Kantor Baruku yang Horor (Part 4)

 Setelah kejadian yang cukup membuat shock kemarin, hari ini adalah hari saya kembali ke kantor lagi. Dan kali ini saya lebih menyadari bahwa kali ini saya harus memiliki mental yang lebih kuat lagi daripada sebelumnya. Satu-satunya alasan kenapa saya harus kembali adalah Ibu dan adik saya.

Awal mula masuk saya harus melapor dahulu kepada Pak Komar, atasan saya. Dan saya sempat merasa kalau Pak Komar akan mengembalikan jadwal kerja saya ke pagi hari, tidak ke malam hari lagi. Benar saja, setelah saya masuk ke ruangan dan berbicara dengan Pak Komar, beliau menyarankan saya untuk kembali ke jadwal pagi. Tapi saat itu saya mengatakan ke Pak Komar, jika memang boleh memilih saya lebih memilih untuk tetap di jadwal malam, agar saya bisa membantu Ibu dipagi harinya. Pak Komar hanya terdiam mendengar jawaban saya, dan menatap tajam ke arah saya. Pak Komar mengatakan bahwa setiap keputusan yang diambil pasti akan ada resikonya, baik resiko untuk Pak Komar, perusahaan dan bahkan saya sendiri. Beliau akan memikirkan dahulu masukan dari saya dan berjanji dalam beberapa hari akan memberikan keputusan. Setelah itu Pak Komar meminta saya pulang dan kembali beristirahat sampai beliau memberikan kabar. Saya pun kembali pulang kerumah.

Pada saat itu saya sadar resiko yang akan saya terima ketika kembali berjaga pada malam hari. Akan tetapi keluarga saya lebih penting dibandingkan rasa takut saya. Selama dua hari saya tidak masuk kerja, saya hanya membantu Ibu berdagang didepan rumah. Pak Komar belum juga memberikan kabar tentang bagaimana keputusannya. Tiap jam saya mencoba mengecek handphone dan berharap ada kabar dari Pak Komar, namun nihil. 

Sejak kejadian saya tempo hari, kondisi kesehatan Ibu sedikit menurun. Mungkin terlalu memikirkan saya. Hari sudah memasuki hari ketiga, saya selalu bangun pagi untuk sholat subuh dan membantu Ibu memnyiapkan dagangannya. Kabar dari Pak Komar? Entahlah, sampai hari ini beliau belum menghubungi saya. Hingga jam dua siang, belum juga ada kabar dari Pak Komar. Apakah beliau sedang menimbang untuk memecat saya? Entah kenapa saya menjadi khawatir tentang nasib saya di kantor itu. 

Singkat cerita saya berinisiatif untuk menelpon Pak Komar. Inti dari percakapan kami di telpon, setelah Pak Komar dan Pak Iman berdiskusi, dan Pak Iman berusaha untuk meyakinkan Pak Komar, akhirnya Pak Komar memperbolehkan saya untuk kembali berjaga malam di kantor itu. Saya pun diperintah kan untuk kembali masuk di keesokan harinya. Seketika saya merasa senang dan seperti merasa hidup kembali. Seakan-akan kejadian menyeramkan tempo hari sudah benar-benar saya lupakan. 

Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul dua siang, saya sudah bersiap-siap berangkat ke kantor. Tiba-tiba Ibu masuk ke kamar saya. Ibu hanya berpesan supaya saya banyak-banyak berdoa selama bekerja. Tidak lama setelah itu sayapun meluncur ke kantor. Dan, ketika itu rasa deg-degan kembali saya rasakan.

Sesampainya di kantor, saya langsung menghadap Pak Komar. Laporan kalau saya sudah siap untuk kembali bekerja hari itu. Belum sampai diruangannya, ternyata Pak Komar ada di depan kantor. Setelah lapor ke Pak Komar dan Pak Komar pun sedikit berpesan yang kurang lebih sama dengan Ibu saya, saya langsung menuju ke ruang ganti. Dan disana sudah ada Pak Iman. Berbasa-basi sedikit dengan Pak Iman, beliau juga menanyakan tentang keadaan saya dan kesiapan mental saya untuk kembali bekerja.

Jujur saja, kalau untuk mental rasanya mental saya belum seratus persen siap. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Saya tidak mau banyak berpikir. Kalaupun saya merasakan atau melihat sesuatu yang aneh, ya sudah dipikirin nanti saja. Yang jelas apapun yang terjadi nanti, saya harus siap dan kuat.

Setelah mendapatkan pengarahan dari Pak Komar, kami semua langsung menuju ke pos masing-masing. Sialnya saya langsung kedapatan kembali jaga di dalam, didepan lift.

Nyali cukup ciut ketika saya berada di pos jaga saya didalam. Tapi mau gimana lagi, ini sudah menjadi keputusan saya dan saya tidak memiliki alasan untuk kembali. Untungnya teman jaga saya masih tidak berubah, yaitu Pak Iman. Orang yang bisa menenangkan, pikir saya.

Singkat cerita ini adalah hari ketujuh saya masuk ke kantor kembali. Dan percaya atau tidak selama seminggu itu saya sama sekali tidak mendapatkan gangguan apapun. Tapi bukan berarti saya menjadi santai. Mungkin saja mereka lagi males untuk gangguin saya atau mungkin mereka ngga mood gangguin saya yang memang menurut mereka saya adalah orang yang penakut.  

Hari ke delapanpun begitu, semuanya normal seperti tujuh hari sebelumnya, tidak ada gangguan sama sekali. Iseng, saya mencoba berbicara ke Pak Iman.

Saya             : Pak, ini sudah hari kedelapan saya masuk kerja lagi. Kok tumben ngga ada yang ganggu saya ya
Pak Iman      : Hahahaha.. jangan ngomong begitu. Kalo memang ngga ada yang ganggu ya syukur lah. Jangan nantangin gitu.

Seketika saya langsung terdiam mendengar ucapan Pak Iman. Ada satu kata dari Pak Iman yang membuat saya kepikiran "Nantang". Mungkin apa kata Pak Iman benar, apa yang saya tanyakan tadi terkesan menantang. Selama berjaga hari itu, saya terus terpikir oleh kata-kata itu. Dan ternyata, itu benar. Mungkin mereka mendengar kata-kata saya tersebut dan mungkin juga mereka akhirnya merasa tertantang oleh saya. 

Dua hari selanjutnya cukup berat. Dan hari ini saya kembali mendapatkan giliran untuk berjaga didalam. Ingatan tentang obrolan saya bersama Pak Iman tempo hari sudah terlupakan oleh saya. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Saya mengajak Pak Iman untuk keliling. Tapi Pak Iman mengajak saya untuk berkeliling jam 9 malam. Saya cuma bilang kalau saya sedang bosan dan ingin jalan-jalan. Pak Iman mempersilahkan saya untuk berkeliling dulu dan nanti beliau akan menyusul. Akhirnya saya berjalan duluan. 

Seperti biasa, setiap lantai saya harus mengecek ruangan per ruangan. Dan ini tumben juga kenapa saya berani jalan sendirian keatas. Rasanya rasa ketakutan didalam badan saya mulai hilang. Lantai satu sampai enam saya lewati dengan mulus, tidak ada apa-apa. Semua berjalan lancar. Layaknya manusia ketika merasa berada didalam zona nyamannya ia akan lupa dengan apa yang pernah terjadi. 

Sampailah saya dilantai tujuh. Dilantai tujuh ini lebih gelap daripada lantai-lantai sebelumnya. Memang dilantai ini sedang ada perbaikan, selama satu minggu. Jadi kondisi lantainya memang kosong. Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Saya mengarahkan senter ke kanan dan kiri dari bibir lift. Sepertinya tidak ada yang perlu diperiksa secara detail dilantai ini. Saya kembali masuk ke dalam lift dan memencet tombol "Close". Akan tetapi ketika pintu lift belum tertutup sepenuhnya, ada suara dari arah luar lift, didalam lantai tujuh. 

"Duk..duk..duk..duk..".

Spontan saya memencet tombol "Open" di lift. Suara tersebut seperti suara orang berlari. Saya melongok keluar lift dan dengan senter, saya kembali mengarahkan cahaya ke kanan dan kiri. Saat itu saya merasa ragu, apakah saya harus memeriksa atau cukup dengan membiarkannya saja. Tiba-tiba rasa takut yang selama beberapa hari tidak saya rasakan, seketika itu juga muncul kembali. Akan tetapi saya berpikir, apabila tidak saya periksa, yang saya takutkan itu memang benar-benar suara orang. Setela mengucap Bismillah, saya memberanikan diri untuk keluar dari lift. 

Perlahan saya berjalan dilantai itu, senter saya arahkan kesetiap sudut ruangan kosong dan gelap itu. Kombinasi bulu kuduk yang tiba-tiba merinding dan degup jantung yang kencang, saya rasakan bersamaan. Say amencoba memcah keheningan dengan berteriak dan bertanya, "Woiiii.. siapa itu??!!". Berharap ada yang menjawab. Tapi ruangan itu tetap hening, kosong dan gelap. Sedikit merasa kesal, akhirnya saya kembali menuju ke arah lift kembali. Cahaya dari lift yang terus terbuka sangat terang. Memang tadi saya sempat mengganjal pintu lift sebelum saya memutuskan untuk keluar, agar pintu lift tidak menutup. Belum sampai di lift, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat saya berhenti melangkah. Ada bayangan orang yang muncul dari cahaya dari dalam lift. Seakan-akan ada yang sedang berdiri didalamnya.

Saya         : Pak...Pak Iman !!!

Saya mencoba memanggil bahkan saya tahu tidak mungkin Pak Iman bisa ada disitu. Konsentrasi saya sudah mulai kacau pada saat itu. Saya tetap berjalan pelan menuju ke lift. Hening, jantung yang mulai berdegup lebih cepat dan keringat dingin yang mengucur membayangi langkah saya. Tiba-tiba..

"Duk..duk..duk..duk.."

Suara seperti orang berlari kembali muncul dibelakang saya. Reflek saya langsung menoleh dan menerangi ruangan dengan senter saya secara membabi buta, tetapi tetap tidak ada apa-apa. Saya kembali menoleh ke araf lift dan bayangan itu sudah tidak ada disana. Sesaat saya merasa seperti sedang dipermainkan. Tanpa menunggu lagi, saya berlari masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke lantai dasar. Nafas saya sudah berat, dan saya merasa sangat capek. 

Setelah mengalami kejadian aneh itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan lagi berkeliling gedung malam itu. Samapi dilantai dasar, saya bercerita ke Pak Iman. Dan untungnya beliau dapat mengerti apa yang saya rasakan. 

Keesokan hari nya Pak Komar mengenalkan penjaga baru. Berbeda dengan saya, penjaga baru ini langsung mendapatkan jadwal untuk berjaga malam. Kita sebut saja namanya Emon. Setelah itu saya mendapatkan jadwal untuk jaga pagi. Selama saya jaga pagi, saya tidak pernah melihat si Emon ini. Anak baru ini masih muda tapi nampak sudah sangat akrab dengan Pak Komar. Emon ini datang untuk menggantikan salah satu penjaga. Suatu hari kami mendapatkan giliran berjaga malam yang sama untuk pertama kalinya. Pak Ridwan akan menjadi partner Emon. Mereka berdua akan langsung berjada didalam kantor pada malam ini. Sedangkan saya dan Pak Iman akan berjaga didepan. Tempat favorit kita semua. 

Malam itu jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan saya belum mendengar ada hal aneh dari dalam kantor. Seperti biasa saya dan Pak Iman bergantian tidur agar tetap bisa memantau keadaan. Kali ini Pak Iman yang tidur duluan. Dan tidak lama setelah mengobrol sebentar, Pak Iman sudah tertidur. Selama Pak Iman tidur, tetap ada gangguan yang saya rasakan. Tapi gangguan yang saya rasakan cukup ringan dibandingkan dengan gangguan ketika berjaga didalam. Seperti lemparan batu ke kaca pos, hingga suara cekikikan perempuan. Saya akan merasa tidak peduli sebelum mereka menampakkan wujudnya.

Tiba-tiba HT berbunyi. Ternyata penjaga di pos belakang yang mengontak.

Penjaga lain     : Monitor.. monitor..
Saya                 : Iya mas, ada apa? 
Penjaga lain     : Disini ada bau busuk banget.
Saya                 : Bau busuk gimana mas?
Saya                 : Mas..
Saya                 : Mas..
Tiba-tiba komunikasi terputus..

Pos belakang memang juga cukup sering mendapatkan gangguan tapi tidak se ekstrem di dalam kantor. Ya sudahlah saya tidak melanjutkan komunikasi dengan mereka. Lima menit kemudian HT kembali berbunyi.

Penjaga lain     : Kita diisengin lagi nih kayanya
Saya                 : Diisengin gimana mas?
Penjaga lain     : Bau banget ini disini. Padahal kita berdua didalam pos..
Saya                 : Terus gimana mas?
Penjaga lain     : ASTAGFIRULLAAAHHHHH.....!!!!!!

Tiba-tiba terdengar teriangan mereka di ujung HT. Saya cukup kaget dengan teriakan mereka dan mencoba memanggil-manggil lagi lewat HT. Tapi tidak ada jawaban. Saya pun bingung tidak tahu harus berbuat apa. Dan saya tidak mungkin menyusul mereka dan meninggalkan pos dengan kondisi Pak Iman yang sedang tidur. Tapi tak lama ternyata Pak Iman terbangun karena mendengar ada yang berisik sehingga tidurnya terganggu. Saya hanya menjelaskan kalau pos belakang sepertinya sedang mengalami gangguan. Pak Iman akhirnya bangun dari tidurnya, Saya menceritakan apa yang saya dan teman-teman belakang obrolkan di HT. Pak Iman hanya diam sambil mengucek-ngucek matanya. 

Pak Iman memutuskan untuk berjalan ke belakang kantor. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Saya tetap berada di pos dan berusaha memanggil tim yang berada di belakang dengan HT. Tapi tetap tidak ada jawaban. Sudah 10 menit sejak Pak Iman kebelakang dan belum ada kabar dari Pak Iman. Saya sangat ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan teman-teman dibelakang. 

Walaupun saya tahu pasti kalau mereka sedang diganggu, tapi saya tetap ingin tahu gangguan seperti apa yang mereka rasakan. Tiba-tiba HT dimeja berbunyi.

Pak Iman     : Mel monitor..
Saya             : Siap Pak, ada apa?
Pak Iman     : Kamu kesini sebentar. Kamu tinggalin aja posnya sebentar

Saya langsung berjalan menuju pos belakang. Sesampainya disana saya sangat kaget. Saya melihat teman-teman yang berjaga dibelakang berada diluar pos dan dalam posisi tengkurap. Iya, mereka pingsan. Saya bertanya ke Pak Iman tentang apa yang terjadi disini. Jujur saya sangat panik melihat mereka seperti itu. Pak Iman meminta saya untuk membantunya menyadarkan teman-teman yang pingsan tadi. Saya ambil minyak kayu putih di dalam pos dan air putih yang ada dibotol. Kami mendudukkan mereka berdua di teras pos belakang. Selama mereka masih pingsan, Pak Iman menggantikan mereka untuk berjaga di pos belakang dan saya kembali ke pos depan. 

Terpaksa saya melanjutkan berjaga dengan keadaaan sangat mengantuk, karena tidak sempat tidur. Tidak terasa sudah pukul 5 pagi dan sayapun iseng berjalan ke pos belakang. Dan ternyata Pak Iman sedang mengobrol dengan kedua teman yang pingsan semalam. Walaupun saya penakut, tetapi saya penasaran apa sebenarnya yang mereka alami semalam. Saya mendengarkan mereka bercerita. 

Jadi ketika mereka berbicara lewat HT malam itu dengan saya, mereka berdua keluar dari posnya untuk mencari sumber bau busuk yang mereka cium. Karena mereka tidak menemukan sumber bau nya, mereka memutuskan untuk kembali ke pos. Akan tetapi saat mereka berjalan kembali ke pos, mereka berdua melihat dua sosok pocong yang berdiri diatas atap pos. Pocong-pocong itu menatap mereka berdua dengan tatapan yang seakan-akan akan memakan mereka. Dan saat itu mereka merasakan kaku diseluruh tubuh dan akhirnya pingsan karena ngga sanggup harus saling menatap dengan sosok pocong itu.

Saya yang hanya mendengarkan cerita mereka hanya bisa diam dan merasa makin takut. Seperti sekarang ini tidak ada pilihan lagi. Baik di dalam maupun diluar sama-sama menyeramkan. Tapi saya merasa ada yang aneh, penjaga yang ada didalam kelihatannya baik-baik saja. Tidak ada laporan apa-apa dari mereka selama semalaman. Saya mencoba memonitor mereka yang ada didalam lewat HT tapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya inisiatif untuk masuk kedalam. Belum sampai ketempat jaganya, saya melihat dari jauh mereka berdua sedang asik tidur. "Pantes anteng, ternyata dari malam sampai pagi mereka tidur", guman saya dalam hati. 

Selang dua hari setelah hari itu, kini giliran saya untuk berjaga didalam. Pak Iman izin tidak masuk karena harus pulang kampung. Dan malam itu kembali untuk yang kedua kalinya saya berjaga didalam sendirian. Saat saya tahu pak Iman izing tidak masuk, mental saya ciut seketika. Ingin rasanya pulang kerumah, Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Mau ngga mau harus tetap jaga. 

Jam 8 malam, keadaan masih biasa saja. Belum ada tanda-tanda aneh yang muncul. Hawa masih normal seperti dingin malam, belum bercampur aura mistis. Setengah jam kemudian sudah mulai ada "aktivitas". Saya mulai mendengar ada suara dari arah lorong. Bulu kuduk sudah mulai merinding tanpa diperintah. Suara langkah kaki itu pernah saya dengar sebelumnya, jadi saya tahu itu bukan langkah kaki manusia. Saya berusaha untuk tidak menggubris suara itu. 

Tiba-tiba seperti ada yang melempar pasir ketubuh saya dari arah kiri, spontan saya menoleh kekiri. Hanya pandangan gelap yang saya lihat, tapi tidak sengaja sekilas saya melihat ada bayangan putih yang melintas. Bersamaan dengan itu suasana menjadi berubah tidak nyaman. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9, sudah waktunya saya berkeliling untuk mengecek setiap lantai dan ruangan.

Terus terang saya merasa takut, akan tetepi entah kenapa saya merasa penasaran dengan apa yang akan saya alami malam ini. Saya mengecek lantai demi lantai. Gangguan tetap ada tapi seperti hanya suara berbisik dan itu pun dengan sukses bisa saya hiraukan. Tiba dilantai 8, sekeluarnya saya dari lift saya mendengar ada suara tawa dari balik tembok, tetapi samar-samar. Saya ingin memastikan apakah suara itu nyata atau tidak. Saya mencoba mendatangi sumber suara. Sunyi, gelap dan suara itu sudah tidak ada. Saya kembali menuju ke lift.

Saat berada didalam lift dan ketika akan memencet tombol lantai selanjutnya, ternyata lift tertutup dengan sendirinya dan bergerak sebelum saya perintahkan untuk bergerak. Lift langsung mengarah dan berhenti dilantai 12. Saya pun bingung, karena saya belum sempat memencet tombol apa-apa. tetapi lift langsung ke lantai 12. Saya memencet tombol lantai 9, karena memang sebelumnya tujuan saya adalah ke lantai 9. Sebelum lift turun, saya mendengar ada suara ditelinga kiri saya. Suara itu sangat jelas, terasa sangat dekat. Suara tawa yang sama yang saya dengar dilantai 8. Suara itu sukses menjadikan nyali saya kembali ciut dan gelisah. 

Saya bisa kembali ke lantai 9. Lantai 9, 10 dan 11 bisa saya periksa dengan aman tanpa ada kejadian apa-apa. Walaupun gelap tapi saya tidak merasakan ada aura mistis di lantai-lantai itu. Hingga akhirnya saya kembali ke lantai 12. Pintu lift belum juga terbuka tapi jantung sudah berdegup kencang seolah-olah ingin keluar dari dada saya. Saat pintu lift terbuka, seperti biasa aura mistis langsung terasa seperti menabrak tubuh saya dari depan. Sampai saat ini saya masih penasaran apa yang membuat lantai ini sangat berbeda dengan lantai lainnya. Memang sebelumnya Pak Komar sudah menceritakan kalau pegawai yang bunuh diri itu berasal dari lantai ini. Tapi sedikit tidak masuk akal kalau menurut saya.

Perlahan saya keluar dari lift. Suasana sama sepinya dengan lantai lainnya tetapi dengan suasana yang berbeda. Penerangan yang ada pada saat itu hanya berasal dari senter saya. Saking sepinya, suara langkah kaki saya sendiri sampai terdengar oleh saya sendiri. Sejenak saya berhenti, terdiam. Saya mendengar ada langkah kaki lain yang melangkah setelah langkah saya. Setiap saya melangkah suaranya seperti bergema. Seketika bulu kuduk kembali merinding tanpa diminta. Berusaha masa bodo, saya lanjutkan berjalan mengelilingi ruangan dilantai itu. 

Tembok pemisah dikantor ini terbuat dari bahan semacam triplek. Jadi kalau ada pukulan atau benturan akan terdengar dengan sangat jelas. Ketika saya berjalan melanjutkan tugas saya, tiba-tiba..

"BUK..!!"

Ada sesuatu yang seperti memukul tembok triplek itu dari salah satu ruangan dilantai itu. Saya mencari penyebab bunyi itu. Setelah mencari kesana kemari, nihil. Saya tidak menemukan apapun. Saya masih mengarahkan senter ke segala penjuru ruangan, tapi saya tidak menemukan apapun. Perasaan saya mengatakan kalau saya harus segera keluar dari ruangan ini. Saya menuruti kata hati saya dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Tapi sebelum menyudahi memeriksa lantai itu, ada satu ruangan terakhir yang harus saya periksa dilantai itu.  

Ketika saya membuka pintu ruangan tersebut, tiba-tiba ada hembusan angin yang saya rasakan keluar dari ruangan itu. Saya tidak tahu darimana angin itu berasal tapi saya cukup sadar untuk merasakan hembusan angin itu. Saya masuk ke ruangan itu dan mencoba mengecek jendela. Saya takut ada jendela yang rusak atau pecah sehingga angin dapat masuk ke dalam. Tapi semua jendela dalam kondisi yang baik-baik saja, tidak ada yang rusak apalagi pecah. 

Saat saya melihat kearah meja kerja disalah satu pojok ruangan ini, saya terdiam, terpaku. Saya melihat ada satu sosok yang sedang duduk. Sosok itu seolah-olah masih bekerja. Kepalanya menunduk. Saya hanya bisa melihat ujung kepalanya saja, karena terhalang oleh monitor komputer. Entah kenapa saya malah mengajak sosok itu berbicara.

"Mas, mbak.. kok lembur ngga bilang ke kita dulu?"

Dan seperti yang saya duga, tidak ada jawaban. Bahkan sosok itu tidak bergeming sedikitpun mendengar pertanyaan saya. Ketika saya mengarahkan senter ke sosok itu, maka jelaslah kalau sosok itu adalah seorang wanita. Saya bisa lihat sekilas dari rambutnya. Tapi wanita itu tetap dalam keadaan menunduk. Dan tiba-tiba ada sedikit cahaya yang bersumber dari layar monitor didepan wanita itu. Akhirnya pelan-pelan saya berjalan mendekati meja tersebut.

"Mbak.. saya nanya baik-baik bukannya dijawab!"

Saya mesih mengasumsikan bahwa wanita ini memang pegawai yang sedang lembur. Oleh karena itu saya kembali bertanya, tapi kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas. Hingga akhirnya saya melihat wajahnya. "Astagfirullaaahhhhh....."

Saya benar-benar kaget dan berteriak sekuat-kuatnya ketika saya bisa melihat wajah wanita itu. Spontan saya berlari keluar ruangan dan mengarah ke pintu lift. Saat itu saya benar-benar takut setakut-takutnya. Karena baru ini saya melihat wajah makhluk yang benar-benar jelas. Keringat mulai mengucur disekujur badan, kakipun terasa lemas tapi saya mencoba untuk tetap berlari dan tidak berhenti. 
 
Setelah melepaskan ganjalan dipintu lift, dengan sangat panik saya buru-buru memencet tombol lantai satu. Didalam lift selama perjalanan turun saya hanya bisa terduduk lemas dengan badan yang bergetar, seperti orang menggigil. Sambil memejamkan mata saya terus berdoa didalam hati sambil masih terbayang wajah wanita yang tadi saya lihat. Tidak lama lift berhenti dan pintu lift terbuka. Saya membuka mata dan pandangan saya mengarah ke tombol lantai yang ada di lift. Dan ternyata..

Lift masih berada di lantai 12, Lift tidak beranjak sama sekali dari lantai itu. Saya berani bersumpah kalau saya benar-benar merasakan lift itu bergerak turun. Dalam keadaan panik, cepat-cepat saya berdiri dan memencet tombol "Close" sekuat tenaga. Untungnya saat pintu terbuka tadi tidak ada apa di depan saya. Badan saya sudah sangat lemas, dan saya berdoa semoga saya pingsan saja, tapi entah kenapa saya seperti diberi kekuatan untuk tidak pingsan saat itu. 

Saat pintu lift tertutup, saya kembali memejamkan mata. Saya mencoba untuk menguatkan mental walaupun saat itu saya benar-benar sangat takut. 

Lift kembali terbuka dan saya kembali membuka mata. Kali ini lift masih berada dilantai yang sama. Entah apa yang terjadi tapi itu membuat saya semakin pasrah. Biarlah apapun yang akan terjadi, terjadilah. Saya masih terduduk dilantai dan tidak tahu harus apa. Saya ingin menyerah pada saat itu. Akan tetapi seperti ada yang berbicara pada saya, saya harus bangkit dan saya tidk boleh takut. Saya pun memberanikan diri untuk membuka mata kembali.

Saat saya menoleh keatas, kini saya melihat sosok wanita yang ada diruangan tadi, berdiri berada persis didepan lift. Saya hanya bisa terdiam, pandangan mata saya tertuju kewajah wanita itu. Ingin rasanya saya kembali memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Wajah wanita itu bukan dalam keadaan yang baik-baik saja. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajah sebelah kirinya karena tertutupi dengan darah. Darah yang masih sangat segar. Saking segarnya saya bisa melihat jelas kalau darah itu masih menetes dari wajahnya dan jatuh kelantai.

Sedangkan wajah sebelah kanannya lebih menyeramkan lagi. Mata sebelah kanannya lepas, tidak ada matanya. Dengan darah yang sama keluar dari kelopak matanya, tempat dimana matanya seharusnya berada. Sosok itu berdiri, menunduk memandang saya. Sepertinya ia memang sengaja ingin saya mendapatkan perhatiannya dengan memaksa saya memandangnya terus-terusan. Tiba-tiba..

"Tolong saya.."

Wanita itu membuka suara.

Seketika pandangan saya kabur, dan semuanya gelap. Saya tak sadarkan diri. Tak seberapa lama, saya membuka mata. Dengan pandangan yang masih agak kabur, saya mencoba menerawang. Dimana saya sekarang? "Sadar juga akhirnya..", Terdengar suara dari sebelah kanan saya. Saya menoleh pelan, terlihat seorang wanita. Saya bertanya, saya sedang dimana. Wanita itu hanya menjawab, "Klinik Kantor".

Pening rasanya kepala ini. Wanita itu lanjut berbicara, menyarankan saya untuk istirahat dulu, dan jangan kemana-mana. Saya masih bingung tapi saya mencoba untuk kembali menutup mata. Ingin rasanya kembali tertidur untuk melupakan apa yang terjadi pada saya. 

Saya kembali sadar dan Pak Komar sudah ada disamping saya. Pak Komar hanya bilang, "Kamu istirahat dulu saja. Nanti kita bicarakan.. ". Saya tidak menjawab. Seluruh badan terasa sangat lemas. Butuh waktu hampir satu hari untuk mengembalikan tenaga saya. Bayang-bayang wajah itu masih menempel diingatan saya.

BERSAMBUNG













Komentar

Postingan Populer