Melacak Jejak Lintasan Gila Gunung Pangrango 1984 (Part 1)
Disebelumnya saya sempat bercerita tentang tragedi hilangnya Arief "Mboen" Kusnanto dan Willy Boentaran di Gunung Pangrango pada tahun 1970. Dan seorang Norman Edwin sempat menyebut jika lintasan yang di lalui oleh Mboen dan Willy saat itu adalah "Lintasan Gila". Kali ini saya akan mencoba menuliskan dan menggambarkan "segila" apa lintasan yang dilalui oleh kedua mahasiswa kedokteran itu, masih menurut Norman Edwin.
Operasi Pencarian Gunung Pangrango, Melacak Jejak Lintasan Gila (Norman Edwin, Desember 1984)
Kabar mengejutkan itu datang ketika hari masih pagi, Rio seorang teman lama menelpon saya di kantor, "Man, tenagamu dibutuhkan. Ada anak hilang di Gunung Gede", ujar Rio terburu-buru. Dan dengan lancar Rio menceritakan informasi yang diperolehnya dari kumandang radio amatir. Dua puluh empat mahasiswa perminyakan Universitas Trisakti Jakarta, mendaki Gunung Gede. Lima belas orang berhasil kembali turun tetapi sembilan orang tidak tersiar kabarnya.
Terus terang tadinya saya agak segan menanggapi berita ini, masalahnya banyak laporan mengenai kasus serupa yang cuma menyesatkan saja. Saya teringat kasus hilangnya Wawang, remaja berumur 15 tahun dari Cianjur. Puluhan orang terlibat dalam pencariannya di Gunung Gede selama kurang lebih satu bulan. Ternyata pada saat yang sama Wawang sedang bersenang-senang di Jakarta. Rupanya Wawang yang kesal karena dimarahi oleh kakaknya ketika mendaki bersama di Gunung Gede dan kemudian diam-diam dia turun dan langsung pergi ke Jakarta.
Rasa segan didukung kenyatataan bahwa mereka baru hilang satu hari, pernah dulu. Sekelompok mahasiswa tiba-tiba muncul di Cisarua setelah dinyatakan hilang selama tiga hari di Gunung Pangrango, padahal puluhan orang saat itu tengah sibuk merambah hutan untuk mencari mereka. Rasa segan itu tiba-tiba berubah menjadi kekhawatiran ketika saya tiba di Cibodas malam itu. Tujuh orang yang hilang hari itu sudah turun di Situ Gunung, dan berarti ada dua orang lagi yang belum kembali.
Menurut ketujuh mahasiswa yang selamat itu, dua teman mereka terpisah dipuncak gunung. Bekal merekapun sangat minim. Bahkan sama sekali tidak memakai baju penghangat, dan juga pelindung hujan. Padahal sekarang sedang musim hujan, sehingga udara dingin digunung bisa berkali-kali lipat. Kini jelas sudan masalahnya, rupanya mereka merencakan mendaki Gunung Gede dari Cibodas. Hingga di pos Kandang Badak seluruh anggota pendaki masih utuh, dua puluh empat orang. Sembilan orang kemudian berangkat terlebih dahulu meneruskan pendakian. Namun mereka tidak sadar bahwa mereka telah salah memilih jalan setapak dan memilih jalan pendakian ke Gunung Pangrango.
Lima belas anggota yang lain berjalan sesuai dengan rencana dan berhasil mencapai puncak Gede. Akan tetapi rencana mereka untuk turun lewat Gunung Putri dibatalkan, mereka kembali turun lewat rute yang sama ketika mereka naik. Sementara itu sembilan orang yang "terlempar" ke Gunung Pangrango tercerai berai menjadi tiga kelompok, Husin Baridwan, Handoko Soegito (Hengky) dan Robby Bentas Dirgantoro tiba lebih dulu di puncak Gunung Pangrango. Husin kemudian kembali turun untuk menyusul rekan-rekannya yang belum tiba.
Lalu Hengky dan Robby mencoba untuk menuruni satu lintasan yang mengarah ke barat daya, yaitu rute Gunung Masigit, Situ Gunung dan Cisaat. "Kalau dalam setengah jam kami tidak kembali kepuncak, berarti jalannya betul", pesan mereka kepada Husin. Rupanya mereka mengira bahwa yang didaki masihlah Gunung Gede, sehingga sesuai dengan rencana semula mereka yaitu mencari jalan rute Gunung Gede - Gunung Putri. Ketika Husin bertemu dengan rekan-rekannya yang lain dan tiba dipuncak, mereka tidak melihat lagi Hengky dan Robby. Mereka lalu memutuskan untuk menuruni satu lintasan kearah lembah Mandalawangi, disini mereka masih sempat berfoto-foto dan mengambil air diujung selatan lembah tersebut. Dan kemudian mereka naik kembali lagi kepuncak, dan mengikuti lintasan yang tadi dipilih Hengky dan juga Robby.
"Ketika selesai menuruni enam punggungan gunung, kami tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong dari sebelah kiri", ujar Husin. Mereka segera menyahuti teriakan tersebut tetapi tidak ada balasan lagi dan karena ragu-ragu akhirnya mereka memutuskan untuk terus turun dan mengabaikan teriakan minta tolong itu. Ketujuh mahasiswa itu tidak sadar bahwa mereka melewati lintasan yang jarang sekali dipakai. Lintasan disitu sangatlah buruk, jalan setapaknya sering menghilang tertutup semak. Biasanya hanya pendaki-pendaki "gila" dan yang berpengalaman saja yang memakai rute tersebut. Betul saja, ketujuh mahasiswa yang miskin pengalaman mendaki gunung ini kalang kabut lantaran tidak bisa melacak jalan setapak. Untunglah akhirnya setelah bersusah payah dan menginap satu jalan, mereka berhasil juga mencapai Situ Gunung.
Malam itu saya ditunjuk sebagai koordinator pencarian kedua mahasiswa yang belum ditemukan, istilah kerennya menjadi koordinator misi SAR alias SMC atau (SAR Mission Coordinator). Dan kepada rekan-rekan pecinta alam dan ORARI atau Organinasi Amatir Radio Indonesia, saya katakan bahwa untuk sementara saya menerima penunjukkan tersebut sambil menunggu pihak yang lebih berwenang untk mengatasi masalah ini.
Malam itu juga regu-regu diberangkatkan dan mendaki Gunung Pangrango. Rekan-rekan Orari sibuk mengkoordinasi pemakaian komunikasi radio, dipimpin oleh Hasan Kusuma dan Muharto, Orari memang berperan besar melancarkan koordinasi operasi SAR ini. Besok paginya tiba-tiba terdengar suara keras dari radio. "Hengky sudah ditemukan, tetapi sudah meninggal", terdengar kabar bersuara gemetar. Almarhum Hengky ditemukan diatas tumpukan sampah hanya 10 meter sebelah barat laut triangulasi puncak Gunung Pangrango.
"Saya gemetar dan cuma bisa berteriak ketika melihat Hengky", cerita Mulyono, anggota PHPA atau Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam yang melihatnya pertama kali. Dan dua orang rekan Hengky yang kebetulan ada diposko langsung pingsan dan digotong ketika mengetahui berita sedih itu.
Helikopter SAR AURI dari Semplak, Bogor, datang agak terlambat. Udara di sekitar Gunung Pangrango yang tadi pagi cerah sekali, kini sudah dikurung oleh awan tebal. Kerucut Gunung Pangrango yang indah itu tidak terlihat lagi. Kapten Hastanto, pilot helikopter terpaksa mendaratkan helikopter dan mematikan mesinnya dilapangan parkir Cibodas untuk menunggu cuaca cerah. Saya mencoba menjelaskan lagi posisi lembah Mandalawangi kepada Kapten Hastanto, disini kami akan menjemput jenazah Hengky.
Kira-kira pukul 15.00 cuaca Gunung Pangrango sedikit membaik. Awan tebal dan kabut memang masih tampak banyak, tapi Kapten Hastanto akan mencoba menerbangkan helikopternya dan mendekati lembah Mandalawangi. Saya duduk dibelakang pilot dan bertugas untuk menunjukkan posisi lembah itu. Bentangan hutan nampak berkali-kali dibawah kami. Sudah berkali-kali saya mendaki kedua gunung dibawah itu, tetapi baru kali ini saya melewatinya dari udara. Helikopter meloloskan diri dari sergapan awan dan menyuruk dikolongnya, kerucut Gunung Pangrango tiba-tiba nampak disebelah kanan.
Kapten Hastanto mencoba menambah ketinggian, dengan memutarkan helikopternya menjauhi Gunung Pangrango. Tetapi ketika helikopter mendekati kembali gunung itu, awan yang sangat tebal mengurungnya kembali sehingga tidak nampak lagi. Kapten Hastanto kini mengelilingi Gunung Gede dan Pangrango, mencoba mencari peluang untuk mendekati lembah Mandalawangi. "Tetapi kita tidak mungkin menembusnya, terpaksa kita harus kembali", ujar Kapten Hastanto.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar