Dituntun Penghuni Semeru Ke Blank 75

 Saya Denny, ini adalah cerita saya ketika saya bekerja disalah satu agen trip pendakian gunung di Surabaya. Jadi salah satu tugas saya adalah memandu orang atau tim yang akan melakukan pendakian di gunung-gunung yang ada di Jawa khususnya Jawa timur. Dan ini adalah kisah nyata saya ketika saya memandu sebuah rombongan ke Gunung Semeru dimana saat itu ada salah satu anggota tim saya yang masuk ke area berbahaya Blank 75 setelah turun dari puncak Semeru.

Saat itu saya dan satu lagi teman saya memandu sebuah tim yang beranggotakan 14 orang ke Gunung Semeru. Kita mulai start dari Kalimati yaitu pos terakhir sebelum menuju puncak Semeru sekitar jam 12 malam. Saat itu teman saya berada di posisi depan sebagai leader untuk menentukan ritme pendakian dan saya berada di belakang bertugas sebagai sweeper. Jam setengah 3 dini hari kita sudah berada dipertengahan jalur antara Kalimati dan Arco podo, Disitu kita sempat istirahat sebentar dan sempat briefing ulang ke semua anggota tim untuk nantinya akan memasuki jalur Cemoro Tunggal yang medannya berpasir dan akan sangat menguras energi. 

Pada jam setengah 4 kami mulai trekking lagi menuju Cemoro Tunggal. Kebetulan ada salah satu anggota cewek dari tim kami yang berasal dari Jawa Barat, sebut saya Anis. Si Anis ini termasuk orang yang ritme jalannya sedikit lamban. Tetapi Anis ini sebenarnya memiliki sifat pejuang yang tidak gampang menyerah namun sayangnya saya menganggap kapasitas fisik dari Anis ini berada di bawah rata-rata anggota tim yang lainnya. Mungkin karena dirinya juga kurang persiapan untuk mendaki gunung tertinggi di Jawa ini. Akhirnya saya berusaha dengan sabar untuk menemani dan mem back up nya. Sepanjang perjalanan, setiap tiga langkah dia selalu istirahat. Itupun saya bilang, "Jangan duduk, istirahat berdiri. Sekalinya duduk nanti, ketika matahari sudah mulai muncul". Karena posisi malam itu terlalu rentan kalau kita dalam kondisi trekking dan istirahat dalam kondisi duduk. Karena bisa saja tertidur, hipothermia dan yang paling bahaya dan paling saya antisipasi adalah jatuhan batu dari atas. Karena memang kondisi medan antara Kalimati menuju Cemoro Tunggal sudah mulai curam. 

Selama trekking malam itu mau tidak mau saya selalu menemani dan memotivasi Anis, langkah demi langkah. Pada akhirnya sekitar jam 5 pagi, matahari mulai muncul, dan Anis masih berjalan dengan ritme seperti itu. Sedangkan anggota yang lain ketika saya coba kontak melalui HT, posisi mereka sudah jauh, bahkan sudah melihat bendera. Bagi yang pernah naik ke Semeru pasti tahu, jika trekking menuju puncak Semeru dan sudah berada di posisi bendera maka perjalanan ke puncak kurang lebih tinggal dua jam lagi. Sedangkan posisi saya dan Anis pada saat itu masih sangat jauh dari bendera, bahkan masih berada di pohon terakhir di akhir batas vegetasi. Saking lambannya perjalanan kami saat itu, kami sampai disalip oleh banyak rombongan yang awalnya berada jauh dibelakang kami.

Pada jam setengah 9, Anis sudah mulai panik dan emosi yang menunjukkan kalau fisiknya sudah drop tapi mentalnya masih berusaha untuk memaksakan untuk terus sampai ke puncak. "Pasirnya kok gini sih? Bisa ngga sih dirubah jadi yang gampang aja?", ujarnya menunjukkan emosi ke dirinya sendiri. Sedangkan Puncak Semeru itu memang sudah kelihatan. Dan bagi yang orang-orang tertentu mendaki gunung yang terlihat puncaknya memang tidak menyenangkan karena sangat bisa menurunkan mental. Karena yang dimata terlihat dekat pada kenyataannya Puncak Semeru masih sangat jauh.

Jam setengah 10 saya sudah melihat bahwa fisik Anis ini sudah sangat drop dan saya menawarkan untuk kembali turun ke Kalimati karena puncak memang masih jauh. Tapi Anis tetap ngotot untuk terus sampai puncak. Oke, akhirnya kami tetap berjalan pelan menuju puncak. Tetap dengan setiap tiga sampai empat langkah dia selalu berhenti, minta duduk. Setengah jam kemudian akhirnya saya bilang, "Mbak kita harus turun, kita sudah kehabisan waktu". Karena memang untuk berada dipuncak Semeru tidak dianjurkan diatas jam 12, atau dalam kata lain sebelum jam 12 siang para pendaki yang ada di puncak Semeru harus turun karena terlalu berbahaya dengan adanya gas beracun. 

Anis mulai emosi, tapi saya tetap berusaha sabar karena saya juga sedang bertugas dan berusaha memberi masukan, saran, evaluasi dan motivasi kalau puncak bukan segalanya, masih ada hari lain untuk ke puncak. Tapi dia bilang, "Gua udah abis duit banyak buat kesini, gua udah jauh-jauh. Ngapain gua turun". Dan akhirnya saya masih berusaha mengikuti kemauan Anis untuk terus menuju puncak sambil berharap nanti kami akan bertemu dengan pendaki atau anggota kami yang lain yang turun yang bisa membantu saya membujuk Anis untuk ikut turun.

Akhirnya sekitar jam setengah 11 ada sinyal dari Anis untuk turun,"Oke Bang Den, kayanya saya udah nyerah deh". Disitu saya senang, karena saya memang melihat fisik Anis sudah sangat tidak memungkinkan untuk terus naik. Dan tiba-tiba ada rombongan yang saat itu naik juga menyusul kami, cewek dua dan cowok tiga. Mereka bilang, "Lah mas bukannya udah berangkat dari tengah malam ya? Kok baru sampai sini? Kita berangkat jam setengah tiga udah bisa nyusul sampean..". Singkatnya Anis ini batal untuk turun dan seolah-olah mendapatkan motivasi lagi karena omongan dari rombongan lain ini. Saya sempet kesel juga sama cowok itu, karena secara ngga langsung omongan dia bisa menimbulkan masalah buat kita. Dan kita akhirnya jalan bareng dengan rombongan itu.

Setengah jam berlalu akhirnya saya bilang ke Anis. "Mbak, gini deh. Mau turun apa ngga, kita sudah kehabisan waktu. Saya disini cuma berusaha meminimalis resiko". Anis tetap ngotot untuk terus naik. Dan saya juga sempat berdebat dengan rombongan lain yang tadi, "Udah mas, kalau sampean mau turun, turun aja. Ini cewek saya bawa sampai atas". Dan saya masih mencoba bertanya lagi ke Anis masih mau naik apa ngga, "Udah bang Den kalau mau turun, turun aja sana. Udah saya bayar juga..", katanya ketus. Sebenarnya Anis ini selama saya kenal dipendakian itu tidak seperti itu karakternya. Jadi saat itu saya mencoba memahami mungkin karena kondisi fisik dan mentalnya yang lagi drop dan keinginan untuk kepuncak besar, ditambah lagi dia tidak ingin diremehkan oleh orang lain jadi bisa merubah sedikit karakternya.

Akhirnya saya bertanya, "Ya sudah kalu gitu, coba airnya tinggal seberapa?". Kebetulan air yang di bawa Anis tinggal sedikit dan saya memberikan air dan cemilan yang saya bawa. Nah pas ada anggota tim kami yang turun dari atas, "Lah Mas Den masih sampai sini? Masih jauh banget lho.. Lagian udah pengab banget diatas". Akhirnya anggota tim itu saya jadikan saksi kalau Anis memang tidak mau saya ajak turun, agar kalau ada apa-apa saya tidak sepenuhnya disalahkan. "Nis, saya pamit. Saya turun duluan..", bilang saya ke Anis. "Mas saya nitip temen saya sampai atas dan nanti saya tunggu di Kalimati. Ini sudah keputusan dia dan Mas pun mau untuk bertanggung jawab bawa anak ini sampai keatas. Karena tugas saya sudah sampai sini", ucapku ke rombongan itu. 

Selama Anis jalan dengan rombongan itu, dihati saya masih ada yang mengganjal. Akhirnya saya masih perhatikan Anis jalan keatas. Dari jalannya sudah jelas kelihatan kalau Anis memang cuma butuh turun dan istirahat karena sudah kehabisan waktu. Sampai akhirnya saya turun, dan dari titik terakhir saya pisah dengan anis sampai ke pohon terakhir dibatas vegetasi cuma butuh waktu 15 menit. Padahal dari pohon terakhir di batas vegetasi sampai ketempat saya dan Anis pisah saya menempuh perjalanan dari jam 3 pagi sampai jam 11 siang. 

