Catatan Seorang Dokter Forensik
Kenalkan, namaku (sebut saja)
Ridwan. Aku adalah seorang mahasiswa kedokteran yang kebetulan sedang mengambil
ilmu kedokteran forensik.
Dicerita kali ini aku tidak akan
menuliskan atau menceritakan semuanya (nama dan tempat) secara terbuka karena
berkaitan dengan kode etik profesi yang sedang ku jalani.
Sebagai seorang mahasiswa
kedokteran forensik, kamar jenazah adalah tempat yang sudah ku anggap seperti
rumah kedua bagiku. Apalagi jika ada tugas atau jadwal untuk melakukan autopsy,
aku sebagai mahasiswa kedokteran forensik harus selalu siap jika dibutuhkan
tenaganya oleh dokter forensik yang bertugas. Mempersiapkan ruang autopsi,
mempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan autopsy, agar proses autopsi
bisa berjalan lancar. Sedikit tentang autopsi, autopsi adalah prosedur medis untuk
mencari tahu tentang sebab, cara, kapan dan bagaimana seseorang dapat
meninggal. Biasanya cara autopsi ditempuh jika jenazah meninggal secara tidak
wajar, dan dibutuhkan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian.
Seperti banyak dokter pada
umumnya, kejadian aneh dirumah sakit sudah sangat sering kualami. Bahkan
mungkin hampir setiap malam. Ketika aku pulang malam dari tempatku bertugas
atau sedang mendapatkan jadwal jaga malam dirumah sakit, ada saja kejadian aneh
yang terjadi di lingkungan tempatku bertugas. Mulai dari yang hanya sekedar bayangan,
bisikan, bahkan sekelebat-sekelebat panampakan yang muncul. Tetapi semuanya
tidak pernah membuatku dan teman-teman dokter atau staf-staf rumah sakit lainnya
gentar. Karena seperti kebanyakan stigma yang muncul, rumah sakit memang tempat
untuk makhluk-makhluk seperti itu. Tetapi semua kejadian-kejadian aneh yang
kualami itu sudah kuanggap sebagai hal yang biasa.
Tetapi ada satu kejadian yang
selalu membekas diingatanku meski sudah terjadi bertahun-tahun lalu, bahkan
sempat menghantuiku selama beberapa hari. Kejadian ini terjadi saat aku
mendapatkan tugas jaga malam di rumah sakit. Begini ceritanya…
Masih jelas diingatanku, saat itu
adalah hari selasa tanggal 10 agustus. Ketika itu aku mendapatkan jadwal untuk
jaga malam. Karena aku adalah mahasiswa kedokteran forensik, maka ruang kerjaku
berada didekat kamar jenazah. Malam itu aku berjaga sendirian, hanya ditemani
oleh satu petugas kamar jenazah (sebut saja) pak Iman. Pak Iman sudah bekerja
lama untuk rumah sakit ini, bahkan sebelum beliau menikah hingga sekarang beliau
sudah memiliki cucu. Aku beberapa kali mendapatkan tugas jaga malam bersama pak
Iman, beliau juga sering bercerita tentang kejadian-kejadian aneh yang terjadi
di rumah sakit dan di lingkungan kamar jenazah. Oia, kamar jenazah di rumah
sakit kami berada di bagian belakang rumah sakit, dekat dengan masjid dan parkir
mobil. Berada jauh dari bangunan utama rumah sakit membuat kamar jenazah ini
seperti sebuah bangunan yang berdiri sendiri, bukan bagian dari rumah sakit.
Memang kalau malam, lingkungan kamar jenazah ini tampak menyeramkan karena
persis disebelah kamar jenazah ini terparkir beberapa mobil jenazah dan banyak
pohon-pohon besar yang usianya mungkin sudah lebih tua dari usiaku.
Seperti malam-malam jagaku
sebelumnya, aku menghabiskan waktu dengan menonton tv di ruang jaga dan pak
Iman berada diruang sebelah. Pak Iman memiliki kebiasaan bermain komputer jika
sedang mendapatkan jaga shift malam hingga tidak sadar sampai tertidur.
Ruanganku dan ruangan pak Iman bersebelahan dan dihubungan dengan satu pintu
penghubung antar ruangan. Menjelang jam 9 malam, pak Iman masuk keruangan saya,
“Ngapain mas?”, tanya pak Iman. “Ngga ngapa-ngapain pak.”, jawabku singkat. Pak
Iman duduk disebelahku. “Ngga pengen nongkrong di depan mas? Nemenin bapak
ngerokok, yuk”, ajak pak Iman. “Ayo pak, kebetulan saya juga bosen nonton tv”.
Kami berduapun keluar untuk pindah tempat.
Diluar kami duduk dibawah pohon
trembesi yang ada di sebelah kanan kamar jenazah. Pak Iman menyalakan sebatang
rokok kretek kesayangannya. Sambil ngobrol, mataku menyapu kesemua titik
disekitaran kamar jenazah. Tiba-tiba pak Imam nyeletuk, “Tumben anginnya
kencang sekali malam ini”. Memang malam ini terasa lebih dingin daripada
malam-malam yang lainnya, ditambah dengan angin yang berhembus lebih kencang
daripada biasanya. “Iya ya pak, rasanya kok dingin banget ya”, sambungku.
“Menurut pengalaman bapak mas, kalau begini biasanya mau ada mayat yang aneh-aneh
nih mas kalau modelnya begini”, sahut pak Imam lagi. “Ah yang bener pak?”,
tanyaku meyakinkan. “Laahhh, biasanya begitu mas. Tapi gpp, nanti juga kalau
memang ada yang aneh-aneh, kan tugasnya mas Ridwan. Hehehehe..”, pak Iman
bercanda.
Setelah mengobrol untuk beberapa
lama, kamipun kembali kedalam ruangan. Aku kembali keruang jaga, dan pak Iman
kembali ke ruangannya dan melanjutkan bermain komputer. Aku melanjutkan nonton
tv. Sambil setengah ngantuk, aku mendengar raungan suara sirine mobil ambulance.
Entah kenapa aku tidak segera beranjak dari kursi, aku hanya berpikir,
“Ambulance sapa malam-malam gini kirim jenazah”. Karena jika memang ada kiriman
jenazah dari luar rumah sakit ini, pasti akan ada konfimasi dulu ke bagian
kamar jenazah. Tetapi dari tadi aku tidak mendengar ada telepon bunyi dari
ruangan pak Iman, yang artinya tidak ada kiriman jenazah malam ini.
Yang kurasa aneh dari suara
sirine itu adalah, suara itu tidak semakin dekat dan tidak menjauh, melainkan
seperti berputar-putar di sekeliling ruangan jagaku. Merasa aneh, aku bangun
dari tempat dudukku dan menuju ke ruangan pak Iman. Diruangan, pak Iman masih
asik dengan komputernya. “Pak, bapak denger suara ambulance ngga?” tanyaku ke
pak Iman. “Ambulance apaan mas? Ngga ada suara apa-apa kok”, jawab pak Iman.
“Ada telepon konfimasi kiriman jenazah ngga pak?, tanyaku lagi. “Ngga ada juga
mas. Kenapa sih mas? Mas Ridwan denger apa?”, pak Iman balik bertanya. “Ah ngga
pak, saya ngimpi mungkin”, jawabku singkat sambil meninggalkan ruangan pak
Iman.
Aku kembali keruang jaga dengan
masih berpikir mungkin memang aku ngimpi di tengah-tengah ngantuk dan antara
sadar dan tidak sadar (suara ambulance sudah tidak ada). Aku kembali
melanjutkan nonton tv. Angin yang daritadi terasa berhembus kencang masuk
keruang jagaku dari sela-sela daun jendela yang memang sengaja kubuka
lebar-lebar (ruang jagaku tidak dilengkapi dengan ac). Merasa kedinginan aku
pun beranjak dari kursi dengan maksud untuk menutup daun jendela tadi supaya
tidak begitu lebar sehingga tidak terlalu banyak angin yang masuk.
Semakin mendekati jendela, angin terasa
semakin kencang berhembus. Aku melihat keluar jendela, aku lihat pohon-pohon
yang ada dihalaman, tetapi anehnya tidak ada ada satupun daun yang bergerak
karena angin, seperti memang tidak ada angin yang berhembus. Mataku menyapu
kesemua penjuru halaman, kanan dan kiri. Sampai mataku berhenti ke arah koridor
panjang yang menuju ke dalam rumah sakit. Di tengah koridor, samar-samar aku
melihat seseorang berdiri. Tidak tinggi, tidak pendek, hanya diam. aku tidak
dapat melihat jelas sosoknya apakah laki-laki atau perempuan. Hanya dapat
melihat postur, dan warna pakaian yang dipakai. Baju kaos putih dan celana
pendek hitam. Sosok itu hanya terlihat sebatas dada. Tidak terlihat kepalanya
Karena selain jauh, kepala sosok itu tertutup oleh bayangan papan penunjuk
arah.
5 sampai 10 detik aku terus
menatap sosok tersebut. Sosok tersebut hanya diam, seolah-olah dia juga sedang
menatapku dari jauh, ditengah kegelapan. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan
ku, “Mas Ridwan..”, panggil suara itu. Akupun spontan menoleh, ternyata pak
Iman sudah berdiri dipintu penghubung ruangan. “Ngapain disitu mas?”, tanya pak
Iman. “Eh pak. Gpp pak, mau tutup jendela. Dingin”, sahutku. Sebetulnya aku
ingin bercerita tentang apa yang baru saja kulihat ke pak Iman. Tetapi ketika
aku kembali menoleh kearah koridor, sosok itu sudah hilang. Takut dikira
mengada-ada, akupun tidak jadi menceritakan tentang apa yang baru kulihat.
“Sudah mas, ngga usah dipikir.
Kalau ngantuk tidur aja. Kalau ada apa-apa panggil bapak. Bapak juga tumben
ngga ngantuk malam ini”, lanjut pak Iman seolah-olah dia tahu apa yang baru
saja kualami. “Eh iya pak. Ngga ada apa-apa kok, Cuma mau nutup jendela aja”,
jawabku menutup-nutupi. “Ya udah, bapak balik ya. Jangan lupa kalau ada
apa-apa, panggil bapak”, kata pak Iman dengan sambil menutup pintu. Setelah pak
iman kembali keruangannya, akupun kembali duduk didepan tv. Sambil kembali
nonton tv, di dalam kepalaku masih terus mengira-ngira siapa sosok yang tadi kulihat.
Dokter? Rasanya ngga ada dokter dengan pakaian sesantai itu dimalam-malam
seperti ini. Staf rumah sakit? Setahuku juga tidak pernah ada staf rumah sakit
yang keliling di rumah sakit tengah malam begini. Biasanya juga staf rumah
sakit pasti memakai seragam. Pasien atau keluarga pasien? Tidak mungkin juga.
Mengingat koridor itu hanyalah jalan menuju kamar jenazah, rasanya tidak
mungkin juga ada pasien atau keluarga pasien yang iseng jalan-jalan sampai
kesitu. Dan aku berani bertaruh, tidak ada orang yang berani jalan sendirian
dikoridor yang hanya menuju kekamar jenazah tengah malam begini, kecuali memang
orang itu kesasar. Tapi tidak mungkin juga orang kesasar tapi hanya diem
ditengah-tengah koridor. Sambil mengira-ngira semua kemungkinan, tak sadar akupun tertidur…
Belum lama aku tertidur,
samar-samar aku dibangunkan oleh suara brankar yang terasa seperti didorong kencang
kearah kamar jenazah. Akupun spontan terbangun dari tidur. Suara brankar
mendadak berhenti seperti tepat didepan pintu ruanganku. Tidak lama kemudian pintu
ruanganku digedor dengan sangat kuatnya. Kaget, akupun berlari kearah pintu,
takut kalau-kalau memang ada keadaan yang darurat yang membutuhkan bantuanku.
Setengah berlari, aku membuka pintu
dengan sangat keras. Dan yang kulihat adalah, tidak ada siapapun didepan pintu
ruanganku. Yang ada hanya brankar dengan kantung jenazah berwarna oranye diatasnya.
Heran, bingung, kaget, aku mencoba untuk mencari siapa yang membawa brankar dan
mengetuk ruanganku. Celingak celinguk, aku melihat ada orang berlari dikoridor,
menjauh dari ruanganku menuju ke dalam rumah sakit. Orang itu adalah orang yang
sama dengan yang aku lihat sebelumnya. Kaos warna putih dengan celana pendek
hitam selutut. Dan semakin meyakinkanku kalau dia adalah seorang laki-laki, dan
orang yang sama dengan orang yang aku lihat sebelumnya dikoridor. Sosok itupun
lalu hilang dikejauhan..
Masih bingung dengan siapa sosok
itu tadi, kenapa ada brankar dengan kantung jenazah dan apakah sosok itu tadi
mengetuk ruanganku tapi terus lari. Siapa, kenapa? Hanya itu yang ada
dipikiranku. Tidak habis dipikiranku,
siapa dan mengapa. Aku keruangan pak Iman. Dan ternyata pak Iman tertidur
dikursi didepan komputer. Merasa sedikit takut karena kejadian tadi, aku pun
memberanikan diri membangunkan pak Iman. “Eh, kenapa mas?”, tanya pak Iman
setelah kubangunkan. “Pak, ada yang aneh deh,” jawabku sambil mengajak pak Iman
keluar ruangan. Sesampainya diluar, hal yang lebih anehpun terjadi. Brankar
yang sebelumnya ada di depan pintu ruanganku tiba-tiba sudah hilang dan sudah berada
di depan pintu kamar jenazah (kamar jenazah berada di sebelah kanan ruang
jagaku).
Akupun menceritakan apa yang
terjadi ke pak Iman. Sambil terus manggut-manggut, pak Iman jalan kearah
brankar yang kuceritakan. “Harusnya body bag ini kan ngga disini mas. Kok bisa
disini ya..”, kata pak Iman. “Nah itu pak yang saya juga heran”, lanjutku.
Akhirnya akupun menceritakan tentang sosok yang kulihat dikoridor dan yang
mengetuk ruanganku. Pak Iman hanya manggut-manggut seolah-olah mengerti apa
yang sedang atau akan terjadi.
Singkat cerita pagipun tiba dan
akupun kembali ke kosan untuk istirahat. Sampai dikosan aku pun mandi dan
berniat untuk tidur setelah malamnya merasa kurang tidur dan ditambah dengan
kejadian aneh yang kualami. Hari ini jadwalku sedikit senggang, karena memang
biasanya setelah dapat jadwal malam, besoknya akan lebih senggang. Jadi aku pengen
menghabiskan waktu dengan tidur dan istirahat. Baru sebentar aku tidur,
handphoneku berbunyi. Ternyata kakak angkatanku telepon dan meminta tolong
untuk digantikan jadwal jaga nya malam nanti karena mendadak dia harus pulang
kampung karena ada urusan keluarga mendadak. Sebenarnya ingin menolak, tetapi
karena ini kakak kelas, jadi seperti wajib hukumnya kalau ada kakak kelas yang
meminta tolong, adik kelas wajib menyanggupi. Dengan setengah berat hati,
akhirnya akupun menyanggupi.
Jam setengah 7 malam dihari yang
sama saya sudah berada di ruang jaga lagi. Sebelum masuk keruang jaga, aku
sempat menoleh ke depan pintu kamar jenazah, brankar dan body bag misterius yang
ada di malam sebelumnya, ternyata sudah tidak ada. Dipikiranku, mungkin sudah
ada ada yang membereskan. Jadwal jaga adalah 12 jam. Jadi saya jaga mulai dari
jam 7 malam sampai dengan jam 7 pagi. Dan kebetulan malam ini aku kembali
ditemani pak Iman. Selalu terasa menyenangkan jika bisa satu jadwal degan pak
Iman. Selain beliau sudah senior, bisa dibilang beliau tidak punya rasa takut.
Jadi aku yang bisa dibilang sedikit penakut, bisa merasa lebih tenang. Setelah
basa basi sebentar dengan pak Iman, tetapi sama sekali tidak membahas kejadian
dimalam sebelumnya. Kemudian akupun disibukkan dengan paper-paper yang harus kukerjakan.
Pak Iman beberapa kali masuk
keruanganku, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang kulakukan, hingga ngobrol
topik-topik yang ringan, sekedar untuk mengusir bosan. Hingga waktu semakin
malam, tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Hanya ada beberapa jenazah yang
datang untuk kemudian dititipkan di kamar jenazah sebelum diambil oleh pihak
keluarga. Dan itu semua memang pekerjaan pak Iman. Mulai mengurus administrasi, menghubungi
supir ambulance dll nya sampai jenazah diambil oleh keluarga. Selain hal-hal
diatas, tidak ada hal lain yang terjadi. Semuanya wajar. Hingga malampun
semakin larut..
Seperti malam sebelumnya, aku
berada diruanganku dan pak Iman berada diruangannya. Jam menunjukkan jam 10
malam. Seperti malam sebelumnya, malam ini angin terasa berhembus kencang.
Tiba-tiba pak Iman masuk keruangan saya. “Mas, ngga ngantuk kan?”, tanya
beliau. “Ngga pak, belum mungkin. Kenapa pak?”, tanyaku kembali. “Gpp mas,
perasaan saya agak ngga enak malam ini. Ya mudah-mudahan ngga ada apa-apa.
Maksud saya, mas Ridwan siap kan kalau-kalau malam ini ada apa-apa?”, lanjut
pak Iman. Tanpa bertanya lebih lanjut
apa yang dimaksud “apa-apa” oleh pak Iman, sayapun menjawab sekenanya, “Siap
pak Iman. Tenang aja”. Diselingi senyum kecil, pak Iman kembali keruangannya.
Setengah jam berlalu, aku merasa
bosan berada diruangan. Entah kenapa mata ini tidak mengantuk. Mungkin karena
aku minum kopi sedikit lebih pahit daripada biasanya ketika tadi aku
mengerjakan paper. akupun memutuskan untuk keluar ruangan sekedar melepas
jenuh. Terbesit ingin mengajak pak Iman untuk mengobrol di luar, tetapi rasa
sungkanku lebih besar. Akhirnya aku keluar sendirian.
Seperti malam biasanya,
lingkungan kamar jenazah memang sepi. Hanya ada beberapa mobil dokter-dokter
jaga lain yang diparkir, beberapa mobil jenazah dan tetap dengan pohon-pohon
tua, besar dan rindang yang seolah-olah dahan, ranting dan daunnya menghalangi
sinar bulan malam ini. Aku berjalan-jalan dihalaman parkiran, sampai kedepan
masjid dan kemudian kembali lagi. Angin tetap berhembus kencang, rasa dingin
rasanya menembus baju jagaku yang sebenernya memiliki kain yang cukup berasa
panas dibadan. Tetapi entah kenapa, rasa dingin angin seperti berhasil
menembusnya. Aku berjalan sampai langkahku terhenti di depan koridor..
Langkahku terhenti, mataku
tertuju keujung koridor. Jauh diujung gelap koridor, aku melihat sosok manusia.
Tidak tinggi, tidak pendek, hanya berdiri, diam, mematung tepat di
tengah-tengah koridor. Spontan aku melepas kacamataku dengan maksud untuk
membersihkan kacanya dengan baju jagaku. Siapa tahu hanya halusinasiku. Ternyata
setelah aku melepas kacamataku, sosok yang seharusnya tampak buram atau bahkan
tidak tampak sama sekali dimataku (mataku minus), justru terlihat jauh lebih
jelas, sangat jelas!!! Laki-laki, dengan mata sayu, wajah pucat, baju kaos
putih, celana pendek hitam selutut, tanpa alas kaki. Semuanya tampak sangat
jelas, seolah-olah mataku kembali seperti mata normal pada umumnya. Tanpa sadar
aku tidak memakai kembali kacamataku, bahkan kakiku seperti terkunci disitu,
tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata apa-apa. Semua fokusku hanya tertuju ke
sosok itu.
Aku merasakan jantungku berdebar
lebih kencang dan tidak sadar keringat sudah membasahi dahiku. Pelan tapi pasti
sosok itu semakin jelas dan semakin jelas dimataku. Sosok itu tidak mendekat,
dan akupun tidak mendekatinya. Tetapi semakin lama aku menatapnya, semakin
Nampak jelas, sosok itu melayang!!! Dengan jempol kaki yang seperti menjadi
tumpuannya untuk berdiri, persis seperti orang menari balet, tetapi ini
terlihat jelas kalau dia melayang. Mendadak tubuh ku terasa lemas. Aku berusaha
untuk tetap berdiri dan mencoba untuk membaca doa sebisaku. Tapi sosok itu
tetap disana. Terlihat bibirnya bergerak, seperti ada yang ingin disampaikan.
Entah kekuatan darimana, aku berusaha membaca gerak bibirnya. Pelan bibir sosok
itu bergerak, hanya bergerak. Tiba-tiba ada suara ditelingaku yang berbisik,
“AKU DIBUNUH!!!”.
Jelas. Sangat jelas suara bisikan
itu ditelingaku. Seperti memang ada orang yang berada disebelahku. Aku hanya
bisa mematung, tidak bisa berbuat apa-apa. Belum hilang rasa takutku, aku
dikagetkan dengan suara panggilan dari belakangku, “MAS RIDWAN !!!!!”, teriak
suara itu. Spontan akupun menoleh menuju ke sumber suara itu. Ternyata itu
adalah suara pak Iman yang memanggilku dari pintu ruang jagaku. “I..ii.iiiya
pak?”, jawabku dengan suara yang bergetar. “Ngapain? Barusan ada telepon.
Katanya mau ada kiriman jenazah dari polsek. Minta di autopsi malam ini”,
sambung pak Iman lagi. “O..oo..oke pak”, sahutku tanpa menjawab pertanyaan pak
Iman, masih dengan suara bergetar.
Singkat cerita, pikiranku tentang
sosok yang barusan kulihat seolah teralihkan dengan berita yang barusan
dikabarkan oleh pak Iman tadi. Bagus kalau ada jenazah yang mau di autopsi
malam ini. Jadi aku ada kegiatan sambil menunggu pagi, dalam hatiku. Sebelum
dokter forensik datang, akupun menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan autopsi. Kamar autopsi
berikut alat-alat yang diperlukan. Dan aku juga menghubungi beberapa tema-teman
seangkatanku agar mereka juga datang ke rumah sakit.
Tidak lama, ambulance yang
ditunggu datang. Dengan dikawal satu mobil polisi, ambulance tersebut berhenti
tepat di depan kamar jenazah. Petugas ambulance turun dari mobil dan bersiap
untuk menurunkan jenazah. Ketika pintu belakang ambulance dibuka, nampak
kantong jenazah berwarna oranye lengkap dengan jenazah didalamnya.
Setelah serah terima jenazah,
jenazah dipindah ke dalam kamar autopsi. “Meninggal kenapa pak?”, tanyaku
kepada salah satu polisi yang tadi mengawal. “Kayanya bunuh diri dok”, jawab
petugas itu. “Lah terus ngapain di autopsi?, lanjutku. “Ada kecurigaan ini
orang dibunuh dok. Kita juga ngga yakin, makanya perintahnya suruh autopsi
aja”, jawab kemudian petugas itu.
Sambil menunggu dokter forensik
datang, aku menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan teman-temanku yang
mengambil profesi yang sama denganku, yang nantinya akan membantu dan
mempelajari proses autopsi. Kami mengobrol di depan pintu kamar autopsi. Entah
kenapa, kantong jenazah itu sangat menarik perhatianku. Kepalaku sering menoleh
kearah kantong jenazah itu. Seolah-olah jenazah didalamnya ingin berbicara
padaku. Selang beberapa lama dokter forensik yang bertugas untuk meng autopsi
pun akhirnya datang.
Rasa deg-degan sangat aku rasakan
ketika kantong jenazah itu akan dibuka. Pelan tapi pasti resleting kantong
jenazah terbuka. Nampak sosok seorang pria, berusia sekitar 30 tahun, dengan
kaos putih, celana pendek hitam, tanpa alas kaki. Persis seperti sosok yang aku
lihat di koridor rumah sakit. Kaget ditambah ngeri aku rasakan pada saat yang
sama. Aku masih belum tahu apa hubungan sosok yang aku lihat di koridor tadi
dengan sosok yang akan kami autopsi.
Singkat cerita menurut pengakuan
polisi, sosok ini ditemukan tergantung di dalam rumahnya. Motif awal adalah
gantung diri, tetapi setelah dilakukan autosi, ada indikasi jika korban adalah
korban pembunuhan. Hasil autopsi adalah abrasi dan memar yang ada di tubuh
jenazah tidak mengindikasikan jika korban adalah gantung diri, abrasi dan memar
ditubuh korban sudah ada sebelum korban ditemukan menggantung. Bukti lain, tidak
adanya penonjolan bola mata karena sumbatan pada vena. Dan tidak ditemukan
lidah tergigit atau terjulur, tidak ditemukan sperma ataupun feses yang keluar
dari alat vital dan dubur korban.
Selama proses autopsi
berlangsung, disudut mataku aku merasa seperti ada memperhatikan kami, di pojok
ruang autopsy. Jujur aku tidak berani langsung melihat meskipun ruang autopsi
adalah ruangan yang sangat familiar untukku. Tetapi jelas terlihat di sudut
mataku, bagaimana bentuk dari sosok itu. Wajah pucat, kaos putih dan celana
pendek hitam. Dia adalah sosok yang saat ini sedang kami autopsi. Sosok itu
hanya berdiri mematung dipojok ruangan. Tetapi dia seolah sedang berbicara
padaku, berbisik ditelingaku, bercerita bagaimana dia meninggal. Dengan suara
lirih namun jelas, dia bercerita bahwa saingan bisnisnya adalah orang yang
bertanggung jawab akan kematiannya. Dia dibunuh, dijerat menggunakan seutas
tali. Setelah dia meninggal, orang yang membunuhnya menggantungnya di dalam
rumahnya sendiri seolah-olah dia adalah korban bunuh diri dengan gantung diri.
Setelah proses autopsi selesai,
bersamaan itu juga sosok itu beserta suara bisikannya hilang dari sudut mata
dan telingaku.
Singkat cerita, berakhir sudah
tugas jagaku hari itu dan akupun ingin secepatnya kembali ke kosan untuk
istirahat. Setibanya di kos, aku pun langsung berbenah dan tidak lama akupun
tertidur. Ditengah tidurku antara sadar dan tidak sadar, seperti bermimpi aku
merasakan ada yang memperhatikan aku. Berdiri disamping ranjangku, sambil
mengucapkan terimakasih. Jelas terlihat dimimpiku kalau orang yang mengucapkan
terimakasih itu adalah orang yang semalam baru saja aku autopsi.
Selama tiga hari sejak hari
autopsi itu, aku jatuh sakit dan mengharuskan aku untuk istirahat total. Dan
selama tiga hari itu juga, ditiap tidurku aku selalu didatangi oleh sosok yang
sama. Dan sosok itu hanya berucap terimakasih, tidak ada yang lain.
Dihari keempat, aku sudah kembali
aktif lagi di rumah sakit. Saat aku datang, orang pertama yang aku temui adalah
pak Iman. “Udah sehat mas Ridwan?, sapa pak Iman. “Hehehe, alhamdulillah
pak..”, jawabku singkat. “Oia mas Ridwan sudah tahu kejadian yang ada disini
selama mas Ridwan ngga masuk?”, sambung pak Iman. “Hah? Ngga pak. Ada apa pak?,
lanjutku. “Temen-temen mas Ridwan yang jaga malam selama mas Ridwan ngga masuk,
tiap malam didatangi sosok pake baju putih, celana pendek item mas”, cerita pak
Iman kemudian. Mendengar itu, aku sedikit syok.
Pak Iman dan beberapa temanku
memang tahu kalau malam itu ada jenazah yang kami autopsi, tetapi mereka tidak
tahu bagaimana deskripsi tentang jenazah itu, karena memang dari kode etik kami
yang tidak boleh menceritakan tentang korban atau jenazah yang sedang kami
autopsy, bahkan untuk teman seprofesi tetapi yang tidak ikut dalam proses
autopsipun tidak boleh diberi tahu.
Yang masih ada dikepalaku hingga
saat ini, kenapa sosok itu muncul dihampir setiap malam, dan kemunculannya
hanya ada ditiga tempat. Di depan pintu ruang jaga, dikoridor rumah sakit dan
di depan pintu kamar autopsi. Yang lebih aneh lagi, setiap aku mendapatkan
giliran jaga malam, sosok itu justru malah tidak pernah muncul. Saking penasarannya,
pernah disuatu malam jadwal jagaku aku sengaja untuk tidak nonton tv di ruang
jaga. Aku sengaja jalan-jalan keliling di tiga tempat yang biasanya sosok itu
menampakkan diri.
Tidak ada rasa takut yang aku
rasakan, anehnya justru aku sengaja ingin bertemu dengan sosok itu dan mungkin
aku bisa bertanya apa maksud dan tujuannya selalu menampakkan diri didepan
rekan-rekan dan pegawai rumah sakit yang lain. Yang lebih aneh lagi aku merasa
kenal dan merasa akrab dengan sosok itu. Tetapi tetap saja, sosok itu tidak
pernah muncul lagi dihadapanku.
Hampir semua dokter dan staf
rumah sakit yang bekerja di rumah sakit itu sudah pernah menemui sosok itu
ketika mereka mendapatkan giliran shift malam. Bahkan beberapa keluarga pasien
yang tidak sengaja tersasar ke koridor itu atau sedang mengurus jenazah di
kamar jenazah untuk mengurus kerabat mereka yang meninggal juga pernah
ditampakkan oleh sosok itu. Tetapi entah kenapa sosok itu tidak pernah lagi
menampakkan dirinya lagi kepadaku.
Hingga saat ini sosok itu menjadi
urban legend di rumah sakit tempatku bertugas. Seperti sudah menjadi penghuni
tetap rumah sakit. Sebenarnya sosok itu tidak menyeramkan (bagiku), dia hanya
menampakkan diri dengan cara berdiri, diam mematung dengan pakaian terakhir
yang dia gunakan. Tidak pernah dengan sengaja menakut-nakuti orang lain. Tetapi
mungkin untuk orang lain yang belum tahu tentang cerita dari sosok itu, mereka
akan ketakutan waktu mereka menyadari jika sosok yang mereka lihat itu bukanlah
manusia.
Cerita ini belum pernah aku
ceritakan kepada siapapun. Karena selain takut tidak ada yang akan percaya, aku
merasa memiliki hubungan emosional dengan sosok itu. Sehingga aku merasa aku
tidak boleh menceritakannya seenak hatiku.
Bahkan sebelum aku menceritakan
tentang sosok itu disini, suatu malam aku “ijin” terlebih dahulu dengan cara
berjalan dan berhenti dikoridor rumah sakit dan berbicara sendiri kalau aku
akan bercerita tentang kisahmu. Besok nya saat aku tidur, sosok itu datang
dalam mimpiku, “Ceritakan yang baik tentangku..”
THE END
Komentar
Posting Komentar