Kosan Horor (Part 2) "Kisah Nyata"
Kejadian selanjut adalah ketika ada di semester 3. Ajeng yang tadinya tinggal bersama saya, akhirnya harus pindah kos karena gedung fakultas tempat dia belajar juga pindah. Jadi gedung yang baru itu jaraknya relatif jauh dari tempa kita. Singkat cerita ada penghuni baru yang menggantikan posisi Ajeng dikamar itu. Penghuni baru itu namanya Yara. Yara ini kebetulan ada di satu fakultas dengan saya. Jadi otomastis kita jadi sering begadang bareng karena tugas-tugasnya juga kebanyakan sama. Sangat berbeda dengan Ajeng yang selain beda fakultas, Ajeng juga tipe orang yang tidak bisa begadang.
Ketika Yara masuk penghuni di kamar itu, barengan dengan munculnya "penghuni baru" yang lain yang juga "mengenalkan diri". Jadi kali ini saya mulai ada yang aneh dengan balkon diluar kamar kami. Yang awalnya di kamar baru itu saya terganggu dengan gangguan dari arah pintu masuk, kali ini gangguan lebih terasa dari balkon kamar. Setiap masuk waktu maghrib saya memiliki kebiasaan menyapu kamar, itupun juga kalau kebetulan sedang ada di kos. Dan diwaktu-waktu itu sering nampak suatu bayangan hitam yang mondar-mandir di balkon.
Suatu saat mencoba mengintip dari jendela kamar yang mengarah ke balkon. Saya kira bayangan itu tidak akan menampakkan diri kalau saya sengaja mengintip. Tapi ternyata salah, justru ketika saya mengintip itulah bayangan itu lewat dengan gerakan yang lebih pelan. Seolah-olah malah menyakinkan saya kalau dia memang ada, jadi tidak perlu di intip. Tidak terlihat jelas bagaimana mukanya, yang jelas berbadan kekar dan tidak menapak tanah, melayang.
Akhirnya saya minta ke penjaga kos untuk menyalakan lampu di balkon. Kerena selama ini memang lampu di balkon itu dalam keadaan mati. Tapi penjaga kos bilang kalau sebenarnya lampu di balkon kamar saya itu sudah sering di ganti tapi selalu putus. Akhirnya diputuskan untuk tidak diganti sekalian. Dan saat itu saya sudah merasa ada yang aneh. Padahal entah kenapa saya justru merasa penasaran dengan wajar dari makhluk yang mondar-mandir di balkon itu.
Setelah kejadian di balkon, kita semua sudah mulai sibuk. Saat itu ada mata kuliah tentang Gambar Konstruksi. Kebetulan di mata kuliah itu dibentuk kelompok dan setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Kelompok saya sendiri terdiri dari dua cewek dan satu cowok. Kebetulan teman cewek satu kelompok dengan saya itu berada di satu kos yang sama, tapi kamarnya ada di gedung belakang. Satu gedung dengan kamar saya yang sebelumnya. Saya selalu mengajak dia untuk mengerjakan tugas dikamar saya, digedung depan.
Kebetulan hari itu adalah hari Selasa, dan saya bilang ke Yara, "Yar, ngerjain dikamar kamu aja yuk". Singkat cerita malam itu kita mengerjakan tugas di kamar Yara, digedung belakang. Kamar Sifa ini berbeda dengan kamar saya dulu ketika di gedung belakang. Kamar Yara hanya memiliki satu kasur, memang kapasitasnya cuma untuk satu orang. Jadi kamarnya jauh lebih kecil dari kamar saya.
Sekitar jam 11 malam itu, tiba-tiba Yara menanyakan tentang progress tugas minggu lalu. Sialnya progress yang diminta Yara itu ada dikamar saya, yang letaknya lumayan jauh dari kamar Yara. Akhirnya saya tetap memutuskan untuk mengambil progress tugas itu dikamar saya, karena memang apa yang kita kerjakan malam ini berhubungan dengan apa yang kita kerjakan minggu lalu.
Yang saya lupa, akses dari kamar Yara di gedung belakang ke kamar saya di gedung depan ini cukup memiliki perjalanan yang lumayan "petualangan". Harus melewati koridor di bawah baru naik ke tangga. Atau naik tangga dulu didekat kamar saya yang lama di gedung belakang, baru lewat koridor yang di atas. Pilihan keduan jelas pilihan yang tidak akan saya pilih seumur hidup saya, karena melewati kamar lama saya yang jelas saya tahu ada apa disana. Akhirnya saya memilih pilihan yang pertama, lewat koridor bawah baru naik ke lantai dua di gedung depan.
Ternyata perjalanan melewati opsi yang pertama ini juga tidak kalah menegangkannya. Selama perjalanan di koridor saya merasa ada yang mengikuti. Sepanjang jalan bulu kuduk saya tidak berhenti . merinding. Sepat terpikir untuk kambali ke kamar Yara, tapi saya batalkan karena demi tugas selain itu kembali ke kamar Yara malah menempuh jalan yang sebenarnya sudah lebih dari setengah jalan ke kamar saya.
Setelah sampai kamar dan mengambil apa yang diperlukan, saya kembali ke kamar Yara. Sebelum sampai ke kamar Yara, saya harus melewati belokan seperti tikungan zig-zag. Disitu ada satu pintu yang pintu kamarnya berbeda dengan pintu-pintu kamar yang lain. Kalau pintu kamar yang lain itu segaris dengan tembok, kamar ini memiliki pintu yang berbeda. Jadi pintu kamar ini punya celah sedikit yang membuat pintunya sedikit mundur dari batas tembok. Jadi kalau digambarkan, jika ada orang iseng yang ingin sembunyi di balik tembok itu, tembok itu menyediakan tempat untuk keisengan semacam itu.
Pas saya lewat di depan pintu itu, tangan kiri saya seperti menyentuh kain, seperti baju yang berkibar dan menyentuh tangan saya. Di ekor mata saya saat itu saya melihat ada seorang perempuan yang berdiri di balik tembok didepan pintu kamar itu. Dua langkah dari situ saya berhenti. Pada awalnya saya ingin menoleh, karena di ekor mata saya saat itu sudah jelas, warna bajunya putih, rambutnya hitam panjang. Sebenarnya ada sisi hati saya yang penasaran, siapa yang berdiri disitu jam setengah dua belas malam. Tapi disisi hati yang lain meyakinnya saya untuk tidak usah menoleh karena itu memang bukan manusia. Tidak mungkin ada mbak-mbak kos iseng sembunyi disitu ketika hampir tengah malam. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menoleh dan kembali balik ke kamar Yara dengan sedikit berlari. Tapi saya tidak bercerita ke Yara, karena saya tahu persis kalau dia pasti akan jadi parno. Apalagi kejadian itu tidak jauh dari kamarnya.
Hari itu kembali ke hari Selasa dua minggu kemudian. Jam 11 malam itu saya ingin ke kamar Yara. Setelah malam itu bersih-bersih kamar, buang sampah dan lain-lain. Sampah saya taruh didepan kamar, supaya besok paginya penjaga kos bisa mengambil sampah itu. Pas mau tutup pintu kamar setelah menaruh sampah didepan kamar, pandangan saya kearah sebelah kiri lorong kamar. Disana memang ada kamar kosong, tapi saya lihat ada mbak-mbak lagi duduk didepan kamar dengan posisi duduk yang agak tinggi sehingga kakinya menggantung. Yang perlu diketahui, didepan kamar kosong itu tidak ada bangku, kursi atau apapun yang bisa dipakai sebagai tempat duduk. Jadi mbak-mbak ini duduk dalam posisi melayang. Yang serem adalah, mbak-mbak ini sedang menoleh dan menolehnya kearah saya. Mbak-mbak ini memperhatikan saya. Singkatnya, kami berdua kontak mata, saling lihat satu sama lain. Dan waktu itu "dia" senyum, senyum yang sangat lebar, bukan seperti senyum manusia normal. Saya tutup pintu dan siap-siap untuk ke kamar Yara.
Setelah siap-siap dan ternyata diluar kamar mbak-mbak itu sudah tidak ada. Seperti seharusnya, seharusnya saya turun dulu dari kamar lalu lewat koridor bawah untuk ke kamar Yara digedung belakang. Tapi malam itu saya iseng, saya memilih jalur kanan, yaitu lewat koridor atas baru turun setelah sampai digedung belakang.
Dilorong atas itu juga ada kamar kosong, disebelah kiri lorong. Kebiasaan saya adalah selalu memakai earphone kemanapun saya pergi. Waktu itu saya hanya memakai earphone yang sebelah kanan karena kebetulan yang sebelah kiri rusak dan mati. Sesampainya didepan kamar kosong di lorong itu, saya seperti mendengar ada yang mandi dari dalam kamar mandi kamar kosong itu. Jadi lampu kamar mandi itu menyala, karena memang kaca kamar mandi itu terlihat dari lorong, tapi letaknya ada diatas. Ada suara keran air dan suara orang mandi pada umumnya. Lalu ini saya berhenti pas di depan kamar itu. Dan ini keputusan yang akhirnya saya sesali. Saya iseng mengintip dari balik jendela yang ada disebelah pintu kamar. Jadi kebiasaan dikos saya, jika ada kamar yang kosong, gorden jendela disebelah pintu kamar pasti dilepas, jadi siapapun bisa mengintip kedalam kamar dari situ.
Waktu saya mengintip dari balik jendela, tiba-tiba ada gayung yang melayang kearah muka saya. Jadi seperti ada yang melempar gayung kearah saya. Kaget setengah mati tapi belum sempat saya lari, belum sempat saya merespon apa-apa, tiba-tiba ada muka yang nongol persis didepan muka saya dari balik jendela, dan muka saya yang masih menempel dijendela kamar itu. Bisa dibayyangkan betapa dekatnya muka saya dengan muka makhluk itu kan. Dan itu adalah muka mbak-mbak yang tadi duduk melayang di kamar kosong dekat kamar saya. Sekali lagi dia hanya tersenyum dengan wajah yang sangat putih, bukan pucat. Saat itulah saya lari sekencang-kencangnya. Mungkin saat itulah saya benar-benar tahu bagaiman definisi sebenarnya dari lari tunggang langgang. Sampai di kamar Yara, dan pertama kali dalam hidup saya, saya menceritakan apa yang saya alami ke orang lain.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar