LAWU (Ditemani Pendaki yang Hilang)
Cerita ini terjadi disekitar awal
tahun 2000 an. Waktu itu saya berencana untuk mendaki gunung Lawu dengan
seorang teman, sebut saja Firdaus. Dikalangan teman-teman saya yang memang suka
mendaki gunung, Firdaus ini dikenal sebagai orang yang hapal dengan medan
gunung Lawu dan sedikit mengerti tentang hal-hal gaib. Oleh karena itu saya
ingin mengajak dia untuk mendaki gunung lawu, karena kebetulan teman-teman saya
yang biasanya mendaki dengan saya banyak yang berhalangan. Jadi saya memutuskan
untuk mendaki Lawu hanya berdua dengan FIrdaus.
Siang itu saya dan FIrdaus sudah
berada di basecamp. Waktu itu kami memutuskan untuk mendaki Lawu via Cemoro
Sewu, kami memilih jalur tersebut karena mempertimbangkan medan yang tidak
terlalu sulit, waktu pendakian yang singkat, adanya warung di pos 1 bisa
langsung menuju puncak Hargo Dalem.
Setelah mengurus SIMAKSI dan
melengkapi perbekalan, kami memutuskan untuk segera jalan meninggalkan
basecamp. Sebelum meninggalkan basecamp, saya sempat bertanya kepada beberapa
pendaki yang kebetulan baru saja turun, apakah banyak pendaki diatas. Dan
ternyata hari itu tidak banyak pendaki yang naik ke Lawu, hanya da 2 sampai 3
rombongan saja yang ada diatas.
Sebenarnya saat masih di
basecamp, Firdaus sudah menyampaikan kalau dia merasakan bahwa ada yang berbeda
dari cuaca di Lawu jika di lihat dari basecamp. Memang saya sendiri merasakan
jika cuaca di lawu, terutama di basecamp sedikit lebih mendung dan berangin
daripada biasanya. Sedikit informasi, ini adalah pendakian ketiga saya ke Lawu,
setelah dua pendakian sebelumnya saya selalu gagal summit. Yang pertama saya
naik dari Candi Cetho dan gagal summit karena ditengah jalan saya sakit, dan
yang kedua dari Cemoro Sewu dan gagal summit juga karena ada salah satu teman
yang sakit ditengah perjalanan sehingga akhirnya kita memutuskan untuk turun
dan tidak melanjutkan summit.
Dari dua kejadian gagal summit
itu akhirnya saya bertekad untuk tetap naik tanpa menghiraukan cuaca. Dalam
pikiran saya mungkin hanya di basecamp yang cuacanya jelek. Karena menurut
beberapa pendaki yang kami tanyai, mereka mengatakan kalau cuaca di atas cukup
baik. Hanya hujan biasa yang tidak terlalu deras dan angin yang tidak terlalu
kencang.
Dari basecamp menuju pos 1 (Wes
wesan) jalur masih berbentuk makadam yang rapi, vegetasi juga belum terlalu
rapat sehingga kami masih bisa menikmati suasana. Kurang lebih setelah berjalan
selama 1 jam, kami mencapai pos 1, ditempat ini ditandai dengan beberapa warung
kecil yang biasanya digunakan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan ke
pos 2. “Mas, darimana?” tanya seorang pendaki tiba-tiba dengan tas carrier
warna grey dan rain cover warna oranye terang yang hendak turun ke basecamp dan
berisirahat di pos 1. “Dari Surabaya mas”, jawabku singkat. “Hati-hati mas.
Kayanya nya masnya agak kurang sehat hari ini”, lanjut orang itu. Hanya
tersenyum tanpa menjawab, aku hanya mengangguk. Laki-laki itu pun pamit untuk
meneruskan perjalanan. Yang aneh adalah dia sendirian, dia mengunakan
balaclava, tidak bersama rombongan atau minimal satu orang teman.
Firdaus yang tadi masih berada di
dalam warung untuk beli rokok mengajak aku untuk melanjutkan perjalanan. ”Nanti
kalo mau ngecamp, jangan dipos 4 ya. Kalo ngga sebelum itu ya terus aja ke pos
5”, kata Firdaus tiba-tiba. Tanpa menjawab, aku hanya meng iya kan. Lanjut
perjalanan ke pos 2, kami mulai memasuki hutan dengan jalan yang lebih menanjak
dan melelahkan. Ditengah jalan tiba-tiba kabut turun membuat jarak pandang kita
terbatas. Mungkin menyadari ada yang aneh, Firdaus mengajak aku untuk
mempercepat langkah. “ Ayo agak cepet, gak baik nih”. Tanpa menjelaskan apa
maksudnya tapi Nampak kalau Firdaus semakin mempercepat langkahnya. Terdengar
suara ayam hutan mengiringi perjalanan kami.
Setelah melewati Watu Jago, kami
tiba di pos 2 (Watu Gedeg). Berniat untuk beristirahat sejenak sekedar
mengembalikan tenaga. Sampai sini kami belum menemui satu orang pendakipun
kecuali satu orang yg tadi aku temui di pos 1. Hari semakin sore dan kita masih
berada dipos 2. Kita menargetkan kalo kita akan langsung ke pos 5 sebelum
tengah malam dan menginap disana sebelum nantinya kita akan summit attack besok
subuhnya.
Firdaus tidak banyak bicara. Dia
hanya seperti memandangi sekitar, seperti mencari sesuatu. “Kenapa Us?”,
tanyaku ke Firdaus. “Gapapa, hujannya aneh”, lanjutnya. Sekejap aku merasa
seperti ada yang memperhatikan kita berdua dari atas pepohonan disekitar kita.
Aku tidak tahu itu apa, tetapi aku sangat merasakannya. Aku berbalik badan
kearah Firdaus, hendak menanyakan tentang apa yang aku rasakan. Ternyata
Firdaus sedang diam mematung, kepalanya lurus kedepan, matanya tajam menatap
kearah semak-semak yang ada tak jauh didepannya.
Seolah mengerti aku sedang
menatapnya, “Kamu bisa merasakan?”, tanya Firdaus tanpa menoleh kearahku. “Ada
sesuatu disana yang sedang memperhatikan kita”, lanjut Firdaus. Apa yang
diucapkan Firdaus membuatku sedikit gemetar. Sambil menggoyang-goyangkan
badannya, aku mengajak Firdaus untuk lanjut jalan lagi.
Kami lanjutkan perjalanan. Hujan
masih turun, kabut semakin tebal dan cuaca menjadi lebih dingin dan suara ayam
hutan masih terdengar disekeliling kami. Hari sudah menjelang gelap dan kita
belum separuh perjalanan. Entah mengapa, tas Carrierku yang berukuran 140 liter
terasa ringan, padahal tadi aku membawa cukup banyak air yang aku simpan
didalam tas. Menjelang malam kami tiba
di pos 3 (Watu Gede). Pos 3 ditandai dengan bangunan seperti shelter yang
Nampak sudah sedikit hancur karena atapnya yang sudah rusak. Disini Firdaus
mengatakan kalau kakinya terasa sakit, dan carriernya pun terasa berat. Aku
mencoba bertanya apa mungkin karena keseleo, Firdaus bilang bukan, “bukan”
keselo.
Aku menawarkan untuk bertukar
tas, karena memang aku merasa tasku sangat ringan. Firdaus menolak. Lagi-lagi
dia menjelaskan, berat tasnya “bukan karena beban” yang dibawanya. Tidak lama
dari itu tiba-tiba ada pendaki yang jalan dari bawah menuju keatas. Pendaki ini
sendirian. Dia memakai topi lapangan dan memakai ponco warna hijau. Laki-laki
itu berjalan melewati shelter tempat kami istirahat tanpa berbicara bahkan
berhenti.
Inisiatif aku menyapanya dengan
tujuan mengajak bareng untuk naik. Orang itu Cuma diam dan tiba-tiba berhenti.
Dia menjawab ajakanku dengan tanpa menoleh. “Ayo mas kalau mau jalan bareng.
Jangan lama-lama disitu. Ini belum seberapa”. Jawabnya, tetap dengan tanpa
menoleh kearah kami. Aku mengajak Firdaus untuk segera berangkat lagi, karena
menurutku lumayan ada temannya jalan. Orang itu jalan duluan di depan kami,
tidak terlalu jauh, mungkin hanya berjarak 10 meteran.
Kami berjalan bertiga. Hari
semakin malam, hujan tidak juga berhenti. Suhu pun semakin dingin. Kami tidak
menemui pendaki satupun selama kami jalan. Sambil jalan menuju pos 4, aku
mendengar suara ayam hutan yang terus berbunyi disekitar kami. Ditengah perjalanan
aku masih ngobrol dengan Firdaus. Tapi anehnya, laki-laki didepanku tidak
bersuara sama sekali. Sesekali ketika berhenti untuk istirahat, aku mencoba
untuk sekedar menawarkan rokok atau ngobrol basa-basi. Tapi laki-laki ini hanya
menjawab singkat, iya atau tidak. Akupun tidak berpikir macam-macam, mungkin
orangnya memang begitu. Jalur menuju pos 4 masih sama, bebatuan tetapi dengan
jalan yang lebih menanjak lagi. Sambil melanjutkan perjalanan, tiba-tiba
Firdaus sedikit memegang tanganku dan bilang, “Kita jalan agak pelan deh”,
katanya. “Hah, kenapa?”, tanyaku singkat. “Gapapa, agak pelan aja”, lanjutnya.
Aku khawatir kalau Firdaus
kembali merasakan sakit dikakinya atau dia merasakan tasnya yang berat. Aku
menawarkan istirahat atau bertukar tas, tapi firdaus menolak dan hanya
menjawab, “Bukan itu maksudku”. Dari awal kita bertemu dengan pendaki ini,
Firdaus memang tidak pernah sekalipun bertanya atau sekedar membuka obrolan
dengan orang ini.
Kita berdua jalan sedikit
mengurangi kecepatan, pendaki didepanku semakin menjauh dan beberapa kali
menghilang ditikungan. Tetapi ketika kita memasuki tikungan yang sama, pendaki
ini Nampak lagi didepan ku yang nampak dari cahaya senter dan headlamp ku.
Sampai pada tikungan berikutnya menjelang pos 4 tiba-tiba pendaki ini hilang.
Seolah-olah dia berlari dijalan yang menanjak ini. Belum hilang bingungku,
tiba-tiba Firdaus bilang, “Benar dugaanku..”
Tanpa menjawab omomgannya, aku
masih belum berpikir apa-apa dan tetap jalan menuju pos 4. Tapi aku masih heran
dengan pendaki didepanku tadi. Sejenak aku berpikir mungkin dia warga sekitar
yang sudah terbiasa naik turun Lawu lewat jalur ini sehingga ringan baginya
meski membawa tas besar dan jalan sendirian. Singkat cerita kami sampai di pos
4 (Watu Kapur) dan Firdaus bilang, “Aku ngga sanggup, kita open dome disini
aja”, katanya.
“Lah tadi katanya ngga oleh di
pos 4 Us?”, lanjut tanyaku. “Udah gapapa, aku udah ngga sanggup. Suara Ayam
hutan itu menakutkan”, lanjut Firdaus. Dan aku baru sadar, kalau suara ayam
hutan yang tadi aku dengar di sepanjang jalan, itu seperti mengikuti sepanjang langkah
kami jalan. Pos 4 ini berbeda dengan tiga pos sebelumnya. Di pos ini tidak ada
shelter untuk berlindung, hanya ada plakat yang menunjukkan jika ini adalah pos
4.
Tanpa komando kami saling
membantu mendirikan tenda. Sekedar info, pos 4 ini bukanlah lokasi utama untuk
camping, karena tempatnya sempit dan hanya cukup untuk 2 tenda saja. Kami masih
belum menemui satupun pendaki kecuali satu pendaki tadi yang mungkin sudah
melanjutkan jalan ke pos 5. Setelah tenda berdiri, tak terasa hujan sudah
berhenti. Kami mulai memasak perbekalan kami. Setelah selesai makan, kami masuk
kedalam tenda.
Seperti anak-anak yang mendaki
gunung, tidur sore digunung sepertinya adalah hal yang mustahil. Begitupun dengan
kami. Didalam tenda kami tidak bisa tidur, kami menghabiskan waktu dengan
mengobrol. Suara ayam hutan yang tadi terdengar masih tetap terdengar. “Itu
bukan ayam biasa”, kata Firdaus tiba-tiba. “Itu adalah “sesuatu” yang mengikuti
kita sejak kita dibawah”, lanjutnya.
Aku tidak menjawab omongan
Firdaus. Seolah-olah aku sudah tahu maksud pembicaraannya. Suhu waktu itu
adalah 16-17 derajat celcius, tapi entah kenapa kami berdua merasakan hangat
dibadan dan tidak merasakan dingin sama sekali. Aku mencoba meletakkan
termometerku diluar tenda, dan suhu di luar tenda menunjukkan 14-15 derajat.
Aku masukkan lagi thermometer kedalam tenda, dan masih menunjukkan 16-17
derajat. Disuhu 16-17 derajat celcius seharusnya aku sudah merasa kedinginan,
karena aku tahu badanku. Tapi malam itu kami tidak merasakan kedinginan. Bahkan
tidak ada diantara kami yang menggunakan jaket.
Merasa aneh aku berniat untuk
tidur duluan. “Aku tidur duluan Us, km tutup deh tendanya”, ucapku ke Firdaus.
Merasa seperti dikode, Firdaus menutup pintu tenda. Ditengah-tengah tidurku,
aku terbangun karena mendengar seperti ada langkah orang yang berjalan menuju
kearah tenda kami. Aku terbangun tetapi hanya membuka mata sambil menunggu,
siapa tahu itu adalah pendaki lain yang baru datang. Aku lihat jam tanganku,
jam menunjukkan jam 01.00. Jelas terdengar kaki itu melangkah kearah tendaku
dan berkeliling memutari tendaku. Suara ayam hutan masih terdengar dikejauhan
diluar tenda. Aku hanya diam..
Sampai tiba-tiba kaki orang itu
seperti menyandung tali pasak tendaku. Firdaus yang kukira daritadi tidur,
ternyata dia juga mendengar dan mengetahui kejadian itu, tetapi dia hanya diam.
Dia mengira aku tidur dan tidak tahu akan hal ini. Jadi dia memilih diam,
mendengarkan dan tidak membangunkanku.
“Eehm..”, muncul suara berat dari
luar tendaku. Tiba-tiba suara ayam itu berhenti, hilang. Samar-samar aku
mendengar orang beraktivitas di sebelah tenda ku, seperti orang yang sedang
mendirikan tenda. Tidak beberapa lama terdengar seperti suara resleting panjang
yang ditarik.
Sejenak aku berpikir kalau sumber
suara itu adalah suara pendaki yang memang baru datang dan mendirikan tenda
disebelah tendaku. “Jangan keluar, disini aja”, Firdaus berbisik. Saat aku
ingin bangun dan keluar tenda untuk melihat ada siapa di luar. Niat keluar
tenda akhirnya kuurungkan. Tak sadar kami berdua pun tertidur.
Pagi menjelang. Kami bangun
bebarengan, jam masih menunjukkan jam 07.00. Begitu bangun, aku membuka tenda
dan keluar dari tenda. Tidak Nampak ada tenda yang di bangun disebelah tendaku,
seperti apa yang aku kira tadi malam. Tidak Nampak ada bekas orang yang
beraktivitas. Hanya ada sebuah tas carrier berwarna grey dengan rain cover
oranye terang tergeletak begitu saja tidak jauh dari tenda kami.
Aku pun segera memanggil Firdaus.
“Kita ngga usah naik deh, turun aja”, katanya singkat ketika melihat tas grey
itu. Aku menanyakan apa dan kenapa. Firdaus Cuma bilang, turun aja daripada
kenapa-napa. Mendadak aku teringat dengan laki-laki yang kemarin di pos 1 mengajakku
ngobrol dan menyarankan supaya berhati-hati. Tas dan rain covernya sangat mirip
dengan apa yang ada dihadapanku sekarang.
Tidak lama, hujan kembali turun.
Tidak ditandai dengan mendung atau gerimis, tiba-tiba angin datang begitu saja
dengan kencangnya. Rencana turun gunung kita urungkan dan kita berdua kembali
masuk kedalam tenda, meninggalkan carrier grey diluar tenda, kehujanan. Sambil
menunggu hujan reda, didalam tenda Firdaus menjelaskan apa yang dia lihat dan
dia rasakan selama perjalanan hingga ke pos 4.
Sejak di basecamp, dia sudah
merasakan ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan, tetapi dia tidak bisa
menjelaskan apa. Dia juga merasakan banyak mata dan langkah kaki yang mengikuti
kita sepanjang perjalanan. Termasuk suara ayam hutan yang menurut dia bukan
ayam biasa. Memang selama suara ayam itu terdengar, wujud dari ayam itu tidak
pernah kami lihat, hanya suara saja. Dan firdaus tiba-tiba menyebut tentang
pendaki yang menemani kita hingga diperjalanan pertengahan menuju pos 4,
sebelum pendaki itu tiba-tiba hilang.
Dari awal kita bertemu dengan
pendaki itu, Firdaus sudah merasa kalau pendaki itu bukan pendaki “biasa”. Dia
mencium bau busuk yang keluar dari tubuh pendaki itu. Jujur saja, aku sebagai
orang yang awam, jelas tidak bisa merasakan apa yang Firdaus rasakan. Tapi
Firdaus sengaja tidak memberitahuku, karena dia tidak ingin mematahkan
semangatku untuk bisa summit di Lawu dalam pandakian kali ini.
Hingga akhirnya kita menemukan
carrier grey di luar tenda kita, baru Firdaus merasa semakin tidak berani untuk
melanjutkan perjalanan. Hujan berubah gerimis, kami keluar tenda untuk bersiap
turun gunung. Tidak jauh dari tenda
kami, aku melihat seekor ayam berwarna hitam. Ayam itu hanya diam dan
seolah-olah sedang memandangi. Tiba-tiba dari tengah kabut, ada sosok laki-laki
dengan ponco warna biru yang muncul begitu saja dan berlari mengejar ayam hitam
itu. tidak jauh dari kami. Tetapi karena kabut, kami tidak dapat melihat orang
itu dengan jelas. Spontan aku berteriak memanggil orang itu. Tetapi laki-laki
itu tetap berlari mengejar ayam hitam
itu menuju kearah jurang. Entah kenapa, kakiku seperti mengajak aku berlari
mengikuti orang itu.
Firdaus memgang tanganku,
“Jangan!!!”, katanya. Kami bergegas membereskan tenda dan semua perlengkapan
kami untuk kemudian turun gunung, mengikuti saran Firdaus. Tidak lama, kamipun
melanjutkan jalan turun. Saat aku akan membawa carrier berwarna grey itu turun,
Firdaus mencegah, “Biarkan disana, itu ada yang punya”. Disepanjang perjalanan,
aku sempat bertanya kepada Firdaus kenapa dia mengajak aku turun, padahal
tujuanku kali ini adalah untuk summit.
Firdaus Cuma menjawab, kita ngga
akan pernah bisa summit kali ini kalau kita meneruskan perjalanan naik. Terlalu
banyak yang tidak menginginkan kita sampai puncak. Akupun juga bertanya tentang
laki-laki yang dari kemarin menemani kita dijalan dan yang tadi kita lihat di
tengah kabut. “Dia orang baik”, Jawab Firdau singkat.
Sepanjang perjalanan turun yang
sebetulnya tidak membutuhkan waktu lama, menjadi lebih lama karena kami sering
berteduh karena hujan deras yang sering turun, dan beristirahat karena Firdaus
selalu mengeluh sakit dikakinya. Kami pun sampai di pos 3 menjelang maghrib.
Memutuskan untuk istirahat sebentar, supaya kembali segar. Baju yang basah
karena air hujan membuat perjalanan turun menjadi berat.
Firdaus banyak diam, meski aku
mencoba untuk ngobrol, dia hanya menjawab seperlunya. Saat aku tanya kenapa,
sambil menatap kosong ke satu titik semak-semak, dia Cuma bilang “Kita belum
aman”. Tak lama bebarengan dengan hujan yang kembali turun, kami melanjutkan
perjalanan. Itupun karena Firdaus yang memaksaku untuk terus jalan, jangan
beristirahat terlalu lama.
Hal aneh mulai terjadi. Jalan
yang harusnya hanya ada satu, ternyata menjadi dua persimpangan. Kiri dan
kanan. Jujur kami berdua tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Saat aku
berinisiatif untuk mengecek jalur satu persatu, Firdaus menahan. “Aku aja, kamu
tunggu sini. Nanti aku balik lagi kesini”. Firdaus memilih jalur kiri untuk
dicek pertama. Tidak lama dia kembali lagi, karena senter dan headlamp yang ia
bawa mendadak mati. Firdaus meminjam senterku. Dan dia kembali lagi ke jalur
kiri. Tidak lama dia kembali lagi, dengan senterku yang juga mati.
Akupun heran, padahal senter baru
saja aku ganti baterenya, begitupun dengan senter dan headlamp milik Firdaus.
Tidak selang lama, headlamp ku juga mati. Semuanya terasa aneh bagiku, tapi
tidak bagi Firdaus. “Ini yang aku sebut tidak aman tadi”, katanya singkat.
Tanpa cahaya, jujur kami berdua
takut memilih jalan. Jalan digunung malam hari tanpa penerangan, sama saja
berjalan seperti berjalan dalam keadaan buta. Kami tidak tahu jalan dan tidak
tahu arah. Kami tidak tahu mana jalur yang benar. Seperti menunggu mukzizat,
kami berdua hanya diam dibawah hujan, memandangi dua jalur yang ada didepan
kami.
Tiba-tiba kilat menyambar,
keadaan menjadi seperti terang seketika dan sekejab. Samar-samar kami melihat
laki-laki membelakangi kami di jalur paling kanan. Masih sama-sama terdiam,
kilat menyambar lagi. Lebih jelas, laki-laki itu masih ada disana. Firdaus
langsung mengkomando untuk jalan ke jalur paling kanan. Aku mengikuti langkah
Firdaus dari belakang. Anehnya laki-laki yang tadi Nampak, begitu saja menghilang
ketika kami mengikuti jalannya. Aneh tapi nyata, senter kita mendadak nyala
lagi. Kami berjalan dengan bantuan penerangan dari senter kita masing-masing.
Tidak beberapa lama, kami
dihadapkan dengan pilihan beberapa jalur lagi. Kali ini bukan dua, tapi tiga
jalur yang ada didepan kami. Aku masih bingung kemana laki-laki tadi yang ada
didepan kami. Firdaus lagi-lagi bilang supaya aku menunggu disini sementara dia
mengecek jalur. Belum sempat dia jalan, lampu penerangan kita berdua mati,
lagi.
Otomatis Firdaus mengurungkan
niatnya mengecek jalur. Keadaan ini seperti menantang kita untuk beruji nyali
dengan alam. Pada saat itu aku sudah merasa sangat lelah dan stress dengan
keadaan ini yang seperti mengasah mentalku. Tiba-tiba kilat menyambar lagi dengan
terangnya. Nampak lagi seorang pria membelakangi kami dengan ponco warna hijau
dan sekelebat rain cover warna oranye yang Nampak dibalik ponconya.
Tanpa menoleh, laki-laki itu
berjalan pelan menjauhi kami. Lagi-lagi Firdaus mengajakku untuk jalan mengikuti
laki-laki itu. Yang aneh adalah, tiap kali kami berdua mengikutinya, tidak lama
semua penerangan yang kita punya akan kembali menyala normal dan laki-laki yang
kita ikuti pasti tidak ada didepan kami.
Kejadian jalur yang menyimpang
atau lebih dari satu, terjadi hingga 4 kali. Dan tiap kali kami menghadapi
situasi seperti itu dan semua lampu kami kembali mati, laki-laki itu pasti
muncul di salah satu jalur dan pasti dibarengi dengan petir yang menyambar.
Seolah-olah laki-laki itu ada penunjuk jalan bagi kami berdua.
Singkat cerita kami selama sampai
ke basecamp. Sesampainya di basecamp kami bertemu dengan pendaki-pendaki yang
juga turun dari puncak. Pendaki-pendaki itu ada 2 sampai tiga rombongan kecil.
Kami tidak menceritakan apa yang kami alami kepada pada pendaki-pendaki itu.
Kami hanya menyapa mereka semua. Tapi pendaki-pendaki itu justru yang bercerita
pada kami.
Mereka mengatakan, saat mereka
turun, mereka bertemu dengan kita berdua di jalan. Menurut mereka, merekan
berpapasan dengan kami. Mereka turun dan kami naik. Yang aneh menurut mereka
adalah, ketika mereka berpapasan dengan kita dan mereka menyapa kita, kita
berdua hanya diam tanpa membalas sapaan mereka. Bahkan mereka bilang, jangankan
kita balik menyapa mereka, berhentipun kita tidak.
Aku dan Firdaus hanya diam dan
saling pandang satu sama lain. Kita bingung, karena kita merasa selama
perjalanan naik, kita tidak bertemu dengan siapapun kecuali dengan satu orang
yang menemani kita naik hingga sebelum pos 4. Terpaksa kami menceritakan apa
yang terjadi pada kami saat kami naik dan turun kepada pendaki-pendaki itu.
Setelah mereka mendengarkan
cerita kami, salah satu dari mereka bertanya, seperti apa ciri-ciri laki-laki
yang kami maksud. Kamipun menjelaskan bagaimana ciri-cirinya. Tas carrier warna
grey, rain cover oranye terang, ponco hijau. Paling tidak itu yang teringat
jelas diingatan kami berdua. Tapi sebenarnya yang paling aku ingat adalah,
model dari tas carrier laki-laki itu seperti tas model lama, dengan rangka besi
di luarnya. Jelas itu tas model lama.
Tiba-tiba dari dalam rumah keluar
bapak-bapak yang ternyata dari tadi mendengarkan cerita kita dari dalam. Bapak
itu kemudian bercerita, bahwa sebenarnya laki-laki yang kita temui itu adalah
pendaki gunung yang dulu pernah hilang di Lawu dan ditemukan sudah meninggal
beberapa hari setelah dinyatakan hilang. dan kejadian itu sudah lama, sekitar
akhir tahun 70 an atau awal 80 an. Dan ayam hitam yang pada awalnya kami hanya
mendengar suaranya hingga akhirnya dia menampakkan diri, itu ada jelmaan dari
sosok jahat yang memang sering mangganggu para pendaki yang naik ke Lawu
Jadi sebenarnya, sosok laki-laki
itu adalah yang menyelamatkan kami berdua dari sosok jahat yang sudah mengikuti
kami dari bawah, bahkan sejak dari basecamp. Mungkin kalau pada saat itu aku
ikut mengejar laki-laki itu ketika laki-laki itu mencoba mengusir ayam, mungkin
aku akan diarahkan kearah jurang yang memang tidak kelihatan karena kabut, tapi
untuk saja Firdaus menahanku.
Akhirnya terjawab sudah
pertanyaan-pertanyaan dikepala kami berdua, tentang mengapa dan siapa. Soal
kenapa kita berdua yang dipilih untuk digoda oleh sosok jahat itu, sampai hari
ini pun kami berdua tidak pernah tahu jawabannya.
The End
Komentar
Posting Komentar