Nginep
Lagi-lagi cerita ini saya alami sendiri, selaku korban. Jadi ini mungkin salah satu kejadian yang tidak akan saya lupakan seumur jiwa raga saya dan selama hayat masih di kanduang badan. Kejadian yang saya alami waktu menginap di kontrakan salah satu teman saya di Surabaya. Kejadian ini cukup lama, mungkin 15 tahun yang lalu. Markicrot..
Waktu itu saya masih kuliah di semester-semester akhir. Disuatu hari Kamis saya ada urusan kuliah yang mengharuskan saya ke Gresik dan ada salah satu teman saya, sebut saja Hendro (nama sebenarnya) yang juga orang Gresik menghubungi saya dan mengatakan niatnya untuk bareng ke arah Gresik, untuk pulang ke rmh org tuanya. "Tapi Jumat yo, soale aku Kamis masih ada kuliah tambahan dikampus", kata Hendro waktu itu. Sebenarnya kampus kami ini berbeda, tapi kami satu tempat nongkrong. Tempat nongkrong yang sangat hits dan laki-laki yang nongkrong di tempat itu konon akan diidolakan banyak kaum hawa, Warung Kopi.
Sebetulnya saya ngga mau dengan ajakan Hendro untuk ke Gresik dihari Jumat itu. Tapi karena saat itu Hendro sedikit memaksa (padahal saya yang males berangkat sendiri karena diiming-imingi di isiin bensin penuh), akhirnya dengan sedikit terpaksa saya mengiyakan kemauan Hendro. Dan Hendro menawarkan untuk menginap dikontrakannya sampai hari Jumat.
Sore itu saya sampai di kontrakan Hendro sekitar jam 5 sore. Ternyata teman-teman laki-laki nya yang jumlahnya sekitar setali tiga uang yang se kontrakan dengannya sudah pulang ke kampungnya masing-masing, sehingga Hendro sendirian disana. Sebelumnya saya memang beberapa kali main ke kontrakan Hendro ini, tapi cuma main dan ngga pernah nginap. Diteras kami sempat ngobrol-ngobrol. Dan bodohnya saya, saya tidak bertanya kenapa dia minta ditemenin dikontrakan. Dan si kampret ini juga ngga kasih tahu ada apa dikontrakannya.
Kami ngobrol sampai sekitar maghrib dan Hendro menyalakan lampu teras. Kontrakan Hendro ini tergolong lumayan, tiga kamar dengan dua kamar mandi dan dapur dibagian belakang. Saya sempat tanya ke Hendro, "Kenapa yang dinyalain cuma lampu teras, yang ruang tengah ngga skalian?", tanyaku. "Rusak..", Jawab Hendro singkat tapi ngeselin. Jadi karena lampu ruang tengah rusak, diakali dengan menyalakan lampu di tiap kamar supaya cahayanya tetap bisa menerangi ruang tengah.
Akhirnya kita sempet main PS, ngga terasa sampai jam 9 malam. Karena mata ini sudah capek, akhirnya aksi sikut-sikutan dan panggil-panggilan nama bapak sambil main PS kita akhiri, dan kita beralih nonton TV. Film waktu itu adalah film yang cukup legendaris pada masanya, Rhoma Irama "Darah Muda". Lagi enak-enak nonton, kami berdua seperti mencium bau rambut yang terbakar, gosong. Saya sempet kepikiran, "Siapa malem-malam masak rambut?". Kan bau nya gurih-gurih gimana gitu.
"Ndro, ada kebakaran..", saya bilang ke Hendro. "Iya, tetangga mungkin", sekali lagi jawaban singkat yang ngeselin. Kan kalo memang tetangganya lagi kebakaran, paling ngga dia panik dan coba ngecek. Setelah membuang jauh-jauh rasa kesel karena jawaban tadi, saya memutuskan untuk kembali nonton tv dengan Hendro.
"Ndro, ada mi ngga? Laper ini..", tanya saya. "Oo ada didapur", jawab Hendro singkat lagi. Saya kedapur untuk bikin mi, mi kuah waktu itu. Setelah itu saya kembali lagi ke ruang tengah tempat tadi kita nonton tv. Hendro? Ada dong, kampret itu masih ada disana. Berharap dia hilang? Belum, cerita dia hilang ada dibagian lain dari cerita ini.
Nah waktu saya mau makan mi nya, tiba-tiba Hendro liatin mata saya dalam-dalam dan bilang, "I love you.." Ngga-ngga, kita ngga sekasar itu mainnya.
Hendro liatin saya dan bilang, "Aku boleh minta ngga?", meski ini buka kata-kata ungkapan sayang, tapi sama ngeselinnya. "Ya ini lho buat berdua. Tak ambil sendok satu lagi", jawab saya sambil naruh mi diatas karpet dan kembali ke dapur untuk ambil sendok lagi. Sekembalinya saya dari dapur, manusia tanpa otak kecil ini lagi-lagi berulah yang tak senonoh. Mi yang tadi saya bikin dengan mengandalkan segenap doa-doa dan seluruh skill memasak saya, di habisin tanpa sisa.
Saya cuma bisa melongo. "Lah Ndro kok diabisin mi nya?", tanya saya. "Aku laper..", lagi-lagi singkat dan ngeselin. Dikira tadi saya bikin mi itu karena apa? Iseng? Akhirnya saya memutuskan untuk bikin lagi. Nah waktu masak mi yang kedua ini, saya mikir ini kan mi kuah. Tadi itu mi yang saya bikin baru juga matang dan masih panas, kok si Hendro ini kuat makan panas-panas. Ya udah saya pun ngga mau mikir aneh-aneh. Mungkin ini anak keseringan nonton National Geographic episode beruang kutub makan pinguin, jadi kebal sama panas. Nyambung pol..
Setelah selesai, saya bawa keruang TV lagi. Kali ini Hendro ngga minta. Padahal saya sudah siapin ribuan sumpah serapah kalau sampai mi yang kedua ini diminta juga. Tiba-tiba Hendro bilang, "Hape mu daritadi bunyi". Jangan kira bunyi itu WA ya sodara-sodara. Tahun itu cuma ada telpon dan SMS. Udah bisa punya hape Ericsson T10 aja udah sombong saya waktu itu. "Ya mungkin aja anak-anak atau sodaraku, nanti aja lah", balasku cuek masih sambil makan.
Setelah itu sekitar jam 12 malam, kita masih nonton tv. Tidak ada yang aneh di rumah itu, dan aku juga ngga ngecek hape sama sekali, Hendro pun juga tidak ada yang aneh. Akhirnya Hendro ijin untuk ke kamar mandi. Nah kamar mandi rumah Hendro ini memiliki pintu yang seperti dari plastik. Jadi kalau lampu dinyalakan dan ada orang didalam, bayangan orang yang didalam pasti akan nampak samar-samar dari luar. Saya juga lihat awaktu Hendro menyalakan lampu kamar mandi dan masuk kekamar mandi.
Lama sekitar sejam si Hendro ini didalam kamar mandi. Tapi anehnya ngga ada suara dari dalam kamar mandi itu. Saya sempet mikir, apa ini anak memang bener-bener ingin jadi pinguin yang ada di National Geographic yang selalu coba kabur dari beruang dan coba nyelem di bak mandi dan akhirnya kelelep?
lanjut.. Suara bener-bener hening dari dalam kamar mandi, tidak ada suara sama sekali. Tapi akhirnya saya biarin, karena mungkin doi memang lagi sakit perut dan butuh waktu lama untuk sendiri. Karena memang meski saya kenal baik dengan Hendro ini, saya ngga pernah tahu gimana Hendro ketika dia buang air besar. Kedekatan kita ngga se ekstrem itu. Ngga lama hape saya kembali bunyi, dan kali ini saya baru ngecek hape.
Setelah saya liat, ternyata yang kirim SMS ke saya adalah si Hendro. "Ngapain ini anak di dalam kamar mandi pake sms?", bingung saya dalam hati waktu itu. Didalam SMS itu dia bilang, "Ndul, kalo nyari aku, aku dikamar ya. Ngantuk. Kamu kalo udah ngantuk langsung masuk aja". Oke, untuk beberapa orang kalimat ini memang terbaca seperti ajakan satu laki ke laki lain untuk skidipapap. Tapi percayalah, kita ngga sedekat itu.
Sebetulnya sebelum SMS yang saya baca itu, ada SMS lain yang saya lupa gimana isinya. Tapi intinya, dia sempet bilang kalau yang nonton TV sama saya itu bukan dia. Dan sms terakhirnya itu dia bilang kalau dia didalam kamar. Sialnya, sms-sms Hendro itu baru saya baca semua ketika SMS yang terakhir masuk. Sempet kaget dan berpikir, terus siapa yang sekarang ada di kamar mandi. Spontan saya noleh kearah kamar mandi, masih terang seperti sebelumnya. Akhirnya saya memberanikan diri ke kamar Hendro. Dan karena lampu kamar Hendo ini ngga begitu terang, saya masih meneliti bener apa ngga yang dikasur itu memang Hendro.
Posisi Hendro waktu itu tidur dengan kepala di tutup dengan bantal dan disamping nya ada Al'Quran. "Ndrooo...", saya mencoba memanggil pelan. Hendro membuka bantalnya, "Ndul.. ndul.. sini..", kata Hendro buru-buru. Saya buru-buru mendatangi Hendro, setelah saya yakin kalau itu memang bener-bener si kampret. "Goblok.. itu pintunya tutup dulu", kata Hendro. Saya lupa kalau pintu kamar belum saya tutup. Terus terang waktu itu saya takut. Takut ketika Hendro yang lain sudah menunggu saya di depan pintu kamar. Setelah suruh-suruhan untuk menutup pintu, akhirnya dengan sangat gentle dan tidak mengenal rasa takut seperti layaknya lelaki pada iklan Marlboro red black, kami menutup pintu berdua.
Singkat cerita kita tidak bisa tidur sampai subuh. Selama kita berdua didalam kamar, ruang tengah tadi tempat saya nonton TV tadi, penuh dengan suara. Seperti suara orang yang beraktivitas. Ada suara gelas jatuh, suara volume TV yang membesar dan mengecil sendiri, suara orang jalan-jalan seperti mengelilingi ruangan.
Sampai akhirnya pagi, sekitar jam 6. Saya memutuskan untuk ikut Hendro ke kampus. Dari pada saya berada di rumah hantu itu sendiri pikir saya. Lebih baik saya nongkrong dibawah pohon rindang kampus orang. Setelah dari kampus Hendro kami langsung menuju ke Gresik, ngga kembali ke kontrakan itu.
Nah selama di jalan pulang, si kampret ngga tau diri ini akhirnya cerita. Sebenernya ketika saya masak mi di dapur, Hendro mencium lagi bau rambut yang terbakar. Dia penasaran dan akhirnya di ngecek sampai keteras rumah. Saat Hendro balik masuk kerumah setelah ngecek ke teras, dia melihat ada sosok yang sangat mirip sama dia. Dia pun sebetulnya ingin memberanikan diri untuk mengusir sosok itu, saat akan mengusir sosok ini dengan bacaan-bacaan, tiba-tiba sosok ini menoleh dan melotot ke arah Hendro. Disini lah ternyata tingkat keimanan Hendro tidak setinggi motor dua lantai. Hendro merasa takut dan dia memutuskan untuk langsung masuk kekamar dan meninggalkan saya berdua, berindah-indahan dengan sosok itu.
Dan sebenernya Hendro sudah mencoba mengingatkan dengan terus SMS ke hape saya, tapi mungkin saya yang meremehkan, akhirnya ngga ada satupun SMS itu yang saya buka sampai akhirnya "Hendro" pamit ke kamar mandi.
Lucunya "Hendro" ini sempat mengingatkan saya untuk ngecek hape karena daritadi ada suara pesan yang masuk.
Tapi ya udah saya akhirnya saya mikirnya kalau memang sudah takdir "kita" saling bertemu malam itu. Sejak saat itu saya sudah tidak mau kalau disuruh main ke rumah si kampret ngga tahu diuntung itu. Bahkan jika diiming-imingi uang tiga milliar sekalipun.. saya mau.
The end
Komentar
Posting Komentar