Kantor Baruku yang Horor (Part 1)
Nama saya Melky. Umur saya 25 tahun. Saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Surabaya. Diperusahaan itu saya bertugas sebagai seorang security. Saya sudah bekerja selama hampir tiga tahun di perusahaan tersebut. Awal bekerja disini tidak ada hal-hal yang aneh sama sekali. Layaknya perusahaan biasa, rutinitas saya selain bekerja juga bersosialisasi dengan karyawan-karyawan yang lain.Terus terang dijaman seperti sekarang ini mencari pekerjaan dengan latar belakang pendidikan yang biasa-biasa saja adalah hal yang sangat sulit.
Satu tahun pertama saya selalu ditugaskan dari pagi hingga sore hari. Sebenarya ada shift untuk jaga malam, namun entah kenapa pimpinan saya tidak pernah menunjuk saya untuk dapat giliran jaga dimalam hari. Kita sebut saja pimpinan saya dengan Pak Komar. Tentu saja hal itu membuat teman-teman saya yang lain menjadi iri, tapi bisa apa kalau Pak Komar sudah berkehendak, walaupun akan merugikan saya juga. Sebenarnya sayapun penasaran kenapa tidak pernah ditempatkan untuk dapat giliran jaga malam. Oleh karena itu sayapun berusaha untuk mencari alasannya.
Saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Komar, namun jawabannya tidak pernah memuaskan malah terkesan seperti menghiraukan pertanyaan saya. Akhirnya mau ngga mau saya hiraukan juga rasa penasaran saya.
Singkat cerita, hari ini adalah hari dimana tepat dua tahun saya bekerja diperusahaan itu. Tidak ada yang istimewa semua berjalan biasa saja. Di kantor ini pos tempat saya jaga ada didepan lift karyawan. Jadi semua orang yang datang dan pergi selalu terpantau oleh saya. Hingga akhirnya sore itu saat semua karyawan sudah pulang, saya juga bersiap-siap untuk pulang. Akan tetapi tiba-tiba Pak Komar menghampiri saya. "Mau pulang, Mel?, tanya Pak Komar. "Siap, iya Pak", saya menjawab dengan tegas. "Ya udah kalo gitu besok saja bicaranya", lanjut Pak Komar. Saat itu saya penasaran apa yang sebenarnya akan dibicarakan oleh Pak Komar. Tetapi saya tidak bisa memaksa Pak Komar. Rasa penasaran itu saya simpan sampai keesokan harinya.
Keesokan harinya Pak Komar memanggil saya keruangannya. Saya bergegas untuk datang dan duduk diruangannya. Ruangan Pak Komar tidak terlalu besar, ada beberapa foto keluarga yang mengantung di dinding. "Jadi kamu sudah setahun lebih kerja disini kan?', tanya Pak Komar. "Siap, iya pak", jawab saya lantang. "Ada kendala tidak, atau merasa ada hal yang janggal?", tanya Pak Komar lagi. "Syukur selama ini tidak ada pak", jawab saya lagi. Dalam hati saya bertanya apa maksud dari pertanyaan Pak Komar ini. Kenapa dia menanyakan apakah ada hal yang janggal ketika saya bekerja disini.
"Gini Mel, selama ini kamu selalu jaga pagi. Mulai besok kamu akan kebagian jadwal jaga malam. Bisa?", tanya Pak Komar. "Siap, bisa Pak", saya menjawab tegas. "Bagus. Tolong kamu persiapkan mental dan kesehatan kamu", pesan Pak Komar. Lagi-lagi ucapan Pak Komar membuat saya berpikir, apa iya jaga malam harus segitunya? Sampai harus menyiapkan mental segala. Setelah dirasa cukup, saya berpamitan ke Pak Komar untuk pulang. Saat melangkah keluar dari ruangan, tidak sengaja saya melihat sesuatu di ventilasi pintu ruangan Pak Komar. Ada sebuah kertas dengan tulisan Arab. Melihat hal itu sayapun semakin penasaran. Apakah berjaga malam itu segitu menakutkannya hingga Pak Komar menanyakan kesiapan dari mental saya.
Pagi ini tidak seperti biasanya. Kalau dulu setiap jam lima pagi saya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tapi kali ini saya masih nyaman berada diatas kasur. Ibu sayapun sempat bertanya kenapa saya tidak bersiap-siap untuk berangkat kerja. Saya coba menjelaskan kalau hari itu saya dapat jatah untuk jaga malam. Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan saya pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor jam setengah empat.
Sesampainya dikantor saya langsung berkumpul dengan teman-teman yang lain untuk dilakukan briefing. Pak Komar yang memimpin briefing menyampaikan jika malam ini adalah malam perdana saya mendapatkan giliran jaga malam, dan meminta semua teman-teman yang juga jaga malam membantu saya jika saya mendapatkan kesulitan. Entah kenapa saya menjadi sedikit grogi saat itu. Setelah selesai briefing saya dipanggil oleh Pak Komar. "Mel kamu jaga berdua sama Pak Iman ya. Jaga ditempat biasanya saja. Didepan lift", pesan Pak Komar. "Man, nanti kamu kasih tau Melky. Harus apa kalau jaga malam. Dijaga ya Man", pesan Pak Komar lagi ke Pak Iman. Disini saya baru tahu kalau jaga malam itu berbeda dengan jaga pagi. Personel untuk jaga malam ternyata lebih banyak dibandingkan dengan personel untuk jaga pagi. Ada 6 orang yang bertugas pada malam itu, dengan pembagian didepan ada dua orang, didalam dua orang dan di luar belakang juga dua orang. Kebetulan saya jaga didalam bersama dengan Pak Iman. Tempat yang sebetulnya dihindari oleh teman-teman yang lainnya.
Tetapi karena saya waktu itu baru, jadi tidak tahu kalau ternyata mereka menghindari untuk jaga didalam kantor saat malam. Pak Iman menyuruh saya untuk membuat kopi sebagai teman selagi berjaga. "Mel, kamu bikin kopi ya. Saya kekamar mandi dulu", kata Pak Iman. Saya berjalan kearah pantry kantor yang dimana letaknya cukup jauh, hampir kearah belakang. Disaat itu saya baru tahu bahwa suasana kantor tempat saya bekerja saat malam sangat gelap, karena ternyata semua lampu yang ada didalam kantor dimatikan untuk mengurangi biaya listrik. Jadi saat saya berjalan menuju ke pantry kantor yang letaknya lumayan jauh, suasananya benar-benar gelap. Untungnya saya dibekali senter oleh Pak Iman.
Jalan menuju pantry harus melewati lorong. Memang tidak panjang, tapi cukup bikin merinding karena gelap. Ternyata suasana dikantor ini juga sangat sepi saat malam, tidak ada suara apapun. Saking sepinya suara langkah kaki saya sampai terdengar sampai ke ujung lorong. Sambil jalan, saya memainkan senter kesegala arah. Saat itu saya belum ada pikiran sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal gaib. Hingga sesampainya di pantry, saya langsung membuat kopi untuk kami berdua. Disini pertama kali saya mengalami kejadian diluar nalar. Ini pertama kali saya mendapat gangguan dikantor saya sendiri.
Saat saya mengaduk kopi, tiba-tiba tempat gula yang ada disebelah saya bergeser sedikit. Saya tersadar dengan gerakan itu, tapi saya masih berusaha untuk berpikir positif. Karena menurut saya mungkin hanya perasaan saya saja. Dan tidak lama, tempat gula itu kembali bergeser, kali ini tidak sedikit tapi cukup jauh dari tempatnya semula. Dan akhirnya saya yakin kalau ini bukan hanya perasaan saya saja, tapi memang nyata, toples itu bergerak! Seketika itu saya merasa panik dan berusaha secepat mungkin keluar dari pantry.
Saya berjalan sedikit cepat kembali menuju tempat jaga. Tapi sebelum sampai, saya berusaha menenangkan diri agar tidak terlihat oleh Pak Iman. Ketika saya memberikan kopi ke Pak Iman, Pak Iman hanya diam dan melihat ke wajah saya, memandang saya dengan heran. Saya berusaha membuka obrolan dengan Pak Iman agar dia tidak curiga.
"Ternyata sepi ya pak kalau jaga malam", mulaiku ke Pak Iman. "Ya beginilah, kadang bingung juga mau ngapain", kata Pak Iman. "Emang kalau jaga malam harus ngapain aja pak?", lanjut tanyaku. "Oya, saya lupa kasih tahu. Cuma ngecek ruangan saja tiap lantai", jelas Pak Iman. "Cuma itu saja pak?", tanyaku lagi. Pak Iman langsung menoleh kearah saya dan berkata, "Iya cuma itu saja. Nanti jam sembilan kita jalan ya". Sampai disini saya belum tahu apa yang biasanya terjadi saat jaga malam. Saya pun belum banyak tahu tentang latar belakang kantor ini atau pernah ada kejadian apa dikantor ini.
Saat lagi enak-enaknya ngobrol dengan Pak Iman, tiba-tiba saja pintu lift terbuka dengan sendirinya. Disitu saya langsung kaget, bagaimana bisa lift terbuka sendiri padahal tidak ada yang memencet tombol lift tersebut. Pak Iman pun juga diam. Tapi saya malah merasa seperti Pak Iman menoleh kearah saya, bukannya kearah lift disat saya terpaku melihat kearah lift. "Woi, jangan diem gitu", Pak Iman mengagetkan saya. "Pak, itu kok bisa terbuka sendiri?", tanyaku heran. "Ngga ada apa-apa. Mungkin error sistemnya Mel", jawab Pak Iman yang terkesan menjawab seadanya. Mendengar penjelasan Pak Iman sayapun percaya saja. Tapi mungkin pada akhirnya nanti saya akan mengetahui sendiri kebenaran mengenai kantor ini.
Tak lama pintu lift kembali menutup, Dan saya masih saja heran dengan kejadian itu. Dan anehnya lift tersebut berjalan naik. Saya mencoba memperhatikan pergerakan lift tersebut. Lift itu berhenti dilantai 14. "Apa iya mungkin sistem error kok bisa naik sendiri dan berhenti dilantai tiga belas?", tanyaku dalam hati. Tapi aku mencoba membuang jauh-jauh pikiran negatifku. Singkat cerita karena sudah jam sembilan malam, Pak Iman mengajak aku keliling ruangan dengan membawa senter dan HT.
Saat kita memencet tombol lift, saya melihat lift turun dari lantai 14. Dan anehnya lagi, lift tidak langsung berhenti di lantai 1, tempat saya dan Pak Iman berada. Tetapi turun dulu ke basement baru setelah itu naik lagi ke lantai 1.Setahu saya cara kerja lift adalah, ketika lift itu dipanggil di lantai 1, maka lift itu akan langsung berhenti di lantai 1 jika tidak ada yang memencet tombol lift juga dilantai yang lain. Itu artinya, ada yang memanggil lift tersebut dari basement. Tapi lagi-lagi Pak Iman menjelaskan jika sistem lift tersebut sedang error. Sayapun cuma bisa mengangguk saja. Dan bodohnya selama saya jaga pagi, saya tidak pernah sadar kalau lift tersebut sistemnya error.
Kami mulai mengecek satu demi satu lantai di perkantoran itu. Dari lantai 1 hingga lantai 13 tidak ada yang aneh, semua biasa-biasa saja. Masing-masing lantai kami cek dengan menggunakan senter. Hingga akhirnya kami sampai dilantai 14. Lantai yang tidak pernah bisa saya lupakan ketika berjaga malam.
Saat pintu lift terbuka, saya merasakan hawa yang berbeda dibandingkan dengan lantai-lantai yang sebelumnya. Entah hanya perasaan saja atau bagaimana, tetapi yang jelas disini saya merasakan sesuatu yang sangat tidak enak. Saya sempat bertanya ke Pak Iman mengenai hawa yang berbeda ini. Tapi lagi-lagi Pak Iman menjawab terkesan seadaanya, beliau mengatakan jika itu hanya perasaan saya saja. Saya dan Pak Iman memutari setiap ruangan dilantai itu. Hingga akhirnya saya merasakan ada sesuatu yang aneh, tapi menurut Pak Iman hal tersebut biasa saja.
Pada saat itu saya melihat ada sebuah komputer yang masih menyala tetapi layarnya seperti rusak. "Itu rusak atau kenapa pak? Emang ngga dimatiin dulu apa sama orangnya sebelum pulang", tanyaku ke Pak Iman. "Ah itu biasa aja Mel, udah lewati saja", jawab Pak Iman masih seadanya. Kami berdua kembali berkeliling, lalu Pak Iman memonitor anggota yang lain lewat HT.
Penjaga lain : "Hahahah, nikmati saja Pak Iman"
Mendengar hal tersebut, saya bingung. Apa maksud dari pembicaraan mereka? Setelah dirasa cukup, saya dan Pak Iman melanjutkan ke lantai 15 hinggal 17. Dan hanya dilantai 14 saja yang saya merasakan sangat berbeda.
Saya tahu kalau malam ini saya memang mendapatkan gangguan. tapi mungkin malam ini tidak begitu banyak, mungkin juga karena ini malam pertama saya. Tapi akan ada saatnya saya tahu apa yang sebenarnya terjadi dikantor ini.
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar