Diary Steve - Part 3, Dosa, Duka dan Nestapa
"Mereka sudah pergi.Tapi tetap hati-hati ya semuanya, mbak, mas.. Jika ada apa-apa, apapun itu tetap tenang ya, jangan gegabah", ucap suko menganjurkan kami untuk tetap waspada.
"Itu tadi siapa mas..?", tanya petricia kebingungan.
"Tidak perlu tahu mereka siapa, sekarang yang terpenting kita cari teman kalian...", jawab dan ajak suko ke kami semua.
Kami melepaskan pegangan tangan. Kami berdoa sekuat dan sebisanya agar tetap berani dan tabah menghadapi segala keanehan dan tanda tanya ini..
Suko menyuruh kami mengikuti setiap langkahnya..
Malam yang sangat berbeda..
Malam yang penuh dengan kekhawatiran..
Malam yang penuh tanda tanya..
Mencekam saat itu..
Kami mencari.. terus mencari..
Kemana kau sahabatku?
Dimanakah kau steven????
Benakku penuh tanya akan dimanakah keberadaanmu saat ini sahabatku..
Jalan miring semakin mengecil dihadapan kami. Tapak-tapak manusia tak terlihat di bawahnya, hanya tanaman perdu seakan mencegah kami untuk melangkah. Benarkah kami harus melalui jalur ini? Lagi-lagi tanyaku yang tak sempat ku utarakan padanya. Ya pada suko, pemimpin dan pencari jejak dibelantara hutan ini..
Lama..
Cukup lama..
Sampai pada akhirnya..
Sesuatu yang bahkan tak berani kulihat, mengingatnya pun aku tak kuasa. Hanya di diary mu ini kawan aku lukiskan perasaanku yang kian mendalam. Rasa yang mendalam akan semua kesedihan, kesedihan dari sahabatmu.
Kulihat, dengan jeritan kami semua dan jeritan petricia, kau.. Kau sudah tergantung diatasnya kawan.
Diatas kokohnya dahan batang pohon yang rindang.
Sakit..
Sangat sakit nampak di raut wajahmu..
Sampai kakiku lemas tak berdaya menyaksikan kejadian itu, kawanku..
Kenapa???
Kenapa kau tega dan berani melakukan semua ini kawan, bukannya masih ada aku dan masih ada kami yang siap menghiburmu dikala sedihmu. Menguatkanmu dikala lemah, dan menyertaimu dikala kau butuh akan semua hal yang kau citakan.
Tenggorokanku pun seakan tak sanggup untuk berteriak, kawanku. Jantungku seakan berhenti berdetak melihat keadaanmu..
Semurah itukah kehidupan..
Tangisku tak terbendung..
Ragaku layu melihatmu kawanku..
Aku hanya ingin melihatmu tertawa..
Tapi..
Tapi kenapa..
Kenapa kau suguhkan duka..
"Ke.. kenapa ini bisa terjadi?", ucap gagu petricia dalam tangisnya
Wanita tangguh itupun diam seribu bahasa tak mampu bicara melihatmu kawan..
Ohh Tuhan..
Tabahkan hati kami..
Tabahkan hati kami..
Siapa?
Siapa yang tak terguncang hatinya dengan apa yang kami saksikan ini kawan..
Siapa???
Tubuhmu kaku tak bernyawa..
Matamu.. matamu itu menyiratkan kesakitan yang luar biasa..
Tanganmu menggenggam bagaikan keinginan yang tak pernah dan tak kuasa kau dapat..
Bahkan mulutmu.. mulut itu tetap menjulurkan lidah yang kau pakai untuk merasakan nikmatnya soto kemarin..
Kenapa..
"Sudahlah.. ini semua sudah takdirnya. Takdir teman kalian. Sekarang mari kita turunkan..", ucap suko kepada kami, ucap suko yang melihat kami penuh tangisan.
"Bukannya kita harus menunggu petugas evakuasi dulu, biar kita tidak dapat masalah?", tanya teman satu fakultasku
Sesuatu yang tak berani aku lakukan ternyata terlontar dari mulut suko..
"Foto saja dengan kodakmu, nanti foto itu bisa kita gunakan sebagai saksi sesampainya di bawah. Karena tak mungkin kita membawanya, kita harus menguburkannya segera disini, kasihan teman kalian bila harus..", saran suko menganjurkan semua itu.
"Apakah tak bisa kita evakuasi dan kita bawa ke pos bawah bung?", tanyaku pada suko dan teman-temannya.
"Bila meninggalnya karena kecelakaan wajar, kita wajib membawanya mas. Namun kalau seperti ini, apakah kalian tidak kasihan padanya.. mati karena gantung diri", ucap suko mencoba meyakinkan kami.
"Sudahlah yang penting kita turunkan saja dulu", sambung petricia masih dengan tangisnya.
Siangpun seakan memamerkan kegelisahannya. Tak kuasa hati ini, tak mampu tangan ini.
Maafkan aku kawan..
Diturunkan nya tubuh sahabatku oleh sahabat-sahabatnya, sahabat dalam keluh kesah kami. Hanya aku dan petricia yang cuma mampu memandang serta melihat proses menurunan jasadmu kawan..
"Wes.. apa sudah kalian ambil gambarnya? Sekarang kita harus segera menguburkannya sama-sama..", kata suko.
Surya tak kuasa menukik di ufuk barat, bagaikan burung cahaya yang masuk kedalam kawah candradimuka. Sesegukan masih terdengar dari bibir petricia. Aku tahu dan paham tentang apa yang ada didadanya. Dia, petricia mendapatkan pengalaman yang mungkin terburuk dalam hidupnya diwaktu pertamanya menjejakkan kaki di atap tertinggi jawa, pertama meniti jalur mahadewa, jalur mahameru..
Kami kuburkan teman kami. Kami kuburkan di bawah batang pohon itu, Pohon cemara yang akan selalu, selalu melindungimu dalam pelukannya, kawanku..
Kumenangis merasakan sesak di dada ini..
Rasa sakit bercampur lara menggelayutiku kawan..
Menunggumu di rumah indah nan nyamanmu sahabat..
Sanggupkah aku berbicara jujur akan dirimu kini..
Hanya lantunku akan semua kesedihan hingga ku menunggumu tanpa harapan lagi..
Namun semuanya teramat pilu..
Pilu hingga hembusan angin selalu dan selalu menyentuh lembut dedaunan kering dihutan ini..
Sore setelah kami melakukan penguburan, segera kami turun ke ranu kumbolo untuk nantinya mendirikan tenda disana. Perjalanan yang cukup singkat kami lalui. Kurang dari dua jam kami sudah tiba di ranu kumbolo. Kami mendirikan tenda, membuat perapian, memasak semua perbekalan kami. Semua dengan bumbu-bumbu kesedihan yang teramat dalam.
"Tenang mas, nanti kita harus bicara sejujurnya ketika di bawah, kepada petugas pos jaga akan apa yang terjadi diatas", kata suko menghampiriku seraya menawarkan rokok kreteknya.
"Jangan.. jangan bung.. aku tak mau nama temanku menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya", jawabku.
"Benar, kita harus merahasiakan ini dari khalayak ramai. Tak baik juga bagi kita pendaki dan relawan gunung", kata salah satu teman dari bandung.
Memang hanya kami yang tahu akan kejadian ini, kejadian yang kami saksikan bagai mimpi di kalimati. Aku, petricia dan dua teman dari fakultasku, dua relawan dari bandung, suko dan tiga temannya dai universitas malang.
Yaaa...
Hanya kami ini yang akan menjaga rahasiamu wahai sahabatku..
Semalaman kami tak dapat memejamkan mata..
Semalaman juga kami dirundung duka..
Hanya pertanyaan dan jawaban yang entah dimana kebenarannya..
Karena tak satupun dari kami yang sanggup menyuguhkan kebenaran..
Hingga..
Kudengar dentingan gitar dari tenda seberang. Dentingan yang memecah keheningan malam, malam dimana hanya kesunyian yang menjadi teman, teman dari setiap manusia tanpa angan.
Satu persatu dari kami merebahkan tubuhnya. Memberikan kesempatan bagi tubuhnya untuk melemaskan semua urat yang menegang dan ketidakwarasan. Tinggal diriku seorang yang terbangun akan malam, tak khayalnya bintang tanpa sinar.
"Mas doni, aku mau istirahat dulu ya. Jangan jauh-jauh dari kami..", pinta petricia
"Iya mas, kalau bisa sampean tidur juga, istirahat", kata suko terdengar mencemaskanku.
"Aku tahu kawan, kalian cemas. Tapi tenang, aku masih mampu mengontrol diriku kok.. terimakasih..", jawabku singkat.
Dinginya malam diselimuti kabut tebal..
Tiba-tiba..
Kulihat sahabatku steven merangkak dari dalam semak itu..
Takut.. setengah mati aku melihatnya..
Apakah dia steve..
Tapi kenapa dengan wajahnya?
Wajah yang rusak bagai habis digerogoti anjing hutan..
Mulutnya tetap menjulurkan lidahnya yang tak tampak merah lagi..
Liurnya..
Liurnya yang selalu menetes..
Bahkan hidungnya mengeluarkan ingus hijau pekat..
Kenapa kau tampak seperti ini kawanku..
Kenapa dengan baumu..
Kenapa dengan dirimu..
"Mandek!! Ojok mbok terusno!! Alammu bedo karo alamku lan konco-koncoku. Lungo saiki..",(berhenti!! Jangan kau teruskan!! Alammu berbeda dengan alamku dan teman-temanku. Pergi sekarang..), kata suko tiba-tiba berada disampingku dan menyadarkanku.
"Ke.. kenapa dia hidup? Atau memang aku tak..", ucapku terbata-bata melihat steve atau apapun yang menyerupai dirinya.
"Bukan mas, dia bukan temanmu. Kami menyebutnya awe-awer. Sebangsa demit hutan yang berusaha menarik perhatian dan nantinya akan menyesatkan korbannya", ucap suko seakan memahami semuanya.
Malam berganti pagi..
Sang surya tak segan mengusir kabut kelam..
Hangat mulai menyuguhkan keindahan akan semua sejauh mata memandang..
"Ayok.. cepat kita bereskan tenda, bersihkan bekas perapian. Aku ingin pulang..", pinta dan rengek petricia.
Dia, petricia adalah wanita yang teguh nan teduh. Tak ada sedikitpun rasa kesal dan payah dalam dirinya..
"Semangat bung, ayo kita pulang sekarang", ucapku pada mereka semua.
Aku berusaha tegar hari ini. Berusaha merencanakan pengakuan tentang keadaan sahabatku steven. Pengakuan penuh kebohongan. Tak kubiarkan mataku memandang kebelakang. Tak kubiarkan ingatanku mundur kebelakang. Aku bertekad menemukan jawaban tanpa kebenaran.
Empat jam kami turun. Entah kenapa lama sekali, padahal kami gunakan jalan tercepat kami. Secepat semut menemui gulanya. Di akhir perjalanan kami, di gerbang semeru, sekali lagi suko berbicara dengan penuh makna.
"Seumpama hidupku hanya sehari, aku akan selalu berarti bagimu dan bagiku. Aku akan memberi tanpa melukai, aku akan mengangkat kalian tanpa mencelakakan. Aku akan berubah menjadi apapun yang kalian inginkan.. asal satu, kalian bahagia", ucap suko dengan tetes air matanya.
Kami semua berangkulan. Saling memberi kehangatan, saling memberi kekuatan, dan saling memendam rahasia dibawah batang tumbuhan yang menjulang.Terima kasih para kawan. Tanpa kalian aku tak sekuat ini menghadapi kehilangan yang teramat menyakitkan.
Di pos 1 ranupani, kami langsung mengabarkan akan teman kami yang hilang, hilang tak tentu arah. Pertanyaan apa dan kenapa sebagai satu kesatuan sebab dan tentang akibat.
Tetap..
Kami mengatakan..
"Teman kami hilang.."
Petugas dibantu masyarakat sekitar mencari dan mencari keberadaan temanku yang bernama steven. Kami menghabiskan waktu selama dua hari disana, tetap dengan rasa cemas dan was-was. Takut kebodohan dan kebohongan kami terungkap.
Lepas dua hari..
"Kalian saya sarankan pulang kedaerah asal. Kalau ada kabar nanti kami beritahu. Dan tolong kabari orang tua teman kalian kalau anaknya masih dalam pencarian..", kata petugas pos tersebut.
Mbah dipo pun terlihat cemas saat menemui kami, dan beliau berbisik kepadaku,
"Wis tak peringatno yo koncomu iku..", bisiknya.
"Maaf mbah, saya kurang ngerti dengan bahasa jawa", balasku.
"Sudah sekarang kalian bali (pulang). Biar kami yang mengurus teman kalian.." kata mbah dipo lagi.
Mengurus apa? Apa yang akan diurus? Pertanyaanku yang tak dapat jawaban dari nya yang mengetahui seluk beluk gunung ini.
Siang setengah sore kami lanjutkan ke pangkalan jeep untuk bergegas meninggalkan ranupani menuju stasiun malang.
Diperjalanan itu..
Kucoba menahan tangisku..
Dikejauhan kulihat dengan jelas, ditanah berpasir itu..
Ku melihat steve sahabatku, melambaikan tangannya padaku, lambaian tangan yang menandakan perpisahanku dengannya..
Lambaian tangan bila saatnya nanti..
"Sudah lihat dia mas? Ikhlaskan saja, biar dia tenang disana", kata suko yang duduk disebelahku.
"Dia berbisik tadi padaku, bila waktu nya tiba, dia berjanji akan membuat bapaknya bersimpuh dan berlutut padanya. Pada dia yang moksa di mahameru..", tambah suko.
"Apakah kau tahu bung, dia senang ataukah sedih saat ini?", tanyaku.
"Tak dapat kujawab, karena aku bukan Tuhan. Aku tak bisa melihat segalanya, atau aku tak mampu mengatakan sesuatu hal yang belum pernah dilalui waktu", terang suko.
Semua perbincangan kami lakukan seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi pada kami.
Hingga..
Keramaian pasar tumpang menandakan kami sudah dekat dengan kota malang. Keramaian pasar tumpang dengan pertelon atau persimpangannya disertai tugu-tugu tapal batasnya. Selang dua jam kami sampai di stasiun kereta api.
"Mas, kalaupun ada apa-apa, jangan sampai kau membocorkan kejadian diatas, tetap jadi manusia yang benar-benar manusia", kata suko dalam perpisahan kami.
Dan kami pun menaiki kereta malam itu..
Aku..
Aku doni masih tidak percaya sahabatku..
Aku..
Aku tak percaya kini harus pulang tanpa dirimu kawan..
"Ayo mas, kita pulang", ucap petricia masih menyeka air matanya.
Kami mengantar petricia, teman perempuan kami naik angkutan dengan kode AG biru menuju terminal bus dan pulang ke kota semarangnya..
"Mas, saya balik dulu..", pamit petricia.
"Iya.. kamu hati-hati ya..", balasku.
Tak banyak yang dikatakan petricia. Yang kulihat hanyalah goncangan hebat hatinya dan peluh yang masih menetes, dan berusaha ia seka agar tak mengalir.
Kami memasuki stasiun. Masuk diantara ramai ocehan manusia dan aktivitasnya. Suara pedagang asongan dan pengamen jalanan serasa mengucapkan salam perpisahan.
"Hei bung, mari kita jalan kedalam. Habis ini kereta kita datang..", ajak salah satu temanku.
"Iya, mari bung", jawabku singkat. Sesingkat nasib dan jalan singkat yang ditempuh steve di mahameru.
Kenapa steve?
Kenapa kau lakukan ini padaku sahabat..
Sekuat tenaga aku berusaha selalu menghiburmu kawanku..
Peluh kembali menetes..
Seirama air tuhan yang menetes membasahi jalanan..
Air hujanpun seraya mengisyaratkan..
Bahwa aku..
Aku.. sangat kehilangan..
Kuluapkan tangisanku bersama hujan..
"Ayo bung kita pulang", kata temanku seraya merangkulku, mengajakku memasuki peron.
Kulewati sekumpulan orang yang hilir mudik dengan kesibukannya. Juru parkir bernyanyi lantang dengan suaranya. Dan pedagang asongan dengan mulut promotor manisnya..
Tutt!!! Tut!! Tuuutttt!!!!!!
Suara klakson lokomotif nyaring menyapu telinga kami. Suara itu mungkin mampu meredam telinga kami, tapi tidak dengan hati kami
Hati kami yang masih berteriak dan berkoar..
Ya Tuhan..
Maafkan kebohonganku..
Maafkan ketidak jujuranku..
Maafkan aku Tuhan..
Kami menaiki lokomotif tua itu. Ya.. seperti katamu kemarin kawan, kotak besi yang bertarif ekonomi. Murah seperti kopaja bobrok yang kau naiki tiap hari.
Kami terlelap, kami sangat kelelahan. Bukan hanya badan yang lelah di diri kami, tapi jiwa, emosi dan duka air mata membuat lengkap kelelahan di diri kami.
Tiba-tiba..
"Hei bung, elu kenapa? Jadi laki kok lemah.. Hahahaha..!!", ucap seseorang. Suara itu tak asing, suara itu dari belakangku, suara seseorang yang sering bercanda denganku.
Perlahan..
Aku tak percaya, aku tak kuasa menahan tangisku. Aku tak sanggup mengucap satu katapun. Hanya tetes air mata yang kurasa..
"Gak usah cengeng lu.. Gua gak suka ditangisi. Selama tinggal kawanku..", ucap nya.
Ya, dia..
Sahabatku steven dilorong kereta itu..
Tapi..
Tapi kenapa kau tampakkan wujud itu temanku..
Wujud yang justru membuatku takut..
Kau masih memakai tali yang melingkar dilehermu..
Steven sahabatku..
Maafkan aku yang tak mampu menjagamu..
"Bung.. wooiiii.. don, doni!!", suara yang ramai.
Sangat ramai memenuhi telingaku. Bau balsem menusuk hidungku sampai mencekik tenggorokanku.
Haahhh??? Aku membuka mata, aku sudah dikelilingi banyak pasang mata. Mata yang memandangku penuh khawatir.
Kuusap bola mataku dan muka kusutku..
"Bung, minum dulu", temanku memberikan air minum dengan penuh rasa cemas.
"Kau tidak apa-apa bung?', tanya yang lain.
Spontan air kuteguk dan kuhabiskan. Aku yakin aku tidak haus, tapi entah kenapa aku seperti orang yang kehausan dan kepanasan.
Tiba-tiba..
"Mas sudah ya, iklaskan.. itu jalan yang dia pilih, jangan salahkan dirimu. Dia sudah dapat yang dia inginkan, ikhlaskan..", kata seorang lelaki tua sembari tersenyum menepuk bahuku kemudian pergi meninggalkanku.
Timbul banyak tanyaku terhadap lelaki tua itu. Tapi lagi-lagi aku tak mendapatkan jawaban. Perjalanan kurasakan begitu lama dalam kotak besi ini. Aku tak bisa tidur lagi. Hanya bisa memandang pemandangan dari balik jendela kotak besi tua ini.
Sampai kurasa..
Akhirnya kami tiba di pasar senen, jakarta. Was-wasku kembali beradu. Apa yang akan kukatakan pada keluarga sahabatku"
Mulutku membisu..
Nyaliku hanya sebesar debu..
Aku tak tahu apakah aku mampu..
