Kantor Baruku yang Horor (Part 2)

 Sejak malam itu kita selalu tidak pernah berjaga di pos yang sama, selalu bergiliran, tidak akan selalu berada di tampat yang sama. Selain berjaga didalam, kadang saya juga berjaga didepan atau dibagian belakang. Perbedaannya adalah cuma dibagian depan saja yang relatif aman dari gangguan. Malam kedua saya kebagian berjaga dibagian belakang, lebih tepatnya dibalakang gedung. Disana juga terdapat pos untuk kita berjaga dan enaknya di pos ini terdapat tv. Lumayan, jadi tidak seberapa membosankan seperti ketika berjaga didalam gedung.

Minggu ini saya kebagian jaga bersama dengan Pak Iman, untuk minggu selanjutnya akan berpasangan dengan rekan-rekan yang lain. Sistem rotasi ini dilakukan agar kita bisa saling akrab satu sama lain. Berjaga di bagian belakang ini bisa dikatakan sedikit lebih enak, ada angin sepoi-sepoi, bisa merokok dan ngopi juga. Intinya saya merasa lebih suka ketika berjaga diluar. Tapi ternyata tidak selamanya tenang. 

Saat itu jam menunjukkan pukul sebelas malam, saya dan Pak Iman sedang asyik menonton pertandingan sepak bola liga Inggris di tv. Dibalik suara komentator, samar-samar saya mendengar suara aneh. Saya berusaha fokus kesuara tersebut, hingga suara tv saya kecilkan. Dan sialnya ketika suara tv saya kecilkan, saya dan Pak Iman mendengar suara tawa perempuan. Seketika saya merasa merinding. "Kunti tuh Mel..", kata Pak Iman santai. "Pak, ngga lucu ah", balas saya dengan sedikit takut. "Serius, katawanya kaya gitu", lanjut Pak Iman menjelaskan. "Baiklah, malam kedua jaga langsung diketawain", saya bicara dengan sedikit kesal. "Hahaha,, sudah, gedein lagi suara tv nya", Pak Iman mengejek. Sejurus kemudian saya membesarkan kembali suara tv, karena saya sendiri merasa takut.

Tidak lama, ada yang melempar sesuatu kearah jendela pos tempat kami berjaga. Spontan saya langsung menoleh ke arah Pak Iman. Selama beberapa detik kami saling memandang, dan saya menyadari bahwa Pak Iman juga mengetahui hal yang sama. Saya bangkit dari duduk dan keluar dari pos. Dan ternyata keluar dari pos adalah keputusan yang salah.

Saat keluar pos, pandangan saya langsung tertuju kearah atas. Disitu saya melihat keatas pohon yang letaknya tidak jauh dari pos kami, ada kain berwarna putih yang terbang menjauh dari pohon. Saya hanya bisa diam, terpaku melihat hal tersebut. Seketika saya bisa merasakan pucat dimuka saya, dan saya memutuskan untuk kembali masuk kedalam pos. Didalam pos, Pak Iman masih asyik menonton pertandingan bola. "Kamu kenapa Mel?, tanya Pak Iman begitu melihat saya masuk. Saya diam, tidak menjawab pertanyaan Pak Iman. Pak Iman menawarkan minum karena dia pun melihat jika muka saya memang pucat. Itu pertama kali dalam hidup saya melihat penampakan langsung. Bahkan jika sebelumnya saya pernah merasakan sesuatu yang aneh, itupun hanya perasaan atau hanya suara-suara saja.

Saat itu saya merasakan tubuh saya gemetar, Pak Iman juga berusaha untuk menenangkan saya. Tapi sia-sia, karena saya sangat takut pada saat itu. 

Pak Iman            : Cek.. cek.. monitor (ucap Pak Iman lewat HT)
Penjaga lain        : Masuk Pak..
Pak Iman            : Teman kita baru dapat salam nih
Penjaga lain        : Hahahahahahaha...

Entah kenapa kejadian yang baru saya alami, malah seperti jadi bahan tertawaan bagi mereka. "Pak kok malah dibecandain sih. Bapak ngga takut apa?", tanyaku ke Pak Iman. "Mel, mulai sekarang kamu harus siap mental. Ini baru awal, nantinya kamu akan ketemu sama banyak hal yang lain", jawab Pak Iman. Tanpa bertanya lagi, saya hanya manggut-manggut meng iya kan pesan pak Iman. Tapi sialnya, justru dengan perkataan Pak Iman, yang harusnya mental saya semakin berani, malah semakin down seketika. 

Pak Iman minta ijin untuk tidur duluan, karena saya melihat memang mata Pak Iman sudah sangat merah, menandakan kalau beliau memang menahan kantuk. Jadi memang sepertinya ketika berjaga malam selalu ada giliran tidur. Jika satu tidur, maka yang satu yang berjaga. Dan bergantian, begitu seterusnya. Setelah Pak Iman terlelap, saya melanjutkan menonton tv dengan mata yang juga sedikit mengantuk. Disaat sibuk menahan kantuk supaya tidak tertidur, pandangan saya tertarik kearah jendela. Tepatnya jendela dibelakang saya. Spontan saya menoleh, dan saya merasa seperti sedang ada yang memperhatikan saya.

Saat saya menoleh kearah jendela itu, "Astagfirulloohhhh....", saya teriak dengan kencangnya sehingga membangunkan Pak Iman. Saya hanya bisa diam dan tidak mengatakan apapun. Saya melihat ada sosok yang sedang mengintip saya. Sosok ini hanya memperlihatkan separuh mukanya, sedangkan yang separuh lagi tertutup oleh tembok. Wajah ini terlihat cukup jelas oleh saya. Penampakan wajah yang pucat, dengan mata yang tertutup oleh rambut. Meski mata dari sosok itu tertutup oleh rambut, tapi sudah cukup jelas bagi saya kalau mata itu sedang menatap saya 

Pak Iman meminta saya untuk bercerita tentang apa yang barusan saya lihat. Hampir 10 menit saya hanya bisa diam, dan akhirnya saya mencoba untuk memberanikan diri lagi untuk kembali melihat kearah jendela. Tapi untungnya wajah itu sudah tidak ada lagi dijendela. Pak Iman meminta saya untuk memenangkan diri, karena beliau tahu saya baru saja mengalami sesuatu yang aneh. Setelah terus meminta saya untuk bercerita, akhirnya saya memberanikan diri untuk bercerita ke Pak Iman. Setelah saya bercerita, diluar dugaan saya ternyata Pak Iman justru kaget. Karena menurut Pak Iman, seumur hidup dia berjaga dikantor ini, belum ada yang berani menampakkan diri sedekat itu. 

Pak Iman menyuruh saya untuk tidur. Supaya lebih tenang dan Pak Iman juga sudah merasa cukup tidur, meski cuma sebentar karena dikagetkan dengan teriakan saya tadi. Meski saya sudah berusaha untuk memejamkan mata, susah rasanya untuk bisa langsung tertidur. Karena masih terbayang bagaimana sosok tadi mengintip saya dengan jelas, dan mungkin sudah cukup lama. Setelah mencoba untuk membaca-baca doa, akhirnya sayapun bisa tertidur.

Pak Iman membangunkan saya, beliau mengajak saya untuk patroli mengitari gedung bagian belakang. Ternyata ketika berjaga dibagian belakang, jadwal patroli adalah setiap dua jam sekali. Tidak sama ketika berjaga didalam gedung. Syukurnya setelah kejadian sesuatu yang mengintip saya tadi, tugas jaga malam itu aman sampai pagi. Tidak ada hal-hal aneh lainnya yang mengganggu tugas saya hingga pagi. Tapi biar bagaimanapun, rasa takut masih tetap ada setelah kejadian tersebut.

Hari selanjutnya tidak ada yang spesial, karena saya mendapatkan giliran untuk berjaga didepan. Seperti yang saya jelaskan tadi, berjga didepan adalah lokasi yang relatif paling aman jika dibandingkan dengan dua lokasi berjaga yang lainnya. Entah mungkin karena jauh lebih terang, selain itu berjaga didepan memang lebih ramai karena berdekatan dengan jalan raya. 

Malam berikutnya Pak Iman izin untuk tidak masuk karena salah satu anaknya ada yang sakit, dan Pak Komar tidak mengirimkan ganti untuk menggantikan Pak Iman untuk menemani saya berjaga. Malam ini saya kembali mendapatkan giliran untuk berjaga didalam gedung. Jujur ketika saya mendengar bahwa Pak Iman izin tidak masuk, jantung saya mendadak berdegup kencang, membayangkan bagaimana rasanya berjaga sendirian didalam gedung tanpa seorangpun teman. Didalam hari saya mencoba menguatkan diri. Saya butuh pekerjaan ini dan jangan sampai saya dipecat hanya karena saya tidak mau berjaga sendirian. Sejak kepergian bapak, saya adalah tulang punggung keluarga. Saya mencoba mengingatkan diri saya sendiri. 

Penjaga lain     : Cek.. cek.. Melky monitor
Saya                 : Siap.. masuk..
Penjaga lain     : Kalau ada apa-apa, langsung kontak kami ya 

Mas Anto, penjaga lain mencoba mengingatkan saya, kalau ada apa-apa mereka siap membantu. Untungnya semua teman penjaga yang ada disini adalah orang yang baik dan tidak segan untuk membantu. Saya melihat jam tangan, jam baru menunjukkan pukul 8 malam. Rasa kantuk mulai sedikit menyerang, saya berinisiatif untuk membuat kopi di pantry. Tapi entah kenapa hati ini seperti melarang saya untuk pergi ke pantry. Namun saya tetap membulatkan tekad untuk berjalan kearah pantry, tak lupa senter dan HT saya bawa untuk berjaga-jaga. Sebelum menuju lorong yang mengarah ke pantry, saya harus melewati lobby untuk tamu. Dan sinilah muncul lagi keanehan.

Di lobby tamu ada satu set meja dan kursi tamu. Diatas meja itu ada sebuah lampu dan majalah. Seingat saya harusnya semua lampu itu mati dimalam hari, tapi anehnya lampu itu malah menyala. Tadinya saya ingin mematikan lampu tersebut . Tapi niat itu saya urungkan, saya ingin membuat kopi terlebih dahulu baru setelah itu baru lampu saya matikan. Saya melanjutkan jalan menuju pantry, dan lagi-lagi saya harus melewati lorong. Lorong yang panjang dan gelap. Terus terang saya kurang suka dengan lorong tersebut, setiap melewati lorong itu hati terasa tidak aman dan tidak nyaman. 

Kali ini saya berhasil membuat kopi dengan aman, tidak seperti ketika malam pertama saya berjaga malam dan diganggu saat membuat kopi. Saya kembali melewati lorong untuk menuju ke lobby diruang tamu yang tadi masih menyala. Tapi anehnya, ketika saya sampai diruang tamu, lampu sudah dalam keadaan mati. Saya mencoba mendekati lampu dan mengecek saklar lampu. Posisi saklar lampu berada pada posisi OFF, artinya ada yang mematikan lampu ini. Mencoba untuk tidak memperdulikan apa yang terjadi dengan lampu itu, tapi terus terang memang ada rasa takut yang saya rasakan. 

Sesampainya di meja tempat saya berjaga, saya duduk dan mengambil nafas panjang supaya merasa lebih tenang. Karena tidak ada teman untuk mengobrol, saya pun mencoba membuang waktu dengan memainkan HP. Rasa bosan sangat terasa, sendirian berada diruangan yang besar, gelap dan sepi. Selama sekitar setengah jam saya memainkan HP, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Suara ini terasa samar tapi anehnya terdengar dengan sangat jelas. Suaranya sendiri berasal dari samping kanan saya, tepatnya berasal dari arah lorong menuju pantry. 

Dalam hati saya bertanya, "Siapa itu?". Saya ambil HT dan bertanya pada rekan-rekan yang lain. 

Saya                  : Monitor yang didepan..
Penjaga lain      : Masuk Mel..
Saya                  : Ada dimana mas?
Penjaga lain      : Didepan Mel, kenapa?
Saya                  : Didepan berdua?
Penjaga lain      : Iya
Saya                  : Oke mas, cuma ngecek aja..

Setelah itu saya juga mencoba memonitor tim yang ada dibelakang. Dan jawabannya pun sama, merekan juga masih berada dibelakang, berdua. Ingat cerita sebelumnya? Setiap pos dijaga oleh dua orang. Dan kebetulan hanya malam ini saya yang berjaga sendirian, didalam. Rasanya jantung ini mendadak ingin berhenti setelah tahu mereka semua berada dipos masing-masing, dan tidak ada yang didalam selain saya. Lantas suara langkah siapa yang ada dilorong itu?

Akhirnya saya sendiri yang harus mengecek ada siapa dilorong itu. Selain makhluk yang tak kasat mata, saya juga takut jika suara itu adalah suara maling yang menyusup. Saya beranjak, senter, HT dan tidak lupa pentungan. Pelan-pelan saya berjalan menuju kelorong. Semakin saya mendekati lorong, suara langkah kaki itu juga terdengar semakin jelas dan keras. Artinya sosok itu juga berjalan kearah saya. Hingga akhirnya saya bersembunyi dibalik dinding. Sempat saya berpikir jika itu adalah langkah kaki manusia dan sya berpikir jika ini memang benar-benar maling. 

Suara langkah kaki itu semakin dekat dan semakin dekat. Hingga akhirnya suara itu berhenti persis dibalik dinding tempat saya bersembunyi. Jantung saya berdetak sangat kencang hingga sepertinya saya bisa merasakan suara detak jantung saya sendiri. Saya memberanikan diri untuk keluar dari persembunyian saya, berharap pemilik suara langkah itu kaget dan bisa saya tangkap. Alangkah terkejutnya saya ketika saya keluar dari balik dinding, tidak ada siapa-siapa disitu. Saya hanya menatap lorong gelap yang panjang dan sepi. Sesaat saya merasa seperti orang bodoh yang sedang berhalusinasi, tetapi rasa takut tidak dapat saya tutupi. Saya terduduk lemas, semua persendian saya terasa kaku untuk bisa digerakkan. 

Saya semakin bingung, ada apa sebenarnya dengan gedung ini.

Belum hilang rasa takut dan lemas, tiba-tiba saya mendengar pintu lift terbuka. "Apa lagi ini..", ucap saya mulai sedikit kesal. Saya kembali ke pos jaga saya, dan tatapan mata saya langsung mengarag kepintu lift yang terbuka. Tidak lama pintu lift kembali tertutup. Dan seperti sebelumnya, lift itu bergerak naik dan berhenti dilantai 14. Tapi disini saya masih mengambil teori Pak Iman, yang menganggap bahwa sistem lift itu error.

Kemudian saya kembali mengambil HT, maksud hati untuk mengobrol dengan rekan-rekan yang lain. 

Saya         : Cek.. cek.. monitor..
Saya         : Cek.. cek.. monitor..

Beberapa saya memanggil, sama sekali tidak ada jawaban, yang ada hanya hening. Entah kenapa saya memandangi layar HT, dan saya baru menyadari bahwa channel untuk komunikasi saya dengan rekan-rekan yang lain sudah berganti ke channel satu, padahal seharusnya ada di channel tiga. Dan saya tidak pernah merasa mengganti channel ke channel lainnya. Kalaupun tidak sengaja tersentuh dengan tidak sengaja dan terganti dengan sendirinya, akan sedikit tidak mungkin, karena untuk menggati channel tidak semudah itu. Ada kode tertentu yang harus saya pencet secara manual untuk bisa berganti ke channel lainnya. Ini memang fitur safety di HT tersebut agar channel tidak dapat berubah atau berpindah dengan sendirinya.  

Tiba-tiba saya dikagetkan dengan bunyi alarm di jam tangan saya. Saya memang sengaja memasang alarm di jam tangan, untuk mengingatkan bahwa itu adalah waktu saya untuk berkeliling dan mengecek setiap lantai digedung ini. Rasanya malas sekali untuk berkeliling sendirian digedung sebesar ini sendirian, tapi mau tidak mau tetap harus dijalankan. 

BERSAMBUNG

Komentar

Postingan Populer