Bus Hantu Alas Gumitir

 Perkenalkan nama saya Agus dan teman saya Irwan. Kami adalah teman kerja. Meskipun tidak sampai keluar pulau, pekerjaan ini sudah kami anggap merantau, karena jarak antara rumah dan tempat kerja kami sekitar 8 jam menggunakan angkutan darat. Dan membuat kami memang jarang sekali pulang, kecuali ada keperluan yang memang sangat penting. 

Irwan adalah teman yang saya kenal ditempat kerja ini. Saya mulai akrab dengan dia setelah mengetahui ternyata saya dan Irwan berasal dari kota yang sama meskipun berbeda daerah. Meski saya tidak tahu persis alamatnya, yang saya tahu Irwan adalah seorang ayah. Ia memiliki seorang putri yang duduk di sekolah dasar. Tetapi meskipun begitu, ia belum terlihat tua. Mungkin karena dulu ia menikah terlalu muda. 

Irwan sudah tinggal dan bekerja dikota ini selama hampir 5 tahun. Ia pulang sebulan sekali setelah gajian untuk sekedar memberikan rejeki dan menjenguk anaknya. Berbeda dengan saya, saya bisa ada dikota ini atas arahan keluarga saya. Ya memang mayoritas orang di kampung saya pergi merantau untuk mengadu nasib. Jadu saya juga diarahkan untuk mengikuti kebiasaan orang sekitar, mengingat kehidupan dikampung saya yang biasa-biasa saja. Saya sudah berada dikota ini selama 3 tahun. Meski belum dikaruniai anak, saya juga meninggalkan seorang istri dirumah. 

Singkat cerita, hari itu merupakan hari yang membahagiakan bagi kami. Karena hari itu adalah hari dimana kita gajian. Jadi hari itu kita berdua kerja dengan semangat yang lebih daripada biasanya. "Besok pulang Wan?, tanya saya. "Ngga tahu ini bro, kayaknya sih iya. Besok sorean lah. Kamu gimana, pulang juga ngga?", balasnya. "Aku pulang lusa mungkin, soalnya sekalian nunggu surat resign dulu. Katanya sih suratnya keluar setelah gajian ini. Ya mungkin aku pulang dan ngga balik sini lagi", kata saya menjelaskan. Saya memang sudah mengajukan pengunduran diri, karena pada dasarnya saya memang tidak betah kerja disini. Cuacanya yang sangat panas dan ditambah lagi terkadang istriku memintaku untuk pulang. 

Sepulang kerja, seperti biasa kami menuju kos tempat kami tinggal dengan berjalan kaki, karena memang jaraknya yang tidak begitu jauh. Waktu itu wajah Irwan terlihat sedih setelah tadi sempat mengangkat telepon dari seseorang. 

"Kamu kenapa kusut gitu? Gaji dipotong lagi?", tanya saya. "Ngga, aku mau langsung pulang aja habis ini. Mungkin setelah isya lah. Anakku besok harus bayar SPP, udah nunggak lama. Istriku tadi telpon, katanya kalau besok belum bayar, anakku ngga mau sekolah, malu", jelas Irwan. Saya seolah bisa ikut merasakan besarnya perjuangan dia sebagai ayah untuk anaknya. 

Sesampai di kos, Irwan langsung mempersiapkan barang-barangnya. Dia terlihat sibuk sendiri dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Sekitar pukul 19.00, Irwan pamit. Dan dia juga bilang kalau akan dirumah selama tiga hari. Entah saat itu apa yang ada dipikiran saya, tiba-tiba saya juga langsung ingin pulang saat itu bersama Irwan. 

"Eh Wan, aku juga mau pulang deh", ucapku tiba-tiba. "Lha katanya mau nunggu surat resign sekalian?" jawab Irwan heran. "Tau lah, males aku sendirian disini, mending pulang sekalian aja. Nanti kalaaupun suratnya keluar kan aku di telpon. Biar pas aku balik sini, aku bisa ajak istriku. Jadi bisa sekalian aku ajak jalan-jalan", aku menjelaskan. "Ya udah cepetan..", balas Irwan.

Disaat aku sedang membereskan barang, kaleng plastik tempat biasa kami menaruh beras pecah begitu saja. Padahal waktu itu beras kami tinggal sedikit, dan entah kenapa kaleng itu pecah dengan sendirinya. Irwan segera membereskan sambil terheran-heran, "Kok bisa pecah ya Gus..", tanya Irwan heran. Saat itu saya merasakan hal aneh. Bulu kuduk tiba-tiba merinding, ubun-ubun terasa dingin dan jantung berdetak lebih cepat. Saya mengambil air dan menyandarkan badan di dinding. "Mana aku tahu. Ini aja tiba-tiba aku gemeter. Laper kali ya..", jawabku.

Saya memang merasakan ada hal yang aneh saat itu, tapi saya sengaja diam dan tidak bercerita ke Irwan karena saya juga tidak tahu bagaimana menceritakannya dan saya juga takut kalau-kalau Irwan tidak percaya. Jadi waktu itu saya memilih diam dan menyimpan perasaan itu sendiri. Akhirnya kami berdua meninggalkan kos sekitar pukul 20.00 menuju terminal. Disana kita istirahat sebentar sambil makan malam. Setelah selesai makan, kami menaiki bus yang memang sudah biasanya kami tumpangi jika hendak pulang kampung. Suasana bus saat itu sepi, mungkin cuma terisi 8-9 penumpang saja. Jadi,  waktu kami habiskan untuk istirahan disepanjang perjalanan karena badan juga lelah setelah bekerja seharian. 

Dan belum lama saya tidur, saya terbangun karena bus yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Saya kira sudah sampai, ternyata belum. Bus yang kami tumpangi ternyata mogok, entah apa sebabnya. Karena bosan menunggu didalam, saya memutuskan untuk turun. Waktu itu hampir semua penumpang juga turun, karena sudah hampir sejam bus ini mogok. Aku melihat dari kejauhan Irwan mengobrol dengan salah satu kru bus, yang kuyakini adalah kondektur. Tidak lama Irwan berjalan kearahku dengan wajah yang kecewa.

"Naik bus lain aja yuk, ini mogoknya lamay kayaknya. Kita disuruh nunggu, mau dioper ke bus yang lain. Sopirnya lagi telpon ke bus lain yang kearah sini..", ajak Irwan. "Ya udah ngga masalah, kita tinggal nunggu bus datang kan. Terus kenapa kamu kaya suntuk gitu?, tanyaku. "Ini kalau mau nunggu bus yang operan, katanya bisa sejam sampai dua jam an. Ini masih jauh, aku takut kalau besok sampai rumah lebih dari jam 7 pagi, anakku bisa-bisa ngga sekolah", tutur Irwan. "Ya ngga lah, paling besok jam 4 pagi kita juga udah sampai", jawabku coba menenangkan. "Jam 4 itu sampai rumah kamu. Sampai rumahku bisa jam 5, belum naik angkot sejam. Itu juga kalau ngga sering berhenti ngetem. Dan ini juga kita belum tahu bus nya datang kapan", kata Irwan meyakinkan. "Ya udah terus gimana", sahutku.

Irwan kembali meninggalkanku menuju ke kondektur bus yang tadi. Setelah terlibat obrolan, Irwan masuk kedalam bus, dan kembali turun dengan membawa tas kami berdua. Benar saja, akhirnya kami berjalan kaki sekitar kurang lebih 30 menit untuk mencoba mencari bus lain. Apapun busnya, selama satu arah ke kota kami, kami akan berhentikan, pikir kami saat itu. Waktu itu sekitar tengah malam, dan kami berdua ada di jalan yang sepi, jauh dari pemukiman warga. Berharap segera menemukan bus yang searah dengan tujuan kami. Selang beberapa lama terlihat dari kejauhan sorot lampu yang kami duga itu adalah sebuah bus. Saya sontak langsung maju, lebih mendekat kearah jalan sambil melambaikan tangan agar pengemudi paham jika kita adalah calon penumpang. Tidak lama bus berhenti sekitar 40 meter didepan kami, agak keblablasan. Karena mungkin kami tidak terlihat dari jauh. 

Kami segera berlari kearah bus tersebut. Irwan berlari lima langkah didepan saya, karena memang dia terlihat jauh lebih bersemangat kali ini. Ketika saya semakin mendekati bus, saya kembali merasakan apa yang tadi sempat saya rasakan di kos. Merinding, hingga ubun-ubun yang terasa mendadak dingin. Seketika saya melambatkan langkah kaki saya. Semakin mendekati bus, ada rasa ragu dalam diri saya untuk menaiki bus tersebut dibarengi dengan telinga saya yang tiba-tiba berdengung.

Saat itu saya sudah merasakan ada yang salah dengan bus ini. Melihat hanya pintu depan saja yang terbuka, dan saya berjalan dari arah belakang bus, membuat saya harus melewati seluruh badan bus. Seingat saya, ukuran bus ini tidak sebesar bus patas pada umumnya. Sambil berjalan menuju pitu depan bus, saya sempat memperhatikan bus ini. Bus in iterlihat seperti bus tua yang berukuran lebih kecil dengan warna yang sediikit sudah pudar ditambah tulisan stiker di bus yang sudah terkelupas, membuat saya tidak bisa melihat nama bus apa ini yang akan kami tumpangi. 
 
Semua berubah ketika saya memasuki pintu bus. Saya sudah bisa merasakan bahwa ada yang salah dengan bus ini, karena ketika itu saya merasakan badan saya seperti melewati energi listrik yang tidak terlihat oleh mata. Rasanya dingin pekat. Seolah memasuki kulkas. Sejenak saya ingin kembali turun. Tetapi ketika saya menoleh, pintu bus sudah tertutup dan bus sudah berjalan perlahan. Saya sempat melihat sopir bus yang terus melihat kedepan seperti tidak menghiraukan kehadiran saya disitu. Terlihat ditangannya terselip rokok yang masih menyala. Saya berjalan pelan mencoba mencari tempat duduk Irwan yang sudah lebih dahulu naik. 
 
Karena minimnya cahaya, membuat saya penglihatan saya sangat terbatas. Saat itu saya hanya melihat beberapa penumpang yang sedang tertidur pulas. Ada yang memakai baju coklat, hitam dan putih. Dan ada juga penumpang yang terlihat melamun sambil menghadap kaca. Tapi anehnya, pakaian yang dipakai penumpang-penumpang ini seperti pakaian jaman dulu, pakaian jadul. Dan tidak ada satupun dari penumpang itu yang menghiraukan kedatangan saya. Tiba-tiba pandangan saya teralihkan. Terlihat Irwan melambai, memberitahu keberadaannya. Dia duduk di kursi nomor dua dari belakang. Karena Irwan yang sampai duluan, dia duduk disamping kaca dan saya duduk disebelah jalan. 

Karena bus ini kecil yang tiap baris hanya ada dua bangku, jadi waktu itu saya bisa langsung melihat kedepan meski saya duduk dibelakang. Ketika saya duduk, saya merasakan hawa berubah menjadi panas. "Wan ini bus mau kemana? Kamu sudah nanya belum?", tanyaku ke Irwan. "Sudah tadi. Katanya ini langsung ke kota kita, ngga pakai berhenti, patas", jawabnya. "Kok aku ngga pernah lihat bus kaya gini yo Wan?", lanjutku heran. "Udah gapapa, yang penting kita sampai rumah. Aku udah ngomong kok ke sopirnya kalau kamu turun didepan masjid", terang Irwan. Rumah saya memang tidak jauh dari jalan besar. Jadi saya waktu itu memang merasa aneh dengan bus ini, karena saya memang tidak pernah lihat bus semacam ini sebelumnya. 

Dalam perjalanan Irwan memilih untuk tidur sedangkan saya sengaja untuk tidak tidur karena memang saya merasakan hal yang aneh. Waktu itu suasana didalambus sangat sunyi. Tidak ada suara sedikitpun bahkan dari arah luar, seolah bus ini sedang berhenti. Setelah hampir dua jam perjalanan, firasat saya kalau ada yang tidak beres dengan bus ini ternyata benar. Hal itu terlihat, waktu bus yang kami tumpangi ini berhenti seolah untuk menurun kan penumpang, namun saat bus berhenti itu kita sedang berada ditempat gelap, tengah hutan dan tidak ada rumah disekitar situ. Siapa yang mau turun ditengah hutan. Saya coba berdiri untuk memastikan. Dan memang benar, tidak ada satupun rumah atau bangunan disekitar tempat kita berhenti, bahkan lampu pun tidak ada. Yang terlihat hanyalah hutan. Saya kembali duduk, menenangkan pikiran saya dan mulai berdoa.

Tak lama kemudian saya melihat beberapa penumpang yang terlihat aneh dari belakang. Dia berjarak dua kursi dari tempat kami duduk. Terlihat dari tempat dimana saya duduk, dia memakai baju putih kusam yang aneh. Baju itu seperti kain terusan yang tidak berbentuk pakaian, dan ini terlihat jelas karena posisi dia duduk, separuh dari badannya keluar dari tempat duduknya. Sekilas saya mengira itu adalah sosok pocong. Dan saya menjadi yakin ketika saya melihat kearah kakinya, ada ikatan dikakinya. Tanpa berani melihat kearah kepalanya, sudah sangat cukup membuat saya gemetar ketakutan. Saya lalu mencoba membangunkan Irwan.

Irwan yang terbangun langsung kaget melihat saya yang bercucuran keringat dan terlihat gugup seolah sedang sembunyi dari kejaran banyak orang. "Kamu kenapa Gus? Nahan kencing?", tanyanya heran. Saya mencoba menjelaskan ke Irwan dengan suara pelan supaya dia tetap tenang. Seperti yang saya duga, Irwan tidak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dia memilih tidur kembali setelah menyarankan saya untuk tidur. Anehnya saat Irwan bangun, sosok yang tadi aku yakini pocong, tiba-tiba tampilannya berubah menjadi orang biasa. "Kamu ngantuk kali. Udah kamu tidur aja, kamu capek jadi halusinasi lihat yang ngga-ngga. Masih jauh ini. Kalau aku ngga tidur, nanti aku kebelet Gus. Malah repot, ngga ada toilet disini", Jawab Irwan.

Dan Irwan kembali melanjutkan tidurnya. Dan saya tetap terjaga dengan ketakutan saya. Tak lama kemudian saya mencium bau bangkai yang sangat menyengat hidung. Saya mencoba mencari sumber bau itu, dan ternyata berasal dari belakang kursi kami. Dengan perlahan saya mencoba mengintip ke belakang dari celah kursi kami. Dan ternyata terlihat seorang wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya nampak sedang tertidur nyenyak. Entah kapan dia datang, saya tidak pernah tahu. Karena sejak pertama saya duduk di kursi ini, kursi belakang kami memang kosong. Saya menggunakan jaket untuk menutupi hidung saya. Sekilas terpikir untuk kembali membangun kan Irwan, tapi kemudian saya singkirkan pikiran saya itu karena membangunkan Irwan akan percuma. Setelah sekian lama, bau itu hilang. Dan ketika saya kembali mengintip kebelakang, wanita itu juga ikut hilang. Entah kemana. Akhirnya saya mencoba untuk tetap tenang dan kembali fokus berdoa. "Nanti kalau sudah ketemu pemukiman atau apapun yang terang, saya kan membangunkan Irwan dan saya ajak turun", pikir saya saat itu.

Sepanjang perjalanan saya tidak melihat bus ini berpapasan dengan kendaraan lain sama sekali. Kita seolah hanya diam ditempat, tapi dengan sesekali bus ini terasa berhenti, entah itu menaikkan atau menurunkan penumpang yang saya juga tidak tahu. Karena tiap kali bus ini berhenti, keadaan tetap sepi dan saya tidak melihat ada penumpang yang turun atau naik. Saya sama sekali tidak berani untuk pergi kedepan, karena dari awal saya sudah merasa kalau ada yang tidak beres dengan bus ini. Lebih baik saya berpikir bagaimana caranya agar kami bisa keluar secepatnya dari bus ini. 

Bus kembali berhenti, seolah ada penumpang. Ternyata kali ini benar, ada seorang perempuan paruh baya dengan pakaian coklat dan rok hitam berjalan kearah saya dan duduk di baris kursi saya, disisi lain bus ini. Karena saat itu gelap saya tidak bisa memastikan wajahnya. Setelah beberapa saat, saya memberanikan diri untuk bertanya sekedar memastikan apakah dia manusia atau bukan. 

Ketika saya menoleh untuk memulai obrolan, saya terkejut melihat wajahnya. Mata, hidung, bibir, telinga, semua tidak ada. Wajahnya rata, benar-benar tidak ada apa-apa diwajahnya. Saking kagetnya, saya kembali membangunkan Irwan. Ketika Irwan bangun, dengan mata yang masih tertutup, dia menolak saat saya ajak turun, karena dia tetap merasa kalau saya berhalusinasi. Hingga akhirnya bus kembali berhenti seperti sebelumnya, saya menyadari itu adalah kesempatan kami untuk turun. 

"Wan ini bus setan, ngga bener ini bus. Ayo kita turun aja, mumpung belum kenapa-napa. Mau dikira bohong kek, terserah. Pokoknya kita turun dulu..", ajakku memaksa Irwan. "Ini jam berapa to?", tanya Irwan. "Halah malah nanya jam. Jam 4. Ayo to kita turun, mumpung berhenti ini, abis ini bus ini ngga berhenti lagi lho..", ucapku sambil panik karena saya merasa bus ini tidak berhenti lama. "Ya wes kamu turun aja, aku ngga mau. Nanti kalau aku nuruti kamu, aku bisa terlambat sampai rumah", jawab Irwan ketus. Saya memutuskan untuk jalan kedepan untuk turun dan meninggalkan Irwan sendiri disana.

Saya berjalan kedepan sambil terus berdoa dan tidak berani menoleh ke kanan atau kiri. Ketika saya berhasil turus, saya terkejut karena ternyata bus ini berada ditengah hutan dengan hanya ada jalan setapak disisi kiri bus. Saya mencoba secepatnya berjalan menjauhi bus itu. Saya tidak tahu kemana arah kaki saya, saya hanya berusaha secepat mungkin meninggalkan bus itu. Hingga akhirnya saya mendengar suara adzan subuh. Saya mencoba mengikuti sumber suara adzan itu, berharap menemukan pemukiman. 

Singkat cerita akhirnya saya sampai dipinggir jalan raya. Tak lama kemudian saya bertemu dengan sebuah truk dan saya dipersilahkan untuk menumpang. Setelah saya berada didalam truk dan mengobrol dengan sopir truk, akhirnya saya sadar kalau saya sedang berada di Alas Gumitir. Sebuah jalanan hutan naik turun yang memang terkenal angker."Pada awalnya kami memang naik bus jalur utara. Tapi entah kenapa, setelah saya menaiki bus semalam, saya jadi dibawa kemari. Ini kan jalur selatan", ceritaku kepada supir truk itu. 

Akhirnya saya sampai rumah dalam keadaan selamat. Setelah menceritakan pengalaman saya semalam kepada orang rumah, mereka juga mempercayai kalau itu semua adalah ulah bus hantu yang memang sudah beberapa kali terdengar ceritanya. Keesokan harinya saya mencoba mencari keberadaan Irwan, dengan berusaha mencari alamat lengkapnya dibantu oleh seorang teman di kantor. Akhirnya saya bisa menemukan rumah Irwan. Ternyata rumah Irwan jaraknya masih dua jam lagi dari daerahku tinggal. 

Dihari ketiga saya beserta keluarga bermaksud untuk mengunjungi Irwan. Karena malam itu saat di bus, itu adalah terakhir kali saya bertemu dengan Irwan. Jam 3 sore kami tiba dirumah Irwan. Dan betapa terkejutnya saya, ternyata Irwan sudah meninggal tadi pagi dan sudah selesai dimakamkan tadi siang. Yang awalnya niat saya mengunjungi Irwan adalah untuk mengetahui rumah dan mencari tahu keadaannya, akhirnya berubah menjadi takziah. Lalu saya mencoba berbincang dengan salah satu keluarga Irwan tentang apa penyebab Irwan meninggal. 

Ketika tahu cerita dari saudara Irwan, saya cukup terkejut ketika tahu Irwan meninggal secara mendadak, karena setahu saya dia memang tidak memiliki penyakit apapun. "Pagi itu waktu dia pulang, dia hanya bilang ngga enak badan. Dan masih sempat membayarkan SPP anaknya. Ngga lama setelah itu pingsan dan meninggal", tutur saudara Irwan

Setelah saya kembali kerumah dan saya terus terpikir akan Irwan. Menurut saya, istri Irwan lah yang mengetahui semuanya apa yang terjadi setelah saya turun dari bus itu. Karena menurut saudara Irwan tadi, Irwan sempat berpesan kalau semua sudah diserahkan dan dipercayakan ke istrinya. Dan Irwan sempat berkata kalau nanti ada teman kerjanya yang mencarinya, suruh mencari istrinya. Saat itu saya tersadar kalau yang dimaksud adalah saya. 

7 hari setelah kematian Irwan saya kembali kerumah Irwan untuk tahlilan dan sekaligus mencari tahu ada apa sebenarnya. Dari cerita istrinya, bahwa ketika sesampainya Irwan dirumah, ia mengatakan kalau badannya terasa tidak enak dan sangat berat. Sampai-sampai Irwan menyuruh istrinya untuk meminta bantuan. Ketika istrinya mencoba untuk mencari bantuan ke ustad kampung, perjalanannya seperti dihalangi. Mulai dari motor mogok, terjatuh dan lain-lain sampai akhirnya terlambat dan Irwan keburu meninggal sebelum istrinya berhasil memanggil ustad. 

The end










Postingan Populer