Kosan Horor (Part 3) "Kisah Nyata"

 Sejak saat itu kita tidak pernah lagi mengerjakan tugas kelompok dikamar Yara lagi, selalu dikamar saya. Dan sudah ada kesepakatan, kalau ada yang ketinggalan, walaupun cuma pensil, kita harus mengambilnya berdua. Tidak boleh mengambil sendirian.

Kali ini ada penghuni baru lagi. Teman sejurusan saya yang pindah ke kosan itu dari kosan lamanya. Kamarnya persis di jalan zig-zag yang saya sempat bertemu dengan mbak-mbak yang bajunya menyentuh tangan saya. 

Teman saya ini, sebut saja Sifa. Sifa ini sama sensitifnya dengan saya. Tapi dia jauh lebih sensitif. Bahkan kalau dia datang disuatu tempat dan tempat ini "penghuni" nya banyak, dia bisa mual, muntah dan lain-lain. Karena saya tahu Sifa ini sensitf, jadi saya sering berkomunikasi dengannya. Kenapa dia pindag ke kosan ini padahal dia tahu kalau kosan ini termasuk "lumayan" kalau menurut saya. "Ngga kok. Enak kosannya, kamarnya nyaman. Ya luarnya mungkin emang agak-agak, tapi dikamar enak, adem", balas Sifa. Dan memang saya akui, itu juga yang saya rasakan selama tinggal dikosan itu. 

Suatu hari saya nginap di kamar Sifa. Beberapa minggu sebelumnya saya sempat di ganggu sama mbak-mbak di jalan zig-zag didepan kamar Sifa ini, saya juga tidak tahu mbak-mbak ini siapa. Apakah mbak-mbak ini adalah mbak-mbak yang sama seperti yang ada di gedung depan, atau berbeda. Malam itu saya tidur di kamar Sifa. Biasanya saya tidur selalu di kasur, tapi karena malam itu saya masih ingin main handphone sambil ngecas di bawah, jadi saya memakai kasur lipat dan tidur di bawah. Saya usahakan  untuk ngga lihat kebawah kolong tempat tidur Sifa, karena karena saya masih trauma dengan kolong tempat tidur.

Kamar Sifa ini memiliki dua jendela. Jendela depan dan jendela belakang. Jendela belakang ini langsung akses ke parkiran motor. Pas saya tiduran dan menghadap ke jendela belakang, jendelanya terkena cahaya dari luar. Karena memang lampu kamar kami matikan, jadi jika ada siluet atau ada yang lewat di luar jendela pasti kelihatan. Singkat cerita, sekitar jam 1 dan saat itu saya baru akan masuk tidur, saya mendengar ada suara seperti orang yang menangis. Suara tangisan itu seperti orang yang menangis sedih. Saya justru  mengira ada penghuni kamar lain yang memang sedang menangis malam itu.

Tapi anehnya, suara tangisan itu semakin lama semakin kencang dan berubah seperti tangisan orang yang kesakitan, tangisannya berubah menjadi meraung-raung. Di sini saya sudah merasa ada yang aneh. Ketikia itu saya berpikir kalau ini seperti orang kesurupan, tapi saya tidak tahu dikamar sebelah mana sumber suaranya. Yang akhirnya berubah menjadi menyeramkan adalah, setelah menangis yang meraung-raung, suara itu berubah menjadi suara tawa. Suara cekikikan yang benar-benar melengking. Suaraitu berubah-ubah. Tangis, tawa, tangis, tawa. Begitu seterusnya. Saya mencoba membangunkan Sifa dengan menggoyang-goyangkan kasurnya. Tapi sialnya Sifa tidak terbangun. 

Setelah suara itu yang cukup mengganggu selama 15-20 menit, akhirnya saya melihat siluet mbak-mbak dari balik jendela. Dia berhenti di jendela belakang, muncul dengan ketawanya. Jujur saat itu saya penasaran dan ingin tahu apakah ini mbak-mbak yang sama dengan di gedung depan atau bukan. Dia cuma muncul dengan siluet dan menunjukkan tawanya, lalu terbang, menghilang. 

Besok paginya saya cerita ke Sifa. Dan gilanya, respon Sifa cuma, "Udah biasa.."... Ternyata Sifa sudah biasa diganggu sama si mbak-mbak ini, dari kamar sebelah dan dari parkiran motor. Dan Sifa bilang, memang teritori mbak-mbak ini adalah parkiran motor. Sifa juga bilang sudah biasa kalau dia mendengar suara-suara seperti tiu. Hanya saja Sifa tidak pernah ditunjukkan siluet nya. 

Selanjutnya kejadian bareng Sifa yang kedua terjadi dikamar saya, mungkin satu bulan setelah kejadian yang pertama. Waktu itu kami sedang ada dikamar saya dan sedang cerita-cerita horor, iseng sih memang. Karena saya merasas Sifa "bisa " juga jadi ya udah kita cerita horor aja, saya perna kenapa, Sifa pernah kenapa dan lain-lain. Kebetulan waktu itu sudah hampir jam 1 pagi, karena kita memang dasarnya senang begadang, jadi enak kalau ngobrol sama Sifa, ngga ada yang tiba-tiba sedang diajak ngobrol dan ketiduran.

Pada saat kita sedang cerita lengkap tentang yang kejadian malam itu saya dilempar gayung, tiba-tiba ada seperti suara cakaran dipintu balkon kamar saya. Suara seperti cakaran kuku yang panjang di pintu kayu, dari atas sampai bawah. Reflek saya langsung pegang tangan Sifa, "Kucing kali ya?. "Ada meja kali didepan balkon?, balik Sifa. "Ngga ada. Balkon itu kosong, bahkan jemuran aja ngga ada", balas saya. Kita berdua cuma bisa diam dan Sifa kasih saran lebih baik cerita-ceritanya tidak usah dilanjutkan lagi, karena mungkin ada yang ngga suka kalau kita cerita-cerita begitu. Dan akhirnya kita memutuskan untuk tidur.

Dan suatu malam, sekitar jam 11 atau 12 an dikosan saya mati lampu. Jadi saya tidak bisa apa-apa. Saya tidak punya lilin, tidak ada lampu emergency dan lain-lain. Yang saya takutkan sebenarnya cuma satu, saat mati lampu otomatis lampu kamar mandi juga ikut mati. Sedangkan dari dulu saya sudah diajarkan jangan sampai lampu kamar mandi itu mati. Kalau bisa meskipun mati lampu dan lilin cuma satu, lebih baik kamar mandi yang diberi lilin. Pada saat itu sekitar jam 1 atau jam 2 pagi lampu baru nyala dan saya sudah tertidur. Tiba-tiba saya terbangun karena lagi-lagi saya dilempar gayung. Tapi kali ini dari kamar saya sendiri. Ternyata waktu lampu kembali menyala, entah kenapa lampu kamar mandi tidak ikut nyala. Jadi gayung itu dilempar ketembok, mental dan jatuh persis disebelah kasur saya. Dan yang lebih aneh lagi, seingat saya saklar lampu kamar mandi tidak pernah saya matikan sama sekali, tapi ketika itu ternyata saklar lampu kamar mandi dalam posisi mati. Jadi saat itu saya seperti diingatkan untuk mebal menyalakan lampu kamar mandi. 

Sampai akhirnya saya punya dua pertanyaan dalam kepala saya. Yang pertama adalah mbak-mbak itu siapa, mukana seperti apa dan siapa yang ada dibalkon. Jadi lama-kelamaan saya ditunjukkan satu persatu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya.

Yang pertama itu kejadian ketika saya sedang tidur. Hari itu Yara sedang sakit, dan kelihatannya sakitnya parah samapi saya membawanya ke UGD. Saat itu saya mengira kalau Yara sakit usus buntu. Di IGD Yara di jemput orang tua nya untuk dibawa pulang. Dan selama dua minggu kedepan Yara pulang pergi dari rumah ke kampus, tidak pulang ke kos. Suatu malam saya tidur seperti biasa dan rasanya ada yang memegang kaki saya sehingga membuat saya terbangun, cara memegangnya seperti cara orang yang membangunkan orang tidur, digoyang-goyangkan. Dan bukan hanya sentuhan atau goyangan di kaki, tapi disertai dengan suara panggilan di telinga saya. Saya sulit mendeskripsikan apakah itu suara laki atau perempuan, yang jelas suara itu kencang memanggil saya persis di telinga. 

Pas saya melek, didepan muka saya seperti ada bayangan hitam. Jadi mirip seperti kita tidur dan dibangunkan sama orang lain yang mendekatkan wajahnya ke wajah kita. Refleks saya langsung duduk, lihat kekasur Yara dan bilang sambil ngantuk-ngantuk, "Kenapa Ra, sakit lagi?". Waktu itu saya lihat Yara sedang duduk pakai baju dan celana pendeknya Yara yang seperti biasanya dan juga melihat saya. Tidak lama say akembali bertanya, "Ra, kenapa?". Dan waktu itu saya panik, jangan-jangan ini anak kumat lagi. Sambil ngantuk-ngantuk saya terus memandang Yara. Dan tiba-tiba saya saya sadar, "Astagfirullah..". Saya baru sadar bahwa Yara sedang ada dirumahnya, dirumah orang tuanya. 

Sesaat saya memejamkan mata, dan berdoa. Setelah itu saya kembali membuka mata. Dalam pikiran saya, bayangan penampakan Yara akan hilang ketika saya sudah sadar apa yang terjadi. Ternyata bayangan penampakan Yara masih ada disana, diatas kasur Yara. Sedikit tidak percaya, saya mengedip-kedipkan mata, dan bayangan Yara itu mulai berubah. Dia berubah menjadi seorang laki-laki, dengan rambut sebahu yang berantakan, matanya hitam semua, kulitnya juga hitam, hampir sewarna dengan hitam bajunya. 

Awalnya saya mengira ini siluet tapi ternyata bukan. Sosok itu tiga dimensi dan dia duduk diposisi dimana tadi saya melihat penampakan Yara. Posisinya sama persis seperti penampakan Yara tadi, dan tetap memandang ke arah saya. Disitu saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya diam hingga makhluk itu menghilang dengan sendirinya tidak lama setelah itu. Nah biasanya ketika saya dapat gangguan seperti itu apalagi di keadaan yang tengah malam, saya selalu sholat. Tapi entah, malam itu saya seperti malas untuk sholat seperti biasanya. Saya cuma merasa gangguan malam ini sudah terlalu ekstrem, sudah berani menunjukkan wujud didalam kamar saya dan saya cuma tidak mau diganggu lagi pas sholat.

Singkat cerita saya sudah mulai memasuki semester 8, menjelang akhir masa kuliah. Semakin kesini saya merasa gangguan-gangguan yang saya terima semakin ekstrem. Seperti tadi saya bilang, saya terbiasa sholat malam ketika saya mendapatkan gangguan. Sampai saya terbiasa sholat dengan ada yang "mengikuti" dibelakang saya. Jadi seperti yang kita tahu, banyak film yang menggambarkan ada orang sholat dan ada sesuatu yang mengikutinya menjadi makmum. Saya kira kejadian itu hanya ada di film-film, ternyata saya juga mengalami.

Jadi setiap saya shoolat malam, saya selalu diikuti gerakan sholatnya. Meski saat itu ada Yara yang sedang tidur, atau ketika Yara sedang pulang kerumahnya, pasti saya diikuti saat sholat malam. Ceritanya setiap kali sujud, saya terbiasa sedikit membenturkan dahi ke sajadah, dan itu menimbulkan suara. Seperti suara orang yang membenturkan kepalanya ke tembok tapi pelan, tidak menyakiti. Anehnya, suara benturan dahi saya ketika sujud itu selalu terdengar dua kali. Rakaat pertama begitu, dan rakaat kedua pun begitu. Dan yang paling saya takutkan adalah masa-masa salam. Karena ketika kita salam, pasti kepala akan menoleh dan meski hanya diekor mata, mata kita pasti akan bisa menangkap obyek di belakang kita. Karena itulah saya tidak berani melakukan salam dengan menoleh sempurna karena saya takut kalau-kalau mata saya menangkap ada sesuatu dibelakang saya. 

Kejadian selanjutnya saya menganggap semacam warning untuk saya bahwa saya tidak boleh begadang. Jadi malam itu saya ingat benar jam waktu itu menunjukkan jam 02.54. Saya baru selesai main handphone, dan hati saya seperti menyuruh saya untuk segera tidur, karena jam-jam segitu adalah waktu-waktu sosok-sosok yang tak kasat mata justru berkeliaran. Tapi saya tidak mengikuti hati saya untuk tidur, akhirnya samar-sama saya mendengar suara dari earphone ada suara orang ngorok. Ngoroknya bukan ngorok orang sedang tidur, tapi lebih mirip seperti orang yang nafasnya berat dan saking beratnya sehingga terdengar seperti orang ngorok. 

Entah terpikir darimana, saya tempelkan telinga saya ke tembok yang bersebelahan dengan kamar sebelah. Dan benar, saya mendengar ada suara ngorok dari kamar sebelah. Anehnya, suara itu dari suara laki-laki, seperti suara orang tua, kakek-kakek mungkin lebih tepatnya. Saya mencoba berpikir positif, mungkin anak kos sebelah sedang bawa kakeknya untuk menginap di kosannya. Akhirnya saat itu terjadi saya mikirnya kakek itu memang sedang sakit, masih berusaha berpikir positif. Saya lepas earphone dan saya tidur ditemani dengan suara ngorok yang tidak hilang. 

Besok paginya saat saya mau berangkat ke kampus, saya mencoba melihat kekamar sebelah kiri kamar saya. Ternyata kamar sebelah kiri saya, tidak ada gordennya. Jadi kesimpulannya, kamar itu kosong dan entah semalam saya mendengar suara siapa. Kedua, saat saya intip kamar sebelah ini (lagi-lagi karena iseng), ternyata tembok yang persis dibalik kasur saya, kosong. Tidak ada kasur, meja, kursi atau apapun itu. Dan malam harinya saya benar-benar ditunjukkan, kalau "itu" memang bapak-bapak. Dia memang disitu.

Ini bisa dibilang adalah kejadian paling horor yang saya alami di kosan itu (horor dalam artian ekstrem). Awalnya saya selalu hanya melihat laki-laki hitam atau mbak-mbak dengan rambut panjang dan suka senyum atau anak-anak kecil. Cuma kali ini berbeda, kali ini mengganggunya sudah sangat keterlaluan menurut saya. Sebenarnya selama ada di kosan itu saya cukup sering mencium bau busuk, cuma saya selalu berpikir kalau itu adalah bau dari bangkai tikus atau kucing mati. Tapi kali ini baunya sama hanya lebih menyengat da muncul dari kamar saya. Saya mencoba mencari sumber baunya, disegala penjuru ruangan, kamar mandi, karena niat nya saya mau melapor ke penjaga kos. 

Setelah sudah beberapa saat mencari, ternyata bau nya asalnya dari lemari pakaian saya. Tanpa ada pikiran apa-apa, saya buka lemari pakaian saya. lemari pakaian saya itu adalah lemari kayu dengan dua daun pintu. Satu berisi rak-rak, dan satu lagi hanya berisi gantungan baju tanpa ada rak. Pertama saya membuka lemari sebelah kanan yaitu lemari yang ada rak-raknya. Saya keluarkan semua isi nya dan tidak menemukan apa-apa. Setelah saya yakin tidak ada apa-apa disitu, akhirnya saya kembalikan lagi semua isinya dengan sedikit kesal karena ini malam-malam dan saya masih harus membongkar isi lemari.

Kemudian setelah itu giliran lemari yang disebelahnya. Isi dari lemari itu macam-macam. Ada kemeja, jaket almamater saya, ada kebaya, ada jas laboratorium dan lain-lain dan semuanya digantung. Pelan-pelan saya geser satu-satu, sampai pada jas laboratorium saya. 

Sampai digiliran jas lab yang akan saya geser, seperti ada sesuatu yang menahan bahkan menarik balik jas itu. Awalnya say amengira ada yang mengganjal gantungan jas lab itu. Saya mencoba menariknya lagi, kan kembali ditarik dari dalam. Ini adalah kejadian yang paling membuat saya takut, karena saya berinteraksi langsung dalam artian saya tarik-tarikan dengan sesuatu yang ada di dalam lemari pakaian saya, dari balik jas lab. Mungkin selama satu atau dua menit sampai akhirnya saya menarik kencang dengan satu hentakan.

Ketika saya benar-benar menarik gantungan baju itu dengan satu hentakan keras, terlihat jelas ada tangan kecil yang ikut tertarik. Tangan itu memegang jas lab saya. Tangan itu seperti tangan anak kecil tapi sedikit keriput, putih, dan ada bulat-bulat luka yang mengeluarkan nanah. Begitu tangan itu keluar dan terlihat bentuk tangan dan luka-luka yang ada disana, bau busuk yang saya cium mendadak semankin menyengat. Jelas sekarang kalau bau busuk itu berasal dari luka-luka bernanah yang ada ditangan itu. Spontan saya lepaskan jas lab saya dan bersamaan dengan itu tangan dan bau busuk itu juga ikut menghilang. 

Dan yang terakhir adalah kejadian yang akhirnya saya laporkan ke grup kampus saya. Kenapa kejadian ini saya memutuskan untuk melaporkan di grup? Karena kejadian ini menurut saya adalah kejadian yang aneh. Bahkan pada saat itu kebanyakan teman grup saya banyak yang tidak percaya dengan apa yang saya laporkan.

 Jadi malam itu  masih sekitar jam 9 malam, saya baru pulang dari kampus. Malam itu sampai di kosan saya merasa kegerahan. Karena saya gerah, otomatis sesampainya di kamar hal pertama yang saya lakukan ada menyalakan kipas angin. Saya duduk dikasur menghadap ke kipas angin, bahkan saking gerahnya lampu kamarpun tidak saya nyalakan karena saya fokus ke kipas angin dulu. Setelah merasa sedikit adem, baru saya berdiri dan menyalakan lampu kamar. Ketika lampu menyala, ternyata kipas angin dalam keadaan mati. Karena penasaran saya mendekat ke arah kipas angin itu. Ternyata, stop kontak kias angin tidak dalam posisi tersambung ke colokan listrik. 

Jadi saya lihat ke ujung stop kontaknya, kabel kipas angin tidak tersambung ke colokan. Dan akhirnya saya ingat perjanjian sama Yara, siapapun yang pergi dari kamar terakhir harus mencabut semua stop kontak dari colokannya. Sebenernya ketika awal saya menyalakan kipas angin dan ternyata langsung nyala, disitu saya sedikit kesel karena saya pikir Yara pergi dan lupa cabut stop kontak kipas angin, karena Yara adalah orang terakhirnya yang pergi dari kamar dan belum pulang saat saya pulang. 

Itu tadi cerita dari Imel yang selama hampir 4 tahun tinggal di kosan yang ternyata berhantu, paling tidak untuk dirinya sendiri. 

The end



Komentar

Postingan Populer