Kosan Horor (Part 1) "Kisah Nyata"
3 TAHUN DI KOST BERHANTU
Saya, sebut saja Imel. Saya adalah seorang mahasiswi disalah satu universitas di satu kota di Indonesia. Sebenarnya hal gaib bukanlah hal yang aneh buat saya, karena sejak kecil saya sudah sering bersinggungan dengan hal-hal yang semacam itu. Cerita saya ini tentang bagaimana selama tiga tahun diganggu makhluk halus selama menjadi anak kos disalah satu rumah kos di kota tersebut. Jadi rasanya akan menarik jika saya membagikan cerita saya ini.
Saat itu saya masih menjadi mahasiswi baru di salah universitas di kota tersebut. Sebenarnya saya tidak ngekos sendiri, melainkan dengan salah satu teman saya, sebut saja Ajeng. Saya deskripsikan sedikit tentang rumah kos saya itu. Rumah kos itu termasuk dalam kategori rumah yang cukup besar, jadi saya mengasumsikan jika rumah kos itu pasti ramai dengan anak yang kos disitu. Rumah itu juga sedikit berarsitektur seperti rumah lama, jadi saya merasa senang dan sekilas kalau dilihat, rumah itu seperti enak ditinggali, dengan halaman yang luas dan banyak pohon-pohon yang membuat rumah itu tampak sangat asri dan adem dan memiliki banyak jendela sehingga sirkulasi udara akan lebih baik. Dan yang paling penting adalah harganya yang sangat terjangkau untuk kantong mahasiswi.
Singkat cerita saya dan Ajeng beres pindahan, kita memutuskan untuk sekamar berdua. Karena memang ada beberapa kamar yang disediakan untuk dua orang. Selain untuk menghemat ongkos, rasanya akan lebih enak jika sekamar dengan teman sendiri. Ajeng adalah anak yang sedikit pendiam, pintar dan rajin. Tetapi kita tidak berada di satu fakultas yang sama meski berada di satu universitas yang sama.
Kala itu ada masa-masa ospek. Dan karena masa ospek yang panjang, di hari-hari awal kita tinggal dirumah itu, kita tidak pernah begadang. Biasanya karena capek mengikuti ospek, jam 8 atau jam 9 malam kita berdua sudah tidur. Dan biasanya saya terbangun di jam 1 untuk sholat tahajud. Dan disinilah awal-awal kejadian aneh mulai saya rasakan.
Ketika saya terbangun di jam 1 malam, saya merasa seperti ada yang duduk disamping saya waktu saya masih tidur. Kejadian ini terus berulang selama empat sampai lima hari berturut-turut. Dan kejadian itu selalu terjadi antara jam 1 sampai jam 2 pagi, selalu dikisaran waktu tersebut. Jadi yang saya rasakan waktu itu, ketika saya tidur saya merasakan ada gerakan disalah satu sisi atau suduk kasur tempat saya tidur. Entah gerakan dikasur atau kasur itu berbunyi seperti ada yang menduduki. Malah pernah ada yang seperti menyentuh badan saya sehingga saya terbangun. Dan itu cukup menyeramkan bagi saya.
Saat saya terbangun dan mencoba melihat, saya selalu tidak menemukan apa-apa, tidak ada siapa-siapa disana. Tapi saya benar-benar merasakan kalau ada seseuatu disebelah saya. Dan itu terulang terus setiap hari. Pada awalnya saya berpikir, mungkin karena saya penghuni baru jadi "dia" mau kenalan. Oya, saking luas dan bersarnya rumah ini, kosan saya ini terdiri dari beberapa bangunan. Dan kebetulan kamar saya berada di bangunan yang paling belakang. Kamar lantai satu paling pojok. Selama saya mengalami gangguan itu, saya tidak pernah menceritakannya ke Ajeng.
Suatu hari saya merasa kalau ada yang sering melihat kedalam kamar dari luar jendela. Kadang juga terlihat jelas ada siluet seperti orang yang melintas di jendela. Disetiap hari Jumat sampai Minggu, Ajeng selalu pulang kerumah orang tua nya, kebetulan daerah asal Ajeng tidak jauh dari kota tempat kita kuliah, jadi setiap akhir minggu Ajeng selalu pulang. Tapi tidak dengan saya. Karena khusus untuk fakultas saya, ospeknya sedikit lebih keras. Jadi sering ada tugas yang sampai malam dan sering juga ada tugas ospek yang kayanya kalau dikerjakan dirumah malah tidak akan selesai. Jadi saya memutuskan untuk tetap tinggal dikosan meski Ajeng selalu pulang.
Hari Jumat itu seperti biasa Ajeng pulang. Dan saya iseng malam itu tidur di kasurnya Ajeng. Jadi layout kamar kami kira-kira begini, kasur Ajeng ada disebelah jendela yang menuju keluar dan kasur saya berseberangan dengan kasur Ajeng, sebelahan dengan kamar mandi dan ditengah-tengah antara kasur saya dan Ajeng ada sebuah meja belajar Ajeng dan sebuah kipas angin. Jadi ketika kita tidur, kita ngga akan bisa saling melihat kepala karena kepala kita tertutup oleh meja belajar.
Dan malam itu saya begadang. Sekitar jam 1 pagi, sambil tiduran miring menghadap ke jendela dan main handphone, saya mendengar suara kipas angin yang bunyinya seperti kipas angin yang rusak, kipas itu berbunyi seperti kipas mau rontok. Suara seperti beradu dengan besi. Awalnya saya berpikir kalau kipas itu rusak. Ngga lama setelah itu saya juga mendengar ada bunyi di belakang saya lagi. Bunyi seperti kelereng yang dimasukkan kedalam kaleng dan dikocok-kocok, dan itu keras sekali sampai membuat saya panik. Saya panik karena saya masih berpikir kalau itu bunyi kipas angin yang tadi bunyi dan kali ini benar-benar rontok. Spontan saya noleh kebelakang (kearah kasur saya), ternyata kipas itu baik-baik saja, masih muter dengan normal, tidak ada yang rusak.
Akhirnya dengan sedikit takut, saya berbalik dan menghadap kearah jendela lagi. Sampai tiba-tiba muncul lagi bunyi yang sama, saya menoleh lagi dan tidak ada apa-apa. Begitu terus sampai kira-kira tiga kali. Hingga suara kelereng yang dikocok didalam kaleng itu seperti dibanting kelantai. Dan saya bingung sebenarnya apa yang terjadi. Inisiatif saya langsung mengirim chat WA ke grup angkatan saya dengan tujuan untuk minta tolong,padahal waktu itu belum banyak yang saya kenal yang ada di dalam grup itu.
Waktu saya kirim chat itu sekitar jam 2 pagi. "Ada yang masih bangun ngga?", pesan saya di chat. Dan ternyata ada satu orang yang membalas chat saya. Sebut saja namanya Emon. Saat itu juga tanpa pikir panjang saya langsung telpon Emon dan saya ceritakan semuanya apa yang baru saja terjadi. Dan Emon sempat ikut panik dan meminta saya untuk coba mengecek kelantai, apakah ada barang yang jatuh. Sala lihat semua kolong. Kolong tempat tidur Ajeng, tempat tidur saya, kolong meja belajar, dan tidak ada apa-apa. Emon menyarankan untuk lebih baik tidur, mungkin saya memang diganggu untuk disuruh tidur, ngga boleh begadang.
Pas saya mau tidur dan tetap dengan menghadap ke jendela, entah kenapa saya masih penasaran dengan apa yang ada dibelakang saya. Harusnya kita tidak perlu sampai penasaran, karena hal ini yang akhirnya saya sesali..
Saya penasaran tapi tidak berani untuk menoleh kebelakang. Akhirnya saya memakai kamera depan handphone saya untuk saya jadikan sebagai spion. Saya nyalakan kamera dan menaruhnya sedikit disebelah telinga kiri agar saya dapat melihat ada apa dibelakang saya. Dan saat itu saya jelas melihat seorang yang sedang duduk di tempat tidur saya. Awalnya saya hanya bisa melihat bibirnya, kemudian hidungnya, matanya sampai akhirnya saya bisa melihat semua dari wajah orang itu, dan itu adalah perempuan. Putig, pucat, wajah datar. Dan dia tidak melakukan apa-apa, hanya memandangi saya. Itu adalah kejadian esktrem yang pertama saya rasakan dirumah itu.
Sedikit spoiler, kejadian-kedjian aneh ini terus saya alami selama 3 tahun saya menghuni kamar itu di bangunan belakang. Mungkin salah satu penyebabnya dikamar kita ini suasananya memang lembab, apalagi kalau hujan rasanya sangat dingin, malah cenderung enak jika menurut saya. Nanti akan ada saya cerita momen ketika saya pindah kamar. Dan bangunan belakang ini cenderung sepi. Jadi anak kos yang menghuni kamar-kamar dibangunan belakang ini bisa dibilang anak-anak yang anteng. Dan ini sangat berbeda dengan suasana digedung belakang dimana nantinya saya memutuskan untuk pindah kamar.
Kejadian yang kedua saya alami saat saya pulang dari ospek. Jadi ospek di fakultas saya itu memang biasanya sampai malam, kadang jam 7, kadang malah sampai jam 9. Itupun kita masih mengerjakan tugas ospek, dan biasanya kita kerjain ditempat lain samapi jam 11 atau 12 malam. Waktu saya pulang malam itu, sekitar jam 11 malam, saya melihat ada beberapa anak kecil dikoridor sedang lari-lari. Dan bisa saya pastikan ini bukan tuyul seperti penggambaran tuyul pada umumnya. Penampilan anak-anak ini seperti anak-anak biasa, dengan baju singlet, ada yang pakai celana kolor. Dan saya melihat mereka semua dengan jelas. Malah ada dari mereka yang lari kearah saya dan entah kenapa saya seperti minggir seolah-olah memberikan mereka jalan untuk kejar-kejaran. Dan saya sangat yakin kalau mereka bukan manusia. Karena dikosan ini memang tidak ada anak kecil satupun.
Saya masuk kekamar dan saya mengira kalau gangguan anak-anak itu akan berenti, ternyata tidak. Suara mereka lari-lari dikoridor tetap terdengar ketika saya sudah didalam kamar. Saya tidak tahu apakah hanya saya yang mendengar suara mereka atau ada penghuni kos lain yang masih bangun dan mendengar suara yang sama. Kejadian itu juga sering terjadi hampir tiap saat saya pulang malam. Dan anehnya saya merasa kalau saya makin "akrab" dengan mereka. Dalam arti saya sudah terbiasa dengan munculnya mereka. Tiap kali saya pulang malam dan ada mereka di situ, saya cuma bilang , "Misi dek.. Misi dek..". Dan kalau kalian nanya apakah si Ajeng tahu tentang hal ini, jujur saya tidak tahu. Karena selain dia tidak pernah bercerita kepada saya, saya juga benar-benar menjaga supaya Ajeng tidak tahu. Karena saya takut kalau Ajeng malah akhirnya jadi takut dan pindah kos atau yang bagaimana, Jadi saya memutuskan untuk menyimpan cerita ini sendiri dari Ajeng.
Saya kira penghuni dari kosan itu hanya si perempuan yang saya lihat di kamar dan segerombolan anak kecil yang ada dikoridor. Ternyata ngga cuma mereka. Saya masih dikasi kesempatan untuk "berkenalan" dengan penghuni-penghuni lain.
Kali ini say sudah ada di semester dua. Jadi waktu itu ada wacana untuk saya dan Ajeng pindah ke bangunan depan, tapi jarang ada yang kosong, selalu penuh. Akhirnya suatu waktu orang kepercayaan pemilik kos mengatakan kalau ada kamar kos dibangunan depan yang kosong, dan pas untuk dua orang. Kamar itu letaknya dipaling depan, dilantai dua dan punya akses balkon untuk keluar kamar. Saya dan Ajeng akhirnya memutuskan untuk pindah kebangunan depan. Dan saya pikir gangguan-gangguan tidak akan terjadi lagi kalau kita pindah kebangunan depan. Ternyata sekali lagi, perkiraan saya salah. Dibangunan depanpun saya sempat berkenalan dengan para penghuninya.
Layout dari kamar baru kita ini berbeda dengan kamar kita yang lama. Jika dikamar lama itu tergolong besar, dikamar baru ini sedikit lebih kecil. Memiliki dua pintu, pintu depan sebagai pintu masuk utama dan pintu kearah balkon. Kalau kita keluar ke balkon, semua akan nampak dari situ. Pos satpam, parkir motor dan mobil, bahkan jalan raya pu terlihatan jelas. Jadi seharusnya tidak ada hal horor yang perlu di khawatirkan, karena suasananya sangat rame.
Kasur tepat tidur saya berada persis didepan pintu masuk. Jadi kalau saya tidur, pandangan saya pasti mengarah kepintu. Diatas pintu itu ada ventilasi yang diberi kawat nyamuk. Disebelah pintu itu ada jendela, diatas jendela itu juga ada ventilasi dan kawat nyamuk juga. Saya punya kebiasaan bengong saat mau tidur. Suatu malam, saya iseng bengong kearah pintu, iseng sampai masuk tidur. Oya, kebiasaan dari rumah yang saya bawa sampai kosan adalah, saya tidak pernah mematikan lampu kamar mandi. Jadi malam saat akan tidur, saya mematikan lampu kamar tapi membiarkan lampu kamar mandi tetap menyala. Tapi pintu kamar mandi saya buka sedikit, jadi cahaya dari kamar mandi masih masuk sedikit kedalam kamar.
Waktu bengong dan mau masuk tidur, saya melihat ada tangan di ventilasi atas pintu. Awalnya saya tidak begitu jelas melihat, seperti tangan dan cakarnya. Tapi lama-lama semakin jelas kalau itu memang sepasang tangan. Tangan itu bergerak, bergeser kearah ventilasi jendela. Saat tangan itu sampai di ventilasi jendela. Tidak sampai hanya tangan, ternyata pada akhirnya muncul kepala diantara kedua tangan itu. Tapi penampakan itu hanya siluet. Dan saat itu masih bersyukur itu hanya siluet dan bukan menampakkan wajah jelasnya. Setelah itu tiba-tiba saya seperti ketindihan, saya tidak bisa bergerak sama sekali, hanya bisa memandang sepasang tangan dan kepala itu. Dan saya merasa ada yang memegang tangan saya dari bawah kolong tempat tidur. Tangan itu terasa sangat dingin. Meski saya tidak melihat tangan itu, tapi saya bisa merasakan jari-jarinya yang keriput dan jari-jari tangannya yang panjang.
Disitu saya merasa sangat takut, takut yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Kenapa saya takut, karena "dia" sudah berani menyetuh saya secara fisik. Saya mengasumsikan kalau power dari makhluk ini sangatlah besar. Saya coba untuk membaca doa-doa yang saya tahu. Ngga lama gangguan dimalam itu hilang. Sejak saat itu saya takut dengan kolong tempat tidur.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar