Melacak Jejak Lintasan Gila Gunung Pangrango 1984 (Part 2)
Hengky sudah ditemukan, tetapi sayangnya dalam keadaan meninggal dunia. Upaya evakuasi hengky belum juga berhasil karena terhalang oleh cuaca buruk disekitar Gunung Pangrango.Apakah jenazah Hengky akan berhasil dievakuasi? Dan apakah Robby juga akan segera ditemukan, baik hidup atau mati? Atau malah Robby hilang, lenyap ditelan bumi? Ceritanya akan berlanjut di part ini, masih menurut Norman Edwin.
Kini diputuskan agar jenazah Hengky dibawa saja lewat darat. Saya mengusulkan agar evakuasi itu dilakukan oleh penduduk setempat. Pertimbangannya penduduk setempat jauh lebih kuat dan sudah terbiasa turun dan naik gunung.Lagipula tenaga-tenaga yang ada diatas masih diperlukan untuk mencari Robby. Sebanyak 14 orang penduduk setempat diberangkatkan malam itu juga. Beberapa diantara mereka memang sudah berpengalaman untuk menurunkan pendaki yang tewas di Gunung Gede.
Pukul 22.30 regu evakuasi mulai menurunkan almarhum Hengky. Saya setengah tidak sadar karena menahan kantuk, dan ketika pukul 04.00 jenazah almarhum Hengky tiba di Cibodas. Suara sirine ambulan segera memecah kesunyian subuh itu. Kegaduhan membangunkan orang-orang disekitar. Kemudian bermunculan "pahlawan-pahlawan" disekitar ambulan. Mereka lalu membawa jenazah ke Puskesmas Cimacan untuk dibersihkan.
Beringin di Puncak Gunung
Operasi pencarian kembali dilanjutkan dengan semangat tinggi. Banyak masalah yang memusingkan. Pencarian dengan informasi paranormal misalnya, kadang-kadang membuat darah saya melambung tinggi. Bagaimana mungkin pohon beringin dan bambu kuning bisa hidup dipuncak Pangrango? Keributan kecil sempat pula meledak ketika terpergoki suatu koordinasi tersendiri tanpa sepengetahuan kami.
Hari keempat operasi pencarian, jejak-jejak Robby mulai ditemukan. Satu regu yang dipimpin oleh Ramono dari Mapala UI menemukan jejak-jejak yang menurun. "Jejaknya ngga begitu jelas. Tapi gua yakin, ini jejak ngga lebih dari dua orang", tutut Adi Seno. Pengasuh Mutiara Senja dan anggota Mapala UI, yang ikut didalam regu itu lewat handy talkie.
Jejak itu ditemukan disebelah kiri jalan setapak Pangrango, Gunung Masigit dan Situ Gunung. Jadi persis dari arah suara minta tolong yang didengar oleh ketujuh mahasiswa yang selamat itu. Jejak itu terus menurun ke lembah sempit dibawah. Ketika di satu titik jejak itu menghilang, regu pelacak langsung menyusuri sebuah kali kecil dan menemukan satu kotak Teh Sosro dan tiga buah sedotannya. Dibagian hilir ditemukan lagi satu sedotan.
Menurut keterangan, rombongan mahasiswa yang mendaki gunung itu memang membawa sejumlah besar Teh Kotak Sosro, semua anggota mendapatkan bagian. Jejakpun terus ditelusuri, karena hari sudah hampir malam, seluruh anggota regu pelacak kembali ke camp dipuncak Gunung Pangrango.
Besoknya pelacakan ala Winetou (salah satu suku Indian) dilanjutkan dengan perasaan yang berdebar-debar. Jejak masih berlanjut dan mengikuti kali kecil. Pola jejak tetap sama seperti kemarin, yaitu menyusuri kali. "Kalau kali menurun curam jejak tampak menghindar dan melingkarinya lalu kembali lagi ke kali tersebut", lapor Adi Seno, penemu jejak itu kemarin.
Jejak terus dilacak hingga dua hari kemudian. Masih belum mendapatkan hasil yang positif, dan tanpa kenal lelah regu pelacak terus menelusuri jejak-jejak itu. Dan kembali ditemukan bekas-bekas manusia, yaitu sebaran batang-batang korek api. Sepertinya ada orang yang berusaha menyalakan korek api. Dan tidak jauh dari situ ditemukan sebatang rokok "Dji Sam Soe" yang masih utuh. Teman-teman yang selamat memberitahukan bahwa memang Hengky membawa rokok "Dji Sam Soe". Kemungkinan Robby memperoleh pula rokok itu dari Hengky. Robby sendiri, menurut pengakuan keluarganya, memang seorang perokok.
Pelacakan pun dilanjutkan. Jejak kembali ditemukan tidak jauh dari bivak regu pelacak semalam. Jejak itu kembali mengikuti kali kecil hingga akhirnya tiba disebuah air terjun yang diperkirakan tingginya adalah 40 meter. Jejak terlihat mengarah keatas lagi, menjauhi air terjun itu. Dan ketika diikuti ternyata jejak itu kembali ketempat ditemukannya sebaran batang korek api dan juga rokok.
Hari sudah sore, pelacakan pun dihentikan. Sebagian anggota pelacak terpaksa kembali ke camp, lalu turun. Mereka sudah seminggu berada diatas, kini mereka harus kembali kuliah. Saya juga memutuskan untuk mengakhiri tugas sebagai Koordinator Misi SAR. Pekerjaan dikantor yang sudah seminggu saya tinggalkan, mungkin masih bisa ditanggulangi oleh rekan kerja yang lain. Tetapi meninggalkan istri sendirian menanti saat-saat kelahiran anak pertama, menjadi beban pikiran yang terus mengganggu selama operasi SAR berlangsung.
Koordinasi tahap pertama memang berakhir hari itu. Universitas Trisakti yang menjadi pen suplai logistik, hari itu juga memutuskan untuk mengakhiri bantuannya. Anggota-anggota Orari Jakarta yang terus-menerus membantu komunikasi radio, juga harus kembali ke pekerjaannya masing-masing. Suatu koordinasi SAR memang punya batasan waktu. Masalahnya semua unsur yang mendukung koordinasi ini adalah tenaga sukarela yang telah meninggalkan pekerjaannya dan juga kuliahnya demi rasa kemanusiaan. Sangat disayangkan mengapa badan yang memang digaji untuk tugas seperti ini tidak satupun yang menampakkan batang hidungnya.
Koordinasi tahap kedua cepat menggantikan kami. Unsurnya kini terdiri dari pecinta alam dan Orari Cianjur. Edi Bagong dari Wanadri bertindak sebagai koordinator misi SAR tahap dua. Mereka melanjutkan pelacakan yang telah dilakukan oleh regu-regu dari koordinasi misi pertama. Dari Jakarta saya mendengar bahwa mereka berhasil menemukan ransel biru. Ransel itu terletak rapi bersama beberapa baju yang nampaknya sedang dijemur. Beberapa hari kemudian ditemukan lagi sebuah topi berwarna putih. Ternyata barang-barang itu adalah milik Hengky. Lalu bagaimana dengan nasib Robby? Hingga catatan ini selesai, belum ada petunjuk yang jelas.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar