Mess Tua
Kejadian ini terjadi ketika aku
masih tinggal dan bekerja di Jogjakarta. Kenalkan namaku Novan (bukan nama
sebenarnya). Pada saat itu sekitaran tahun 2006 aku bekerja disuatu perusahaan
di Jogjakarta. Sebenarnya aku lahir dan besar di Surabaya, tetapi karena
pekerjaan yang akhirnya membuatku harus tinggal dan bekerja di kota pelajar.
Saat itu aku baru sampai di
Jogjakarta dari Surabaya menggunakan kereta api. Sesampainya di stasiun, aku
dijemput oleh salah satu saudaraku yang memang sudah tinggal disana sebelumnya.
Yang nantinya aku akan diantar kesebuah rumah mess yang sudah disediakan oleh
perusaahan tempatku bekerja. Mess tempatku tinggal berada di jalan besar yang
menuju keaarah Kaliurang.
Sesampainya di tempat mess, aku
bertemu dengan salah seorang penjaga, sebut saja Pak Koko. Pak Koko sudah lama
bekerja di mess itu, sekitar 15 tahun. Pak Koko tinggal tidak jauh dari rumah
mess tempatku tinggal. Pak Koko menyampaikan bahwa rumah mess ini kosong, dan
hanya aku seorang yang tinggal disana. Karena kebanyakan dari karyawan
diperusahaan tempatku bekerja adalah warga asli Jogjakarta dan bila bukan warga
asli Jogja, kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga dan tinggal dirumah
pribadi.
Mess perusahaan tempatku tinggal
ini adalah sebuah bangunan tua, dengan banyak kamar dan ruangan dan dikelilingi
oleh halaman. Karena letaknya yang berada di kaki gunung Merapi, menjadikan
suasana rumah ini selalu sejuk dan adem. Awal tinggal di rumah itu, perasaan
takut pasti ada didalam hati, mengingat rumah yang begitu luas dan aku hanya
tinggal sendiri. Dirumah itu aku menempati salah satu kamar yang letaknya tidak
jauh dari pintu masuk rumah. Pertimbanganku memilih kamar itu adalah selain
memiliki pemandangan keluar jendela paling bagus, kamar itu memiliki banyak
jendela sehinggal sirkulasi udara akan baik.
Pada saat itu aku tiba di rumah
mess itu sekitar jam 4 sore. Untuk menghilangkan lelah, akupun memutuskan untuk
mandi. Sekedar bersih-bersih dan mengembalikan kesegaran tubuh. Kejadian
keanehan pertama yang aku alami persis ketika hari pertama aku meninggali rumah
tersebut. Saat aku sedang mandi, dengan mata yang tertutup busa shampo, memaksa
mataku untuk terpejam supaya busa shampoo tidak memasuki mataku, tiba-tiba dari
arah belakang, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Tetapi karena
mataku tertutup, aku tidak bisa melihat apa atau siapa yang menyentuhku. Memang
kejadiaanya tidak terlalu lama, tapi aku merasakan jelas ada sesuatu yang
menyentuhku. Dengan kuku yang panjang, terasa seperti menggaruk punggungku.
Karena merasa ketakutan, cepat-cepat aku mengambil gayung untuk menyiram
kepalaku.
Seketika setelah aku bisa membuka
mata, aku spontan melihat kesekeliling kamar mandi, untuk mencari tahu siapa
yang telah menyentuh punggungku. Dan seperti dugaanku, tidak ada siapa-siapa di
kamar mandi itu selain memang aku sendiri. Secepatnya aku menyelesaikan mandiku
dan cepat-cepat kembali kekamar. Dikamar aku mencoba menenangkan diri dengan
sholat maghrib dan aku lanjutkan ke sholat isya. Kejadian di kamar mandi sudah
aku lupakan dan karena masih merasa lelah, aku tidak sadar sudah tertidur.
Dimalam itu aku terbangun dari
tidurku karena suara bising knalpot
sepeda motor. Karena mess tempatku tinggal berada tidak jauh dari jalan raya,
jadi suara kendaraan bisa jelas terdengar dari kamarku. Karena kamarku cukup
luas, dikamar itu terdapat dua buah tempat tidur. Satu tempat tidur aku tempati
dan satunya kosong. Dalam keadaan sadar dan tidak sadar, aku melihat ada
sesosok bayangan hitam. Tidak jelas wujudnya laki-laki atau perempuan, tetapi
masih Nampak jelas kalau sosok itu jongkok diatas Kasur yang kosong itu.
Seketika itu aku merasa ketakutan, dan spontan aku membaca ayat-ayat pendek
sebisanya dengan harapan supaya sosok itu hilang. Singkat cerita, kejadian
malam itu itu berhasil membuatku terjaga sepanjang malam hingga pagi.
Keesokan harinya aku sudah mulai
memulai aktivitasku sebagai pegawai baru. Jam kerjaku berakhir pada pukul 4
sore. Karena jarak antara kantor dan mess tempatku tinggal cukup jauh, jadi
membutuhkan waktu yang lumayan lama dalam perjalanan. Sekitar jam 5 sore aku
sudah sampai di mess tempatku tinggal. Aku pun segera mandi karena mendadak aku
teringat dengan kejadian ketika aku mandi kemarin, dan aku tidak ingin kejadian
itu terulang lagi.
Tidak ada kejadian aneh lagi
ketika aku mandi. Selesai mandi akupun bergegas kembali kekamar untuk sholat
mahrib. Entah kenapa malam itu aku tidak merasa ngantuk. Untuk menghilangkan
bosan, akupun pergi keruang tamu. Ruang tamu rumah itu sangat luas. Saking
luasnya sampai bisa di masuki oleh beberapa set meja dan kursi tamu. Meja dan
kursi tamunya pun rasanya berusia sama tuanya dengan rumah itu. Diruangan itu
juga ada satu televisi yang juga berusia tua.
Tak terasa aku menonton tv hingga
pukul 10 malam. Hawa yang sejuk sangat terasa dan membuatku betah berlama-lama
diruangan itu. Ketika aku nonton tv, tiba-tiba dari atas tv aku melihat sesosok
anak kecil yang keluar dari tembok. Benar-benar keluar dalam arti kata yang
sebenarnya. Dengan kepalanya yang botak, anak kecil itu celingak celinguk. Dan
mendadak melihat kearahku dengan pandangan yang sangat mengintimidasi. Keringat
dingin pun keluar, bercampur dengan bulu kuduk yang berdiri disekujur tubuh.
Tidak lama, anak kecil itu
kembali masuk kedalam tembok. Pelan-pelan aku berusaha menenangkan diri
ditengah kakunya tubuhku. Sejenak aku merasa jika semua ini adalah halusinasi.
Tetapi semakin aku menenangkan diri, semakin aku berusaha berpikir, semakin aku
merasa jika hal ini bukanlah suatu kejadian yang bisa dianggap wajar. Bahkan
untuk rumah tua sekalipun.
Tidak lama dari situ, tiba-tiba
aku merasa sangat ngantuk. Kantuk yang sangat yang aku pun tidak bisa
mengendalikannya. Aku tertidur disofa ruang tamu tempatku menonton tv. Seketika
aku terbangun, aku melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Aku terbangun karena terdengar suara ketukan dipintu belakang. Pelan aku menoleh
kearah sumber suara. Ada seorang laki-laki. Tinggi, kurus dengan ukuran tangan
yang bisa dibilang tidak proporsional dengan ukuran badannya. Saking tingginya,
aku tidak bisa melihat kepala dan wajahnya, karena kepala laki-laki itu
menembus langit-langit rumah. Laki-laki itu hanya diam, tidak melakukan apa.
Hanya terlihat jari-jarinya saja yang bergerak.
Dengan keadaan masih mengantuk
pun kakiku seperti mengajak untuk berlari dan kembali kekamar. Kukunci pintu
kamarku, dan aku berada dibalik selimut dengan badan yang sedikit gemetar. Tid
menghilangkan rasa takutku, tetapi aku masih bisa berpikir kalau sosok-sosok
yang ada dirumah ini sangat offensive, dalam artian meraka tidak segan
menampakkan diri bahkan dalam jarak yang sangat dekat.
Hari berganti dan gangguan yang
ada dan kualami semakin banyak dan beragam. Banyak hari yang aku lewati tanpa
tidur dengan nyenyak. Seperti malam sebelumnya, sepanjang malam itu telinga ku
terus diganggu dengan suara-suara yang asalnya berada dari luar kamarku. Suara
orang berbincagn-bincang, suara langkah kaki berlari, suara ketukan di pintu
dan jendela kamarku. Semua itu berhasil membuatku terjaga sepanjang malam.
Semua suara itu hilang ketika
adzan subuh berkumandang. Aku memberanikan diri untuk keluar kekamar mandi
untuk mengambil air wudhu. Pagi nya aku kembali berkerja seperti hari
sebelumnya. Di tempat kerjaku, aku memiliki seorang teman baru, sebut saja Adi.
Seorang pegawai yang cukup senior ditempatku kerja. Iseng, aku mencoba bertanya
kepada Adi tentang rumah mess yang aku tinggali. Adi mengatakan jika memang
rumah mess itu sudah lama sekali kosong. Banyak dari karyawan yang bekerja di
kantor ini dan pada awalnya tinggal di mess itu akhirnya memutuskan untuk
keluar dari mess itu dan akhirnya memilih untuk kos. Ketika aku bertanya kenapa
banyak yang memilih untuk kos alih-alih tinggal di mess tersebut untuk
menghemat ongkos, Adi pun menjelaskan.
Awalnya rumah mess itu bukanlah
rumah mess milik perusahaanku bekerja. Dulu rumah itu dimiliki oelh perusahaan
lain yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal karyawan. Hingga akhirnya
perusahaan pemiliki rumah itu bangkrut dan rumah mess itu dibeli oleh
perusahaan tempatku bekerja sekarang.
Ketika rumah mess itu masih
dimiliki oleh perusahaan lama, ada sekelompok pagawai yang tinggal dirumah itu.
Seperti rumah mess pada umumnya, keadaan selalu ramai dengan canda tawa,
obrolan dan lain-lain. Tetapi keriuhan itu tidak berlangsung lama.
Suatu hari, sekelompok pegawai
itu melakukan perjalanan wisata ke suatu pantai di daerah selatan Jogjakarta.
Singkat cerita bus yang di naikin oleh pegawai-pegawai itu mengalami kecelakaan
yang mengakibatkan semua penumpangnya tewas di lokasi kejadian. Sejak saat itu
rumah mess itu menjadi kosong karena semua penghuninya tewas. Rumah itu
mendadak menjadi angker dan entah hubungannya darimana, perusahaan tempat
mereka bekerja juga tidak lama setelah kejadian itu mendadak bangkrut dan tutup.
Sehinggl rumah mess itu akhirnya di jual dan dibeli oleh perusahaan tempatku
bekerja sekarang.
Pada awalnya perusahaanku juga
tidak mengerti kalau ada cerita seram tentang rumah itu. Ketika itu
perusahaanku hanya berpikir jika membeli rumah mess itu bisa memfasilitasi
karyawan-karyawan yang belum memiliki tempat tinggal apalgi rumah itu dijual
dengan harga yang sangat murah. Awal dibeli oleh perusahaanku, Adi menceritakan
jika rumah mess tersebut sempat ramai oleh karyawan yang bekerja diperusahaanku
yang tinggal disana, bahkan Adi pun sempat merasakan tinggal dirumah itu
beberapa lama.
Rumah yang pada awalnya ramai
oleh karyawan yang tinggal disana, pelan-pelan ditinggalkan oleh penghuninya
satu persatu. Dengan satu alasan yang sama, karena banyak dari mereka yang
diganggu oleh makhluk-makhluk yang tak kasat mata manusia. Dan diceritakan Adi,
gangguan-gangguan yang terjadi dirumah itu bukan hanya gangguan-gangguan yang
biasa. Tetapi sudah bisa dibilang jika gangguan-gangguan yang terjadi adalah
gangguan yang sangat mengintimidasi dan menyerang penghuninya. Seperti
memindahkan barang, penampakan-penampakan yang sangat jelas terlihat, termasuk
sentuhan di punggungku saat aku mandi.
Setelah ak mendengar semua cerita
itu dari Adi, entah kenapa bukan rasa takut yang akurasakan. Tapi lebih rasa
kasihan yang aku rasakan. Aku membayangkan bagaimana perasaan teman dan
keluarga semua korban setelah mereka semua ditinggalkan dalam suatu kejadian
yang sangat tragis. Apalagi terakhir yang aku tahu, setelah rumah itu ditinggalkan,
tidak pernah ada acara kirim doa atau apapun dirumah itu sekedar mengenang dan
mendoakan orang-orang yang pernah tinggal disana. Rumah itu begitu saja
ditinggalkan dan tidak pernah ditempati lagi.
Seminggu setelah aku mendengar
cerita dari Adi, dengan inisiatif sendiri aku mengadakan pengajian
kecil-kecilan dirumah itu. Dengan bantuan pak Koko, aku mengundang beberapa
warga dan tokoh agama sekitar. Sekedar untuk berkirim doa dan mendoakan.
Ternyata pak Koko pun memiliki cerita yang hampir sama denganku. Dia sering
diganggu oleh makhluk-makhluk yang ada disana ketika sedang melaksanakan
tugasnya. Karena itu pak Koko tidak pernah meninggali atau menginap di rumah
itu. Kalaupun dia bersih-bersih, hanya halaman luar rumah saja yang dibersihkan
itupun dia selalu melakukannya pada saat siang hari. Bahkan jika harus dengan
terpaksa harus membersihkan bagian belakang rumah, dia selalu mengajak teman
hanya supaya dia tidak merasa ketakutan.
Setelah pengajian itu,
gangguan-gangguan masih ada. Tetapi kebanyakan gangguan lebih kepada dalam
mimpiku. Sering aku bermimpi, banyak orang-orang dengan tampilan rapi, bersih,
mengucapkan terimakasih padaku. Dan itu terjadi selama seminggu penuh. Aku
sendiri tidak tahu siapa mereka dan mengapa mereka mengucapkan terimakasih
padaku. Singkat cerita aku menceritakan mimpiku itu kepada pak Koko. Aku
menggambarkan panampilan dan wajah mereka ke pak Koko.
Pak Koko mengajakku masuk kedalam
gudang, yang letaknya berada di sebelah kanan rumah tetapi berada di belakang.
Di dalam gudang pak Koko mengambil sebuah foto. Foto dalam bingkai yang sudah
berdebu. Menunjukkan kalau foto itu sudah lama berada disitu. Foto itu adalah
foto sekumpulan pegawai yang dulu menempati rumah ini. Dalam foto itu Nampak
jelas keriangan dan keakraban mereka. Dan pak Koko menjelaskan, orang-orang
yang ada didalam foto itu adalah orang-orang yang dulu menempati rumah ini yang
akhirnya tewas dalam suatu kecelakaan.
Dari situ aku paham, orang-orang
yang datang dalam mimpiku adalah orang-orang yang sebelumnya pernah tingal
dirumah ini dan harus pergi karena terpaksa. Sekilas aku teringat akan mimpiku,
Nampak sekali mereka merindukan doa-doa yang dikirim dengan ikhlas dari
orang-orang yang mengenal mereka.
Sejak adanya pengajian itu, aku
merasa lebih tenang berada dirumah. Bahkan aku selalu ingin cepat-cepat pulang
meski waktu belum menunjukkan jam pulang kantor. Suasana dirumah menjadi jauh
lebih menyenangkan. Tidak ada rasa takut yang aku rasakan. Dan semakin lama aku
tinggal disana, aku semakin merasa kalau aku tinggal dirumahku sendiri, bukan
di mess kantor yang horror. Bahkan jika aku sering lupa menaruh barang,
seringkali tiba-tiba barangyang aku cari sudah ada di depan mataku. Seperti ada
yang membantuku mencarinya.
Penampakan dan gangguan kadang
masih aku rasakan. Tetapi semuanya aku sikapi dengan positif. Aku lebih menilai
jika penunggu-penunggu rumah ini hanya merasa rindu dengan “rumahnya”.
Komentar
Posting Komentar