Warung (Kisah Nyata)
Jam 9 malam saya berangkat dari Surabaya menuju ke arah Malang untuk menuju ke basecamp pendakian Gunung Arjuno di Lawang, Jawa Timur. Saya terpaksa berangkat sendiri karena teman saya yang biasanya mendaki dengan saya kurang enak badan pada hari itu. Tak terasa sudah sejam saya mengemudi dan sudah masuk ke daerah Pandaan. Kebetulan ada sebuah warung yang buka dan saya berhenti sejenak dan memesan segelas kopi untuk menyegarkan mata sekaligus mengistirahatkan pantat setelah lama bergesekan dengan jok motor.
Selesai ngopi sayapun melanjutkan perjalanan. Saya lihat di ponsel saat itu menunjukkan jam 10 malam. Perut terasa lapar. Anehnya setelah saya berhenti di warung dan memesan kopi tadi, jalan yang saya lewati menjadi sepi dan hanya saya saja yang ada disepanjang jalan itu. Dan didepan saya lihat ada seperti warung kopi lagi. Saya pun mempercepat kecepatan motor saya untuk mampir kewarung itu. Sesampainya didepan warung yang cuma diterangi oleh beberapa lampu lentera, saya lihat cuma ada beberapa gorengan yang juga sudah dingin.
"Permisiii...", sapa saya. "Monggo mas..", balas seorang perempuan. Saya kaget ternyata seorang perempuan. "Mau pesan apa mas?, tanya perempuan itu. "Ada kopi bu?, tanya saya balik. "Ada mas, mau kopi apa? Kopi hitam atau kopi susu atau kopi jahe?", jawab perempuan itu ramah. "Tolong kopi susu saja bu. Ibu sendirian?", tanya saya lagi. "Ehm, suami saya baru saja tidur mas. Itu ada dikamar. Mau saya tutup tapi tanggung. Sebentar lagi subuh. Kalau subuh kan banyak truk yang pulang dari kota dan mampir kesini", balas perempuan itu lagi. Tidak lama obrolan singkat itu berakhir, kopi pun datang dan disuguhkan ke saya. Namun makin lama saya duduk di warung itu perasaan saya menjadi makin tidak nyaman.
Hawa begitu dingin waktu itu. Hidung saya tiba-tiba mencium bau amis. Dan dalam hati saya, "Astagfirullah.. ada apa ini?". Saya nyalakan rokok saya sambil melihat-lihat kearah jalan. Kopi yang tadi datang sudah terasa agak dingin. Hati saya mendadak timbul rasa khawatir dan pikiran penuh tanda tanya, "Ada apa diwarung ini?". Meski perempuan tadi begitu ramah, tapi sorot matanya tajam. Saya menangkap sorot mata yang menyimpan rasa dendam.
Kopi yang saya minum tiba-tiba rasanya hambar, dan tiba-tiba badan saya rasanya berat sekali. Seperti ada menumpang di tubuh saya sehingga baju tak terasa sudah penuh dengan keringat saya sendiri. Saya berjalan ke arah motor dengan tujuan mengambil baju ganti yang memang selalu saya siapkan di jok motor untuk kemudian berganti baju. Saat akan membuka jok motor, saya melihat ada kepala anak kecil yang menggelinding ditengah jalan dan seorang wanita diseberang jalan yang isi perutnya terburai. Wajahnya tidak nampak karena tertutup dengan kulit kepalanya yang terkelupas sehingga menutupi separuh wajahnya.
Wanita itu melihat ke arah saya dan melambai seperti meminta tolong. Melihat hal tersebut saya ingin memejamkan mata saya, saya tidak ingin terus melihat apa yang saya lihat. Tapi rasanya kelopak mata ini tidak mau berkompromi dengan keinginan saya. Lalu saya menoleh ke arah warung itu, saya lihat perempuan itu ada di pintu warungnya, melihat ke arah jalan dan menangis seperti sedang meratapi sesuatu. Wajahnya tegas dengan sorot mata nanar yang menyimpan benci di hatinya dan tergambar dari matanya.
Saya menjauh dari motor dan saya berusaha untuk tidak peduli dengan apa yang barusan saya lihat. Saya berjalan kembali ke warung itu dengan tujuan untuk membayar kopi saya dan kembali melanjutkan perjalanan. Saya merasakan dengan sangat kuat kalau ada yang tidak beres disekeliling saya. Setelah saya membaya kopi ke perempuan itu, entah kenapa kaki saya sulit untuk melangkah menuju kembali ke motor. Dan badan saya kembali terasa sangat berat. "Ya Allah apa yang sedang saya alami?", ucap saya dalam hati saat itu. Bebarengan dengan itu telinga saya mendengar suara anak kecil yang menjerit seperti kesakitan dan bau amis yang tadi saya cium menjadi semakin menyengat dihidung saya.
Saat ini dan dikondisi ini saya hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Jantung rasanya berhenti berdenyut, mata terasa begitu berat dan saya tidak bisa berkonsentrasi. Tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara klakson truk yang berhenti tepat dibelakang motor saya. Dua armada truk berhenti berjejer dan semua kru truk tersebut menghampiri saya dan salah satu dari mereka bertanya.
"Mas, ngapai berdiri bengong disini? Istigfar mas. Situ berani-beraninya berhenti disini", tanya salah satu dari mereka. Kaget dan saya bertanya pada mereka, "Oh, gapapa mas. Emang kenapa mas?". "Mas nya ngapain malam-malam berhenti disini. Naik motor lagi. Kita aja nunggu ada barengan baru berani lewat sini malam-malam gini sejak ada kejadian warung yang di tabrak sama truk", orang itu kembali menjelaskan. Singkat cerita dulu ada sebuah warung yang ditabrak oleh sebuah truk di suatu malam. Satu keluarga didalam warung itu tewas. Supir dan kernet itu sendiri juga tewas setelah truk menabrak pohon sehabis menghajar warung itu.
Saya bercerita kenapa saya berhenti. Saya berhenti karena merasa lelah dan melihat warung dari kejauhan, dan mampir untuk ngopi disini. Setelah saya bercerita seperti itu, semua orang bengong menatap saya heran. "Mas, mana warungnya? Yang bener itu dulu warungnya yang ditabrak itu memang daerah sini", tanya lagi dari salah satu dari mereka. "Min, km naikin motornya mas ini ke belakang. Ngga bener ini kalo ngga dibawain dan dibiarin nyetir sendirian", lanjut orang itu kepada temannya.
"Ayo mas saya antar aja sampe kota, yang rame. Motornya naikin ke belakang truk saya aja. Biar sampeyan aman..", lanjutnya. Seperti yang dibilang bapak itu, saya memang seperti orang linglung dan hanya iya-iya saja. Tanpa menunggu lama kami semua langsung berangkat dan motor saya ada di bak truk ini.
Anehnya, kami sampai di kota terdekat itu sekitar jam setengah 6 pagi. Disitulah kami berpisah. Saya melanjutkan perjalanan ke tujuan saya. Tanpa pertolongan mereka saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan saya.
The end
Komentar
Posting Komentar