Kantor Baruku yang Horor (Part 6) Last Part

 Ucap Mas Ilham sambil kepalanya mendongak keatas, melihat keatas gedung. Kita semua cuma bisa diam, tidak paham apa maksud dari ucapan Mas Ilham. Hanya saja raut wajah Mas Ilham sudah nampak lebih serius. Mas Ilham pun mengajak kita semua untuk masuk kedalam gedung. Tidak lupa seluruh gerbang kita kunci agar tidak ada maling yang masuk. Semantara itu Mas Ilham mempersiapkan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu itu apa. Setelah itu Mas Ilham meminta kami semua untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Okelah, dalam keadaan seperti ini Mas Ilham seperti bos nya dan kami semua menurutinya. Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang. 

Setelah semua persiapan selesai, Mas Ilham langung mengajak kita ke lantai 14. Anehnya, dari awal kedatangan dia tidak ada satupun yang memberi tahu kalau di lantai itu menjadi momok yang menakutkan bagi kita semua. Dan setelah saya bertanya ke Pak Iman, apakah beliau yang memberi tahu tentang lantai 14, beliau mengatakan tidak, beliau belum sempat bercerita apa-apa ke Mas Ilham ini. 

Perlahan lift menuju lantai 14. Saya dan Mas Gendon berada di belakang Pak Iman dan Mas Ilham.

Mas Ilham     : Salah satu yang sering bikin kacau ada dilantai ini nih.

Saya langsung lihat nomor lantainya, dan ternyata itu dilantai 10. Pintu lift pun terbuka. Baru mau melangkah, Mas Ilham langsung menahan kita semua, dan melarang kita untuk keluar. Pak Iman meminta saya untuk menahan tombol pintu lift supaya tidak menutup. Ada sekitar lima menit kita menunggu, dan akhirnya kita diperbolehkan juga untuk keluar dan Mas Ilham meminta kita untuk berkumpul ditengah ruangan dan duduk membentuk sebuah lingkaran. Saya juga tidak tahu apa yang akan dilakukan, tetapi saya hanya menurut.

Mas Ilham membagikan kertas yang sudah ada tulisan arab didalamnya. Mas Ilham meminta kami untuk membacanya.

Mas Ilham     : Jangan ada yang kabur. Saya ngga akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa kalau kalian kabur

Kata Mas Ilham. Mendengar itu akupun menjadi sedikit gelisah, rasa takut perlahan menghinggapi. Saya melihat ekspresi muka Mas Gendon juga menunjukkan rasa takut dan kegelisahan yang sama.

Mas Ilham     : Saya mulai dengan wanita yang kamu lihat 

Tiba-tiba Mas Ilham berkata sambil menunjuk saya. Saya kaget karena saya belum bercerita apa-apa ke Mas Ilham ini. Mas Gendon langsung melihat kearah saya sedangkan Pak Iman masih terlihat santai. Saya rasa Pak Iman sudah menceritakan semuanya karena saya mengira tidak mungkin Mas Ilham bisa tahu semuanya dengan sendirinya. 

Mas Ilham     : Wanita ini berumur 24 tahun dan seorang yang pendiam

Sejurus kemudian Mas Ilham mulai menjelaskan. Mas Ilham pun diam sejenak, seperti dia sedang mendengarkan sesuatu. Tapi tidak, ternyata perlahan gestur badannya perlahan berubah. Saya merasa seperti ada sesuatu yang "masuk" ke badannya. Saya pernah melihat gestur seperti ini, seperti orang kesurupan. Gestur Mas Ilham sekarang agak sedikit kemayu dan perlahan menangis, dan suaranya berubah menjadi suara wanita. 

Mas Ilham     : JAHAT..!!

Ucap suara perempuan yang keluar dari mulut Mas Ilham. Saya dan Mas Gendon hanya bisa diam tanpa kata-kata. Karena ternyata ini adalah pertama kalinya bagi kami berdua melihat orang kesurupan didepan mata kami. 

Pak Iman     : Nama kamu siapa?
Mas Ilham   : Hasti..

Saya tidak kaget kalau Pak Iman nampak santai menghadapinya. Karena sudah banyak yang menduga kalau ia juga mempunyai ilmu yang cukup. 

Pak Iman     : Tolong jangan ganggu kita yang ada disini. Bisa?

Tapi tidak ada jawaban dari wanita tersebut, hanya tangisan yang terdengar. Yang keluar dari mulutnya justru cerita yang tidak ada hubungannya dengan permintaan Pak Iman. 

Mas Ilham    : Ayah.. Ibu.. Kalian jahat..
Pak Iman      : Jahat kenapa?
Mas Ilham    : Agung..
Pak Iman      : Siapa agung?

Sosok itu bercerita tentang keluarganya. Ternyata orang tua dari wanita itu bercerai. Sedangkan Agung adalah tunangannya yang akhirnya juga meninggalkannya sehingga wanita ini mengalami depresi berat. Awalnya saya tidak paham dengan maksud dari cerita sosok ini. Tiba-tiba saja sosok itu langsung menunjuk kearah atas. Dan ternyata sosok itu lah yang melompat dari atas gedung pada saat itu. Sosok wanita itu bercerita sambil terus menangis. Belum selesai menjelaskan, Mas Ilham kembali tersadar.

Mas Ilham meminta air putih. Setelah dirasa cukup tenang, Mas Ilham menceritakan sosok wanita ini. Cerita dari sosok wanita ini adalah banyak terjadi di masyarakat kita. Gadis baik-baik yang orang tua nya bercerai sehingga wanita ini menjadi depresi. Belum selesai dengan masalah orang tuanya, tunangannya pergi meninggalkannya begitu saja tanpa alasan. Dan dia menunjuk keatas adalah ingin menunjukkan cara dia mati, dengan cara melompat dari lantai atas gedung ini. Dan yang aneh lagi adalah, selain rasa depresi berat yang ia rasakan sehingga memilih untuk bunuh diri, ternyata ada dorongan lain yang membuatnya bunuh diri, "kiriman" dari orang lain.

Ada saingan bisnis pemilik gedung ini yang mengirim sesuatu dengan kekuatan yang luar biasa untuk menganggu semua orang yang ada di gedung ini. Sosok kiriman itu juga mencari tumbal disini, dan sialnya wanita itulah korbannya. Karena kebetulan secara psikis kondisi wanita itu sangat lemah, sehingga jauh lebih mudah untuk dirasuki.

Mas Ilham     : Jadi begini ada beberapa sosok yang memang sudah lama menjadi penunggu disini dan juga yang datang dikirim dari lawan bisnis pemilik dari gedung ini. Sampai kapanpun, selama sosok kiriman itu masih ada, kalian tidak akan bisa bekerja dengan tenang. Niat dari mereaka adalah untuk membuat pemilik dari gedung ini bangkrut. Ini adalah cara kotor yang dilakukan oleh beberapa orang yang ingin cepat kaya.

Mas Ilham menjelaskan

Mas Gendon  : Tapi kenapa kami yang diincar?
Mas Ilham     : Jangan salah, sosok kiriman ini tidak hanya mengganggu dimalam hari, tapi juga siang hari. Tanya karyawan yang resign dengan alasan yang ngga masuk akal kan, Pak Iman?

Pandangan saya pun langsung mengarah ke Pak Iman. Memang menurut Pak Komar, banyak karyawan yang mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas.

Saya               : Saya juga pernah berjaga disiang hari, tapi kenapa saya tidak tahu ya Pak?
Pak Iman       : Karena ngga semua hal kamu harus tahu Mel. Ada saatnya hal-hal tertentu harus ditutupi untuk kebaikan semuanya.

Seseram dan sekejam itukah dunia bisnis?

Saat kami sedang asyik membahas sosok wanita ini, tiba-tiba lagi terdengar ledakan dari arah dalam ruangan yang tidak jauh dari tempat kita duduk. 

Mas Gendon   : Suara apa ini?
Mas Ilham      : Ada yang tidak suka saya datang kesini. Tutup mata kalian, baca doa yang tadi saya berikan

Ucap Mas Ilham..

Saya langsung memejamkan mata dan membaca doa sekuat-kuatnya. Jujur saya takut tapi saya membiarkan, karena saya berpikir ini akan jadi salah satu pengalaman saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi saat saya menutup mata, mungkin hampir 15 menit saya menutup mata. Tiba-tiba ada suara seperti orang terjatuh dilantai dekat kami. Saya penasaran dan mencari darimana sumber suara itu. Saya lihat sekitar dan anehnya cuma saya sendirian yang ada disitu. Kemana perginya orang-orang yang lain. Merasa panik bukan main, karena siapa yang tidak takut, disaat seperti ini.

Saya menoleh kearah belakang, ada tubuh yang sedang terkapar. Saya mau bangkit tapi takut. Saya Ingat pesan Mas Ilham, kalau kabur dia tidak akan tanggung jawab kalau sampai terjadi apa-apa. Saya hanya bisa diam dan merasakan semua rasa takut ini. Saya kembali mencoba memejamkan mata, saya berpikir saat ini saya harus mementingkan keselamatan diri saya sendiri.

Hampir 10 saya terdiam dalam kesendirian saya. Tiba-tiba saya mendengar suara wanita dengan tertawanya yang khas, suara tawa yang sangat memekikkan telinga, seperti suara itu ada di sebelah telinga saya. Saya merasakan rasa takut yang berlipat ganda. Takut kalau ketika saya membuka mata, sosok itu ada didepan mata saya.

Pak Iman     : Mel!! Lempar air putih..

Spontan saya membuka mata. Ternyata saya melihat Pak Iman sedang membopong tubuh Mas Ilham yang terlihat sangat lemas. Sayapun langsung melempar air putih ke arahnya. Saya melihat ada darah yang keluar dari hidungnya dan tangannya terlihat memegangi perutnya.

Saya             : Kenapa Mas Ilham Pak?
Pak Iman     : Ngga papa, nanti aja saya ceritain

Untuk sementara suasana sangat hening. Tidak ada suara sama sekali dari kita semua. 

Pak Iman     : Itu Mel, kamu tolongin itu si Gendon

Kata Pak Iman sambil menunjuk ke arah Mas Gendon yang juga terkapar. Saya langsung menarik badan Mas Gendon. Setelah merasakan tubuhnya yang cukup segar, Mas Ilham menyadarkan Mas Gendon yang terlihat pingsan.

Mas Ilham     : Ini akibatnya kalau keluar dari pagar gaib yang sudah saya buat. Sudah jelas banyak sosok yang sedang mengepung kita.
Saya               : Apa sudah selesai Mas?
Mas Ilham     : Belum, sosok ini terlalu kuat. Saya tidak bisa melawannya.

Tak lama Mas Ilham meminta kita untuk langsung turun, karena situasi sudah tidak kondusif dan nyawapun menjadi taruhannya. Saat kita semua akan masuk kembali ke dalam lift, saya melihat ada sebuah bola api yang sangat jelas terlihat. Ini adalah pertama kalinya saya bola api seperti itu. Saya menunjuk bola api itu sambil berbicara dengan Mas Ilham. Dan Mas Ilham menyuruh saya untuk diam dan tidak menghiraukannya. 

Akhirnya sampailah kita dilantai dasar. Kita semua langsung mengarah keluar gedung dan duduk diteras depan. Mas Gendon belum juga tersadar dari pingsanya. Mas Ilham menjelaskan bahwa Mas Gendon terkena serangan energi, tapi untungnya tidak fatal. Disaat Mas Ilham mengeluarkan energi negatif dari tubuh Mas Gendon, tiba-tiba saja saya seperti mendapat serangan dari mereka. 

Saat saya sedang duduk memegangi badan Mas Gendon, saya merasa seperti mendapat pukulan yang sangat keras di punggung hingga leher. Rasanya sangat panas sehingga membuat saya merasa mual pada saat itu. Tidak lama pandangan saya kabur dan menghitam. Saya tidak bisa melupakan rasa panas yang sangat luar biasa itu. 

Iya, saya kembali pingsan. Lagi dan lagi. Tapi kali ini saya merasa tidak bisa saya tolerir, ini sudah sangat mengancam nyawa saya. Untung saja saat itu ada Mas Ilham dan Pak Iman, kalau tidak ada mungkin saja saya sudah lewat. Saya pingsan selama satu hari. Sangat tidak masuk akal kenapa saya bisa pingsan selama itu.

Saat sadar saya sudah berada di rumah, didalam kamar. Disamping saya ada Ibu yang sedang duduk dan terlihat matanya sembab seperti habis menangis. Ibu meminta saya untuk keluar dari pekerjaan saya dan mencari pekerjaan lain, Ibu merasa tidak tega melihat saya seperti ini. Singkat cerita, saat bangunpun saya masih merasa punggung dan leher saya masih sakit, rasanya seperti habis dipukul dengan sebuah balok dengan sangat keras.

Saya     : Bu.. punggung saya sakit banget rasanya..
Ibu       : Kamu mau lihat Mel?

Ibu mengambil sebuah kaca dan menyuruh saya untuk membuka baju. Kaget bukan main dengan apa yang saya lihat, punggung dan leher saya terlihat lebam menghitam. Pantas saja terlihat sakit luar biasa. Permintaan Ibu saya pertimbangankan, ada betulnya juga apa yang dikatakan Ibu. Dua hari ada dirumah, rasa bosan mulai terasa. Hanya bisa bantu-bantu Ibu dagang didepan rumah saja. Tiba-tiba adik saya menghampiri, mengatakan kalau ada telepon. 

Saya             : Hallo Pak..
Pak Iman     : Mel, lagi dirumah kan? Saya sama Ilham lagi jalan kerumah kamu
Saya             : Oh iya Pak, saya tunggu. Kebetulan banget sebenernya
Pak Iman     : Setengah jam lagi kami sampai sana

Akhirnya sampailah Pak Iman dan Mas Ilham dirumah saya. Setalah mempersilahkan duduk dan membuatkan teh, kebetulan ada banyak pertanyaan yang ingin saya tahu. Termasuk luka lebam yang ada dipunggung saya. 

Pak Iman hanya menjelaskan bahwa waktu itu ada energi negatif yang menyerang saya pada saat saya tidak ada yang melindungi. Saya hanya diam karena tidak paham apa yang dimaksud Pak Iman.

Mas Ilham     : Jadi gini Mas Melky. Kemarin itu waktu saya lagi fokus menyembuh kan Mas Gendon, saya ngga sadar kalau ada satu sosok yang mengikuti kita sampai bawah. Sosok ini adalah salah satu sosok yang paling susah dikalahkan digedung itu. 

Menurut Mas Ilham, orang yang ada dibalik makhluk itu bukanlah orang biasa, ilmunya pun sudah tingkat tinggi. Dan juga selain orang itu, masih banyak juga yang mengirim hal-hal negatif kekantor itu yang akhirnya bisa mempengaruhi semuanya. Mereka Melakukan berbagai cara agar pemilik gedung in menjadi bangkrut. Tapi karena sulitnya menggapai pemilik gedung ini, sehingga kami lah, karyawan yang kerap kali menjadi sasarannya.

Pemilik gedung ini adalah salah satu orang yang bermain cukup "kotor" dalam dunia bisnis, jadi tidak aneh sebenarnya jika akhirnya banyak yang tidak suka dengan pemilik gedung ini. Typikal orang yang seenaknya dengan siapapun. Begitulah penyebab kenapa kantor ini tidak bisa tenang. Selalu saja ada gangguan yang kami alami. 

Saat saya menyampaikan keinginan untuk mengundurkan diri, ternyata Pak Iman juga menyampaikan keinginan yang sama. Saya kaget, karena Pak Iman sudah lama bekerja di kantor tersebut tapi kenapa baru mau resign sekarang. Banyak yang kita bicarakan saat itu, namun intinya sejak kejadian itu ada beberapa penjaga yang juga ingin mengundurkan diri. Saya hanya bisa menebak kenapa Pak Iman juga mau mengundurkan diri. Mungkin merasakan hal yang sama seperti saya, yaitu takut kalau nyawanya yang semakin lama semakin terancam.

The end

Komentar

Postingan Populer