Diary Steve - Part 2, Steve & Tanjakan Cinta
Rasa sedih..
Andaikan bumi tak lagi bundar, andaikan awan tak lagi berwarna, bahkan andaikan lautan tak lagi menampakkan gelombangnya, tetap semua tetap akan menggambarkan kesedihan..
"Ayo bung kita makan, biar gak jadi kurus itu badan lu yang gembul..", ucapku pada steve
Anggukan kepala..
Ya.. hanya anggukan kepala dengan model dungunya itu yang diberikan padaku. Semua kuberikan hanya untuk membuatmu bahagia, sahabatku. Semua kuberikan agar kau tahu ada seorang doni disampingmu.
Setelah makan kami bercengkerama. Membicarakan masa depan, masa depan setelah kami tempuh dunia perkuliahan dan dunia dengan semua keangkuhannya.
Celana cutbray ku telah basah oleh embun mahameru, butiran embun telah berubah mEnjadi salju bagaikan kristal yang turun dari surga.
"Lu kagak dingin bung? Itu ada sebats kalo lu mau", ucapku.
Sebenarnya aku tahu kalau steve tidak merokok, sebab aku sendiri yang mengantarkannya untuk cek up di unit radiologi disalah satu rumah sakit dekat kampusku. Tapi siapa tahu dia akan menghisapnya, mungkin akan menghilangkan duka lara di dadanya. Bujuk rayu kulakukan hanya supaya dia bahagia, karena hanya itu yang bisa aku lakukan baginya, sahabatku dengan penuh duka lara..
Pagipun memberikan kenangan indah kepada kami..
Sinar fajar terlihat dicelah belahan sang ranu..
Ini pengalamanku pertama kali di ranu kumbolo pagi hari..
Sangat indah..
"Ayo kita teruskan perjalanan bung, sudah lumayan dekat sepertinya", ajak steve
Aku memang belum pernah menaiki semeru, namun aku sadar kalau puncak masih jauh, dan sangat jauh. Lalu kenapa dia mengatakan dekat padaku?
Aku bersihkan bekas sampah kami, aku masukkan ke tas sampahku, kurapikan semua peralatanku dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
Perjalanan menuju cemoro kandang.
Yang..
Yaa.. yang ada tanjakan cintanya serta melewati oro-oro ombo. Aku yang tetap berada ditengah, melangkahkan kakiku seraya memandang terus kedepan. Ada seruan kecil dibelakang..
"Bung, jangan sampe lu lihat kebelakang, ntar lu ngga punya pasangan..hehe..", suara steve yang masih seperti kemarin.
"Ok bung, gua ngga akan noleh kebelakang. Pantangan juga sih buat lu untuk ngga lihat kebelakang juga.. hahaha..", jawabku sambil menyindir steve.
Perjalanan kami lalui tanpa banyak rintangan. Hanya ocehan dan guyonan receh yang kami lontarkan untuk mengusir rasa pegal dipundak. Sekitar kurang dari satu jam kami melewati tanjakan cinta dan padang sabananya yang penuh dengan ilalang. Pohon perdu memanjakan mata kami, karena memang pada bulan itu bunga nan indah disuguhkan dari tanaman itu.
"Woiii.. jangan sampai kalian tergores atau kalian makan ya bunga itu, bisa mampus!", teriak teman kami yang ada dipaling depan.
"Emang tumbuhan apa mas, kok aneh bisa mematikan gitu?", tanya petricie
"Lho kamu belum tahu ya? Itu verbena brasilliensis mbak", jawab ketua rombongan kami dari depan.
Kami memilih jalur bawah ketika ada di cemoro kandang, dengan kecantikan bunga verbena nya. Pegal dan sakit mulai terasa di jemari kakiku. Namun semua sudah terbayar separuh dengan keindahan bunga yang katanya mematikan itu.
Siang hari kami sudah mulai menemukan pepohonan yang tinggi dengan trek jalan panjang yang..
"Emejingg..!!"
Tertawa bila kuingat kata itu, karena dulu kata itu tak setenar sekarang atau sekarangpun kata itu tak akan tenar bila tidak diviralkan oleh anak atau bahkan cucuku kini.
Cemoro kandang sangat membuatku terpesona akan setiap tiang pancang dan tingginya payung hutan.
"Kuingin genggam tanganmu, sahabatku. Na..na..na.."
Kuingat lagu itu dinyanyikan oleh salah satu penyanyi yang aku juga lupa siapa yang menyanyikannya. Lagu yang terasa riang namun menyuguhkan kebimbangan, kebimbangan akan kehilangan, kehilangan sebuah persahabatan. Ah sudahlah, akan ku ukir ini sebagai suatu ketidak berdayaanku. Maafkan diriku, akan kuluapkan keluh kesahku pada tulisan ini, tulisan doni, sahabatmu yang tak pernah menganggapmu, mati..
"Si steve dimana kok ngga kelihatan?', tanya ketua rombonganku.
Terkejut aku bukan main, bahkan petricia pun tak bisa menahan rasa terkejutnya.
"Padahal tadi aku merasa kalau dibelakangku masi ada steve", katanya kebingungan.
Hilang..
Temanku, sahabatku entah kemana. Dan tidak hanya bingungku, bingung-bingung berjuta bingung semua sahabatku yang disini bersama mencari keberadaan steven. Apakah tak ada kejanggalan? Tentunya masih banyak kejanggalan yang harus aku ungkapkan dari setiap goresan tinta buku diary itu.
Siap? Apakah sesiap ini diriku, wahai sahabat? Tetap kucoba melihat, membuka setiap lembar diary ini. Kapan dan kenapa buku ini ada padaku wahai temanku. Akan dan akan tetap kutuliskan dalam torehan tinta penaku wahai sahabatku..
"Dimana? Kemana dia mas?", tanya petricia menambah kepanikan kami berlima.
"Tenang.. tenang.. aku akan mencari cara agar kalian bisa bertemu dengan steve", ucap seseorang yang mengagetkan kami.
Seorang yang bernama suko inilah yang sedikit meredakan kegusaran dan kepanikan kami.
"Saya akan mencoba mencari cara agar kalian dapat bertemu dengan teman kalian steve. Oya, nama saya suko. Saya dari kota sini mas..", ucap nya memperkenalkan diri.
Suko sudah berada di basecamp itu sejak sebelum kami sampai. Kulihat dari penampilannya, kuyakin dia adalah pendaki yang cukup berpengalaman di gunung ini, dan aku yakin bahwa sahabatku dapat kami temukan.
Wahai burung biduan alam..
Kupersembahkan semua tangisku akan kicaumu, agar hati ini dapat sedikit merasa.. merasa bahagia atas kicau indah bersama ditemukannya sahabatku tercinta..
"Mas, mbak kita berdoa saja ya. Yang saya tahu teman kalian sama..", ucap suko tak melanjutkan kalimatnya.
"Hei, jangan asal bicara kamu. Mencari saja belum kamu lakukan kok sudah berani bilang kalau teman kami.. apa tadi kau bilang?", marahku pada suko yang tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuatku gusar.
"Begini mas, kita harus selalu berdoa. Bukankah berdoa itu bagus untuk kita dan bagi teman kalian yang hilang di kalimati itu", ucap suko kembali aneh.
"Di kalimati gimana mas, kita kan ada disini sekarang. Kok sekarang mutar ke kalimati segala", kata petricia, juga tak percaya dengan ucapan suko.
"Yaa, teman kalian sedang ada di kalimati saat ini. Tapi tenang saja, mungkin dia memang sedang ingin menyendiri..", tambah suko meyakinkan kami.
Wahai temanku, akan kutambah torehan pena ini di buku diary mu, agar lengkap perjalananmu menuju mahameru yang megah. Sekali lagi maafkan temanmu ini..
"Terus sekarang bagaimana mas? Masa kita hanya disini aja ngga ada yang nyari steve", ucapku menanyakan apa yang harus kami lakukan.
"Begini saja, kalian buka tenda saja disini, bermalam disini semalam. Kalian tidak perlu melanjutkan perjalanan keatas sebelum temannya yang hilang ditemukan", ucap suko pada kami.
Tak terasa siang cepat digantikan oleh malam. Dengan turunnya embun yang kian pekat akan rasa kelam. Kami mendirikan tenda disini, menuruti apa kata suko. Ternyata suko adalah salah satu aktivis dan relawan dari kota ini, kota dimana mahameru berada. Dia juga mapala disalah satu perguruan tinggi keguruan di kota malang, dan tentunya dia akan jauh lebih paham akan jalur di gunung ini.
"Kalau kalian ingin turun kebawah, tolong jangan sendirian ya, ajak teman. Siapa tahu kalian ingin buang hajat atau lainnya..", ucap suko sekali lagi yang menambah teka-teki akan dirinya.
"Mas, kamu ini manusia kan?", tanya petricia tiba-tiba.
"Hahahaha.. mbaknya lucu. Jelas saya manusia mbak, saya pemuda dari desa *****, kota *****. Saya mahasiswa di kampus ***** mbak, jurusan saya pendidikan, sebentar lagi saya akan mendapatkan gelar doktorandus. Dan mungkin setahun lagi saya akan menikah dan punya anak", jelas suko menjelaskan dirinya sambil tertawa.
Memang di era 90-an, tak banyak pendaki di semeru, hanya beberapa orang saja. Maka tak heran jika kami hanya bertemu dengan suko dan empat orang teman lainnya dari malang.
"Pokoknya kita tunggu sampai pagi. Kita tidak boleh gegabah mencari di malam hari, terlalu beresiko", kata suko sekali lagi sambil membuat perapian disamping tendanya.
Malam penuh akan rasa penantian.
Aku..
Aku doni akan berusaha mencarimu nanti teman, setelah mentari pagi telah membersihkan kabut disetiap rongga semeru ini.
Sempat kudengar beberapa teman saling bercengkerama dan membicarakan rencana penelusuran dan pencarian steve pagi nanti, namun..
Namun aku tak sanggup untuk berkumpul bersama mereka, hanya air mataku ini yang menemaniku sepanjang malam.
"Memang mas sudah sering ya naik semeru?", tanya petricia penuh cemas.
"Yaa.. lumayan lah mbak. Kalau liburan habis final biasanya kami kesini", jawab suko kudengar diluar tenda dan diriku yang ada didalamnya.
"Banyak ya bung yang tersesat disini? Terus biasanya karena apa?", tanya temanku dari bandung.
"Sebenarnya semeru tak semenakutkan seperti yang kalian pikirkan. Disini sama layaknya seperti gunung yang lain. Asal kalian mengikuti aturan yang sudah berlaku..", jawab suko.
"Saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kalian.." kata suko menambahkan, mencoba menenangkan kami yang sedang gusar.
Pagi masih terasa lama kala itu..
Sebagian teman sudah ada yang tidur untuk mempersiapkan pencarian besok pagi. Hanya petricia saja yang aku dengar masih berbincang-bincang dengan suko.
Malam yang penuh bintang..
Malam yang penuh dengan ketidaknyamanan..
"Di bawah itu namanya apa mas?", tanya petricia pada suko.
"Yaa.. dibawah namanya sumber manik. Biasanya kita menggunakannya sebagai tempat buang hajat dan ya.. kalau ada, dan kalau keluar airnya biasanya kita mengambil air dari situ. Cuma jangan sekarang mbak, takut ada binatang buas", terang suko.
Malam semakin larut, namun mataku tak dapat ku pejamkan. Ahhh.. aku doni, si raja rimba cengeng. Umpat dari dalam hatiku untuk diriku sendiri. Aku keluar dari tenda hanya sebagai cara melempar kecemasanku yang semakin lama semakin memuncak.
"Sebentar lagi ada rombongan dari bawah mas, mbak. Tolong tidak usah disapa atau hiraukan", ucap dan pinta suko tiba-tiba padaku yang bahkan masih berdiri didekat perapian itu.
Kaget dengan apa yang diucapkan, namun aku berusaha tak bertanya macam-macam. Kududukan diriku didekat perapian agar setiap hangatnya bisa masuk ke tubuhku.
Benar saja..
Selang beberapa menit aku lihat ada sekitar lima belas orang dari bawah membawa sebuah bungkusan besar. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka porter yang sengaja membawa peralatan untuk penelitian di semeru?
Sekelompok orang menyerukan semua kata-kata yang tak kumengerti. Suko mulai beranjak dari duduknya, entah mau melakukan apa pemuda itu..
"Menengo.. ojok sampek nganggu konco lan koncoku..!!", ucap suko entah kepada siapa.
(Diamlah.. jangan sampai mengganggu teman-temanku)
Ditebasnya edelweis disisi kanan kami yang tak ku tahu kenapa bisa tumbuh disini. Bukannya bunga itu hanya tumbuh di tempat yang lebih tinggi. Dibakarnya dupa yang wangi nan semerbak menyeruak di seluruh hutan cemoro kandang ini..
Mencekam..
Udara mulai tak memberikan timangan manis kepada kami, udara mulai meliukkan hembusannya kepada kami. Kencang dan lama-kelamaan semakin kencang ke arah utara menuju puncak semeru..
Gruukkkk.. Gruukkkkk.. Gruukkkk..
Sang mahameru mengeluarkan suara bisingnya, suara batuknya dan suara yang maha dahsyat, berkali-kali kami mendengar ledakannya.
Kembali lagi aku lihat sekelompok orang dari bawah berlarian sambil mengucap kata..
"Mangan.. mangan.. mangan.." (makan.. makan.. makan..)
Apa yang dimaksud dengan kata itu?
Suko yang sedari tadi nampak tenang dan santai, sekarang dia seperti ketakutan. Ketakutan yang entah karena apa, akupun tak tahu akan apa yang ada dibenaknya.
"Tolong, panggilkan semuanya, suruh bangun dan kumpulkan disini. Ayo keluar semua dari tenda!!", ucap suko sambil berteriak kencang, menambah aku, petricia dan semua orang yang kami kenal semakin panik.
"Apa hanya ini, apakah sudah keluar semua teman kalian dari tenda?", tanya suko lagi.
"Iya, sudah keluar semuanya", jawabku penuh cemas.
"Rong rong asem..
Jayane menungso kang moho kuoso, lemah tekane rogo. Suryo tekane nyowo, landep jagad jagad'e menungso, ojo landep marang jagad demit sing nggowo loro lan oro..
Rapalanku rapalan dungo, dungone anak soko bapak biyunge. Gusti pangeran sing moho agung, agunge marang anakmu suko lan sak kekancane..
Ojo ndemok ojo nggudo, panganen sing kudu mbok pangan, untalen sing kudu mbok untal, cecepen sing kudu mbok cecep, mung ojo sampek ngrusak ngrusuk jabang bayiku teko alam ndunyo..
Demit dadio demit..
Menungso tetep menungso..".
Badanku gemetar tatkala melihat dan mendengar suko merapal mantra itu. Apakah dia benar seorang mahasiswa yang katanya generasi akademik? Tapi bagaimana dia bagaikan sudah hapal diluar kepala setiap kata mantra itu..
Duh.. Doni, kenapa kamu yang anak metropolitan begitu dangkalnya akan semua ini. Apakah aku harus menambah pengetahuanku sebagai seorang aktivis dan pecinta alam?
Dalam ketakutanku dan kegentingan yang mencekam, kami semua, semua orang dikelompok kami saling berpegangan tangan sambil terus berdoa agar keselamatan kami selalu dilindungi oleh Tuhan.
"Sekarang kalian semua, apapun yang kalian lihat dan terjadi, tolong tetap diam dan jangan bergerak, apapun yang terjadi!", ucap suko kepada kami dan terus menatap tajam kearah kami semua satu persatu, tak kecuali petricia yang gemetar ketakutan.
Dikejauhan kulihat sosok seperti temanku steven dibopong oleh sekelompok orang dari bawah.
Temanku dibawa keatas,
"Wooiii.. itu temanku..!!", ucapku dalam kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan.
"Jangan!! Jangan kau coba-coba tinggalkan kelompok ini!!!", sanggah suko seraya meneriakkan suaranya padaku
Takut..
Aku sangat takut, bahkan untuk sekedar melepaskan pegangan tangan diantara kami saja aku tak berani. Tak berani menanggung resiko bila terjadi apa-apa pada kami semua..
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar