Misteri Tewasnya Pendaki Uni Soviet 1959 (Tragedi Dyatlov Pass)

 Pada bulan Februari 1959 atau 61 tahun yang lalu, sebuah tim mahasiswa pemain ski yang terdiri dari 9 orang mendaki pegunungan Ural di Uni Soviet. Mereka ditemukan tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Ironisnya hingga detik ini penyebab kematian mereka masih menjadi misteri. Insiden itu dikenal dengan Dyatlov Pass, merujuk pada nama pemimpin perjalanan mereka yaitu Igor Dyatlov.

Pada puncak perang dingin di musim dingin, kelompok yang mulanya terdiri dari 10 orang mahasiswa dan dipimpin oleh Igor Dyatlov berangkat dalam perjalanan ke pegunungan Ural, pegunungan yang membelah benua Eropa dan Asia. Semua mahasiswa itu adalah pemain ski yang berpengalaman, olahragawan, muda dan mudi dari Institut Politeknik Ural, Uni Soviet. Dari 10 orang yang berangkat, 8 dari mereka adalah laki-laki dan sisanya perempuan. Igor, sang pemimpin perjalanan adalah seorang mahasiswa Teknik Radio tingkat lima dan yang paling berpengalaman dibidang atletik

Juga ada Zidaida Kologorova (22) dari fakultas yang sama dengan Igor, Yuri Doroshenko (21) di fakultas kekuatan perekonomian, Alexander Kolevatov (24) yang sedang belajar fisika nuklir, Yuri Krivonischenko (23), Rustem Slobodin (23), Nicholas Thibeaux-Brignolle (23) ketiga lelaki ini belajar teknik, Lyudmila Dubinina (20) dan Yuri Yudin (22) dimana dua mahasiswa terakhir ini belajar dibidang ekonomi. 

Mereka juga ditemani sorang pemandu olahraga yang pernah berperang di Perang Dunia II bernama Semyon Zolotaryov (38).

Perjalanan mereka dapat diselidiki oleh tim investigasi melalui buku harian mereka. Khususnya apa yang ditulis oleh Lyudmila Dubinina, juga dari foto-foto yang mereka ambil dan surat-surat yang mereka tulis. Lyudmila, seorang pemain ski termuda yang punya reputasi tegas, kurang humoris, karena ia dikenal sebagai anggota Komsomol, Komunis Muda.

Namun, ketika penyelidik membeca buku hariannya, ia "terdengar" sangat menikmati perjalanannya itu dan bahkanberniat untuk melonggarkan kepangan rambut pirangnya yang rapi. 

"Dikereta, kami semua menyanyikan lagu dengan diiringi mandolin", tulis Lyudmila. "Namun tiba-tiba seorang pria mendatangi teman kami yang laki-laki dan menuduh mereka mencuri sebotol vodka! Dia meminta seotol vodka nya kembali dan akan meninju gigi mereka. Tapi, karena ia tidak bisa membuktikan apa-apa, ia lalu pergi begitu saja. Kamiterus bernyanyi dan bernyanyi sampai tak ada yang mengerti tahu-tahu kami berbicara soal cinta.. dan soal ciuman, khususnya".

Sementara itu, Zinaida Kolmogorova, sosok yang terkenal supel dan paling populer dikamus menulis surat untuk keluarganya dari kota Serov, sebuah perhentian disepanjang rute kereta yang ditempuh.

"Kami akan berkemah. Sepuluh dari kami dan itu adalah kelompok orang yang hebat. Saya memiliki semua pakaian hangat yang saya butuhkan, jadi jangan khawatirkan saya. Apa kabar? Apakah sapi saya belum melahirkan? Saya suka susunya!"

Dia bertanya tentang kesehatan ayahnya, pekerjaan ibunya, dan mendorong adik perempuannya untuk belajar lebih giat disekolah. Zinaida dan Igor mengirim surat terakhir mereka dari kantor pos di pemukiman kemcil disepanjang rute yang di sebut Vizhay.

Mereka bermalam disana pada 25 JAnuari, sebelum mendapatkan tumpangan dengan truk ke pangkalan penebangan yang disebut pemukiman ke-41. Para mahasiswa itu senang mengobrol dengan para penebang kayu disekitar kompor hangat dan berdiskusi tentang film favorit mereka.

Zina menulis catatan lain dibuku hariaanya, "Ternyata ini hari terakhir peradaban kita dan kesempatan terkahir aku dan Lyuda harus tidur diranjang. Malam ini kami akan berada didalam tenda".

Kelompok tersebut menyewa kereta luncur yang ditarik dengan kuda untuk membawa perbekalan mereka sejauh 15 mil terakhir ke pemukiman pertambangan utara-2 yang terbengkalai. Perjalanan yang sulit dan cukup menegangkan menjadi terlalu berat bagi salah satu anggota grup. "Yura Yudin akan meninggalkan kami hari ini", tulis Zinaida dalam buku hariaanya. 

"Saraf siatiknya kembali kambuh dan dia memutuskan untuk pulang. Sangat disesalkan. Kami membagikan beban diransel-ransel kami". Mahasiswa ekomoni itu  merasa sangat tidak enak badan sehingga dia kembali dengan kereta luncur. Dia sangat menyesal meninggalkan teman-temannya, tetapi itu adalah keputusan yang rupanya menyelamatkan hidupnya.

Setelah Yura Yudin meninggalkan kelompok itu karena sakit, tim itu segera bergerak menuju tujuan mereka, Gunung Ortoten. Arti nama gunung itu dalam bahasa Mansi adalah, "Jangan pergi kesana".Mansi adalah kelompok manusia penggembala rusa didaerang itu yang telah hidup disana selama ratusan tahun. 

Tim kemudian menyusuri jalan setapak menuju kesebuah rumah bobrok yang separuhnya terendam salju. Sebuah bangunan penginapan yang tadinya dihuni penjaga penjara gulag. Disana, rombongan Igor berhenti dan bermain ski disepanjangan Sungai Auspiya sebelum melakukan pendakian. Dicatatan terakhir Zinaida, dia menulis, "Matahari bersinar terik pagi tadi, tapi sekarang sangat dingin".

"Sepanjang hari kami menyusuri sungai. Pada malam hari kami akan berkemah dijalur Mansi. Kubakar sarung tanganku dan jaket Yura. Dia banyak mengangguku!" Zinaida pernah menjadi pacara Yura Doroshenko tetapi dia memutuskan hubungan dengannya, dan sebuah surat kepada seorang teman ditemukan beberapa bulan pasca insiden yang mengungkapkan bahwa Zinaida gugup melakukan perjalanan bersama Yura.

"Saya benar-benar tidak tahu bagaimana perasaaan saya. Ini sangat sulit, karena kami bersama namun kami tidak bersama". Zinaida dikabarkan telah jatuh cinta pada Yura selama ekspedisi sebelumnya.

Kematian Aneh Yang Mengerikan

Pada malam 1 Februari 1959, tim itu entah mengapa mendirikan tenda di Kholat Syakhyl alias Gunung Kematian. Tenda yang didirikan itu berada disebuah lubang yang dangkal, yang diguga telah digali oelh tim itu untuk melindungi diri dari terpaan angin. Namun anehnya, kondisi tenda itu ganjil saat ditemukan, dengan adanya sobekan pisau dari arah dalam keluar. 

Disitulah tempat terakhir para pendaki berada sampai akhirnya tim penyelidik menemukan semua meraka tewas dengan kondisi aneh yang mengerikan.

Mikhail Sharavin adalah salah satu dari tim pencari yang pertama kali menemukan tenda itu. Dia tersandung oleh tenda yang berada 300 meter dari puncak gunung. Dia kurus, botak dan pipinya cekung namun wajahnya sumringah ketika menceritakan bagaimana dia bisa menemukan tenda para pendaki itu. 

Sebuah tiang tenda muncul diatas permukaan salju dan ada senter yang diletakkan diatas kanvas yang masih berfungsi dengan baik saat dia mencoba menyalakannya. Keesokan harinya pada 27 Februari, ketakutan terburuknya terjadi ketika dia dan beberapa orang lain di regu penyelamat menemukan mayat pertama.

"Kami mendekati pohon Cedar", kata Sharavin."Dan ketikan kami berada 20 meter, kami melihat titik berwarna coklat, itu sebelah kanan batang pohon. Ketika kami mencoba untuk mendekat, kami melihat dua mayat tergeletak disana. Tangan dan kakinya berwarna coklat kemerahan". 

Dua mayat itu adalah Yura Doroshenko dan Yuri Krivonischenko, mereka yang dicatat Lyudmila dalam buku hariannya bermain mandolin dan suka bergurau. Yuri ditemukan tewas dengan menggigit bagian dari jarinya sendiri namun baik Yura dan Yuri semuanya ditemukan dalam keadaan hampir telanjang dengan hanya memakai celana dalam.

Didekat pohon itu juga, regu pencari menemukan sisa-sisa api unggun dari cabang-cabang pohon yang rendah sebagai kayu bakar. Tak lama setelah ditemukannya dua mayat itu, mayat Igor Dyatlov, pemimpin perjalanan itu ditemukan. Dia berpakaian tapi tidak memakai sepatu. Posisi tewasnya aneh, dia bertelungkup disalju, memeluk cabang pohon birch. Sementara didekat Igor ada mayat Zinaida Kolmogorova yang berbaring.

Dari posisi tubuhnya, dia diperkirakan berusaha mati-matian untuk mebali menanjak menuju tenda. Disepanjang sisi kanan tubuh wanita itu terdapat memar berwarna merah cerah, seakan-akan seperti bekas dipukul dengan tongkat.

Meski laporan mereka dicatat karena hypotermia, kondisi mayat yang lain yang mengalami cidera serius tidak terkait dengan laporan itu. 

Rustem Slobodin, pelari jarak jauh dan salah satu yang paling pemalu dalam grup, ditemukan pada 5 Maret dengan kondisi tengkorak yang retak. Dia berpakaian lebih baik daripada yang ditemukan sejauh ini. Dia mengenakan kaos lengan panjang dan sweater, dua pasang celana panjang, empat pasang kaus kaki dan satu sepatu bot flanel di kaki kanannya. Arlojinya berhenti pada pukul 08.45.

Keganjilan semakin dalam ketika 4 mayat sisanya ditemukan didalam jurang pada bulan Mei, 3 bulan setelah penemuan 5 mayat pertama. Nikolai Thibeaux-Brignolle, putra seorang komunis Perancis yang ditekan oleh Stalin, memiliki tengkorak yang retak.

Alexander Kolevatov, mahasiswa fisika nuklir yang pernah bekerja di sebuah institut rahassia di Moskwa, mengalami luka dibelakang telinga dan lehernya yang bengkok. Lyudmila Dubinina, seorang komunis muda yang bersemangat dan Semyon Zolotayov, anggota tertua kelompok itu, menderita banyak patah tulang rusuk. Semyon bahkan luka terbuka di sisi kanan tengkoraknya, sampai menyembulkan tulang. Dan detail lainnya, kedua rongga mata Semyon kosong alias bola matanya dicungkil dan lidah Lyudmila terpotong. 

Meski ada yang meyakini jika mereka adalah korban dari Yeti, sebuah mitos binatang buas dipegunungan salju, para orang tua dari para mahasiswa itu percaya, anak-anak mereka adalah korban dari militer. Meski begitu mereka juga mengaku tidak bisa berbuat apa-apa karena di era Soviet kala itu, mereka diminta untuk diam. 

Setahun lalu, kantor kejanksaan umum Rusia mengumumkan penyelidikan baru atas kematian para mahawiswa itu. Merekan bermaksud untuk menhentikan 'rumor yang menjamur' dan untuk 'membangung kebenaran'.

"Ini adalah misteri Soviet kami dan yang ingin kami pecahkan", kata Natalya Barsegova. Penyelidikan pada musim semi tahun 1959 meninggalkan banyak pertanyaannya yang belum terselesaikan. Mengapa para pemain ski itu melarikan diri dari tenda sampai mati kedinginan? Mengapa mereka menderita luka yang aneh? Mengapa ada diantara mereka yang mengalami lidah terpotong dan mata yang hilang?

Para analisis juga bahkan menemukan peningkatan radioaktif pada 2 pakaian korban, sehingga ada yang menyimpulkan bahwa para pendaki itu dibunuh oleh sebuah "kekuatan unsur yang tidak dapat diatasi". Kasus itu kemudian ditutup, temuan mereka kemudian diarsipkan sebagai "RAHASIA", seperti rutinitas yang terjadi di era Soviet sebelum-sebelumya.

Satu-satunya publikasi yang terkait dengan misteri tersebut adalah sebuah novel yang diterbitkan oleh salah satu pencari

Serangan UFO

Pada Januari 1990, mantan kepala partai komunis disebuahkota didekat Dyatlov Pass menuliskan tanggapannya terhadap artikel surat kabar tentang penampakan UFO didaerah tersebut. Dia mengklaim apa yang terjadi pada para pemain ski itu dan lubang yang ada ditenda mereka adalah puing-puing dari bagian yang jatuhdari roket.

Surat kabar itu juga kemudian menerbitkan sebuah cerita dimana Lev Ivanov, penyelidik utama pada kasus Dyatlov 1959, dikutip mengatakan bahwa para mahasiswa itu dibunuh oleh UFO. Artikel tersebut juga mengulangi desas-desus bahwa kelompok tersebut mungkin telah dibunuh oleh penduduk asli atau radiasi dari uji senjata. 

Faktanya, "bola api" yang dirujuk dalam cerita telah terlihat berminggu-minggu setelah kematian para mahasiswa pemain ski itu dan dikaitkan dengan uji coba rudal yang terdokumentasikan.

Beberapa bulan kemudian, Ivanov menulis artikelnya sendiri disurat kabar yang menyalahkan para mahasiswa. Dengan menyalahkan UFO, dokumen rahasia, dan pemerintah yang terkesan menutup-nutupi, dimana tulisa artikel itu adalah awal mula dari teori konspirasi yang berkembang. Dan ada fakta lain yang timbul, wakil insinyur pembangkit listrik tenga nuklir Chernobyl memiliki nama keluarga yang sama dengan Igor Dyatlov. Menimbulkan kecurigaan tentang beberapa hubungan dengan bencana itu.

Sebuah teori lain mempercayi adanya plot jahat yang terjadi pada Yuri Yudin, soorang mahasiswa yang sempat menemani kelomok tersebut sebelum akhirnya tidak jadi berangkat karena mendadak sakit. Yuri Yudin mengatakan sebelum kematiannya, bahwa ia percaya teman-temannya telah "melihat sesuatu seharusnya tidak mereka lihat" dan dipaksa dengan todongan senjata untuk membuat adegan agar membingungkan penyidik, lalu dibiarkan mati. 

Namun bagaimanapun teori konspirasi berbunyi, saudari Dyatlov sendiri, Tatyana Perminova, mengatakan bahwa dia telah mendengar banyak teori, tetapi ia hanya dapat mengulangi apa yang diucapkan kdua orang tuanya pada saat saudara laki-lakinya itu menghilang dan meninggal, "Mereka yakin,", katanya, "Bahwa entah bagaiman tapi militer terlibat".

Masih menjadi misteri

Menurut beberapa ilmuwan Rusia, angin kencang yang bertiup dari atas kubah gunung menciptakan pusaran angin "Karman Vortex" dan menghasilkan suara berfrekuensi rendah yang tidak sepenuhnya dapat didengar tapi dapat menggetarkan sel-sel rambut ditelinga. Hal itu menyebabkan rasa mual dan tidak nyaman yang hebat secara psikis. 

Di bawah serangan gencar saat gelap gulita itu, para mahasiswa itu bisa saja diliputi perasaan takut dan panik. Namun ketika mengumumkan hasil penyelidikan tahun lalu, jaksa penuntut umum Rusia mengesampingkan kemungkinan tewas akibat tindakan "kriminal" dan mengatakan bahwa penyebab para mahasiswa pemain ski itu tewas adalah longsoran salju, lempengan salju dan badai. 

Beberapa kerabat dari kelompok Dyatlov marah atas penolakan jaksa yang enggan mempertimbangkan sebab non-alami dari kematian sehingga mengajukan pengaduan dan meminta penyelidik untuk membuka kasus pidana.

Sampai saat ini, penyebab kematian 9 mahasiswa pemain ski yang mendaki Pegunungan Ural masih menjadi misteri. Suatu saat nanti mister ini mungkin akan terpecahkan. Namun cerita simpang siur tentang penyebab kematian mereka tidak akan bisa benar-benar dihentikan.

The End


Komentar

Postingan Populer