Rumah Bekas Kuburan 1999
Namaku Aris. Aku adalah salah satu karyawan swasta di salah satu kota di Jawa Timur. Aku sangat tidak menyangka kalau kejadian ini hampir mencelakai keluargaku sendiri. Cerita ini terjadi di pertengahan tahun 1999, setahun dimulainya masa reformasi. Saat itu aku baru menikah selama lima bulan. Sebelum menikah, aku mendapatkan warisan dari kedua orang tuaku. Memang tidak terlalu banyak, namun dengan uang warisan itu akhirnya bisa menutupi kekurangan tabunganku untuk menikah, dan memiliki sebuah rumah. Saat itu aku berpikir ini adalah kenikmatan yang luar biasa sekali. Bisa mendapatkan harga rumah dengan harga yang sangat murah.
Rumah itu memiliki desain yang sangat minimalis. Aku membeli rumah itu dari salah satu temanku yang bekerja diperusahaan properti. Bukan rumah baru dan besar, tapi kondisi rumah itu masih sangat layak untuk ditinggali. Cocok untuk keluarga kecil seperti kami. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membeli rumah itu. Selepas menikah aku dan istriku pindah kerumah tersebut.
Selama sebulan awal kami tinggal dirumah itu, aku tidak merasakan adanya gangguan apa-apa dirumah tersebut. Hingga pada bulan ketiga. Istriku adalah orang yang sedikit pelupa sehingga ia sering sekali menyimpan barang-barang miliknya. Sampai-sampai mas kawinpun sempat hilang beberapa hari. Awalnya mungkin ini adalah pengaruh dari hormon wanita yang baru saja hamil memasuki minggu kedua. Namun karena terlalu sering kehilangan barang, akupun akhirnya merasa aneh juga.
Hari minggu, dimana aku sedang libur kerja. Aku memutuskan untuk beres-beres rumah, sekalian membereskan satu ruangan yang biasa kami gunakan sebagai gudang. Disalah satu kardus yang ada disana, aku menemukan barang-barang istriku yang hilang selama ini. Aku pun keheranan, karena mana mungkin istriku menyimpan semua barangnya di kardus tersebut. Awalnya aku menghiraukan kejadian itu.
Lalu kejadian kedua yang kami alami, waktu itu hari Selasa malam Rabu. Jam 8 malam aku baru menginjakkan kaki dirumah, karena kebetulan ada lembur dikantor. Sesampainya didepan rumah, aku mencium seperti bau kemenyan yang asalnya dari dalam rumahku. Lalu saat itu aku mengetuk pintu karena kebetulan hari itu aku tidak membawa kunci rumah. Namun pintu pun lama tidak dibuka-buka. Karena aku khawatir dengan apa yang terjadi dengan istriku, aku pun mencoba masuk lewat jendela kamar yang tidak terkunci dari dalam. Dari luar aku melihat ternyata istriku sedang tidur. Perlahan ak masuk melalui jendela kamar pelan-pelan, tapi istriku malah terbangun.
Tapi ada yang aneh. Tiba-tiba istriku malah bertanya..
Istriku : Lho mas, mau kemana? Kok masih pake baju kerja dan bawa tas?
Aku : (menatap istriku dengan heran), Mas kan baru pulang kerja. Dari tadi aku ketuk-ketuk pintu depan tapi ngga kamu bukain. Makanya mas masuk dari jendela.
Setelah mendengar jawabanku, entah kenapa istriku malah pingsan. Singkat cerita, setelah istriku sadar dia bercerita. Ternyata sebelum aku sampai rumah, ada sosok yang mirip dengan diriku dan sudah pulang dari sore. Bahkan katanya istriku sempat menyeduh kopi dan di taruh di meja makan. Namun sosok yang menyerupai diriku malah pergi kekamar mandi setelah itu pergi ke lantai dua. Tempat dimana ada satu ruangan yang biasanya kami jadikan sebagai gudang. Tapi setelah itu sosok yang menyerupai diriku tak kunjung turun lagi, kata istriku. Mungkin itulah Penyebab istriku sampai pingsan saat mendengar jawabanku tadi.
Memasuki kehamilah istriku yang keempat bulan, aku mengundang beberapa saudara dan tetangga untuk mengadakan pengajian atau yang biasa kami sebut dengan syukuran empat bulanan. Saudara-saudaraku sedari sore sudah berkumpul dirumahku dan membantu kami menyiapkan segala sesuatunya untuk acara syukuran tersebut. Selepas isya kami pun menunggu pak ustad dan tetangga-tetangga yang kami undang. Namun anehnya malamitu hanya pak ustad saja yang datang kerumahku, tidak ada lagi yang datang kecuali kamu sekeluarga.
Awalnya aku mengira tetangga-tetanggaku tidak menyukai keluargaku hingga tidak mau hadir meski sudah diundang. Akhirnya kami tetap mengadakan pengajian dengan seadanya saja. Dan karena hidangan yang kami sajikan masih tersisa cukup banyak, akhirnya aku mencoba membagikan hidangan yang tersisa itu kepada tetangga-tetangga yang tadi kami undang. Meskipun pada saat itu aku berpikir bahwa tetangga-tetanggaku tidak menyukai keluarga kami, tapi aku berharap dengan aku tetap bersikap baik pada mereka akhirnya mereka juga akan bersikap yang sama padaku dan keluargaku.
Tapi ada yang jangga saat itu. Setiap tetangga yang aku antar hidangan, semua memiliki alasan yang sama kenapa mereka tidak datang diundanganku. Katanya rumahku setiap malam Rabu selalu bau kemenyan dan mereka menyangka kalau aku adalah orang yang memiliki praktek perdukunan. Saat itu pernyataan mereka membuatku terpukul dan sedih. Namun setelah aku bertemu dengan mereka, akhirnya aku pun menjadi tahu alasan mereka. Dan semenjak itu aku selalu menjalin silahturahmi dengan mereka dan mereka pun sudah tidak memandang buruk tentang keluarga kami.
Namun entah kenapa rumahku ini memang aneh. Setiap malam Rabu rumah ini selalu mengeluarkan bau kemenyan yang menyengat. Seminggu setelah acara empat bulanan itu, aku pun mengalami lagi kejadian yang paling menakutkan.
Saat itu selepas kami sholat isya, aku mengajak istriku untuk beristirahat karena keesokan harinya kami berencana untuk olahraga pagi. Kami mulai tertidur sekitar jam 8 malam. Dalam tidurku aku bermimpi ada sosok perempuan yang masuk ke dalam rumahku. Bergaun merah dan melayang-layang. Namun didalam mimpiku, aku tidak melihat ruangan-ruangan yang sama seperti rumahku sekarang. Didalam mimpi itu rumahku terlihat sangat gelap dan banyak batu nisan. Mimpi itu yang akhirnya membuatku terbangun dari tidurku.
Baru saja aku tersadar dari mimpiku itu, tiba-tiba aku mendengar suara yang seperti sedang menggeram. Aku pikir istriku yang sedang ngorok. Saat aku menoleh ke istriku yang ada disebelahku, ternyata bukan hanya istriku yang ada disitu. Tapi ada sosok wanita dengan wajah pucat dan baju yang lusuh sedang mengusap-usap perut istriku. Aku yang saat itu lebih takut kalau terjadi apa-apa dengan istiku dan kehamilannya, langsun gmemberanikan diri mengusirnya. Seketika makhluk itupun menghilang. Tapi aku tidak menceritakan hal ini kepada istriku.
Esoknya aku tak sengaja bertemu dengan tetanggaku dan menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar. Dan aku bercerita tentang apa yang kualami dirumah itu. Alangkah kagetnya aku setelah mendengar cerita dari tetanggangku. Ternyata dulu sebelum komplek ini ada, lokasi rumahku adalah bekas kuburan yang dikeramatkan. Tapi karena kebutuhan bisnis, kuburan itu digusur dengan tetap menyisakan beberapa jasad yang masih tertinggal di tanahnya.
Akibat seringnya kejadian ganjil yang kualami, akhirnya kami memutuskan untuk pindah rumah, walaupun harus mengontrak rumah lagi. Tapi rasanya cara seperti itu jauh lebih baik daripada terjadi hal-hal negatif kepada istriku dan kehamilannya.
The end
Komentar
Posting Komentar