Sosok Yang Menyerupai Temanku

 Desember 2010, Johan dipaksa cuti oleh pihak perusahaan karena sisa cutinya masih tersisa dan akan memasuki pergantian tahun. Johan dengan terpaksa mengambil cuti selama 4 hari. Sehari setelah libur dirumah tidak ada kegiatan, ada notifikasi dari teman lamanya yaitu Salman. Saat itu Salman berniat untuk mengajak Johan mendaki gunung. Karena sebelumnya mereka memang beberapa kali mendaki gunung bersama.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Johan dengan berat hati menuruti ajakan Salman. Johan masih sedikit trauman dengan pengalaman mistisnya di Gunung Slamet saat terakhir ia mendaki gunung.  

"Mau berangkat berapa orang emang Man?, tanya Johan. "Kita jalan berlima sama kamu. Teman rumahku si Jaenal dan ddua temanku lagi dari Semarang. Nanti mereka nyusul pas dilokasi". Ujar Salman.

Keesokan harinya Johan mulai mempersiapkan peralatan pendukung untuk pendakian dirumah Salman. Tiba-tiba Jaenal menginformasikan bahwa dirinya tidak bisa ikut karena ada urusan keluarga mendadak. 

"Sorry Man, aku ngga bisa ikut, ada urusan keluarga dadakan yang ngga bisa ditinggal. Kalian gapapa kan jalan berempat?", tanya Jaenal. "Yaaahh... padahal udah kita siapin semua ini. Tapi ya udh, selesein dulu aja urusan keluarganya", jawab Salman. 

Setelah semua perlengkapan siap dan dirapikan di tas carrier, Johan dan Salman mulai jalan dari Jogja ke basecamp Gunung Gede via Gunung Putri. Sampai di Putri jam 2 malam dan lanjut untuk istirahat sambil menunggu teman Salman yang dari Semarang.
 
Setelah menunggu beberapa jam, dua teman Salman sampai sekitar jam 7 pagi di basecamp Putri. Setelah istirahat sejenak, Johan dan Salam kembali merapikan perbekalan logistik mereka dan mengecek kembali semua peralatan yang hendak dibawa sebelum memulai pendakian. 

"Sorry ya Man, kita tadi berangkatnya telat, malemnya kita ketiduran soalnya. hehehe...:, ujar dua teman Salman. "Iya udh gapapa, yang penting kalian nyampe. Kalian istirahat dulu ja bentar-benta. Nanti kita jalan jam 10 an aja", balas Salman.

Setelah semua sudah siap, mereka mulai mengurus Simaksi untuk pendakian. Namun naas tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kami memutuskan untuk berteduh sejenak menunggu reda, baru lanjut jalan. Hujan reda sekitar jam 12 siang, dan merekapun melanjutkan perjalanan. Kondisi jalur pendakian setelah hujan memang agak berat, mereka berjalan santai tidak terlalu memaksa. Sampai di pos pertama sekitar maghrib. Istirahat sebentar, makan dan ngopi.

Perjalan mereka lanjutkan sekitar jam 7 malam. Kondisi saat itu hujan rintik. Kabut tipis menelimuti perjalanan mereka sampai ke Alun-alun Surya Kencana sekitar jam 9 malam. Disinilah kejadian aneh bermula.

Tiba-tiba Jaenal terlihat di area tempat camp di Alun-alun Surya Kencana. Padahal sebelumnya Jaenal memutuskan untuk tidak jadi ikut dipendakian saat itu.

"Lah kamu disini Nal, katanya ngga ikut. Ngeselin. Kamu sama sapa kesini, kok kita ngga ketemu dijalan sih?", tanya Salman dengan sedikit kesal. Anehnya semua pertanyaan Salman tidak ada yang dijawab oleh Jaenal. Jaenal cuma cengar-cengir dengan wajah datar.

"Ditanya bukannya dijawab malah cengengesan. Jadi anak nyape'in aja. Terserah deh..", ujan Salman makin kesel.

Sebenarnya Johan sudah merasakan ada yang aneh saat itu, namun masih berpikir positif. Mungkin saja Jaenal memang mengerjai Salman, pura-pura tidak ikut tapi nyatanya tetap ikut dengan berangkat lebih dulu. Selain itu Johan juga baru tahu bahwa lokasi camp ini adalah lokasi yang biasa Jaenal dan Salman pakai untuk nge camp jika mereka mendaki Gunung Gede. Makin yakin lah Johan kalau Jaenal mengerjai si Salman. Johan berpikir mungkin Jaenal sudah jalan duluan sendiri dan tidak bertemu rombongannya. 

Setelah berbagi tugas untuk mendirikan tenda, masak dan merapikan perbekalan dan peralatan mereka, tiba-tiba Jaenal berucap. "Aku kencing dulu Man", dengan suara yang lemas. Salman yang saat itu sibuk memasak hanya membalas, "Iya, jangan jauh-jauh nanti ilang.

Satu jam berlalu dan Jaenal belum kembali dan Salman mulai bertanya-tanya, "Ini anak kemana ya kok ngga balik-balik. Aku coba cari dulu deh, ngga enak pikiranku". Kata Salman.

Setelah 20 menit Salman kembali ke camp dengan raut wajah yang panik, "Jaenal kemana ya, ngga ada disemua tempat". Ujan Salman.

Mereka pun mencari Jaenal keseluruh penjuru Lembah Surya Kencana selama hanpir 2 jam. Dan hasilnya memang tidak ada satupun yang melihat keberadaan Jaenal. Akhirnya Salman memutuskan untuk tidak jadi nge camp dan kembali turun kebawah dan melapor ke petugas bahwa temannya yagn dilihat 3 jam lalu, hilang. 

Setelah merapikan kembali dan melipat kembali tenda yang sebenarnya sudah berdiri, mereka turun dari Surya Kencana sekitar jam 12 malam itu juga. 

Diperjalanan turun mereka, tidak semulus perjalanan naik. Banyak sekali godaan yang harus mereka hadapi. Mulai dari tepukan di pundak oleh makhluk tinggi besar, ada teman yang mendadak kaku tidak bisa bergerak selama beberapa saat hingga suara-suara aneh yaang didengar jelas oleh mereka berempat.

Mereka tiba di basecamp kembali saat subuh. Salman yang sudah merasa panik, langsung bertanya kepada petugas yang berjaga di Pon Pendakian. 

"Teh, apa ada pendaki yang namanya Jaenal naik hari ini? Dia naik sendirian", tanya Salman kepetugas disana. "Ngga ada mas. Semua yang naik hari ini rombongan dan ngga ada satupun yang namanya Jaenal. Bahkan kalian ini rombongan terakhir yang naik. Emang kenapa mas?, tanya si teteh.

"Tadi saya lihat teman saya di Surya Kencana, namanya Jaenal. Setelah dia ijin buang air terus ngga balik lagi. Sudah kita cari kemana-mana, tapi ngga ada. Bahkan tadi semua pendaki yang ada disana jga ikut bantu nyariin. Makanya kita turun lagi untuk melapor. Saya takutnya teman saya hilang", lanjut Salam ke petugas.

"Man udah coba hubungi pos Cibodas belum? Punya kenalan kontak disana ngga? Sapa tau Jaenal naik dari sana. Atau kalo ngga kamu telpon nomor Jaenal, aktif ngga.", Johan memberi saran.

Salman mencoba menghubungi nomor telpon Jaenal. Nomornya aktif tapi tidak diangkat. Setelah dicoba 20 menit terus untuk dihubungi, akhirnya telepon pun diangkat. "Halo.. kenapa Man? Aneh-aneh aja telpon jam segini. Ganggu orang tidur..", ujan Jaenal.

"Eh kampret, jangan becanda deh. Kamu dimana sekarang? Ijin kencing tapi malah gak balik-balik. Kita panik disini. Kamu di basecamp mana sekarang? Kita udah capek nih, jangan becanda", ketus Salman ngamuk-ngamuk, karena mengira Jaenal bohong.

"Astagfirulloohhh... aku dirumah ini. Gak percaya, mau ngomong sama bapakku? Masa iya bohong. Emang ada apa sih sebenernya? Kalian batal naik juga?", jawab Jaenal yang juga bingung.

Salman langsung mematikan telponnya, dan lemas setelah mendengar yang sebenarnya. Salman tahu, Jaenal tiak berbohong.

Terus siapa yang mereka lihat tadi di Alun-alun Surya Kencana?

The end

Komentar

Postingan Populer