Mampukah aku mengabarkan berita duka ini?
Takut..
Takut..
Dan takut..
Aku mati rasa..
Bahkan membayangkan ekspresi mereka saja aku tak sanggup..
Ya tuhan aku harus apa..
Aku naik bus kopaja bobrok menuju rumah keluarga sahabatku. Ya.. melewati jalanan metropolitan. Jakarta masih sama, kawanku. Kota yang keras dengan keadilan yang tak merata.
Benar katamu kawan.. Ibu kota, surga bagi yang bergelimang harta dan kuasa, tapi neraka bagi mereka yang tuna wisma. Banyak yang datang mencari peruntungan di ibu kota, tapi sayang sekali hanya diperkosa oleh ketidakadilan..
Ibu kota..
Sama saja..
Tempat mereka..
Tempat celoteh dan candaan yang mengaku berwibawa..
Ya.. kota ini keras dan angkuh layaknya petinggi di istana sana..
Benar ucapanmu kawan..
Sampailah aku di rumah sahabatku. Rumah kecil dengan teras yang tidak terlalu luas. Rumah dipinggiran ibu kota, rumah sederhana di sudut kota jakarta.
"Permisi..", salamku pada orang dirumah itu.
"Iya.. sebentar..", balas seorang wanita yang belum terlalu tua. Ya, itu mama dari sahabatku, steven.
Paras yang masih terawat tapi mulai banyak keriput diwajahnya. Pernah kudengar beliau banting tulang menjadi buruh rumah tangga orang kaya, ya orang kaya tapi tak sekaya beliau dulu. Sangat sedih melihatnya, melihat keadaan keluarga steve akibat ulah papa steve yang menjadikan mereka seperti ini. Jatuh miskin dan terbatas ekomoni.
"Ehh.. nak doni, steven mana", tanya mama steve. Dengan panggilan nama lengkap, khas panggilan seorang ibu kepada anak nya.
"Emm.. tante doni minta maaf sebelumnya...", jawabku dan tiba-tiba dipotong oleh mama steve.
"Hahh.. kenapa? Ada apa dengan steven don?", tanya mama steve penuh bingung.
"Sebentar tante, saya mau bicara soal steve dulu", kataku kepada ibunda sahabatku, beliau hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Saya kamari ingin mengabarkan tentang steve. Steve tante.. Steve hilang di semeru..", jelasku lesu sambil hanya bisa menunduk dan penuh rasa bersalah.
"Kamu jangan bercanda don..", kata mama steve terkejut dan lemas seketika.
"I..ii..iya tante, kami dan relawan sudah menyisir serta mencari keberadaan steve, tapi belum ketemu tante..", sambungku berat dan semakin merasa bersalah.
Orang tua mana yagn tak sedih..
Ibu mana yang tidak syok..
Semua orang akan sedih dan terpukul jika menghadapi kabar seperti ini. Maafkan aku kawan membohongi ibu yang telah melahirkanmu, tentang keadaanmu, tentang apa yang sebenarnya terjadi di semeru/
"Steven!! Steveennn!!!", teriak mama steve.
Mama steve lemas masuk kedalam rumah. Seketika tangispun pecah. Pecah menjadi seisi rumah. Lagi-lagi aku tak kuasa melihat kesedihan..
Maafkan aku sahabatmu..
Tanpa pamit aku meninggalkan rumahmu kawanku..
Langkah goyah penuh resah..
Langkah seorang yang penuh dengan dosa, kesedihan dan kehilangan..
Sudah lama sahabatku.. Sudah lama kusimpan rahasia ini didalam sebuah brankas tua tanpa ada satupun manusa yang mengetahuinya.
Maaf kawanku, aku terpaksa membongkar setiap guratan tinta diary mu..
Steven.. kawanku.. sahabatku..
Maafkan kawan dan sahabatmu ini..
Aku masih merindukanmu sahabat..
Sampai kapan kau akan tetap abadi dalam kenanganku..
Kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku..
Dari sahabat yang selalu merindukanmu..
Doni
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar