Misteri Hilangnya Pendaki di Indonesia Part 1
Kali ini saya mencoba untuk memberikan info tentang misteri-misteri hilangnya pendaki gunung saat mendaki gunung-gunung yang ada di Indonesia. Semua pendaki yang akan saya ceritakan disini, sampai cerita ini saya tulis dan saya publikasikan, belum ditemukan.
Surya Ibrahim Dompas, Gunung Gede, 1989
Surya yang saat itu berusia 18 tahun melakukan pendakian pada tanggal 26 November 1989 bersama 16 orang rekannya yang tergabung dalam organisasi pecinta alam SMAN 82 Jakarta ke Gunung Gede melalui jalur Cibodas yang berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat. Tim pendakian ini bergerak menuju pos kandang badak pada pukul 00.00 dini hari. Mereka beristirahat sejenak di pos kandang batu. Tim terbagi menjadi dua, Surya beserta tiga orang rekannya memutuskan untuk beristirahat di pos tersebut sambil menunggu pagi hari. Sedangkan tiga belas lainnya melanjutkan pendakian menuju puncak Gede. Tim pertama yang telah berangkat terlebih dahulu berhasil mencapai puncak Gede jam 05.30 subuh, tetapi hingga jam 12.00 siang Surya beserta ketiga orang tim nya masih belum mencapai puncak Gede.
Ketika tim pertama memutuskan untuk kembali ke pos kandang badak, Surya dan tiga rekan timnya sudah melewati pos kandang badak, tetapi masih dalam perjalanan menuju puncak Gede, dan sempat berpapasan di tanjakan setan jam 13.30 siang. Saat berpapasan tim pertama mengajak Surya dan lainnya untuk ikut turun sebelum turun hujan dan gelapnya malam karena kondisi saat itu sedang mendung. Namun yang mengikuti ajakan turun hanya satu orang, sedangkan Surya dan kedua rekan lainnya masih tetap ingin melanjutkan pendakian menuju puncak Gede. Ketiga orang tersebut sampai dipuncak Gede jam 14.00 siang, lalu kedua orang rekan Surya memutuskan untuk turun mengikuti rombongan lain melalui jalur Cibodas. Namun Surya masih ingin melanjutkan perjalanan melewati Alun-alun Suryakencana dan turun melewati jalur Gunung Putri.
Sekitar jam 14.40 sore kedua rekan Surya mulai bergerak turun kembali menuju Cibodas dan masih sempat diantar oleh Surya sampai pada pos pertama dari puncak. Kemudian Surya melanjutkan perjalanan kembali menuju Alun-alun Suryakencana melewati puncak Gunung Gede. Saat itu Surya masih sempat terlihat oleh kedua rekannya berjalan menuju puncak. Disinilah terlihat dan tidak kembali pulang.
Sebanyak 30 tim SAR yang berasal dari masyarakat sekitar Cibodas, perkumpulan Pecinta Alam, Instansi terkait dan pihak swasta yang berjumlah hampir 160 orang personel pada pencarian itu tidak membuahkan hasil. Pada saat proses operasi SAR justru ditemukan beberapa jasad pendaki lain yang hilang sebelum Surya. Sampai SAR Surya berakhir masih ditemukan jasad pendaki lain di Gunung Gede-Pangrango. Tapi sudah 31 tahun sampai tulisan ini dibuat tidak ada satupun jejak Surya ditemukan, seakan raib ditelan bumi.
Yudha Sentika, Gunung Kerinci, 1990
Tugu Yudha tentu sudah dikenal oleh mereka telah mendaki Gunung Kerinci. Nama tugu tersebut mungkin juga sudah didengar oleh para pendaki yang belum berkesempatan menapakkan kaki diatap Sumatra tersebut. Tugu Yudha adalah sebuah tugu yang dibuat dengan plakat untuk mengenang seorang pendaki asal Jakarta yang hilang saat pendakian ke Gunung Kerinci pada 23 Juni 1990. Pada saat itu Yudha Sentika baru berusia 17 tahun, merupakan siswa penggiat alam yang terpisah dengan keenam teman-temannya ketika turun dari puncak Kerinci. Saat itu kabut tebal menyelimuti perjalanan mereka turun dari puncak Kerinci. Diarea tempat tugu tersebut didirikan Yudha terpisah dan hilang. Jasadnya pun tidak ditemukan sampai saat ini.
Vinsensius Suryadinata, Gunung Argopuro, 2006
Operasi SAR Vinsensius Suryadinata di Pegunungan Argopuro yang dibuka dengan nama sandi SAR VINSEN ARGOPURO ini merupakan operasi SAR terbesar yang pernah berlangsung pada skala pencarian orang hilang, karena melibatkan ratusan personel dari berbagai institusi untuk menyisir lebih dari 30 carpark peta kontur. Terlama karena memakan waktu selama 52 hari dan termegah karena mengeluarkan biaya yang besar untuk suplai logistik, genset, puluhan kilometer string line, telepon satelit dan helikopter untuk evakuasi.
Vinsen yang merupakan anggota Pecinta Alam Universitas Katholik Parahyangan Bandung ini mendaki seorang diri di Pegunungan Argopuro. Mengawali rute pendakian terpanjang dipulau Jawa ini dari lereng timur di Baderan Situbondo, setelah sebelumnya menyelesaikan trekking di Taman Nasional Alas Purwo.
Saat itu rute pendakian akan segera ditutup karena cuaca yang sedang ekstrem dan telah diberitakan sudah terjadi longsong dan banjir bandang dibeberapa titik dilereng selatan Pegunungan Argopuro. Dikomplek area puncak, diatas pos Cisentor, Vinsen sempat berpapasan dengan rombongan pendaki terakhir yang mendaki dari lereng barat sebelum kawasan Pegunungan Argopuro ditutup untuk pendakian. Menurut keterangan saksi tersebut Vinsen hanya membawa daypack. Tim SAR menemukan tenda, carrier, GPS dan perlengkapan milik Vinsen lainnya ditinggalkan di pos Cisentor, termasuk sebuah buku kuno berbahasa Belanda yang menjadi referensi tentang survival.
Tim SAR pun juga membelah jalur-jalur pendakian kuno jaman kolonial Belanda yang tercatat dalam buku tersebut, yang sebagian besar telah tertutup karena telah lama tidak digunakan. Mendekati hari-hari terakhir pencarian tim SAR menemukan sebuah cangkir yang terverifikasi adalah milik Visen yang dikawasan kawah Ciceding, kawah mati yang berada di antara Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Namun hingga hari terakhir operasi SAR ditutup, Vinsen belum ditemukan. Hingga saat ini keberadaan Vinsen masih misterius.
Eko Saputra Sudirman & Yunita Indah Safitri, Gunung Agung, 2007
Tiga orang pendaki yang berasal dari Barisan Mahasiswa Alam Widyatama Bramatala, Bandung, hilang saat melakukan pendakian di Gunung Agung. Antara lain Muhammad Iqbal, Eko Saputra Sudirman dan Yunita Indah Safitri. Mereka bertiga mulai mendaki gunung yang terletak di pulau Bali tersebut pada tanggal 26 Desember 2007 ketika cuaca sedang ekstrem dan suhu sempat mencapai 8 derajat celcius selama beberapa hari.
Tim SAR yang melakukan pencarian hanya berhasil menemukan jasad Muhammad Iqbal diketinggian 2600 meter, 1200 meter diatas basecamp mereka, dimana ditemukan tenda dan peralatan lainnya. Jasad Iqbal ditemukan disebuah jurang, antara puncak 1 dan puncak 2 Gunung Agung dengan kondisi tubuh korban yang sangat dingin dan diduga mengalami kecelakaan karena terdapat luka lebam dikelopak mata dan tulang hidungnya juga retak akibat benturan benda keras.
Sedangkan dua survivor lainnya yakni, Eko Saputra Sudirman dan Yunita Indah Safitri dinyatakan hilang dan hingga saat ini tidak ditemukan jasadnya.
Reni Komalasari, Gunung Cikuray, 2009
Reni Komalasari, 18 tahun, bersama dengan 12 orang lainnya dari Tangerang berangkat mendaki Gunung Cikuray pada 18 Desember 2009. Sesampainya diatas puncak sempat terjadi konflik sesaat yang menyebabkan rombongan terbelah menjadi dua regu. Regu pertama yang terdiri dari tujuh orang turun terlebih dahulu, sedangkan Reni dan empat orang lainnya diregu kedua tertinggal dibelakang dan sempat beristirahat dipuncak bayangan.
Melihat kondisi Reni yang kelelahan dan dehidrasi, tiga orang temannya memutuskan untuk mecarikan air dibawah. Namun selang beberapa lama mereka bertiga tak kunjung kembali. Khawatir karena hari mulai gelap, satu orang lagi berinisiatif menjemput ketiga temannya dibawah dan meninggalkan Reni sendiri dipuncak bayangan. Setiba keempat teman Reni kembali kepuncak bayangan, mereka berempat mendapati Reni Komalasari sudah tidak ada lagi ditempat.
Ratusan personel dari berbagai institusi yang melakukan pencarian tidak membuahkan hasil, bahkan tidak satupun jejak keberadaan Reni ditemukan. Diduga kuat Reni memutuskan untuk berjalan seorang diri dan tersesat dan jatuh dari tebing yang berketinggian ratusan meter dari puncak bayangan Gunung Cikuray. Hingga saat ini Reni Komalasari masih dinyatakan hilang.
Setiawan Maulana, Gunung Kerinci, 2014
Setiawan Maulana, 22 tahun, dari Bogor, melakukan pendakian ke Gunung Kerinci pada tanggal 25 Desember 2014 pukul 12.00 siang bersama 12 orang temannya dan didampingi pemandu. Dikarenakan adanya badai dan cuaca buruk, sesampainya di shelter dua mereka menghentikan perjalanan dan menggelar diskusi kecil mencari kesepakatan melanjutkan pendakian kepuncak atau tidak. Mereka sepakat untuk tidak melanjutkan pendakian dan kembali turun, akan tetapi Setiawan dan seorang temannya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kepuncak.
Keduanya berhasil mencapai puncak. Saat perjalanan turun, tepatnya di Tugu Yudha mereka berdua terpisah, Setiawan bergegas lebih cepat turun mendahului temannya. Rekan yang ditinggalkannya berhasil kembali sampai basecamp, namun Setiawan tidak kunjung tiba di basecamp dan dimungkinkan telah mengambil jalur yang salah karena saat itu jarak pandang terbatas oleh kabut tebal.
Tim SAR yang melakukan pencarian selama berhari-hari tidak berhasil menemukan Setiawan dan sampai tulisan ini dibuat Setiawan Maulana belum ditemukan.
Lionel du Creaux, Gunung Semeru, 2016
Dipertengahan tahun 2016 kedutaan Swiss dibuat kalang kabut, warga negara mereka Lionel du Creaux hilang di Gunung Semeru. Lionel dilaporkan hilang pada 7 Juni 2016. Sebelum mendaki puncak Semeru, Lionel mendaki dari bawah bersama dengan Alice Guignard, warga negara Perancis. Keduanya terpisah ketika Lionel memilih untuk mendaki, dan Alice yang sudah merasa tidak mampu memilih untuk kembali ke shelter Kalimati.
Tim SAR memperkirakan Lionel hilang disekitar Gunung Batu dan tersesat di area Blank 75, yakni area jurang disisi kanan jalur pendakian sedalam 75 meter yang sering memakan banyak korban. Pencarian Lionel dimulai pada 9 Juni 2016 dengan bantuan keluarga dan pihak kedutaan.
Pencarian berakhir pada 19 Juni 2016 dengan hasil nihil. Lionel du Creaux dinyatakan hilang di Gunung Semeru. Fakta yang menarik adalah, ternyata mereka tidak melapor saat akan mendaki Gunung Semeru atau memberitahu pos pendakian Ranupane. Pendakian mereka tidak diketahui oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar