Rumah Emma

 Namaku Lisa. berbicara tentang pengalaman menyeramkan yang kualami, sebenarnya sudah cukup sering. Karena memang sejak kecil, enteah kenapa aku bisa merakan kehadiran makhluk tak kasat mata yang biasa disebut hantu. Namun ada satu pengalaman yang sangat menarik ketika aku menginap dirumah Emma setahun yang lalu saat aku masih berada dikelas 3 SMU. 

Emma adalah murid baru disekolahku. Dan dia baru beberapa bulan pindah ke kotaku tinggal, karena sebelumnya tinggal disalah satu kota di Jawa Barat. Namun karena kebutuhan pindah tugas ayahnya, jadi Emma pun harus mengikuti pindah rumah dan pindah sekolah. Dan saat Emma menjadi salah satu teman terbaikku hingga sekarang. 

Singkat cerita hari itu ayah dan ibuku sedang pergi keluar kota bersama dengan kedua adikku karena mengikuti acara dari kantor ayahku. Karena aku sedang banyak tugas dan dirumah juga tidak ada siapa-siapa, akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumah Emma daripada harus mengerjakan tugas sendiri. Aku berencana untuk menginap dirumah Emma selama tiga hari, sampai seluruh keluargkau kembali pulang.  

Hari itu hari Jumat, dan sepulang sekolah aku langsung ikut Emma untuk pulang kerumahnya. Nah dari sini sebenarnya aku sudah mendapatkan kejadian yang sangat ganjil. Baru saja sampai rumah Emma, dari balkon lantai dua aku melihat sosok seorang kakek-kakek sedang memandang kearahku dan pandangannya terus mengikutiku hingga aku masuk rumah Emma. Dan jujur dengan pandangan seperti itu aku mengira kakek Emma tidak suka dengan kedatanganku. 

Aku pun dengan polos menanyakan kepada Emma tentang kakek-kakek yang ada di balkon tadi. Namun Emma malah keheranan, karena katanya kakeknya sudah meninggal semua dan tidak ada kakek dirumahnya. Mendengar jawaban Emma, aku pun pura-pura bercanda, supaya Emma tidak merasa takut atau mengira aku adalah orang yang aneh. Karena mungkin yang aku lihat tadi bukanlah manusia. Setelah itu Emma mengajak makan dengan memesan bakso yang lewat didepa rumahnya. 

Kamipun makan ditaman belakang rumahnya yang memang sangat tertata rapi sekali. Sepanjang kami makan, sambil mengobrol, dari arah dalam aku melihat dua anak kecil yang sedang berlari-lari didalam rumah. Bahkan sesekali mereka berlari kearahku dan mencolekku seolah mengajak bercanda. Aku tersenyum kepada mereka, dan bilang kepada Emma, "Ngga sepi banget kan Ma dirumah kalau ada adik-adik. Meski ayah ibumu bekerja tapi mereka kayanya happy banget meski ngga ada ibunya". Setelah mendengar ucapanku, tiba-tiba Emma langsung berhenti dari makannya. 

"Kamu serius Lis? Kali ini ngga sedang bercanda kan?, tanya Emma balik. Tiba-tiba Emma malah bertanya seperti itu kepadaku. "Iya kan, emang adik kamu lagi lari-larian daritadi", jawabku polos. Wajah Emma seketikalangsung pucat, dan memandangku dengan penuh keheranan. "Hust !!! Aku anak tunggal. Ngga punya siapa-siapa. Emang siapa yang lari-lari?", jelas Emma.

Mendengar penjelasan Emma seperti itu, tiba-tiba bulu kudukku merinding. Lalu spontan aku melihat kearah dalam rumah dan kali ini benar saja, tidak ada siapa-siapa lagi disana. Namun tawa kedua anak kecil itu masih saja aku dengar, tapi tidak dengan fisiknya. Tapi perlahan suara itu menghilang bebarengan dengan suara adzan ashar. Dan aku menceritakan keadaanku yang sebenarnya kepada Emma, bahwa aku bisa melihat sesuatu yang mungkin orang lain tidak bisa lihat.

Awalnya Emma tidak percaya dengan ucapanku, tapi lama-kelamaan ia akhirnya bisa memahami keadaanku. Sedikit bercerita, dengan keadaanku yang seperti ini, dulu saat aku masih kecil ayah ibuku malah menganggapku memiliki kelainan jiwa karena seringnya berbicara sendiri. Masih sangat aku ingat, saat aku masih di bangku Sekolah Dasar ak sering diajak orang tuaku ke psikolog. Namun kenyataannya aku tidak memiliki gangguan jiwa sedikitpun. Hingga akhirnya ada salah satu teman ibuku yang suaminya adalah ustad yang sering merukyah orang-orang yang kesurupan. 

Setelah bertemu dengan beliau, akhirnya beliau menyampaikan pada orang tuaku kalau aku memiliki kemampuan melihat "mereka". Tapi sekarang aku menutupi keadaanku dari teman-temanku sendiri. Karena kalau mereka tahu mungkin akan banyak yang bertanya tentang hal-hal mistis atau bahkan juga menganggapku gila. 

Malam harinya setelah megerjakan tugas sekolah untuk esok hari, aku diantar Emma untuk tidur disalah satu kamar tamu yang ada dirumahnya. Karena merasa sangat lelah, tak berapa lama aku pun langsung tertidur. Tapi baru saja sebentar tidur, aku terbangun karena aku merasa ada yang menggelitiki kakiku. Karena geli sontak aku langsung bangun terduduk dan aku melihat kesemua penjuru kamar. Namun aku tidak melihat ada siapa-siapa disana. Ditengah keheranan itu, tiba-tiba dari arah kolong meja belajar keluar dua anak kecil yang aku lihat tadi siang waktu sedang makan. Mereka tersenyum padaku dan berlari kearah pintu dan menembus pintu begitu saja. Karena sudah tidak aneh dengan keadaan seperti itu, aku membaca ayat kursi dan mencoba untuk kembali tidur.

Ternyata gangguan di rumah Emma bukan itu saja. Sekitar jam 2 malam, aku terbangun karena mendengar ada seseorang yang mengetuk-ketuk kaca jendela kamar. Dan itu cukup keras karena mampu membuatku terbangun. Awalnya aku mengira kalau yang mengetuk itu adalah dua anak kecil yang tadi. Saking berisik dan kesal dengan suara itu aku bergegas bangkit dari kasur dan membuka tirai jendela. Namun saat itu aku sangat kaget, karena yang aku lihat adalah perempuan berbaju merah dengan wajah pucat dengan mata sebelah kiri yang tertutup sedang menyeringai kearahku. Langsung aku berlari ke kamar Emma dan membangunkannya, dan memilih tidur dikamar Emma. Tapi aku tidak langsung bercerita kepada Emma, karena takutnya Emma justru lebih takut daripada aku.

Sebenarnya masih banyak cerita yang terjadi dirumah Emma. Tapi rasanya itu dulu yang bisa saya ceritakan. 

The end (ending yang sangat membagongkan)

Komentar

Postingan Populer