana. Saya sempat mikir, "Gila ini gunung, baru juga maghrib. Udah ada-ada aja..".
Ngga lama, semua apa yang saya rasakan, mulai dai bau-bau an sampai suara anak-anak kecil, semuanya hilang dan hujan juga sudah sedikit reda. Tapi justru ketika semua itu hilang, anehnya bulu kuduk makin merinding. Jauh lebih merinding daripada sebelumnya. Nah sejak burung yang tadi muncul itu pergi itu sampai akhirnya semuanya yang aneh-aneh hilang, saya tidak pernah menatap ke depan, cuma berani menunduk. Tapi pelan-pelan saya untuk melihat kebelakang. Kenapa saya mau melihat kebelakang, karena saya mendengar ada suara seperti suara Bang Ito disana. Ketika saya akan menoleh kebelakang, baru sampai kesamping, saya melihat ada kaki yang besar dan jelas bukan kaki manusia. Hitam, besar yang mungkin lima kali lipat dari kaki manusia, berbulu. Dan ternyata ketika saya melihat kaki itu, Bang Ito muncul dari depan saya. Itu pun saya sempat curiga, ini beneran teman saya bukan nih, karena kondisi sudah seperti itu. Tidak lama Bang Ito muncul, tim-tim lain yang tadi kita tinggal juga akhirnya muncul.
Setelah tim lain istirahat sebentar lalu kita memutuskan untuk jalan lagi. Ada satu anggota kru juga, sebut saja Mbak Yanti. Dia jalan pakai tongkat, saya juga tidak tahu dia dapat tongkat dari mana. Sepanjang jalan kebetulan saya ada dibelakang Mbak Yanti, selisih satu orang. Nah di jalan itu saya tertarik dengan tongkat yang dibawa Mbak Yanti. Jadi dibelakang Mbak Yanti ini ada nenek-nenek yang saya juga ngga seberapa jelas wujudnya, tapi jelas nenek-nenek, sedang jalan juga dan tangannya juga memegang tongkat yang sama seperti yang dipegang Mbak Yanti. Seolah-olah tongkat yang di bawa Mbak Yanti itu milik dari nenek-nenek itu. Tapi nenek-nenek itu tidak selamanya ada, kadang ada kadang hilang. Mbak Yanti ini sebenarnya adalah sosok yang ceria, yang selalu bisa mencairkan suasana. Tapi anehnya ketika Mbak Yanti memegang tongkat itu, karakternya langsung berubah menjadi yang diam, lemas dan seperti orang tidak semangat.
Sampai akhirnya kita tiba di pos Kandang Badak sekitar jam 10 atau 11 malam. Syukurnya saya melewati malam di Kandang Badak dengan kondisi aman, cuma ada beberapa bunyi-bunyian aneh yang cuma saya sendiri yang dengar, tapi tidak saya jadikan masalah. Pagi itu kita mulai aktivitas pekerjaan, ada yang ambil footage gambar, ada yang mempersiapkan alat dan lain-lain. Kami tetap di Kandang Badak sampai menjelang sore hingga akhirnya kita melanjutkan perjalanan ke Puncak Gede.
Perjalanan dari Kandang Badak sampai akhirnya di Tanjakan Setan juga masih aman, kita masih sempat mengambil beberapa stock shot untuk keperluan syuting dan lain-lain. Singkatnya rombongan kami sampai di Puncak Gede sore hari. Karena keasyikan syuting dipuncak akhirnya kita kemalaman untuk kembali ke pos Kandang Badak. Beberapa orang sudah turun duluan ke Alun-alun Surya Kencana, sedangkan saya adalah orang kedua terakhir yang turun pada saat itu.
Saat itu saya turun dengan jalan sedikit cepat hingga saya bisa menyusul teman saya, sebut saja Rafli. Ditengah jalan, Rafli menemukan sebuah jaket, tapi itu adalah jaket salah satu tim kita juga, Jadi kita memutuskan untuk membawa jaket itu. Rafli tiba-tiba lari sambil memanggil anggota tim yang memiliki jaket itu yang jalan didepan kami. Saat Rafli lari meninggalkan saya, saya tidak sengaja menoleh kebelakang. Pas saya noleh kebelakang, saya lihat ada satu pohon besar. Saya lihat mulai dari bawah ke atas. Dan sebenarnya perjalanan dari puncak ke Alun-alun Surya Kencana itu tidak ada pohon besar satupun. Dari bawah pohon ini memang kelihatan seperti pohon besar biasa, begitu saya lihat semakin keatas ternyata pohon itu memiliki tangan yang besar, hitam dan berbulu. Saya memutuskan untuk tidak melihat lebih tinggi lagi, balik badan dan lari menyusul Rafli.
Singkat cerita kami semua selamat sampai ke Surya Kencana. Disana kami kembali makan, istirahat, briefing dan lain-lain. Kebetulan hari itu seharusnya ada tim kedua yang jumlahnya dua orang akan menyusul kita ke Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri dan janjian untuk ketemu di Surya Kencana. Salah satu dari anggota tim kita, Leon, malam itu memutuskan untuk menyusul tim kedua ini ke jalur Gunung Putri dan berharap bertemu di tengah jalan. Kenapa Leon memutuskan untuk menjemput, karena dua orang yang sedang naik ini sebenarnya tidak tahu medan Gunung Putri, jadi karena takut terjadi apa-apa dijalan akhirnya diputuskan untuk dijemput oleh Leon.
Selang beberapa jam sejak Leon turun untuk jemput, tiba-tiba muncul kedua orang yang tadinya akan dijemput oleh Leon. Mereka sampai di Surya Kencana tanpa Leon. Setelah saling bingung tanya "Leon mana?", "Ngga ketemu Leon?" dan lain-lain, pada intinya mereka berdua tidak ketemu Leon sama sekali. Menjelang pagi, Leon kembali ke Surya Kencana dengan wajah yang kecapekan. Dan wajahnya berubah menjadi wajah bingung ketika melihat dua orang yang disusul nya sudah ada disitu. Merekapun sempat terlibat sedikit perdebatan tentang jalur yang masing-masing mereka ambil. Ternyata ada satu momen dimana mereka istirahat di jam yang sama dan ditempat yang sama tapi tidak diperlihatkan satu sama lain. Jadi singkat cerita, mereka "tidak dipertemukan" atau tidak dilihatkan satu sama lain. Padahal sebenarnya mereka berpapasan dan bahkan istirahat di waktu dan tempat yang sama. Akhirnya yang dua orang terus naik dan Leon melanjutkan turun hingga disatu titik Leon memutuskan untuk kembali naik ke Surya Kencana dan bertemu dua orang itu disana. Di salah satu dari tim kami ada seorang porter dari Papandayan, dan kata porter itu Leon "disukai" oleh salah satu makhluk perempuan yang ada disitu, dan makhluk itu mengikuti Leon. Dan porter itu bilang, "Kalau pada ngga percaya, nanti kalian akan liat sendiri". Dan ini akan terbukti diakhir cerita.
Hari ketiga syuting di Surya Kencana saya merasakan kalau saya sudah tidak bisa fokus lagi untuk syuting karena selalu terbayang malam harinya. Dimana setiap menjelang malam dan malam hari, saya selalu dihadapkan dengan hal yang aneh-aneh. Sampai saya berpikir, "Saya ngga mau lagi syuting kena malem. Balik ke pos ngga mau lagi ketemu malam dijalan, capek ditemui yang ngga-ngga". Dihari ketiga itu tim dibagi dua. Ada yang syuting di puncak dan ada yang di Surya Kencana. Dan kebetulan saya kebagian untuk syuting dipuncak. Dan kebetulan hari ketiga itu adalah hari terakhir kita syuting dan memang rencananya kita akan lintas jalur, dalam artian naik dari Cibodas dan turun lewat jalur Gunung Putri.
Sialnya saya bertemu malam lagi, ditambah lagi ada berita kalau salah satu anggota tim kita "disukai" oleh makhluk perempuan yang ada disana dan ikut kemanapun kita pergi. Jadi disepanjang perjalanan kita turun, sepanjang itu juga kita selalu absen dengan cara berhitung 1..2..3..4.. dan seterusnya. Kebetulan saya adalah orang keempat dari depan. Pas perjalanan dijalur yang agak sempit, keadaan waktu itu saya menunduk untuk melihat jalan dan kebetulan juga saya sudah mulai mencium bau-bau yang tidak enak, kita melihat ada satu orang jalan didepan rombongan kami. Orang itu berpenampilan seperti pendaki gunung pada umumnya. Dengan jaket gunung yang glow in the dark. Tapi orang itu jelas bukan rombongan dari kami. Karena setiap kami selesai absen, orang itu selalu ikut absen di angka terakhir. Padahal kami yakin saat itu anggota kami total ada 19 orang, tapi menjadi ada teriakan "dua puluh..", dari orang yang ada di depan kami itu. Saat itu kami cuma bisa berhenti, berdoa.
Sepanjang perjalanan turun itu jujur saya tidak berani lihat kanan kiri, saya cuma berani menunduk dan lihat langkah kaki teman didepan saya. Saat menjelang sampai di bawah, kami biasanya menyebutnya dengan "Rumah Setan", karena itu adalah rumah terakhir jika dari bawah yang akan ditemui pendaki kalau mendaki dari Gunung Putri dan rumah pertama yang akan ditemui pendaki kalau turun dari Gunung Putri. Rumah itu besar dan sudah kosong bertahun-tahun, jadi pendaki pada umumnya mengenal dengan nama "Rumah Setan".
Bodohnya kami sempat berhenti dan istirahat didepan rumah itu. Ketika semua orang sedang duduk didepan rumah itu, tidak selang lama, datang Leon dan dua orang lainnya. Waktu mereka datang, otomatis kami semua menoleh kearah mereka. Leon dan dua orang ini datang dari arah sebelah kanan. Kami spontan menoleh kearah mereka. Nah di deretan kami duduk, disebelah orang paling kanan, ada perempuan duduk. Perempuan ini seperti perempuan desa, cantik dan jelas bukan anggota tim kami. Perempuan ini juga menoleh kekanan, tersenyum dan seolah-olah memang sengaja menunggu Leon datang. Saya pikir cuma saya yang melihat perempuan itu, ternyata semua dari kami melihat dan tidak ada yang tidak melihat. Dari mana saya tahu? Karena begitu kita noleh ke kanan, kami semua berdiri hampir bebarengan dan reflek saling jalan buru-buru.
Akhirnya kita sampai di pos ranger, selamat dan tidak ada kejadian apa-apa lagi. Dan yang paling penting anggota tim kami tidak bertambah satu orang.
The end
Komentar
Posting Komentar