Idhan Dhanvantary Lubis - Semeru 1969
"Aku tidak pernah berniat untuk menaklukkan gunung. Mendaki gunung hanya bagian dari pengabdian, pengabdianku kepada yang maha kuasa".
Itu adalah salah satu kalimat dari Idhan Dhanvantary Lubis atau yang biasa dikenal dengan Idhan Lubis, yang masih terngiang hingga kini. Sebuah petuah sekaligus nasehat bagi para penempuh gunung hutan atau pecinta alam agar tidak menjadikan dirinya lebih agung daripada sang pencipta, merasa bisa menaklukkan gunung yang sesungguhnya tidak akan pernah bisa ditaklukkan oleh manusia manapun.
Idhan Lubis adalah salah satu korban yang meninggal dipuncak Mahameru, Gunung Semeru bersama dengan Soe Hok Gie, tepatnya pada tanggal 16 Desember 1969. Selama ini cerita tentang Idhan Lubis memang tidak terlalu terkenal, bahkan nyaris tidak pernah menjadi bahan perbincangan bagi para kalangan pendaki gunung di Indonesia, itu karena tertutup dengan nama besar dan ketokohan Soe Hok Gie yang sudah menjadi legenda bagi pendaki gunung yang ada di Indonesia.
Dalam masa peralihan yang penuh konflik diawal tahun 1949, pada tanggal 19 April lahirlah Idhan Dhanvanraty Lubis di kota Jogjakarta dari kandungan seorang ibu yang bernama Kus Rahaeni yang berasal dari Jawa dan ayah Bahtar Lubis yang berdarah Mandailing. Idhan Lubis, sebagaimana panggilan akrabnya, tumbuh besar di Jakarta sebagai anak kedua dari keluarga wiraswasta, adik dari Idhat Lubis yang tak lain adalah pendiri dari Indonesia Green Ranger, kakak dari Piet Bahtari Lubis dan Poeng Wiyata Indra Lubis dan juga keponakan dari seorang jurnalis dan penulis yang terkenal di Indonesia, yaitu Mochtar Lubis.
Ditempa oleh dua kultur, kehalusan pekerti seorang Ibu dan keberanian yang lugas seorang Bapak, membentuk inteletual tegas dengan keakraban emosional sehingga menjadikan dirinya sering dilibatkan dalam banyak aktivitas baik kegiatan akademis maupun eksta kampus, dan dimana salah satunya adalah kelompok Pecinta Alam. Sebuah episode terakhir dari hikayat Mahabarata ternyata menjadi api yang menyulut obsesi Idhan Dhanvantary Lubis untuk mendaki ke Gunung Semeru. Hikayat Mahabarata ini menceritakan tentang Pandawa Lima yang pulang ke Swargaloka melalui Arco Podo, sebuah tempat di Gunung Semeru yang konon dikawal oleh dua dewa kembar. Sebuah pintu masuk surga kelangit Mahameru.
Pada pertengahan tahun 1968, Idhan Lubis mengenal dan bersahabat dengan Herman Lantang, seorang anggota Mapala Universitas Indonesia. Herman Lantang lantas menjadikan obsesi Idhan Lubis menjadi nyata. Ia mengajak Idhan untuk mendaki Semeru pada tahun 1969 bersama teman-teman Mapala UI lainnya yang termasuk Soe Hok Gie. Dan tepatnya pada tanggal 12 Desember 1969 rombongan mereka berangkat dari stasiun kereta api Gambir menuju ke Malang, tempat bertenggernya Gunung Semeru.
Pendakian ini benar-benar mengantarkan Idhan Lubis pada gerbang surga langit Mahameru pada tanggal 16 Desember 1969. Idhan Lubis yang kala itu masih berusia 20 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa Unversitas Taruma Negara meninggal dalam dekapan Semeru bersama dengan rekannya Soe Hok Gie. Sebuah firasat mungkin datang kepada Idhan Lubis sesaat sebelum dirinya pergi mendaki Gunung Semeru. Idhan Lubis sempat memutuskan untuk datang ke Bandung dan berpamitan kepada keluarganya yang ada disana. Satu hal yang tidak pernah dilakukan Idhan Lubis pada pendakian sebelum-sebelumnya. Bahkan Idhan Lubis pun jarang memberitahu orang tuanya jika dirinya akan pergi mendaki.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Jawa Timur, Idhan Lubis bahkan terus menulis dan mencoretkan nama Mahameru. Idhan Lubis menuliskannya di semua tempat yang memungkinkan, kapan saja dan dimana saja. Dalam tidurnya pun, Idhan Lubis sering mengigau tentang Gunung Semeru. Dirinya juga sempat menyebut tentang Arco Podo, sebuah tempat dalam cerita Mahabarata yang menjadi gerbang surga langit Mahameru. Tingkah aneh inipun membuat saudaranya merasa heran, namun mereka tidak memiliki firasat apapun tentang Idhan.
Benar saja, tepat pada tanggal 16 Desember 1969 Idhan Lubis melakukan perjalanan terakhirnya menuju Mahameru, tempat yang selalu menjadi impiannya. Firasat Idhan Lubis ternyata tidak hanya disampaikan kepada keluarganya saja, namun juga kepada sahabatnya, Herman Lantang. Pada tanggal 8 Desember 1969, Idhan Lubis menulis sebuah sajak yang berjudul "Jika Berpisah". Puisi tersebut ditulis dirumahnya yang berada di Polonia dan berikut kutipan puisinya.
Untuk Herman Lantang, jika berpisah disini kita bertemu satu irama.
Diantara wajah-wajah perkasa tergores duka dan nestapa
Tiada putus asa, tujuan esa menjulang disana
Bersama jatuh dan bangun dibawah langit biru pusaka antar dua samudra bersama harapanku dan juga kau
Satu nafas kita yang terhempas, pengabdian dan kebebasan
Bila kita berpisah kemana kau, aku, tak tahu sahabat
Atau turut dikelok-kelok jalan atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
Hanya bila kau lupa, ingat pernah aku dan kau pernah daki gunung-gunung tinggi
Hampir kaki kita patah-patah, nafas kita putus-putus
Tujuan Esa, tujuan satu. Pengabdian.. dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa
Idhan Lubis, Polonia 8 Desember 1969
Idhat Lubis, kakak dari Idham Lubis penah bercerita,
Ini dikisahkan kembali sebagaimana yang di sampaikan Herman kepadaku saat ia bersama dengan tim Pecinta Alam dari Malang tanggal 24 Desember 1969. Waktu aku bertanya kepada Herman didepan jenazah Idhan dan juga Gie, dikamar depan kantor Lurah. Aku bertanya :
Idhat : "Bagaimana detik terakhir Idhan?"
Herman : "16 Desember sekitar pukul 18.00 Idhan dan saya menengok kebelakang, dan diatas kami melihat Gie masih duduk termenung dipuncak jalur lain. Waktu itu saya katakan kepada Idhan, saya mau jemput Soe Hok Gie dulu. Dan Idhan berpamitan untuk sholat maghrib. Saya lanjut keatas dan Gie kejang-kejang dalam pelukan saya dan ia meninggal tidak berapa lama kemudian. Lalu saya pangku jenazah Soe Hok Gie dan meluncur kebawah melewati yang Idhan masih sholat walau saya sudah mencoba memberitahu bahwa Soe Hok Gie sudah meninggal. Saya bertemu Fredy yang menjemput saya di Cemoro Tunggal dan meletakkan jenazah Gie dalam posisi tidur didalam tenda. Kemudian saya berbisik kepada Gie bahwa saya akan naik kembali ke Mahameru untuk menjemput Idhan yang tadi masih sholat, tetapi Gie hanya diam dan kaku. Diatas saya melihat Idhan masih duduk berdoa dan saya mengajak Idhan untuk turun kebawah. Idhan tidak menjawab, dia tampak lemas. Saya memeluk Idhan dan memangkunya sambil meluncur lagi kebawah. Saya pikir suara gemuruh dari kawah, angin dan hujan pasir membuat Idhan sulit mendengar ketika saya berteriak memberi tahu Idhan bahwa Gie sudah meninggal. Idhan hanya mengangguk tanpa menjawab, saya terus berusaha agar Idhan tetap sadar.Saya minta Idhan untuk terus menjelaskan apa arti dari Al-fatihah selama kami meluncur ke Cemoro Tunggal. Celana jeans saya sampai robek dan membuat saya luka-luka dibagian belakang karena saya memaksakan untuk terus turun. Saya memangku Idhan hingga luka yang ada ditubuh saya sudah tidak terasa lagi. Idhan terus membaca Al-fatihah dan saya terus bertanya apa artinya, kemudian Idhan dengan suara lirih ditengah gemuruh Mahameru, bertanya kepada saya, "Herman, kau Kristen, aku Islam. Apakah Tuhan kita sama?". Sayapun menjawab, "Iya Idhan, kau memanggilnya Allah, aku memanggilnya God. Saya Dia adalah Tuhan yang sama yang menciptakan kita". Idhan semakin lemas, ia meletakkan kepalanya yang terkulai di dada saya. Saya terus menggerak-gerakkan tubuh Idhan dan memberitahunya, "Kamu ditunggu Ibu. Kamu tidak boleh mati". Idhan terus membaca Al-fatihah, surat yang terus ia baca sampai selesai hingga ia terkulai dan tidak bergerak lagi. Saya sempat berteriak, "Tuhan, tolong jangan ambil kawan-kawanku". Tetapi Idhan Dhanvantary Lubis sudah pergi menyusul Soe Hok Gie. Saya tetap menjaga mereka berdua didepan tenda selama tiga hari tiga malam tanpa makanan. Sampai akhirnya saya turun ke Ranupane meminta bantuan dari masyarakat Tengger. Kemudian atas bantuan warga sekitar kami bersama-sama mengevakuasi jenazah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis ke simpang Ranupane. Dan disanalah bersama teman-teman Pecinta Alam kami mengusung jasad dua teman kami ke gubuk Klakah".
Selama Herman Lantang bercerita, aku hanya diam dan tan mampu berkata apa-apa. Aku hanya menyimak tanpa terasa air mata memenuhi mataku yang memerah. Sekitar pukul 3 dini hari kedua jasad dibawa menuju rumah sakit Malang. Dan aku tertidur di ambulance sambil memeluk jasad Idhan yang sudah terbujur kaku.
Soe Hok Gie dan Idhan Lubis sudah pergi ditanah tertinggi dipulau Jawa. Mata Soe Hok Gie dan Idhan Dhanvantary Lubis terkatup kencang serapat bibirnya yang biru.
The end
Komentar
Posting Komentar