Hingga saya sampai di Kalimati saya ngobrol-ngobrol dengan tim dan porter-porter, "Mas, cewek yang mas bawa tadi gimana kabarnya?, tanya Pakde, salah satu porter. "Iya pakde, sudah ikut sama rombongan Malang naik ke atas", jawabku. Akhirnya kita tunggu sampai jam dua siang, setengah tiga, tidak ada kabar. Setiap ada pendaki turun, saya tanya ada rombongan dan cewek diatas seperti deskripsi saya ngga. Dan mereka juga bilang memang masih ada satu rombongan lagi diatas. Hingga sore tidak ada kabar sampai saya mulai khawatir. Akhirnya saya menuju lapangan yang bisa melihat ke arah puncak, saya coba lihat dengan binocular dan tidak ada orang dijalur pendakian. Memang dari lapangan ke puncak itu jauh, tapi kalau ada orang dijalur pendakian pasti akan kelihatan meski hanya titik. Dan saya memutuskan untuk menunggu sebentar lagi, jika masih belum ada kabar maka saya akan naik lagi ke atas. 

Ketika saya prepare untuk naik lagi keatas tiba-tiba muncul rombongan yang tadi membawa Anis dan malah bertanya, "Mas, temennya yang tadi udah turun belum?". Saya jawab dengan bingung, "Bukannya tadi sama kalian?". "Ngga Mas, tadi sebelum puncak dia saya tinggal..", lanjut mas-mas itu. "Lho bego, gimana sih malah ditinggal", kata saya yang memang kesel. "Iya Mas abis jalannya lama..", katanya lagi. "Saya bilang juga apa, itu anak udah ngga sanggup. Dia cuma butuh turun, keabisan waktu, ngga butuh puncak.", lanjut saya menjelaskan.

Akhirnya saya meminta mereka untuk tetap disitu sementara saya dengan Pakde memutuskan untuk kembali ke puncak. Kami packing dengan seadaanya dan kebetulan setiap saya naik gunung selalu bawa kompas dan alat-alat survival lainnya. Ketika itu waktu sudah jam 4 lewat, sudah hampir gelap tapi syukurnya langit sangat cerah sore itu. Dari Kalimati sampai ke Cemoro Tunggal yang biasanya saya butuh waktu dua jam, waktu itu kami hanya butuh waktu setengah jam. Kami memang benar-benar berpacu dengan waktu sehingga tidak sadar kami menuju puncak dengan berlari. 

Dan setelah Cemoro Tunggal sebelum Arco Podo, si Pakde tiba-tiba bilang, "Diem Mas Den..". Dia ngomong lagi, "Anis.. Anis..". Pakde ngomong begitu tapi pelan. Saya sempat bingung, ini ada apa sih kok panggil-panggilnya bisik-bisik kaya gitu. Setelah kami jalan lebih ke atas lagi tiba-tiba Pakde ngomong lagi tapi lebih kencang, "Anis.. Anis.. Aniisssss..!!!". Dan yang bikin merinding, tiba-tiba ada sahutan dari arah Blank 75. Sedikit info, Blank 75 adalah Dead Zone atau area kematian untuk jalur menuju naik atau turun dari puncak Semeru. Dinamakan Blank 75 karena diarea itu terdapat jurang sedalam 75 meter.

"Anis.. Anis.. Aniisss..!!!", teriak Pakde lebih kencang. "Iya Pakdeee..", sahutan itu pelan tapi cukup terdengar. Jadi sumber suara sahutan itu kira-kira berada di tiga punggungan, disebelah baratdari lokasi trekking saya dan Pakde, dan itu sangat jauh. "Coba ulangi.. Anis bukan?", Pakde kembali berteriak. "Iya Pakde, ini Anis..", sahutnya. Saya sedikit bersyukur akhirnya Anis ketemu. Karena biasanya kalau sudah masuk ke Blank 75, pilihannya cuma dua. Hilang atau mati. 

Tiba-tiba Pakde sudah jalan turun ke tebing. Saya panggil, "Pakde mau kemana? Mau nyamperin? Enak aja turun-turun, sini dulu..". Akhirnya Pakde naik lagi dan saya sempatkan membuka kompas, untuk  memastikan kemana nanti arah kembali ke jalur semula kalau kita mau turun ke tebing menuju ke arah sumber suara Anis. Setelah saya catat arahnya, berapa punggungan, berapa turun naik, akhirnya saya bilang ke Pakde, "Ya udah Pakde jalan duluan, saya back up di belakang". Dan itu adalah pengalaman sekali dalam umur hidup saya dengan sangat sadar, saya turun ke Blank 75.

Akhirnya Pakde jalan didepan dan saya dibelakangnya. Hingga singkatnya kita ketemu dengan Anis. Jadi posisi Anis pada saat itu berada di 5 meter awal dari total 75 meter Blank 75. Dan untungnya di 5 meter awal itu seperti ada ceruk yang menahan jatuhnya Anis ke dasar jurang. Kaki, tangan Anis sudah berdarah-darah, dan mukanya sudah penuh pasir. "Mas Den, maafin saya ya. Makasih masih mau nyariin saya. Jangan marah ya Mas..", kata Anis sambil nangis saat itu. "Iya udah gapapa, yang penting selamat", kata saya menenangkan Anis. Padahal dalam hati saya waktu itu, "Tadi diatas saya dimaki-maki mulu".

Singkatnya, akhirnya kami evakuasi Anis kejalur awal. Meski agak susah karena kaki Anis juga luka, jam 6 sore itu kami mulai masuk ke jalur awal sebelum tadi kami turun ke Blank 75. Pakde bilang, "Anis baca sholawat dan Al-fatihah". Dan jam 7 malam kami sampai ditenda dengan netizen yang sudah menunggu dan siap membully si Anis. Sebelumnya saya sempat bilang ke Anis, "Nanti kalau di bawah ada yang nanya, ada yang nyalahin, atau ada yang maki-maki, terima aja. Karena disini Anis salah".Hingga jam setengah 9 kami menuju ke Ranukumbolo untuk bermalam disana. 

Sesampainya di Ranukombolo, Anis bercerita bahwa memang benar dia ditinggalkan oleh tim yang dar Malang, yang tadinya mau membawa dia sampai puncak. Anis ditinggal karena berjalan terlalu lambat dan dianggap menghambat perjalanan anggota tim nya yang lain. Dan ada yang aneh dalam kejadian itu.Ternyata ada satu waktu dimana Anis dan anggota tim dari Malang ini dipertemukan kembali di saat yang berbeda, yaitu saat tim dari Malang hendak turun setelah sampai di puncak dan Anis ketika masih dalam perjalanan menuju puncak.

Logikanya ketika Anis masih dalam perjalanan menuju puncak Semeru dan tim Malang ini sedang turun, harusnya mereka dipertemukan di tengah jalan. Karena jalur antara naik dan turun dari Puncak Semeru hanya bersebelahan. Tapi anehnya, tim dari Malang ini satupun tidak ada yang melihat Anis di jalur pendakian dan begitu juga sebaliknya. Hingga akhirnya tim Malang ini sampai dipos Kalimati dan kembali bertemu dengan saya. Padahal saat itu juga ada beberapa tim lain yang jalan turun bersama dengan tim Malang, tapi tidak ada satupun juga yang melihat Anis ada dijalur pendakian menuju puncak. 

Singkat cerita akhirnya Anis berhasil sampai ke Puncak Semeru, tapi Puncak Semeru sudah dalam keadaan sepi, karena memang waktu sudah menjelang sore sehingga semua pendaki sudah turun dari sana. Setelah Anis puas berada di puncak akhirnya dia memutuskan untuk turun. Anis menceritakan, dia turun dari Puncak Semeru dengan sangat mudah, tidak seperti pendaki lain yang memang ada beberapa turun dari Puncak Semeru dengan duduk meluncur karena memang medan dari puncak ini curam dan sangat riskan untuk yang belum berpengalaman untuk turun dengan cara berjalan kaki seperti biasa.

Anis berjalan turun dengan sangat mudah, seolah-olah dia adalah pendaki profesional yang sudah sering ke Puncak Semeru. Anis merasa mudah karena dia merasa ada yang menuntun tangan kanan dan kirinya. Meski dia tidak bisa melihatnya, tapi Anis sangat yakin kalau memang ada yang menuntun tangannya saat itu, sehingga membuatnya mudah untuk turun. Setelah itu Anis lupa apa yang terjadi, tahu-tahu dia sudah berada di pinggir jurang. Dan ketika dia akan berbalik badan, sialnya kakinya malah menginjak batu yang tiba-tiba longsor dan membuatnya jatuh ketempat dimana tadi kita temukan. Untungnya Anis jatuh di sebuah cerukan yang menahan badannya sehingga tidak langsung jatuh kedasar jurang. 

Esoknya kami semua sudah berada di pos Ranupane. Kami beristirahat disana dan Anis menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang dengan jaket robek-robek, wajah lecet dan lain sebagainya. Akhirnya saya pun bercerita kepada ranger, tukang buah, tukang kopi yang ada disana tentang apa yang terjadi pada Anis. Mereka semua justru merasa kaget dan menganggap kami dan Anis adalah orang yang beruntung. Kenapa beruntung, karena sangat sedikit orang hilang di Semeru yang bisa ditemukan dihari yang sama ketika dia hilang. Kebanyakan baru ditemukan satu atau dua hari kemudian, paling cepat. Dan lebih beruntung lagi Anis tidak hilang sama sekali atau bahkan ditemukan sudah meninggal. Menurut mereka ini adalah kejadian langka yang mungkin hanya ditemukan 1:1000 kali kejadian.

Apapun itu kami semua bersyukur tidak ada hal yang lebih buruk terjadi pada Anis. Hingga saat ini Anis masih rutin mendaki gunung dan sekarang dalam ekspedisi untuk mencapai Seven Summit pulau Jawa dan memiliki rencana kedepan untuk bisa menggapai Seven Summit di Indonesia.

The end

Komentar

Postingan Populer