Astana Ratu - ANJANI (PART 1/Jani)
Pamulang 2013
Aku Anjani..
Hari itu mood ku sedang kurang bagus. Mantanku, Ivan, masih merengek mengajakku untuk kembali berpacaran dengannya, padahal kami sudah putus sejak tiga bulan lalu.
Segala cara dia lakukan untuk terus mendapatkan perhatianku, mulai dari mengajak mengerjakan skripsi bareng, sampai mengajakku naik ke Rinjani (lagi).
Rinjani.. entah mengapa, tiba-tiba aku ingin membaca ulang catatan kecil pendakian pertamaku ke Rinjani. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil diary ku, kupikir dengan membacanya. kekesalanku terhadap Ivan bisa sedikit teralihkan. Begitu kubuka lembarannya, sebuah foto terjatuh. Kupandangi foto itu sekilas, lantas sebuah senyum tersungging di bibirku. Sebuah foto yang entah sudah berapa lama terselip di dalam lembar diary ku.
Sebuah foto yang diam-diam sering menjadi teman tidurku, pelampiasan emosiku sekaligus sering menjadi mood boosterku. Foto dengan filter hitam putih yang mengabadikan diriku bersama seorang cowok berjaket biru dongker, bercelana pendek, berkacamata kotak, berkumis dan brewok tipis rapi dengan latar belakang Gunung Baru Jari dan Segara Anak.
Segera kuambil foto itu dan kubalik, ada sebuah tulisan yang terbilang cukup rapi di lembar belakangnya. Dengan kalimat, "Awal keapesan duniaku. - Si Keren Rambo -". Seketika aku tersenyum mengingat kembali momen itu.
Tanpa berpikir panjang, segera kuselipkan kemballi foto itu kedalam diary. Beberapa saat kemudian kuambil ponselku dan mengetik sebuah pesan yang tiba-tiba saja terpikir olehku.
"La, si Rama ada di Coftof ngga?" tanyaku pada Ela, salah seorang barista di coffee shop nya Rama.
"Ada nih kak, lagi ngajarin latte art yang baru ke anak-anak. Kak Jani ngga kesini?" balasnnya.
"Nih aku mau siap-siap kesana. Tapi ngga usah bilang Rama ya" kataku.
"Oke Kak Jani. Ela tunggu ya.." ujarnya di akhir chat kami.
Aku bergegas bangun dari kasurku dan mengambil cardigan coklat muda kesayanganku, lantas kukenakan menutupi tank top hitamku. Tak lupa kuganti hot pants ku dengan legging. Lalu aku keluar kamar dengan terburu-buru, melangkah ke ruang tengah untuk mengambil kunci motorku. Namun ternyata kunci motorku tidak ada di tempatnya.
"Ayaahhh... liat kunci motorku nggaa..?" tanyaku setengah berteriak kepada lelaki kesayanganku yang tadi kulewati sedang melahap nasi padang di meja makan ketika aku keluar kamar.
"Kayanya motor kamu di pake sama Prabu deh.." jawabnya santai.
"Ah elaahhh.. kebiasaan banget sih ngga bilang-bilang kalo mau pake motor, udah punya motor sendiri juga!" gerutuku kesal sambil menghampiri ayahku.
"Udah kamu pake mobil ayah aja nih. Mau kemana sih? Palingan ke Coftof kan?" Kata ayahku begitu aku sampai dimeja makan sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Hahaha, iyaaa. Emang ayah ngga ada jadwal flight hari ini? Mobilku kapan keluar dari bengkel sih, Yah?" tanyaku sambil mengambil kunci mobil dari tangan ayahku.
"Ngga kok, ayah lagi minta off. Mobil kamu lusa selesai. Perasaan baru kemarin ke Coftof. Udah kangen lagi sama dia?" jawab ayah sekaligus menggodaku dengan senyum tipis di sela nasi padang yang beliau makan.
"Idiihh.. Ya udah Jani pamit ya yah.." kataku dan lantas pergi meninggalkan ayah setelah mencium tangan dan mengecup pipi nya.
Sekitar setengah jam kemudian aku sampai di sebuah coffee shop yang sudah hampir setahun belakangan ini memiliki tempat tersendiri di hatiku.
Coffe shop dua lantai dengan aura yang menyenangkan dan menenangkan, baik dari ambience tempatnya, barista-baristanya yang selalu ramah, playlist lagu-lagu nya dan tentu saya last but not least, pemiliknya yang dengan berat hati harus kuakui menjadi alasan terbesar kenapa aku kesini lagi hari ini.
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Bagiku dan duniaku, coffee shop ini dan pemiliknya, Rama, seperti oase ditengah hidupku yang lumayan berantakan satu setengah tahun belakangan.
Aku pun turun dari mobil ayah dan melangkahkan kakiku masuk kedalam coffee shop tersebut. Mataku langsung tertuju pada sosok cowok yang sedang duduk di sofa single paling depan, dengan posisi membelakangiku. Seperti biasa, dia sedang membaca buku.
Tanpa basa basi kudaratkan sebuah kecupan di pipinya. Aku tahu dia pasti sebel dengan kelakuanku yang asal-asalan dan ngga tahu malu itu. Tapi itu memang tujuanku : membuat dia sebel dan malu.
'Cup!' secara reflek Rama menengok ke samping, tepat ke arahku yang sudah nyengir lebar menyambut wajah kikuknya.
"Ngapain kamu kesini? Pulang sana ah. Ntar sepi warkopku kalau ada kamu" kata Rama. Ya begitulah Rama, tengil dan mengesalkan memang. Tapi justru itu yang membuatnya memiliki banyak teman yang pada akhirnya "terbiasa" dengan sikapnya itu.
"Ogah, numpang tidur ya. Ngantuk aku abis kerjain skripsi ngga selesai-selesai" sahutku berbohong. Padahal mood ku sedang berantakan karena Ivan.
Rama hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Sesaat kemudian Rama bangkit dari sofa yang sedari tadi menjadi singgasana nya dan masuk ke dalam coffee bar. Aku tahu, pasti dia akan meracik minuman kesukaanku, ice chocolate banana.
Walaupun kelakuannya tengil dan begajulan, tapi sikapnya sering kali penuh dengan perhatian-perhatian kecil. Ini juga yang membuatnya memiliki banyak teman perempuan sepertiku. Aku yakin, yang bukan sekedar teman juga banyak. Bahkan teman perempuan dari dunia ghaib pun dia punya. Salah satunya adalah Rimbun.
Rama sering sekali menceritakan rimbun padaku, terutama kalau mereka berdua sedang berdebat. Aku selalu tertarik mendegar kisah persahabatan mereka dari cerita-cerita Rama. Ya, walaupun aku belum pernah sekalipun bertemu Rimbun, tapi entah kenapa aku sering bisa merasakan kehadirannya. Seperti saat ini, kurasakan ada energi lain yang berada tepat disampingku. Sensasi yang ditimbulkan sedikit aneh. Rasanya seperti ada aliran listrik statis yang mengenai badanku dan membuat rambut halus dibadanku berdiri pelan.
Tidak berapa lama kemudian Rama kembali. Dan sesuai dugaanku, ditangannya kini ada segelas ice chocolate banana kesukaanku. Aku tersenyum girang.
"Yeee.. sini minumanku" kataku tanpa malu-malu.
"Bentar aku aduk dulu" kata Rama sambil mencelupkan jari telunjuknya kedalam minuman dan memutar-mutar jarinya.
"Jorok bangeettt.." teriakku sambil menarik minuman itu dari tangannya dan dengan santai langsung meminumnya. Kali ini giliran Rama yang geleng-geleng melihat kelakuanku. Yaa.. aku memang sesantai itu.
Seperti dua teman yang sudah lama tidak ketemu, kami langsung mengobrol, bercanda dan saling ejek satu sama lain. Pdahal baru beberapa hari yang lalu kami bertemu.
Sampai akhirnya aku menyampaikan rencanaku yang menang sudah kupersiapkan dari satu bulan lalu.
"Ram, ke Rinjani yuk minggu depan" ajakku.
"Ngga ah, bosen. Baru juga tahun lalu kesana. Kerinci aja yuk.." balas Rama
"Yaahhh elu belagu amat mentang-mantang udah tiga kali kesana. Ayo dong, Ram. Temeni aku remidi siihhh.." aku pura-pura merengek. Karena aku tahu Rama paling sebel dengar rengekan perempuan. "Remidi", adalah istilah yang dipakai para pendaki yang gagal ke puncak gunung dan ingin mengulanginya lagi.
Rama terlihat ragu. Sepertinya dia memang sangat ingin ke Kerinci waktu itu. Aku teringat beberapa hari yang lalu saat Rama dengan serius membahas rencana pendakian ke Kerinci bersama teman-teman Mapala nya.
"Ayo dong.. ngga kangen sama pak Saat? Tiket aku bayarin deh. Pliisss.." aku terus merengek.
"Yah kalo sama pak Saat ya jelas kangen lah. Tapi kamu kenapa ngebet banget sih pengen remidi? Pengen ketemu kembaran kamu, Ra-tu An-ja-ni disana? tanyanya.
Pertanyaan itu sedikit membuatku tersentak, "Haruskan kuceritakan alasanku sekarang?" pikiranku bergejolak.
"Ho'oh" pada akhirnya hanya jawaban itu yang terucap dari mulutku untuk menutupi semuanya.
"Hadeehhh.. ya udah aku temenin" yes! Seperti yang sudah kuduga, Rama mau mengalah dan menemaniku remedi ke Rinjani.
"Nah yuk jalan!' ajakku sambil menarik lengan Rama.
"Lah jalan kemana? Kan minggu depan?!" tanya Rama kaget.
"Ya kerumahku dulu lah. Ngomong dulu ke ayah biar aku di kasih ijin. Yuk, rimbun ikut juga ngga? Yuk yuk.." jawabku enteng sambil membuat gerakan tangan seolah-olah akan mengajak Rimbun. Padahal aku ngga tahu ada di mana dia saat itu.
"Si monyet, kamu belum ijin?" tanya Rama heran. Aku menggeleng kecil lalu tertawa.
Ngga susah sebenarnya aku mendapatkan ijin untuk pergi berdua dengan Rama. Terlebih ayahku tahu persis, Rama lah yang menyelamatkan nyawa anaknya setelah ditinggal "si monyet", panggilan ayah ke mantan pacarku yang tega ninggalin anaknya hipo di pendakian tahun lalu.
"Oke boleh, gue titip anak gue ya Ram.." pesan ayah setibanya kami di rumah dan menjelaskan rencana kami mendaki.
Rama melirik ke arahku yang tengah tersenyum lebar. Remedi ku akan benar-benar terlaksana dan cita-citaku menginjakkan kaki di Astana Ratu Anjani akan terwujud dalam waktu dekat.
Setelah mendapatkan ijin ayah, kamipun kembali ke coffee shop Rama. Saat itu juga langsung mengajakku untuk menyusuk ROP untuk rencana kami ke Rinjani pekan depan. Tak lupa, Rama juga mengontak rekan-rekannya yang ada di Lombok sebagai tambahan personil sekaligus membantu kebutuhan yang kami perlukan selama disana.
Walaupun sebenarnya aku semangat sekali untuk pendakian kali ini, entah kenapa, ada perasaan ngga enak yang menyelimuti hatiku. Entah apakah Rama merasakan hal yang sama dan mengetahui rencanaku yang lain.
Selesai membuat ROP, memberi kabar rekan-rekan dan membeli tiket, aku kembali pulang dengan perasaan lega dan tenang.
"Cieee.. yang mau honeymoon ke Rinjani" goda ayah saat aku masuk kedalam rumah.
"Apaan sih Yah?! Amin-amin deh honeymoon sama playboy kaya Rama" sahutku sewot. Ayah memang lagi senang-senangnya ngeledekin aku sama Rama.
"Seenggaknya si playboy cere itu tanggung jawab sama keselamatan kamu. Ngga kaya si monyet!" ledek ayah lagi. Kalimat itu terasa menusuk hatiku.
"Bodooo! Udah ah aku mau kekamar dulu" pamitku pada ayah. Setibanya di kamar, aku langsung merebahkan diri ke kasur. Sejenak kemudian, kumiringkan badanku kearah meja kecil di samping kasur, kubuka lacinya dan kuambil sebuah batu berwarna putih susu dengan corak warna warni kecil-kecil ditengahnya. Tanpa Rama tahu, inilah alasanku mengajaknya kembali ke Rinjani.
Pikiranku tiba-tiba melayang, memutar kembali memori pertemuan pertamaku dengan Rama. Setahun yang lalu, di jalur summit Rinjani..
***
Aku ngga tahu kenapa semesta mempertemukanku dengan cowok ini. Namanya Rama, kami bukanlah teman lama atau tinggal ditempat yang berdekatan. Jarak rumahku dan rumahnya saja terpaut waktu perjalanan hampir satu jam, walau masih dalam satu kota yang sama. Pertemuan pertama kami terjadi sekitar setahun yang lalu saat aku berada di jalur summit Rinjani.
Aku tidak akan pernah lupa momen pertemuan kami. Pendakian pertamaku ke Rinjani bersama pacarku saat itu, yang seharusnya menjadi momen yang indah, tiba-tiba menjadi momen yang mengerikan.
Semuanya berawal saat aku tanpa sengaja menemukan sebuah batu berwarna putih susu dengan corak warna warni di tengah jalur summit.
Kata seorang temanku, entah benar atau tidak, kalau kita menemukan sesuatu yang unik selama pendakian di trek antara Plawangan Sembalun sampai ke Puncak Rinjani, tandanya kita di sambut oleh Ratu Anjani.
Ketika aku melihat batu unik itu, seketika aku berpikir ini adalah cara Ratu Anjani menyambutku. Tanpa pikir panjang, kupungut batu itu dan kumasukkan kedalam saku jaketku.
Tak berapa lama setelahnya, beberapa keanehan mulai terjadi. Badanku yang tadinya fit dan bugar, tiba-tiba saja menjadi lemas. Aku seperti kehilangan separuh tenagaku. Sedikit-sedikit aku meminta break pada pacarku dan teman-temanku. Belum lagi badanku yang tiba-tiba merasa sangat kedinginan. Padahal sebelumnya aku masih baik-baik saja.
Buat yang berpikiran aku pendaki amatiran sehingga tidak mampu menahan dingin dan tidak memiliki stamina yang kuat, jujur Rinjani bukanlah gunung pertamaku. Aku sudah pernah beberapa kali summit di beberapa gunung di Jawa. Sebut saja Slamet, Ciremai, Merbabu, dan Semeru. Selama pendakian- pendakian itu aku tidak pernah merasakan kedinginan sehebat ini.
Akibat kondisiku yang lemah dan mulai mengulur-ulur waktu pendakian, rencana summit tim kami jadi terganggu.
Aku memperlambat pergerakan tim menuju puncak. Tim pendaki lain yang tadinya berada di belakang kami, satu persatu mulai menyusul kami. Dan kami menjadi tim yang paling belakang sekarang. Belum lagi setelahnya, aku seperti merasa diikuti oleh sosok tak kasat mata yang seolah olah berbicara padaku dalam bahasa yang tidak aku mengerti.
Saat kondisiku terus menurun, pacarku, yang seharusnya menjagaku, justru memintaku untuk berhenti dan menyerah saja untuk mencapai puncak. Bukan hanya memintaku untuk berhenti ditengah jalur dan menunggu mereka kembali dari puncak. Dia juga menyuruhku untuk kturun kembali ke tenda di Plawangan Sembalun. 'Mumpung belum jauh' katanya. AKu tersentak mendengarnya. Padahal sebelumnya dia berjanji akan menemaniku hingga menginjakkan kaki di titik tertinggi Rinjani.
Peuncaknya, dengan egoisnya dia memilih untuk melanjutkan pendakian ke puncak bersama dengan teman-temanku dan aku ditinggal sendiri dengan kondisi badanku yang lemah dan menggigil. Egoku terpancing. Aku sudah tidak peduli lagi dengan keinginanku bersanding di puncak Rinjani yuang konon adalah istana tak kasat mata Ratu Anjani.
Merasa terus disudutkan sebagai beban rombongan dan membuat tim gagal summit oleh pacarku sendiri, aku melawan balik dengan caraku sendiri. Bukannya meminta salah seorang anggota tim untuk menamaniku turun, justru aku memutuskan bahwa aku bisa turun sendiri dan mempersilahkan mereka melanjutkan pendakian agar tidak sia-sia. Ah bodohnya..
Yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana menutup mulut pacarku dan membuktikan bahwa aku bukanlah beban yang akan mengacaukan rencana. Walaupun sudah kusindir begitu, nyatanya pacarku benar-benar meninggalkanku dan melanjutkan perjalanannya tanpaku. Akhirnya dengan sisa tenaga yang aku punya, aku memutuskan untuk turun kembali ke tenda. Jujur sebenarnya aku sudah tidak kuat. Dalam hati aku berharap, semoga ada pendaki lain yang juga memutuskan untuk turun, sehingga setidaknya aku punya teman untuk turun, tidak sendirian.
Sebelum turun lebih jauh lagi, aku memilih untuk mengistirahatkan tubuhku dulu sejenak. Aku menepi dari jalur utama pendakian dan duduk disana. Dalam kondisi mimin pencahayaan, tiba-tiba mataku menangkap beberapa sosok mahkluk yang membuat bulu kudukku berdiri, bahkan sampai aku menulis cerita ini.
Jangan kira aku melihat sosok kuntilanak atau pocong seperti film horor. Hal itu sudah menjadi biasa bagiku dan teman-teman lain ketika mendaki. Mereka adalah jin kelas bawah yang memang hanya menaku-nakuti mental pendaki. Tapi yang kulihat kali ini benar-benar beda.
Aku melihat sekelompok wanita berpakaian dayang berdiri beberapa meter didepanku diantara dahan dan pohon. Saking tidak percayanya, aku mengucek-ucek mataku, memastikan apa yang kulihat itu memang nyata. Setelah itu aku menampar pipiku pelan. Sekali lagi memastikan bahwa aku tidak terkena hipotermia atau mountain sickness lainnya yang membuatku berhalusinasi.
Namun setelah sekian tamparan dan kucekan mata, mereka masih ada di sana. Dan bahkan, perlahan merekan mulai nampak mendekati.
Aku panik dan bingung harus berbuat apa saat itu. Haruskan aku teriak supaya pacarku dan teman-temannya kembali? Tapi pikiranku seperti kacau dan malah memikirkan hal lain. Bagaimana jika nanti aku teriak dan mereka semua kembali tapi ternyata mereka semua tidak melihat dayang-dayang ini? Terlebih bagaimana jika nanti mereka malah mengejekku lagi dan kembali menyalahkanku sebagai alasan gagalnya summit mereka?
Akhirnya kuputuskan untuk menghadapi sosok-sosok itu sendirian. Aku pejamkan mataku, lidahku mulai membaca doa-doa dan ayat suci yang kuhapal dengan gigi yang gemeretak menahan dingin dan kaki yang sudah tak sanggup lagi berlari menjauh.
Ketika aku membuka mataku, aku berharap mereka semua sudah menghilang.. Tapi ternyata aku salah. Semakin aku berdoa, mereka semakin bergerak mendekatiku. Bahkan kini mereka berpencar mengelilingiku. Dengan keberanian yang masih tersisa, kuperhatikan wajah dayang-dayang itu. Wajah-wajah yang cantik, jauh dari kata seram dan tidak terlihat pucat seperti yang sering digambarkan orang-orang yang mengaku pernah melihat atau bertemu bangsa jin.
Hanya saja, posisi mata, hidung, bibir mereka asimetris. Wajah mereka seperti nampak cacat dengan kondisi wajah yang berbeda-beda. Ada yang mata kirinya tinggi sebelah, ada yang mata kananya sedikit turun, ada yang jarak antar matanya sangat rapat, ada yang hidung nya bengkok dan sebagainya. Dan yang paling aku ingat adalah, mereka semua memliliki satu kesamaan yaitu, pupil mereka bukan berwarna hitam atau coklat melainkan berwarna hijau dengan titik kuning ditengahnya. Satu hal lagi yang baru aku sadari, telinga mereka semua berbentuk sama, runcing seperti telinga kucing.
Tanpa kusadari, mereka semua sudah mengelilingiku dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Aku masih diam membisu dan meneruskan bacaan doaku. Lalu tiba-tiba saja..
Serentak mereka semua mulai menggerakkan tangan mereka. Seperti melakukan gerakan tarian, tarian Tandang Mendet. Tarian khas Lombok. Ya, aku tahu. Karena aku kuliah di jurusan seni tari. Bedanya mereka tidak membawa tombak, pedang dan alat-alat lain. Hanya selendang saja.
Namun pergerakan tarian mereka sangat aneh menurutku. Tanpa adanya suara musik dan semacamnya, tarian mereka tidak menunjukkan keindahan, justru menjadi mengerikan. Gerakan anggota tubuh mereka seperti patah-patah dengan sendi-sendi mereka yang tidak bergerak seperti batas gerakan normal.
Lama-kelamaan gerakan mereka semakin cepat namun tetap dengan patah-patah. Sampai akhirnya, disatu momen kulihat mereka memutar kepalanya 230 derajat! Aku terpekik dan tanpa sadar berteriak.
"PERGIII..!!" Aku meringkuk menghindari pandanganku dengan mereka. Beberapa detik berikutnya, saat aku mengangkat kepalaku, mereka sudah menghilang.
Aku buru-buru bangkit dan melangkah cepat untuk segera kembali ke tenda. Sambil berusaha untuk tetap fokus agar selalu ada di jalur utama untuk turun, dari jauh kulihat titik-titik cahaya dari jalur dibawahku. Sepertinya senter. Berarti ada pendaki yang hendak naik, seketika aku merasa lega. Namun, belum sampai di jalur utama, aku disguhkan pemandangan aneh lainnya. Aku melihat sosok aneh lainnya. Ya Tuhan..
Sosok yang kulihat kali ini hanya setinggi anak SD, namun bentuknya sangat mengerikan. Seluruh tubuhnya dipenuhi seperti sisik berwarna hijau dan berlendir. Matanya kuning dengan pupil berwarna merah tua. Rambut ikal acak-acakan, bibir tebal, lengkap dengan dua buah taring berwarna gading. Telinga runcing menjuntai kebawah, berbuntut seperti buntut sapi yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya.
Saat aku melihat sosok itu, dia sedang berjongkok dan seperti sedang memakan sesuatu yang entah apa itu..
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar