Kantor Baruku yang Horor (Part 3)

 Saya bangkit dari kursi saya dan berjalan menuju pintu lift kemudian saya pencet tombolnya. Lift itu turun dari lantai atas dan berhenti tepat dilantai saya berdiri. Singkat cerita saya memulai kegiatan keliling saya malam itu. Lanti per lantai dan ruangan per ruangan saya datangi untuk mengecek keadaan. Hingga akhirnya saya sampai dilantai 7, saya kembali di kerjai oleh makhluk-makhluk yang ada di sana. Disebuah ruangan di lantai 7, saya mendengar ada suara ketikan di keyboard komputer. Padahal jika ada karyawan yang akan lembur hingga malam, karyawan itu harus melapor dulu ke penjaga malam. Tapi malam itu tidak laporan sama sekali, lantas siapa yang sedang mengetik di keyboard itu?

Perasaan saya pada saat itu sudah tidak karuan, merinding sudah pasti. Siapa yang ngga ngeri dengar suara ketikan malam-malam apalagi dalam keadaan yang gelap. Sebelum memasuki ruangan tersebut, saya mencoba memejamkan mata sebentar, berdoa dalam hati dan mencoba untuk memberanikan diri untuk melihat ke dalam. Perlahan-lahan saya melihat dari balik tembok. Keberanian saya hanya sebatas mengintip kedalam ruangan tersebut. Sebelah mata saya dapat melihat jelas isi ruangan tersebut. Dan yang saya dapati hanya sebuah ruangan gelap yang kosong. Saya mengarahkan senter kearah sumber suara tersebut, dan tidak ada apa-apa disana.

Ditengah kebingungan saya, tiba-tiba pintu lift kembali terbuka dengan sendirinya. Suara lift yang terbuka itu memecah kesunyian yang saya rasanya sekaligus mengagetkan saya. Saya masih mencoba untuk berpikir postif pada saat itu. Bahkan saya berpikir jika itu adalah maling. Akhirnya saya berlari kearah lift. Yang saya pikirkan kala itu adalah adanya seorang maling yang sadar akan kedatangan saya dilantai itu. Saat saya sampai didepan pintu lift, ternyata lift itu terbuka tapi dalam keadaan kosong. Lemas, nafas ngos-ngosan dan pada saat itu saya merasa sedang dikerjai oleh "mereka".Mereka yang tidak terlihat oleh saya.

Saya mencoba mengambil nafas panjang supaya lebih tenang dan masuk lift untuk mencapai kelantai berikutnya. 

Lantai 8 hingga ke 13 aman, tidak ada gangguan apa-apa lagi. Sekarang saat nya saya menuju ke lantai 14. Lantai yang dimana menurut saya, saya merasakan ada sesuatu. Baru saja pintu lift terbuka di lantai 14, hawa panas langsung saya rasakan di tubuh. Begitu kaki saya menginjakkan kaki dilantai tersebut, saya sudah di "sambut" oleh "mereka". Ada suara diujung lorong sebelah kanan lift, tepatnya di sebuah kamar mandi karyawan. Suara itu seperti suara keran air yang menyala. Terus terang saya merasakan takut yang sangat. Tapi rasa penasaran dan rasa tanggung jawab seolah mengalahkan rasa takut saya pada saat itu. 

Pelan saya berjalan kearah kamar mandi, arah sumber suara. Diujung lorong itu ada dua kamar mandi. Sebelah kiri ada toilet pria dan disebelah kanan adalah toilet wanita. Saya mencoba sedikit berkonsentrasi untuk bisa lebih mengetahui dari toilet sebelah mana sumber suara itu. Ternyata suara itu dari toilet sebelah kanan, toilet wanita. Pintu toilet itu tertutup dan saya mendekatkan telinga ke pintu, untuk lebih memastikan lagi. Perlahan saya membuka pintu toilet, dan memang benar tidak ada siapa-siapa didalamnya. Melainkan hanya air keran wastafel saja yang memang terbuka. Setelah saya matikan air keran itu, saya mencoba memeriksa setiap pintu toilet yang ada disana. Saya dorong satu per satu, dan ternyata memang beran-benar kosong. Sedikit kesal, saya mengumpat dalam hati. Keluar dari kamar mandi dan melanjutkan memeriksa ruangan-ruangan yang ada dilantai itu. 

Saya ingat, dimalam pertama saya berjaga malam didalam gedung dan saat memeriksa lantai 14 bersama Pak Iman, ada salah satu komputer yang masih menyala, kedip-kedip seperti rusak. Dan malam itu saya penasaran, apakah layar itu hari ini masih seperti waktu itu. Dan benar saja, ketika saya sampai diruangan dimana waktu itu ada komputer yang menyala, layarnya masih belum berubah. Masih sama seperti waktu itu. Saya dekati, agak risih sebenarnya melihat layar yang kedip-kedip seperti itu, dan saya masih berpikir pada saat itu, kenapa pegawai yang memiliki komputer itu tidak mematikan layar komputernya.

Sambil terus berjalan ke meja itu, tatapan mata saya terus menatap monitor tersebut. Ketika saya sudah berada didepan monitor itu, saya mencoba diam sejenak. Ketika saya perhatikan, kedipan yang ada dilayar komputer ini tidak seperti kebanyakan layar yang rusak. Saya mencoba menunduk ke bawah meja, untuk mencari stop kontaknya. Entah kenapa waktu itu saya berbuat seperti itu tanpa berpikir, itu hanya spontan saja. Tapi yang saya lihat, kabel monitor tersebut tidak terpasangan di colokan yang ada situ. Bahkan saya tahu, dibawah meja itu juga tidak ada CPU nya. Setelah saya perhatikan, meja kerja ini memang bersih, tidak seperti meja-meja lain yang ada disitu. Tidak ada kertas, alat tulis atau apapun itu yang menunjukkan kalau meja ini aktif dipakai untuk bekerja. Spontan say amengambil HT..

Saya                 : Monitor, Mas Anto..
Penjaga lain     : Ia Mel, ada apa?
Saya                 : Ini saya lagi dilantai 14 mas, ada satu layar monitor yang layarnya kedip-kedip tapi ngga kecolok ke kabelnya
Penjaga lain     : Mel, turun sekarang ya

Saya makin bingung, kenapa Mas Anto malah meminta saya untuk turun. Disisi lain saya merasa seperti ada yang mereka sembunyikan dari saya. Akhirnya terpaksa saya turuti, saya berjalan keluar dari ruangan tersebut. Sambil berjalan keluar, saya arahkan senter ke kiri, ke kanan dan disebelahkana itu ada sebuah pintu di ujung lorong dimana pintu itu adalah pintu menuju ke tangga darurat. Saat saya mengarahkan senter ke arah kanan, ada sesuatu yang membuat saya cukup terpaku kepada obyek tersebut. Ternyata setelah ssaya perhatikan, ternyata yang saya lihat itu bukanlah sebuah obyek, melainkan lebih mirip ke bentuk manusia yang sedang mengintip dari balik pintu tangga darurat. 

Saya terpaku dan tanpa sadar saya perhatikan sosok tersebut. Sosok yang nampak setengah badan dan rambutnya panjang hingga menyentuh lantai. Jelas terlihat dari sosok itu memiliki mata yang berwarna merah. Spontan saya langsung berlari kearah lift, dan dalam keadaan yang panik, saya terus memencet tombol lift dengan harapan dengan semakin seringnya saya memencet tombol lift maka lift akan semakin cepat terbuka dan saya akan merasa lebih aman ketika sudah berada didalam lift. Ternyata apa yang saya kira, salah. Begitu lift terbuka, buru-buru saya masuk dan memencet tombol lantai dasar. Saat itu tubuh sya sudah menggigil. Nafas sudah terasa seperti terputus-putus. Saya masih tidak percaya dengan apa yang barusan saya lihat. Percaya atau tidak, saya merasa sedang dikejar oleh sosok tersebut. Saya memperhatikan lampu penunjuk lantai diaatas, berharap lift segera mencapai lantai dasar.

Anehnya, baru sampai dilantai 11, lift terbuka dengan sendirinya. Saya mencoba memastikan apakah saya salah memencet tombol menjadi lantai 11. Dan ternyata hanya tombol lantai dasar yang saya pencet pada saat itu. Keadaan menjadi semakin panik bagi saya. Buru-buru saya memencet tombol "Close" supaya pintu lift cepat tertutup. Dan lagi-lagi keanehan kembali terjadi. Saat lift sudah meninggalkan lantai 11, baru satu lantai dibawah lantai 11, pintu lift kembali terbuka. 

"SIAL!!", umpat saya. Saya pencet kembali tombol "Close". Dan itu terus terjadi hingga disatu lantai lift terbuka kembali. Lantai itu nampak berbeda. Lantai yang desain nya berbeda dengan lantai yang lain. Lantai 6..

Dilantai inilah kejadian yang tidak mengenakkan kembali terjadi kepada saya. Setelah pintu lift terbuka dilantai ke 6, pandangan saya langsung mengarah ke depan, kesebuah bangku yang ada tepat didepan pintu lift tapi berada agak jauh didepan pintu lift. Di bangku itu ada yang sedang duduk disana. Meski ruangan itu gelap, tapi warna dari sosok itu jelas nampak jauh lebih gelap dari gelapnya ruangan sehingga saya masih bisa melihatnya. Saya sempat mengarahkan senter kearah bangku tersebut, dan malah terdengar suara seperti tangisan dari sosok tersebut. Tetapi wajahnya tidak dapat terlihat karena sosok itu menunduk. Dan alangkah kagetnya saya, tiba-tiba sosok tersebut menjatuhkan kepalanya ke lantai. Menjatuhkan dalam arti kata yang sebenarnya. Sosok itu melepaskan kepalanya dari tubuhnya sehingga terjatuh ke lantai. Bukan hanya visual yang saya dapatkan, tetapi suara dari jatuh nya kepala itu ke lantai juga terdengar jelas ditelinga saya.

Secepat mungkin saya memencet tombol lift supaya pintu lift tertutup. Itu adalah rasa takut yang sangat hebat yang pernah saya rasakan selama hidup saya. Tidak sadar saking takutnya saya menangis didalam lift itu. Setelah itu, setiap lantai pintu lift masih terbuka seperti sebelum-sebelumnya. Dan saya mencoba secepatnya memencet tombol, menutupnya kembali. Saat itu yang terpikirkan hanya cepat-cepat turun dan belum terpikir sama sekali saat itu untuk meminta bantuan dari teman-teman melalui HT.

Saya menyenderkan badan di tembok lift, menangis tanpa henti seperti anak kecil. Berbicara sendiri yang saya sendiri tidak tahu bicara apa. Sampai akhirnya saya sampai dilantai dasar. Saya secepat kilat berlari menuju ke pos depan, pos dimana Mas Anto berjaga. Samapi disana mereka terheran melihat saya ngos-ngosan, pucat dan menangis. Karena melihat kondisi saya yang sudah tidak karuan dan sangat tidak kondusif lagi akhirnya Mas Anto pun berinisiatif untuk  mengantar saya pulang. Disepanjang perjalanan pulang, Mas Anto mengingatkan bahwa jangan pernah mendatangi ke komputer tersebut. Tapi saat itu saya hanya bisa mendengarkan tanpa bisa menjawab apapun. Karena pada saat itu saya sudah merasa sangat lemas.

Akhirnya sampailah dirumah, saat itu waktu menunjukkan pukul setengah satu pagi. Ibuku terbangun dari tidurnya karena Mas Anto mengetuk pintu rumah saya. Melihat saya menangis, Ibu saya kaget bukan main. Banyak sekali pertanyaan dari Ibu saya tapi saya tidak bisa menjawabnya. Dan saya langsung menuju ke kamar. Di kamar, pikiran saya benar-benar kosong, saya hanya bisa bengong. Saya memaksakan untuk memejamkan mata, karena selain lemas saya juga merasa capek yang luar biasa. Namun saya terbayang dengan sosok terakhir yang saya lihat dilantai 6.

Sepertinya Ibu saya mengerti apa yang terjadi. "Mel ikutin Ibu baca-baca ya..",ujar Ibuku setelah masuk ke kamarku. Saya melihat wajah Ibu saya yang seperti ikut panik. Ibu menuntun saya membaca doa-doa supaya saya menjadi lebih tenang. Dan benar saja setelah saya mengikuti Ibu membaca doa-doa, tidak lama saya bisa memejamkan mata.

Saat saya terbangundari tidur, say melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 siang. Saya coba bangkit dari kasur, tapi badan ini terasa sangat berat dan sakit diseluruh badan. Ketika saya keluar dari kamar, ternyata diruang tamu sudah ada Pak Komar dengan Pak Iman, mengobrol dengan Ibu saya. Saya langsung duduk bersama mereka. Pak Komar menanyakan tentang keadaan saya. Dan saya menjelaskan apa yang saya rasakan ketika itu. "Ini salah saya..", tiba-tiba Pak Komar a memotong pembicaraan. Disinilah semuanya akan terjawab..

"Saya pikir kamu udah siap Mel. Makanya saya pilih kamu untuk ikut jaga malam", lanjut Pak Komar. "Memangnya kenapa Pak? Kok kesannya seperti hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa jaga malam", tanya saya kemudian. Selanjutnya saya menanyakan sebenarnya ada apa dengan gedung tempat kita bekerja. "Panjang ceritanya. Tapi saya coba menceritakan intinya saja", jawab Pak Komar.

Sebelum Pak Komar bercerita, saya pamit untuk cuci muka. Saat sedang dikaamr mandi, lagi-lagi bayang-bayang sosok semalam masih ada didalam kepala saya. Rasanya sulit sekali menghilangkan bayangan sosok tersebut. Yang sangat menganggu adalah terbayang ketika kepala dari sosok tersebut jatuh ke lantai. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat bagaimana bunyinya ketika kepala itu  saat menyentuh lantai.

Setelah kemabali ke ruang tamu, Pak Komar kembali bercerita. Bahwa memang pernah ada karyawan yang bunuh diri, lompat dari lantai paling atas. Saat kejadian itu terjadi malam hari. Entah bagaimana caranya, dia bisa ada diatas sana. Itulah mulai saat itu selalu ada yang berjaga didalam kantor. Menghindari ada orang yang menyusup kedalam kantor. Sesaat saya memandang ke Pak Iman. Pak Iman menjelaskan bahwa ketika kejadian dirinya berjaga di depan, sedangkan kejadiannya di sebelah gedung. Mungkin yang bersangkutan tahu kalau didepan dan dibelakang selalu ada yang berjaga. 

Masalah ini juga ternyata selalu ditutup rapat oleh Pak Komar dan penjaga-penjaga lainnya yang sudah senior. Mereka tidak ingin karyawan-karyawan baru yang ada dikantor yang ketika kejadian belum berkerja digedunt itu merasa takut. Setelah itu Pak Komar menanyakan ke saya, apakah masih ingin lanjut bekerja disana atau tidak. Saya sempat berpikir dahulu, tetapi tidak lama. Karena adik saya juga butuh biaya, sayapun menjawab akan tetap bekerja dikantor itu. 

BERSAMBUNG



Komentar

Postingan Populer