Misteri Hilangnya Pendaki di Indonesia Part 2 (habis)

 Banyaknya pendaki-pendaki di Indonesia yang hilang dan tidak ditemukan memang masih menjadi misteri di dunia pendakian Indonesia hingga saat ini. Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan yang sangat beresiko. Selama beberapa tahun, tercatat ratusan insiden dan tragedi dalam kegiatan pendakian di Indonesia. Diantaranya tersesat, kecelakaan atau hilang tanpa jejak. Beberapa kasus hilangnya pendaki merupakan kasus yang fenomenal karena hingga kini masih menyisakan teka-teki yang tak terpecahkan. inilah 7 kasus pendaki gunung dan penempuh rimba di Indonesia yang berujung pada hilangnya pendaki secara misterius.


Gagah Pribadi, Gunung Slamet 1985

 Pada tahun 1985 Gagah Pribadi mendaki bersama dua orang temannya yaitu Alex PW dan Iqbal Latief ke Gunung Slamet. Ditengah perjalanan turun dari puncak terjadi insiden yang menyebabkan Iqbal Latief meninggal dunia dan Gagah Pribadi Hilang. Saat Iqbal Latief dikonfirmasi telah meninggal dunia, Gagah Pribadi berinisiatif untuk turun mencari bantuan, sedangkan Alex PW menunggui jenazah Iqbal.
 Tapi ternyata Gagah Pribadi pun akhirnya tersesat ketika akan mencari jalan turun mencari bantuan. Karena lama menunggu akhirnya Alex PW yang menemani jenazah Iqbal juga berinisiatif untukmencari bantuan. Selang beberapa lama Alex bertemu dengan Gagah di suatu jurang yang berbeda, dan akhirnya Alex meminta Gagah untuk kembali ke tempat jenazah Iqbal ditinggalkan sedangkan Alex sendiri melanjutkan untuk turun. 
 Setelah beberapa lama, Alex kembali bersama tim penyelamat untuk mengevakuasi jenazah Iqbal. Namun jenazah Iqbal sudah tidak berada ditempat dimana dia ditinggalkan sebelumnya, raib entah kemana. Dan Gagah Pribadi yang saat terakhir diliat oleh Alex pun mendadak hilang. Tetapi akhirnya jenazah Iqbal ditemukan tidak jauh dari tempat semula ia ditinggalkan. Kemungkinan Gagah sempat memindahkan jenazah Iqbal sebelum ditinggalkan dan Gagah menghilang. 
Pencarian yang dilakukan tim SAR tidak berhasil. Gagah Pribadi pun seolah lenyap ditelan bumi.

Iwan Siswadi & Yahya Weri, Gunung Singgalang, 1988

 Berbeda dengan zona kematian Blank 75 di Gunung Semeru yang terkesan mengerikan karena berupa jurang yang dalam. Zona kematian di trek menuju puncak Gunung Singgalang nampak biasa saja.  Sama sekali tidak menyeramkan, jalurnya sangat jelas dan bersih serta areanya relatif terbuka dan indah.
 Zona mematikan di gunung Singgalang berada di antara area tempat kemping di Cadas menuju Telaga Dewi, diketinggian sekitar 2700-2820 mdpl. Disini lebih dari separuh treknya terbuka, hanya ada pohon-poho kecil. Setelah mendekati Telaga Dewi barulah ada pohon-pohon yang cukup tinggi tetapi tidak ada jurang atau area yang dipandang membahayakan.
 Suatu hari pada tanggal 18 Oktober 1988, dua orang siswa SMA 1 Padang bernama Iwan Siswadi dan Yahya Weri yang tergabung dalam kelompok pecinta alam GALAPAGOS disekolahnya berjalan menuju Telaga Dewi diarea tempat kempingnya di Cadas. Keduanya telah berpesan demikian kepada teman-temannya yang tinggal di Cadas.
 Setelah waktu berlalu cukup lama, Iwan dan Yahya belum juga kembali. Kawan-kawannya mulai curiga, dan beberapa temannya mulai menyusul, mencari kearah Telaga Dewi. Namun Iwan dan Yahya tidak ditemukan. Menyadari Iwan dan Yahya hilang teman-temannya turun untuk mengabarkan kepada masyarakat sekitar Gunung Singgalang dan orang tua mereka berdua.
 Pencarian besar-besaranpun dilakukan. Waktu itu pencarian melibatkan ratusan masyarakat Sumatra Barat, bahkan hingga Riau dan Jambi. Pencarian dilakukan selama berhari-hari. Titik tempat kedua survivor dinyatakan hilang disisir dengan rapi. Sekeliling Gunung Singgalang dari kaki hingga puncaknya disisir ribuan orang. Namun pencarian terhadap dua survivor tersebut tetap tidak membuahkan hasil, tanpa satupun jejak ditemukan. 

Abdul Azhar, Gunung Slamet 1998

 Abdul Azhar adalah seorang pendaki asal kota Tangerang, Jawa Barat. Pada tanggal 27 Juli 1998 ia dinyatakan hilang saat melakukan pendakian ke Gunung Slamet melalui jalur Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
 Kala itu Abdul Azhar berusia 27 tahun, melakukan ekspedisi Sumbing, Sindoro, Slamet bersama rekan-rekan organisasinya yang bernama TAPAK ELANG CANTIGIE Penggiat Alam Bebas Jakarta. Namun Abdul Azhar melanjutkan pendakian ke Gunung Slamet seorang diri karena rekan-rekannya sudah tak mampu lagi untuk melanjutkan pendakian ke Gunung Slamet karena kelelahan.
 Pencarian secara resmi dilakukan selama kurang lebih 14 hari dan dilanjutkan secara mandiri hingga total selama kurang lebih 30 hari. Seluruh barang bawaan yang dibawa olehnya ditemukan disembunyikan di semak-semak belukar diatas pos 7 kanan jalur. Kecuali baju yang ia pakai serta sarung dan sajadah yang dibawah olehnya setiap saat. 
 Sudah lebih dari 20 tahun sejak hilangnya Abdul Azhar. Hingga saat ini ia masih belum ditemukan. 

Mayor Latang & Rifai, Gunung Gandang Dewata, 2007

 Mayor Latang, anggota TNI Kodam Wirabuana melakukan pendakian ke Gunung Gandang Dewata bersama satu orang anggota militer, Serka Alexander dan dua orang sipil, Rifai dan Abdul Aziz serta seorang penunjuk jalan dari warga setempat bernama Ambe Pampang. 
 Peristiwa berawal ddari Jumat siang 8 April 2007, mereka melakukan pendakian. Selama empat jam menempuh perjalanan mereka tiba di pos 1.
 Ambe Pampang sempat kaget melihat persiapan mereka, Ambe Pampang khawatir melihat bekal persediaan rombongan Latang yang seadanya. Bekal sesedikit itu menurut Ambe Pampang hanya cukup untuk tiga sampai empat hari perjalanan, padahal untuk sampai kepuncak Gandang Dewata dibutuhkan waktu sekitar lima sampai enam hari perjalanan itupun belum termasuk perjalanan pulang. Ambe Pampang menilai rombongan Latang terkesan tanpa persiapan yang matang. Peralatan yang dibawa hanya satu panci kecil dan air minum, tanpa jas hujan, senter, tenda dan peralatan lainnya. Belum lagi kondisi Addul Aziz yang kurang sehat dan mengalami sesak nafas. 
 Ambe Pampang sempat meragukan kesanggupan mereka sampai puncak namun Latang meyakinkan Ambe Pampang bahwa diatas gunung nanti bantuan akan datang melalui helikopter. Meskipun telah berusaha berhemat akhirnya perbekalan mereka hanya cukup sampai di pos lima dari sembilan pos yang ada sebelum mencapai puncak. Meski sudah kehabisan perbekalan mereka masih melanjutkan hingga ke pos tujuh. Di pos tujuh Mayor Latang meminta Ambe Pampang ke pos sembilan untuk mengambil makanan yang dibawa melalui helikopter. Ambe pun berangkat ke pos sembilan seorang diri, setelah menunggu beberapa lama Ambe kembali tanpa hasil. 
 Akhirnya kondisi mereka semakin lemah, terutama Abdul Aziz yang semakin sempoyongan karena dua hari dua malam tanpa makan, ditambah cuaca yang dingin karena setiap hari turun hujan. Helikopter yang ditunggu-tunggu membawa makananpun tak terlihat. Mereka akhirnya sepakat untuk turun gunung, Ambe Pampang berjalan didepan, lebih cepat dengan maksud untuk mengambil makanan. Empat orang lainnya juga ikut turun menyusul sambil berjalan berlahan. Mereka memperkirakan akan bertemu di pos lima setelah Ambe Pampang kembali kegunung dan membawa makanan.
 Ambe Pampang tiba didesa menjelang maghrib. Keesokan harinya Ambe Pampang melapor ke kepala desa dan Koramil setempat, ia sempat kaget sebab pihak Koramil ternyata tidak mengetahui perihal keberangkatan Mayor Latang ke Gunung Gandang Dewata. 
 Berselang beberapa hari, Alexander tiba didesa Tando Bakaru dengan kondisi yang sangat lemah dan memprihatinkan. Tubuhnya kedinginan dan luka-luka, bahkan nyaris tak sanggup menggerakkan badan lagi. Ia tidak dapat memberikan informasi apapun karena ia mengalami trauma berat dan tekanan psikis.
Motif keberangkatan Latang ke Gandang Dewata masih misterius, bahkan beredar kabar jika Lata ng naik kegunung keramat ini untuk mencari pesawat Adam Air yang hilang pada awal Januari  2007. Namun berdasarkan kesaksian Ambe Pampang, Latang tidak mengatakan persis tujuannya dan terkesan merahasiakan sesuatu. Latang hanya menyampaikan misinya untuk mencari air kehidupan tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan air kehidupan itu.
 Warga kemudian berusaha mencari keberadaan mereka. Abdul Aziz ditemukan tewas sekitar 100 meter dari pos enam oleh warga dan personel TNI. Sementara Mayor Latang dan Rifai hingga kini belum diketahui rimbanya.  

Ansar, Cakra Pradita & Jumadil Askar, Gunung Kambuno, 2010

 Lima orang pendaki yang merupakan anggota kelompok pecinta alam KAPAS Palopo, melakukan pendakian ke Gunung Kambuno melalui desa Malimbu antara lain Puja Saputra, Jumadil Askar, Ahmad Pasau, Ansar dan Cakra Pradita. 
 Pada tanggal 31 Januari 2010, mereka tercatat meninggalkan kaki Gunung Kambuno menuju puncak. Mereka di jadwalkan kembali ke Palopo pada 7 Februari 2010, namun mereka tak kunjung pul ang hingga 10 Februari 2010. Hari itu juga mereka dilaporkan hilang. 
 Tim SAR yang diberangkatkan untuk mecari lima pendaki tersebut hanya menemukan perlengkapan mereka berupa tas punggung, tenda, telepon genggam, dan sejumlah bekal makanan di pos tiga pada tanggal 13 Februari 2010. 
 Satu bulan kemudian, 4 Maret 2010 sore menjelang malam, warga desa Leboni dikejutkan dengan munculnya dua orang pendaki dibelakang rumahnya. Dua pendaki tersebut adalah Puja Saputra dan Ahmad  Pasau. Mereka ditemukan selamat disebuah desa yang jarakanya puluhan kilometer dari Gunung Kambuno setelah sebulan lebih bertahan hidup, mencari jalan keluar di belantara rimba.
Menurut keterangan mereka berdua, mereka tersesat setelah terpisah dengan ketiga temannya saat perjalanan turun dari puncak. 
 Tujuh bulan kemudian, 6 Oktober 2010 dua dari tiga pendaki lainnya ditemukan oleh warga di desa Leboni dengan kondisi tinggal kerangka dipinggir hulu sungai yang mengalir ke desa tersebut. Sementara satu orang lainnya hingga saat ini belum ditemukan. 

Alvi Kurniawan, Gunung Lawu, 2018

 Pada tanggal 31 Desember 2017 Alvi mendaki Gunung Lawu bersama enam temannya melalui jalur Candi Cetho. Mereka kemudian mendirikan tenda di pos lima. Keesokan harinya, 1 Januari 2018 dua orang teman Alvi melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Lawu lebih dahulu, kemudian Alvi dan kawan-kawannya yang tersisa menyusul. 
 Ditengah perjalanan Alvi bertemu dengan seorang pendaki perempuan asal Wonosobo, pendaki tersebut mengajak Alvi adu cepat menuju puncak Lawu. Namun karena kelelahan pendaki perempuan asal Wonosobo tersebut berhenti di tengah perjalanan, di Pasar Dieng (Pasar Setan), sementara Alvi terus berlari kearah puncak. Ditengah pergerakannya menuju puncak tersebut Alvi menghilang dan tak pernah sampai ke puncak. 
 Pencarian tim SAR menggunakan anjing pelacak selama 23 hari yang melibatkan lebih dari 300 relawan dari berbagai kesatuan dan komunitas, tidak membuahkan hasil. Hingga tulisan ini dibuat, Alvi Kurniawan belum ditemukan.

Ikhsan Al Mughoni, Hutan Danau Kaco, 2020

 Awal tahun 2020 publik digemparkan dengan hilangnya wisatawan asal kota Sungai Penuh, Ikhsan Al Mughoni. Berdasarkan informasi, pada tanggal 1 Januari 2020, Ikhsan  bersama tiga orang temannya berangkat dari desa Benteng Depati Parbo menuju tempat wisata Danau Kaco dengan berjalan kaki.
Sekitar pukul 13.00 Ikhsan dan teman-temannya sampai di Danau Kaco. Kemudian pada pukul 16.00 Ikhsan dan teman-temannya memutuskan untuk kembali pulang dan diperkirakan sampai di Benteng Depati Parbo sebelum maghrib. 
 Dalam perjalanan pulang sesampainya di kawasan pertengahan antara Danau Kaco dan Benteng Depati Parbo, pada saat menyeberangi sungai, korban lebih dulu berjalan dan meninggalkan temann-temannya yang masih dibelakang dengan jarak kurang lebih hanya 100 meter. Pukul 18.00 ketiga temannya samapi didesa Benteng Depati Parbo, disana mereka baru mengetahui bahwa Ikhsan Al Mughoni belum tiba. 
 Tim SAR gabungan yang dibentuk untuk mencari keberadaan Ikhsan membawa hasil nihil. Hinggal saat ini Ikhsan Al Mughoni masih dinyatakan hilang di hutan Danau Kaco.

Komentar

Postingan Populer