Mengais Asa Dalam Dekapan Pangrango (Operasi SAR Gunung Hutan Pertama)
Ini merupakan sebuah cerita klasik mengenai kisah dua pemuda Indonesia yang sangat mencintai alam. Arief "Mboen" Koesnanto (Mahasiswa FK Yarsi, Jakarta) dan Willy Boentaran (Mahasiswa FK UI, Jakarta) yang hilang di Gunung Pangrango, Jawa Barat pada September 1970. Satu tahun selepas duka meninggalnya Soe Hok Gie dipuncak Semeru, Jawa timur. Inilah sedikit cerita, saya dapatkan dari sebuah situs yang hanya satu-satunya yang secara lengkap ditemukan.
Pertemuan Terakhir
Hari itu, Rabu malam Kamis tanggal 9 September 1970, aku (The Kok Tjhiang alias Tony J.Kristanto alias Kay Pang) dan Go Hong Sing alias Harry Susanto (HS), sedang berada di rumah kos kami, Jl. Makaliwe 1 no.17. Kami berdua sudah bersama-sama berburu tempat untuk kuliah sejak dari Semarang ke Yogya terus ke Jakarta. HS akhirnya masuk FK Trisakti dan aku sendiri masuk FT elektro Trisakti.
Sejak awal tahun kami berdua mengontrak kamar depan sebuah rumah yang sebenarnya adalah ruang tamu dari keluarga Soeroyo (pegawai Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang berkantor di Airport Kemayoran). Ruang tamu itu disulap menjadi sebuah kamar kos untuk menutup kebutuhan keempat anaknya yang sudah mulai remaja. Jadi pintu depan dan jendela kamar kita itu langsung menghadap ke halaman depan dan sekitar 8 meter dari pinggir jalan.
Sekitar jam 19.00, kami berdua barusan selesai menyantap makan malam dari panci rantangan langganan kami. Seperti biasanya, sehabis makan bah Hong Sing sudah langsung menggelosor kembali di ranjang kayunya yang menempel ditembok sebelah dalam. Sambil disinari lampu neon empat puluh watt, ia sudah sibuk kembali memegang disatu tangannya diktat hapalannya yang dilipat dua dan tangan lainnya dilipat dibelakang kepalanya. Rasanya selama beberapa bulan diktat-diktat itu tidak pernah habis-habis dihapal isinya. Ini adalah resiko yang harus dijalani jika berkuliah di Fakultas Kedokteran. Kaus singlet dan celana pendek adalah seragam HS kalau dirumah. Padahal kalau keluar rumah ia selalu bersih, rapi. Aku selalu ingat akan prinsipnya untuk selalu keluar dalam keadaan rapi, agar bisa menghargai diri sendiri. No sandal!! Apalagi sandal jepit seperti anak-anak jaman sekarang, tabu untuk dia.
Aku sendiri sedang duduk diatas sadel sepeda motor Honda S90 warna merah maroon milik HS yang diparkir didalam kamar, nempel ditembok antara pintu depan dan pintu ke belakang. Ketika secercah sorotan lampu menembus masuk kedalam kamar disertai dengan bunyi motor DKW warna biru masuk ke halaman depan kami. Si Mboen (demikian kami biasa memanggilnya) muncul dengan setelan khasnya, celana dan jaket blue jeans serta T-shirt putih. Jaman itu tidak ada keharusan memakai helm. Dia menyerobot masuk ke kamar sambil mengumbar senyumnya yang khas, lalu duduk diatas ranjangku yang menempel ke jendela depan. Kalau jaman di Semarang dulu, dia suka meneriakkan singkatan namaku berkali-kali dari luar rumah untuk memanggilku keluar, "Te..ee, te ka te..ee!!"
Setelah duduk, mulailah ia bercerita rencanaya untuk pergi kepuncak Pangrango lalu turun dari Sukabumi dengan mengikuti peta militer yang baru saja didapatkannya. Menurut peta itu ada jalan dari puncak Pangrango ke Cisaat, Sukabumi. Aku dibujuk-bujuknya untuk ikut bersama dia dan Willy Buntaran. Mboen waktu itu sudah berkuliah di tingkat satu FK Yarsi di Cempaka Putih sedangkan Willy adalah mahasiswa tingkat tiga FK UI.
Aku terpaksa menolak ajakannya walaupun dia membujuk terus, karena aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian kimia pada hari Kamis dua minggu lagi. Akhirnya dia pulang dengan sedikit kecewa. Itulah terakhir kali aku bertemu Arief "Mboen" Koesnanto dalam keadaan hidup.
BAB 2
Puncak Pangrango
Kira-kira sebulan sebelum pertemuan di 9 September itu, aku ikut bersama Mboen naik ke Gunung Pangrango. Setelah berkali-kali dibujuknya, akhirnya aku mau juga dibujuknya untuk pergi dengannya. Tentu sambil melanggar pesan Mami ku agar jangan ikut-ikutan naik ke gunung. Peristiwa Soe Hok Gie setahun sebelumnya membuat Mami ku tidak rela melepaskan anaknya mengikuti olahraga atau hobby seperti itu. Waktu itu Mboen sudah berkali-kali naik ke gunung. Aku mengajak teman kuliahku, Arianto Widjaja, anak dari Solo.
Kami bertiga berangkat naik bis kearah Bandung dari Terminal Lapangan Banteng pada suatu Jumat siang, dan pada sore harinya berhenti di Cimacan, pertigaan Cibodas. Dari sini kami bertiga berjalan naik menuju ke Taman Kebun Raya Cibodas. kami sempat ngopi dan melepas lelah dirumah penduduk sampai menjelang maghrib. Ketika memasuki Taman Kebun Raya Cibodas hari sudah malam dan kami mulai melakukan pandakian dengan menggendong ransel dipunggung, lampu senter dan lampu kapal ditangan.
Mboen berjalan didepan untuk membuka jalan, dan seringkali harus berhenti karena menunggu kami berdua yang tertinggal. Pendakian ini sungguh melelahkan dan mematahkan semangat bagi seorang pemula seperti aku dan Arianto. Ingin rasanya kami duduk berhenti, menyudahi pendakian ini dan pulang saja. Tapi Mboen terus membesarkan semangat kami dengan mengatakan bahwa sebentar lagi sudah sampai, kita sudah dekat, sehabis tikungan ini kita bisa istirahat.
Menjelang air terjun, kami sempat berhenti sebentar untuk beristirahat dan mencoba untuk menyalakan api. Namun angin dingin yang bertiup kencang dan hawa dingin yang merasuk sampai ke tulang membuat jari-jari kami kaku sampai tidak mampu menyalakan korek api.
Akhirnya, setelah empat jam mendaki, kami berhasil mencapai tempt persinggahan Kandang Badak menjelang tengah malam. Didalam cottage yang terbuat dari balok-balok yang disusun, sudah banyak pendaki lain yang beristirahat, tidur berjejer didepan api pendiangan untuk mengusir hawa dingin. Disitu kami berkenalan dengan Willy Buntaran yang masih terjaga.
Willy Buntaran yang kukenal untuk pertama dan terakhir kalinya ini adalah mahasiswa tingkat tiga FK-UI yang berprestasi tinggi. Orangnya pendiam dan sangat pintar. Namun ia tidak suka menunjukkan kepandaiannya sehingga setiap kali ujian dia sengaja membuat kesalahan atau tidak mengerjakan seluruh soalnya agar nilainya tidak terlalu mencolok tinggi. Zaman itu, orang Cina di UI termasuk barang langka dan menjadi sosok yang disentimeni sehingga memang sudah seharusnya dia pandai-pandai membawa diri agar tidak terlalu menonjol. Dia juga termasuk dalam anggata MAPALA UI (Mahasiswa Pencinta Alam UI), yang sudah terbiasa mendaki gunung sendirian.
Pagi harinya aku masih sempat membuat supermi diluar bersama Willy. Kita akhirnya memutuskan untuk mendaki bersama-sama ke Pangrango. Rombongan kita sekarang menjadi empat orang. Sekitar jam 10.00 pagi kita tiba dialun-alun puncak Pangrango. Disana kita sempat berfoto-foto, bergantian karena kita tidak membawa tripod.
BAB 3
Hilang
Rabu malam, 16 September 1970, seminggu setelah Mboen meninggalkan tempat kos kami, kira-kira pada jam yang sama. Sorot lampu disertai dengan deruman scooter Vespa yang khas, masuk ke halaman depan kamar kos kami dan diparkir ditempat dimana Mboen biasa memarkir DKW nya.
Waktu itu aku sedang serius belajar ilmu kimia yang akan diuji pada hari Kamis 24 September minggu depan. Aku menengok keluar dan aku melihat wajah yang sudah ku kenal baik, koh Tony (sepupu Mboen yang sedang co-ass di FK UI), dia nampak agak terkejut ketika melihat wajahku nongol dari jendela kamar.
"Lho Tjhiangkie, kamu ndak ikut Mboen ke gunung?, tanyanya. "Ngga tuh, emang kenapa koh?, jawabku. Kelihatan wajahnya sedikit mencelos mendengar jawabanku. Lalu ia berkata pendek, "Mboen belum pulang!".
Lalu aku bercerita kalau Mboen sempat datang ketempat kos ku seminggu yang lalu dan mengajakku untuk ikut naik gunung bersamanya dan Willy. Mereka mau mencoba turun dari Pangrango melalui Sukabumi berdasarkan petunjuk peta militer yang baru saja didapatkannya. Dia membujuk-bujuk agar aku mau ikut dengannya, tapi aku menolak karena aku sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian kimia.
Belakangan baru aku tahu bahwa setelah gagal mengajakku, Mboen berhasil mengajak enam orang temannya dari Yarsi untuk ikut bersamanya. Namun, karena mereka berenam belum berpengalaman, maka ke enamnya disuruh untuk turun sendiri melalui rute jalan yang ditempuh ketika mendaki, yaitu melalui Kebun Raya Cibodas. Rute yang dianggap jalan raya bagi para pendaki berpengalaman. Mboen dan Willy memisahkan diri untuk meneruskan petualangannya, mengikuti peta militer tua yang dipercayainya.
Setelah mendengar penjelasanku, koh Tony pulang untuk kemudian meminta bantuan kepada teman-teman Mapala UI untuk mencari keberadaan Mboen.
Berita hilangnya Mboen dan Willy segera tersiar melalui radio ke segala penjuru. Waktu itu Mboen sudah cukup dikenal diudara, sehingga dalam waktu singkat mobilisasi tim pencari dapat segera dilakukan.
BAB 4
Search And Rescue
Hari Kamis, 17 September 1970. Mboen dan Willy dinyatakan hilang digunung. Sorenya para pendaki yang tergabung didalam berbagai organisasi pecinta alam mulai berhamburan ke gunung untuk mencari mereka berdua. Tokoh-tokoh pendaki seperti Herman Lantang, Aristides Katoppo dll, ikut terjun memimpin mereka. Mereka sebagian menyisir dari puncak Pangrango menuju kearah Gunung Putri dan Gunung Masigit yang terletak diantara Pangrango dan Sukabumi. Rombongan yang lebih bersar menyisir dari arah Cisaat, Sukabumi. Pos komando (Posko) didirikan disatu bungalow di Cisaat.
Ketenaran Mboen diudara membuat Pak Hoegeng, Kapolri, yang ketika itu juga ketua dari ORARI, mengarahkan satu kompi Mobrig (Mobil Brigade, sekarang Brimob), untuk ikut dalam operasi SAR. Selain itu juga Detasemen Patroli Jalan Raya yang bermarkas di Jl. Gatot Subroto, Pengadegan dikerahkan untuk membantu transportasi dan komunikasi.
Setelah koh Tony pulang, aku pun ikut menjadi gundah. Sesuatu telah terjadi diluar rencananya Mboen. Maka aku berunding dengan Hong Sing (HS). Kalau tidak salah kami kemudian muncul ide untuk menanyakan kondisi mereka berdua ke paranormal. Dari ide itu muncul nama Pak Handoyo yang ada di Krukut, yang diperkenalkan oleh saudara dari HS. Kami berdua pergi menghadap beliau hari Sabtu. Beliau mengatakan bahwa Willy kelihatannya sudah tidak ada, Mboen masih ada karena dia shio macan, tapi dia sekarang ada didalam cengkeraman penunggu Gunung Masigit, karena berbuat kurang sopan. Dia kencing sembarangan tanpa kulonuwun.
Berita ini kami sampaikan ke Posko untuk menyemangati tim SAR. Mami nya Mboen, Tante Wie Tiong, sudah datang dari Semarang dan kemudian naik ke Posko Cisaat agar dapat mengikuti perkembangan terakhir dari upaya SAR ini, sekalian membantu untuk mengurus dapur umum bagi para anggota tim. Masyarakat disekitar daerah itu pun mulai dilibatkan dalam operasi ini.
Rumah Engku Tjwan Poo di Gg. Sadang dijadikan Posko keluarga. Hari Senin siang kam menerima kabar bahwa ransel yang berisi perlengkapannya Mboen ditemukan dipinggi jurang yang cukup curam, termasuk arloji otomatisnya yang sudah mati. Aku tidak yakin apakah arloji itu ada tanggalannya. Namun dengan memperkirakan bahwa arloji otomatis itu akan mati sendiri dalam waktu sekitar 48 jam kalau tidak digerak-gerakkan, maka ada kemungkinan bahwa ransel tersebut sudah tergeletak disitu sejak hari Kamis minggu sebelumnya.
Maka pencarian pun mulai diarahkan disekitar wilayah tersebut. Jejak-jejak yang ditinggalkan Mboen mulai dilacak dan ternyata mengarah menuruni tebing dengan kecuraman lebih dari 60 derajat. Namun pencarian sampai hari Selasa masih belum membuahkan hasil.
Hari Rabu kami berdua, HS dan aku, ditambah Freddy, pergi lagi kerumah Om Handoyo. Sesuai dengan ceritanya Freddy, oleh Om Handoyo kami disuruh mencari dan minta bantuan dari "orangtua" yang menjadi juru kunci (kuncen) dari Gunung Masigit itu. Setelah kembali ke Gg. Sadang, kami mendapatkan berita bahwa siang tadi ditemukan sosok oleh seorang pemburu. Satu regu tim penyelamat dari Wanadri telah ada disana, tapi mereka tidak dapat mengenali korban karena mereka tidak kenal baik Mboen maupun Willy. Maka diusulkan untuk dapat mengirim seseorang yang kenal dengan mereka berdua untuk mengidentifikasi mayat tersebut. Tentu saja pilihannya hanya aku.
Malam itu juga aku harus berangkata kesana dan ikut dengan tim evakuasi yang akan menjemput mayat tadi. Kami meminta bantuan PJR untuk mengantarkan kami menjalankan misi itu.Sekitar jam 22.00, kami bertiga: Tjiek Swan, Freddy dan aku, bersama dua anggota PJR berangkat naik Volvo 144 warna putih yang saat itu menjadi mobil patroli Polisi yang populer. Kami bertiga duduk dibangku belakang, sedangkan kedua anggota didepan. Baru kali ini kami bertiga duduk didalam mobil PJR.
Kami menyusuri jalan Keramat, Salemba, Matraman, Jatinegara, Cawang, Celilitan dan masuk ke jalan Raya Jakarta - Cibinong - Bogor. Waktu itu jalan tol Jagorawi belum ada. Setelah melewati Nanggewer, menjelang stasiun pompa bensin Cibuluh, mobil PJR ini mogok. Ternyata kehabisan bensin. Jadilah kita bertiga turun dari mobil dan mendorong mobil itu menyusuri jalan yang agak menanjak sekitar 500 meter. Si sopir dan Tjiek Swan tetap berada didalam mobil. Jaman itu, jalan itu sudah sepi sekali. Beruntungnya, pompa bensi itu buka, sehingga kita bisa mengisi bensin dan melanjutkan perjalanan.
Setelah melewati kota Bogor, kami masuk wilayah Sukabumi, Diwilayah kebun karet desa Parungkuda, radio dimobil PJR itu tidak dapat menangkap sinyal. Jadi kita berjalan dalam keadaan radio silence. Akhirnya kami tiba di Cisaat sekitar tengah malam. Mami nya Mboen ternyata mansih terbangun dan kami masih sempat disuguhi teh panas.
BAB 5
Evakuasi
Setelah semapt tidur sebentar, paginya aku bersama dengan rombongan tim penyelamat berangkat untuk melakukan evakuasi. Kami mendaki Gunung Masigit seekitar dua jam tanpa henti, berjalan di punggun gunung dengan tebing yang sangat curam disebelah kanan kami. Sampai disuatu tebing yang tidak terlalu curam dan agak dekat dengan dasar lembah, kami mulai menuruninya dengan cara bergelayutan seperti Tarzan dipepohonan, akar-akar dan rotan yang memenuhi tebing tersebut.
Setelah proses penurunan yang berat ini, kami sampai disatu sungai kecil yang berair bening dan dingin sekali, aku perkirakan suhunya tidak sampai 10 derajat celcius. Sungai ini cukup dangkal, kedalamannya tidak lebih dari satu meter dengan lebar yang bervariasi, antara satu sampai tiga meter. Kami berjalan didalam sungai ini menuju ke arah hulu.Tanganku terasa membeku dan kulitnya keriput. Arlojiku sudah tidak dapat dibaca lagi karena kaca nya yang sudah berembun.
Setelah berjalan susah payah, sambil menyibakkan air sungai yang dingin itu, sekitat hampir satu jam, kami tiba disuatu kolam dengan air terjun yang tingginya sekitar tiga puluh meter yang mencurahkan air dari situ. Kami bertemu dengan regu penyelamat yang pertama kali mencapai lokasi tersebut kemarin dan menemukan jenazah berjaket kuning yang sudah dibaringkan.
Akupun mendekati dan yang sudah memutih dan ada luka di samping kiri kepalanya yang sedikit terbuka, ditambah sudah adanya belatung segar yang menggeliat di dalam dan di sekitar lukanya. Tak salah lagi ini adalah jenazah Willy, teman yang kukenal pertama dan terakhir kalinya di puncak Pangrango beberapa minggu sebelumnya. Untuk memastikannya, aku lalu menyibakkan baju dan celananya. Mboen memiliki bekas operasi usus buntu yang lumayan besar, panjangnya sekitar tujuh sentimeter. Tapi diperut jenazah itu aku tidak menemukannya. Maka makin yakinlah aku kalau ini adalah jenazah Willy. Harapanku bangkit kembali, bahwa ada kemungkinan Mboen masih selamat.
Sementara jenazah sedang dibungkus plastik dan dipersiapkan untuk diangkat dengan tandu yang terdiri dari dua batang bambu dan tali-tali, aku memperhatikan ke sekelilingnya. Ditebing disisi air terjun itu, kira-kira berjarak tiga meter dari sisi air terjun, aku melihat bekas tanah dan lumut yang terkelupas membentuk alur yang tegak lurus dari atas ke bawah. Aku berkesimpulan bahwa itu adalah bekas barutan dari tubuh Willy yang jatuh dari atas, menyusuri tebing itu dan akhirnya sampai ke tanah. Ada kemungkinan kepalanya sudah terbentur sebelum tubuhnya sampai ke tanah.
Dibagian atas tebing itu tidak ditemukan tali atau apapun yang menunjukkan usaha untuk turun dengan bantuan tali. Tampaknya mereka sudah tidak memiliki tali lagi karena belakangan ditemukan tali yang tergantung diujung air terjun yang posisinya lebih atas dari air terjun dimana Willy ditemukan. Tampaknya mereka berdua sudah merasa tersesat sehingga akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti alur sungai yang ada di peta itu, yang memang alur nya akan melewati Sukabumi.
Namun mereka tidak memperkirakan bahwa dialur sungai itu ada jeram dan air terjun yang harus dilewati. Mereka berhasil melewati air terjun yang pertama dan kedua dengan selamat. Pada air terjun yang ketiga, seperti biasanya Willy sebagai pendaki yang lebih senior mengambil inisiatif untuk melakukan penurunan yang pertama dengan mengandalkan rumput dan semak yang menutupi tebing itu. Tali sudah tidak dimilikinya lagi karena sudah dipakai untuk menuruni air terjun yang sebelumnya jadi otomatis tali tersebut harus ditinggal. Sayangnya dia tidak berhasil turun melewati air terjun ketiga dengan cara seperti seorang pemanjat tebing. Apalagi jalur penurunannya mengambil posisi disamping air terjun yang cukup licin, berlumut dan tidak memiliki akar-akar rerumputan yang dalam dan kuat. Akhirnya ia terjatuh dari ketinggian sekitar dua puluh meter.
Mbeon tentu saja terkejut dan tidak membiarkan temannya sendirian tergeletak dibawah sana. Ada kemungkinan bahwa Willy masih hidup sesudah jatuh itu. Sepertinya Mboen tidak mau mengambil resiko menuruni jalan yang sama dengan Willy. Ia lalu berjalan mengitari punggungan gunung lalu berhenti dimana tempat ransel dan jaketnya kemudian ditemukan. Sepertinya ia tergesa-gesa dan tak mau disulitkan dengan barang bawaannya. Maka ditinggalkannya ransel dan jaket itu disana. Dari sini dia menuruni tebing, masuk ke sungai dan berjalan ke hulu, seperti kita menuju ke tempat Willy berada.
Sepertinya mereka sempat berkomunikasi dan Willy dipindahkan ke tepi kolam dan di dudukkan bersandar pada batu yang ada dipinggir kolam tadi. Dalam posisi duduk, dengan kaki terendam di air hampir sebatas lutut. Seperti itulah Willy ketika ditemukan. Tubuhnya yang tidak lagi terendam air dingin dan terkena panas matahari membuatnya cepat mengalami proses pembusukan. Aku tidak tahu apakah jenazah Willy kemudian di otopsi di rumah sakit untuk menentukan waktu dan penyebab kematiannya. Namun, aku memperkirakan Willy sudah meninggal pada suatu siang hari kurang lebih seminggu yang lalu.
Jadi, apa yang di katakan oleh Pak Handoyo pada hari Sabtu sebelumnya bahwa Willy sudah tidak ada, mungkin sekali benar. Sesudah jenazah Willy selesai dibungkus dan di ikat, makan perjalanan berat untuk kembali ke Posko dimulai. Terutama ketika kami semua harus memanjat tebing, kembali seperti Tarzan, dengan membawa jenazah. Syukurlah tebing itu bisa dilalui. Dari atas tebing sini kami baru bisa mengabarkan ke Posko tentang hasil indentifikasi ku. Selama dilembah tadi, walkie talkie tidak berfungsi. Akhirnya kami semua tiba dengan selamat menjelang maghrib di Posko. Tentu saja kami disambut dengan isak tangis dari teman-teman dan keluarga Willy yang sudah menunggu disana. Malam itu juga jenazah Willy dibawa dengan ambulance ke Jakarta.
Disaat eman-temanku sedang bergulat mengerjakan ujian ilmu kimia, aku sendiri sedang berjalan gontai dengan sedih dan gundah menuruni jalan setapak yang terjal dengan membawa jenazah Willy. Namun, aku masih menaruh harapan bahwa Mboen amsih hidup karena kita tidak menemukan tanda-tanda kematiannya.
BAB 6
Percayakah?
Setelah pulagn ke Jakarta, aku ikut sibuk dengan urusan pemakaman Willy serta memberikan berbagai keterangan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keluarga dan teman-temannya. Jenazah Willy dibawa ke RSCM lalu disemayamkan di rumahnya di Jl. Cikini Raya, dekat pasar Cikini. Pada hari Minggu, 27 September 1970, enam belas hari setelah keberangkatannya sendiri dalam keadaan hidup, Willy diberangkatkan untuk dimakamkan (dikremasi?). Aku sendiri sudah tidak ingat lagi apakah aku ikut mengantarkan ke tempat pemakaman atau krematorium.
Jenazahnya sempat dibawa mampir ke UI untuk mendapatkan penghormatan terakhir dari Civitas Academica UI. Waktu itu peristiwa ini dianggap cukup menghebohkan dan dramatis setelah peristiwa meninggalnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru, setahun sebelumnya. Kalau semua terjadi sekarang, mungkin perhatian yang diberikan tidak akan sebesar itu karena kecelakaan digunung hampir setiap tahun terjadi.
Sementara itu pencarian terhadap Mboen masih terus dilakukan. Aku naik lagi ke Posko Cisaat, namun aku tidak ikut bersama tim pencari yang lainnya. Aku hanya berjaga di Posko sambil berusaha menguatkan keluarga Mboen yang ada disana. Waktu itu sudah diputuskan bahwa batas waktu teraakhir operasi pencarian ini adalah hari Rabu, 30 September 1970. Waktu operasi pencarian yang sudah mencapai dua minggu dianggap sudah mencukupi. Apabila tidak ditemukan, makan Mboen akan dinyatakan hilang. Apabila masih ada yang mau mencarinya, dipersilahkan, tapi tentu saja upaya sendiri.
30 September 1970, pagi hari. Satu tim yang sudah berkemah di pinggir kolam air terjun yang kelima sudah berkemas untuk melakukan pencarian di hari terakhir. Karena sudah demikian santernya kabara tentang adanya kekuatan mistis di wilayah itu, maka si pemimpin tim mengajak seluruh anggotanya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum mereka berangkat dari situ. Mereka kemudian berdiri berjejer menghadap kearah kolam dan si pemimpin membelakangi kolam. Di kala mereka berdoa, sesuatu muncul dari dalam kolam. Hal itu dilihat oleh salah satu anggota tim, sehingga mereka semua menghentikan doa nya. Namun, ketika semua menengok kearah kolam, disana tidak ditemukan apa-apa. Dan mereka melanjutkan doa nya, ketika itulah sesosok tubuh mengambang ke permukaan kolam.
Pemimpin itu memutuskan agar sebagian anggotanya tetap berdoa dan salah seorang diutus untuk berenang kearah sosok tersebut sambil membawa tali. Setelah sosok tersebut berhasil diraih, maka ia ditarik ke tepi ramai-ramai. Saat itu mereka menemukan jenazah dalam keadaan masih utuh hanya dengan sedikit luka di dahinya. Jenazah itu dipastikan adalah Mboen karena mereka sekarang sudah dibekali ciri-cirinya. Antara lain, bekas luka operasi usus buntu diperut kanannya.
Sungguh mengharukan dan menakjubkan bahwa di hari terakhir pencarian, jenazah Mboen bisa ditemukan bahkan dengan cara yang tidak di duga-duga. Padahal selama beberapa hari mereka sudah berkemah ditepi kolam itu. Mereka mandi, minum dan masak dengan menggunakan air dari kolam itu juga. Kemungkinan besar Mboen merasa panik dan bingung setelah menemukan Willy meninggal dunia. Maka setelah mendudukkan Willy, bersandar di batu dengan kaki-kaki nya terendam di kolam air terjun yang ketiga, ia melanjutkan perjalanan menyusuri sungai kecil itu. Rupanya ia masih berhasil melewati air terjun yang keempat. Namun naas setiba di air terjun yang kelima. Dimana ia terjatuh, terbentur kepalanya dan tewas sebelum tenggelam di air yang dingin itu.Ada kemungkinan bahwa mayatnya kemudian tersangkut pada batu di dasar kolam dan diawetkan secara alami oleh air yang dingin itu. Dibuktikan dengan mayatnya yang masih utuh dan tidak ditemukan banyak air didalam paru-parunya.
Belakangan diketahui sungai yang mengalir kearah Sukabumi tersebut memiliki tujuh air terjun. Willy hanya berhasil melewati tiga dan Mboen berhasil melewati lima. Masih ada dua air terjun lagi yang harus ditaklukkan sebelum mereka bisa mencapai kota Sukabumi.
Ironisnya jalan setapak yang ditunjukkan oleh peta militer itu memang ada. Namun karena peta itu tua dan jalan setapak itu tidak pernah lagi dilewati orang, maka sampai pada suatu titik jalan tersebut ternyata sudah ditutupi oleh semak belukar. Padahal semak belukar itu tebalnya hanya sekitar tiga meter saja. Jika saja Willy dan Mboen memutuskan untuk menerabas semak belukar itu, mereka akan menemukan kembali sambungan jalan yang ada di peta tersebut. Tapi sepertinya mereka mengambil jalur lain, yaitu mengikuti aliran sungai. Dan, begitulah takdir mengarahkan mereka berdua untuk perlaya (mati) di gunung itu.
The End
Komentar
Posting Komentar