Horror di Everest

 Cerita ini bukanlah cerita yang saya alami sendiri. Ini adalah cerita dari salah satu teman saya yang pernah bekerja pada salah satu agen pendakian Seven Summit dunia, sebut saja Bang Obi. Dan saya aka mencoba untuk membawakan ulang cerita dari Bang Obi dalam bentuk tulisan.

Sebelum itu mari kita berdoa agar terhindar dari suatu hal yang tidak kita inginkan selama kita membaca cerita ini. 

"A'uudzu bikalimaatilaahit taamati min syarri maa kholaq"

Artinya : "Aku belindung dengan kalimat Tuhan yang Maha Sempurna dari semua kejahatan yang dijadikanNya" Baca 3x


Selamat pagi, siang, sore, malam dan sepertiga malam. Saya tulis cerita ini sambil makan pentol di kaki Gunung Welirang ditemani satu pendaki yang juga sahabat saya semasa sekolah, Rendy. Tapi kita ngga lagi mau naik, kita cuma mau ngadem sambil makan pentol murahan yang kalo digigit pentol itu bales gigit, alias membal. Mirip-mirip kalo kita coba-coba ngunyah ban dalem motor.

Sekali lagi, cerita ini bukan dari saya. Bukan saya yang alami sendiri. Karena memang saya belum pernah ke Everest. Meskipun belum pernah ada kesempatan datang. selain karena duit yang ngga ada, mental dan fisik juga belum siap semua. 

Cerita ini awalnya dari Matteo, seorang pengguna jasa agen pendakian tempat Bang Obi bekerja, yang di ceritakan kembali kepada saya dan saya ceritakan kembali ke kalian. Jadi saya tidak bisa menjamin kebenaran dari cerita ini. Tapi lumayanlah buat nambah bahan cerita sekaligus buat nambah wawasan. Lumayan susah juga sih mencerna apa yang Bang Obi ceritakan waktu itu kesana. Karena Bang Obi menceritakan dengan bahasa Inggris. Dengan aksen Inggris-Jawa yang njlimet serta grammar yang berantakan. Tapi cukup oke lah, saya masih ngerti maksudnya.

Ini cerita dari sepasang pendaki asal Itali yang berusia 55 tahun. Bang Obi pertama kali ketemu mereka di Taiwan, tepatnya di Dongbu Hostel. Dan membentuk tim dadakan di Payun Station atau kantor perijinan pendakian Jade Mountain, tapi lebih mirip pusat informasi dengan gaaleri-galeri.


1999, Basecamp Everest.

Matteo dan istrinya melanjutkan pendakiannya ke Everest setelah selesai dengan pendakiannya ke pegunungan Andes di Amerika Selatan. Mereka adalah petualang kelas dunia yang terhitung sudah dua kali menaklukkan top Seven Summit, termasuk puncak Cartenz di Jayawijaya, Papua. Bisa kebayang kan berapa uang yang mereka kumpulkan dan habiskan. Dua minggu di basecamp Everest di ketinggian 5000 sekian mdpl (Semeru aja 3800 sekian, lah ini 5000 mdpl baru basecamp), penantian berakhir dengan kedatangan tim dari Ice Fall Doctor memberi kabar gembira bahwa jalur selesai dipetakan dan dinyatakan aman untuk dilewati.  

Tim ini adalah semacam tim pantau, kayaknya banyak istilah di alam pendakian global yang  asing bagi saya dan kalian. Tapi tenang, saya akan coba jelasin seakurat dan sebisa saya. Dari basecamp menuju camp 1, Matteo ditemani dua sherpa (sebutan untuk salah satu suku yang ada di Nepal) segera menuju camp 1. Perjalanan menuju camp 1 terbilang ekstrem, melewati beberapa glesyer es yang rapuh dan beberapa cerukan es. Pastinya bukan perjalanan yang menyenangkan bagi mereka, mereka membutuhkan waktu sepuluh hari untuk bisa sampai di camp 1. 

Camp 1 menuju camp 2 atau Advance Basecamp dipenuhi oleh bebatuan melipir, lembah lereng dengan ketinggian 6000 sekian mdpl. Mulai memasuki sebuah lembah yang dikenal dengan West CWM, atau banyak disebut sebagai lembah malapetaka atau lembah penyiksaan. Sesuai namanya diarea ini suhu berbalik 180 derajat. Dimana disiang hari terasa panas luar biasa karena es dikiri kanan lereng memantulkan cahaya matahari, ditambah sangat minim hembusan angin. Tetapi pada malam hari suhu bisa menurun ekstrem minus sekian belas derajat celcius. 

Setelah area ini terlewati, sampailah di camp 2 atau Advance Basecamp. Mulai kembali mengecek peralatan mereka, sekedar memastikan semuanya berfungsi normal, terutama tabung oksigen. Dua hari kemudian melanjutkan perjalanan menuju camp 3, melewati lereng Loksi dengan kemiringan curam, mungkin sekitar 55 derajat, itupun menurut mereka. Lagi-lagi, bukan perjalanan yang mudah karena hidup mereka hanya bergantung pada tali carmantle selama kurang lebih 4-6 jam. Dilokasi ini juga tidak sedikit pendaki yang bubar barisan balik kanan karena suhu yang ekstrem. Setelah mendaki dan membelah gunung Loksi yang notabene gunung dengan puncak tertinggi keempat di planet ini, sampailah mereka di camp 3. 

Menurut mereka ada dua lokasi camp ground disini dengan lahan terbatas, dan ketinggian yang berbeda. So better you choice one of two at camp 3 camp ground, or you may get a long way.. Mereka hanya istirahat sebentar untuk kemudian menuju check point Jenewa Spurs. Sesampainya disana mereka disambut badai selama lima hari. Hanya dinding es setinggi rumah tiga lantai yang menahan hempasan badai tersebut. Tapi angin yang menabrak dinding es itupun masih saja terasa sangat kencang. Lima hari bertahan dengan ganasnya badai, perjalanan dilanjutkan pada hari keenam ketika cuaca mulai tenang dan bersahabat, pagi itu langit sangat biru dan bersih. Secepatnya merekan berkemas dan menuju South Call atau camp 4.

Dan sampailah mereka di Everest dead zone. Kata "dead zone" bukanlah isapan jempol atau cerita untuk menakut-nakuti pendaki. Mungkin untuk menggambarkannya saya akan pakai istilah dari istrinya Matteo, "Jika saja seluruh salju dan es di Jenewa Spurs hingga puncak mencair, maka percayalah kalian akan terlihat ratusan jasad pendaki yang masih utuh lengkap dengan ekspresi mimik wajah mereka ketika ajal menjemputnya. Mungkin hanya ada ekspresi ketakutan, pasrah dan putus asa menjelang detik-detik terakhir di wajah mereka". 

Dan memang benar di jalur menuju camp 4 terlihat jelas beberapa jasad pendaki yang utuh berserakan dilereng menuju puncak. Area ini dikatakan dead zone juga bukan tanpa sebab, selain cuaca yang ekstrem, kandungan oksigen diudara hanya sekitar 30%. Dan apa yang terjadi ketika otak dan tubuh kita kekurangan oksigen. Gangguan saraf, halusinasi, AMS, hypotermia tingkat lanjut dan apapun itu mengenai sistem kerja saraf pada otak dan tubuh. 

Tabung oksigen pertama mulai mereka gunakan selepas Jenewa Spurs. Disini istri Matteo samar-samar mendengar suara aneh.Seperti orang memanggil-manggil mereka, meminta pertolongan. Suaranya lirih, pelan tapi seperti tepat ditelinga. Awalnya dia mengira itu mungkin hanya halusinasi. Tapi semakin lama suara itu semakin sering, suaranya seperti seseorang yang mengiba dengan penyesalan yang mendalam. Dan percayalah banyak pendaki Everest yang mengalami ini. 

30 menit kemudian Matteo bertanya pada salah satu sherpa yang berada didepan, "Kawan, apakah aku berhalusinasi? Aku melihat beberapa pendaki jauh didepan kita, seperti hendak turun". Sherpa itu menjawab, "Sata malah mau menanyakan hal yang sama pada kalian, tapi ngga jadi. It's normal. Dikawasan ini sampai puncak banyak sekali pendaki yang tewas dan tidak satupun jasad mereka di evakuasi".

Satu jam mendekati camp 4 apa yang Matteo dan sherpa itu lihat ternyata memang nyata. Sekitar 5 pendaki dan 4 sherpa terlihat bergerak turun dari camp 4. Setelah berpapasan dengan mereka dan saling bertukar informasi, ternyata mereka adalah pendaki asal Swedia. Mereka menyampaikan jika ada teman mereka yang meninggal di camp 4. Mereka terpaksa meninggalkan jasadnya karena sangat tidak memungkinkan membawa jasad teman mereka turun. Membawa diri sendir saja sudah susah payah, otot terasa kaku dan menguras stamina. Juga pandangan mulai ngga jelas. Apa itu kejam? Sama sekali tidak.

Hal-hal seperti ini sudah lumrah dialam pendakian manapun, termasuk di Indonesia dengan catatan korban sudah dinyatan tewas. Malah setau saya dalam dunia rock climbing pun berlaku, bahkan lebih sadis. Ketika climbing secara grup dengan teknik paralel dimana tali terhubung satu sama lain dalam satu grup, ketika seorang teman paling bawah tergelincir dan membahayakan anggota grup yang lain, hanya ada satu pilihan. Ambil bayonet dan potong tali temanmu yang paling bawah. Biarkan dia tewas sendiri tanpa membawa satu grup bersamanya. 

Setelah berpisah dengan tim Swedia, perjalanan dilanjutkan dengan susah payah. 15 menit sebelum camp 4, dijalur pendakian terdapat jasad seseorang yang mungkin teman dari tim Swedia yang mereka tinggalkan tadi. Merekapun menghampiri dan memeriksa jasad itu. Ternyata orang itu belum meninggal. Tabung oksigen masih terhubung dengan baik. Tapi melihat kondisinya, pada bagian hidung dan telinga sudah menghitam. Menandakan sudah rusaknya jaringan syaraf dan daging yang mati. Sudah dapat dipastikan kemungkinan dia bisa bertahan hidup adalah nol persen. Ngga ada yang bisa mereka lakukan. Rescue adalah hal yang mustahil di Everest.

Salah satu sherpa berkata, "Harusnya mereka menungguinya hinggal ajalnya". Matteo lalu menjawab, "Mungkin mereka semua tidak sanggup dan tidak tega melihat kepergian temannya, dan itu wajar". Sherpa yang lain mendekati pria malang bermata biru itu, lalu membuka masker oksigen serta mengambil tabung oksigennya. Lalu dia berkata pada pria itu, "Hai, kawan Swedia ku yang tanpa nama. Berbahagialah.. Misimu sudah tuntas, ini adalah puncak Everest. Dimana impianmu sudah tercapai.Tersenyum dan pergilah dengan kebanggan, dan nikmatilah keindahan puncak ini. Teruslah tersenyum dengan gagah hingga matamu terasa mengantuk. Dan istirahatlah saat kantukmu sudah datang. Tubuhmu lelah, istirahatlah sejenak, damaikanlah pikiranmu. Besok ketika matamu terbuka, kau akan mendapati dirimu berada di tengah-tengah hangatnya keluarga yang kau sayangi. Kamu lelah, tidurlah kawan". Dan begitulah cara sherpa menunggui para pendaki yang sudah berada diujung kematiannya.

Lalu dia menghampiri Matteo dan berkata,"Setidaknya kita sudah mengantar dia menuju akhir hidupnya. Dan juga setidaknya dia menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dengan meninggalkan dua tabung oksigen yang msih utuh. Dan biarkan jasadnya menjadi penanda ketinggian di camp 4, juga penanda jalur bagi pandaki-pandaki di masa depan". Matteo dan istri hanya mengangguk pelan dan menyampatkan untuk berdoa. 

15 menit kemudian sampailah mereka di camp 4. Mereka sampai di camp 4 sekitar jam 4 sore. Segera membuka tenda dan beristirahat. Lokasi camp 4 atau lebih dikenal dikalangan pendaki global menyebutnya South Call. Ini adalah lokasi terakhir para pendaki bisa istirahat, sebelum summit esok harinya. Dilokasi inilah tabung oksigen kedua digunakan, hanya untuk sekedar tidur dan menghindari paru-paru membeku karena menghirup udara dingin. 

Esok paginya cuaca mendukung untuk summit. Singkatnya mereka berhasil summit Everest untuk kedua kalinya. Mereka segera berkemas untuk perjalanan turun. Dan bertemu kembali dengan tim Swedia di camp 2 dan berjalan turun bersama ke Everest Basecamp. Sesampainya di Everest Basecamp mereka kembali membuka tenda, karena masih ada lima hari perjalanan melewati banyak desa sebelum sampai di Lukla airport. 


Malam itu di Everest Basecamp.

Ketika sedang asik mengobrol dengan kedua sherpa, mereka dikagetkan dengansuara gaduh dari tenda tim Swedia. Karena penasaran mereka menghampiri dan tak kala terkejutnya dengan orang-orang dari Swedia. Ternyata mereka melihat pendaki yang telah meninggal di camp 4 kemarin. Pendaki itu sedang duduk, menikmati kopi sambil kepalanya menatap kepuncak Everest. Sosok itu hanya duduk tidak bergeming, sambil sesekali meminum kopinya. Dan terkadang tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.

Sosok itu kembali menggelengkan kepalanya sambil berkata dengan sangat pelan, "Svea Ebba Ellelyka". Kata-kata itu terus terucap berulang dengan sangat pelan. Mereka dan orang-orang dari Swedia hanya menonton keheranan dari jarak sekitar 5 meter. Karena mustahil, orang yang sudah mereka konfirmasi 100 persen meninggal bisa berada disini. Sosok itu seperti tidak melihat mereka yang sedang memperhatikan dirinya sedari tadi. 

Lalu sosok itu bangun dari duduknya dan mengambil carrier yang sama persis seperti yang ada di camp 4. Sosok itu berjalan kejalur pendakian menuju Ice Fall dan menghilang digelapnya malam.

Lima hari kemudian di Kathmandu, ibukota Nepal. Matteo dan tim Swedia bertemu di sebuah bar. Lalu bergabunglah mereka dalam satu meja besar, mereka ngobrol santai sambil menikmati nasi goreng khas Nepal. Lalu muncul seorang pria menghampiri meja mereka, Dan tanpa basa basi berkata, "Svea Ebba Ellelyka". Pria itu adalah sosok pendaki yang meninggal di camp 4 kemarin, lalu kembali mengucapkan kata-kata yang sama seperti memberi mereka sebuah pesan. 

Ternyata itulah nama untuk calon putrinya yang akan lahir dua bulan kemudian. Lalu tanpa salam sosok itu keluar dari bar. Informasi tentang sebuah pesan itu mereka dapat dari saling berkirim surat. Dulu belum ada email. ABG 90 an tahu lah apa itu sahabat pena. 


THE END


Komentar

Postingan Populer